Test Bahasa Untuk Apply Canada Citizenship

Persyaratan untuk apply citizenship di Kanada semakin hari semakin sulit. Yang paling baru yang berubah significant adalah kudu melampirkan hasil test bahasa English atau French. Skor yang diminta adalah level 4 keatas mengacu pada sistem penilaian CLB (Canadian Language Benchmark) yang skor tertingginya adalah di level 12. Ini hanya untuk speaking dan listening. Dokumen bahasa apa saja yang laku diterima oleh CIC, rincinya bisa dibaca di link dari CIC ini.

Kalo kamu ada di range usia 14-64 tahun dan tidak pernah bersekolah di Kanada atau negara manapun yang bahasa pengantarnya adalah English atau French serta apply masuk sebagai PR Kanada tidak diminta/pernah melampirkan sertifikat bahasa, maka bisa dipastikan kamu perlu test bahasa.

Jika kamu merasa kemampuan berbahasa English mu kurang memadai, boleh segera ambil les bahasa di LINC terdekat tempat kamu tinggal, Ini gratis dibayari oleh Pemerintah lewat pajak yang dibayar kita kita (Coba ingat-ingat barangkali pernah ambil kursus LINC sewaktu pertama kali landed yang sistem penilaiannya pakai CLB/NCLC, kalo pernah dan skornya diatas level 4, itu bisa dipakai). Setelah les dan lulus dengan skor diatas level 4, maka setifikat dari LINC tersebut bisa dipakai untuk apply citizenship (Cuma saya tidak tahu apakah ujian akhir di LINC ini gratis juga atau kita perlu bayar dan direfer untuk test di third party).

Namun seandainya kamu sudah merasa lancar berbahasa English atau French dan juga tidak ada waktu untuk belajar di LINC yang bisa makan waktu sekitar 3 bulan atau minimal 50 jam belajar, maka kamu bisa segera mengambil test bahasa di lembaga resmi yang sudah ditunjuk CIC.Siapa saja mereka? Klik link ini.

Untuk test dengan salah satu mereka ini ada biaya yang harus dibayar. Contoh untuk test dengan CELPIP-LS, kena biaya kurang lebih $200 termasuk pajak. Testnya terdiri dari Listening dan Speaking dengan total waktu 1 jam. Soalnya cukup menantang, ada bagian yang gampang ada juga bagian yang sulit. Tapi kalo kita sehari-hari lancar berbahasa English (Bukan yang cas cis cus banget tapi juga gak yang patah-patah parah), maka untuk lulus dengan minimum skor level 4 tidaklah terlalu sulit.

CELPIP menyediakan contoh soal untuk latihan. Soalnya tentu berbeda dengan hari H ujian, tapi kita mendapat ide akan seperti apa kira-kira sistem testnya dan apa yang dituntut dari kita. Semua dilakukan dengan komputer (speaker dan mike), ada timernya ditiap soal dan soal hanya dibacakan/muncul 1 kali, apa yang terlewat akan terlewat alias tidak akan diulang.

 

LISTENING (40 menit)

Dasarnya pada test Listening, kita mendengar rekaman soal. Baik berupa ucapan singkat maupun percakapan antar 2 orang atau suara seorang reporter yang sedang membacakan berita. Selesai mendegar rekaman maka akan muncul pertanyaan-pertanyaan seputar rekaman yang baru saja diperdengarkan. Satu rekaman bisa pendek sekali alias hanya berupa sebuah kalimat singkat, ada juga bagian rekaman yang durasinya 3 menit. Masing-masing ada tantangannya. Yang pendek bukan berarti gampang karena biasanya diucapkan secara cepat dengan suara dari seorang native speaker yang  pronounciationnya yang kita tidak familiar. Belum kalau ada vocabulary yang terselip yang kita tidak tahu, alhasil kita tidak mudah untuk menebak apa kira-kira maksudnya. Berbeda dengan yang durasinya lama, kadang walau ada vocab yang kita tidak tahu, tapi karena rekamannya panjang, kita masih bisa menebak-nebak atau mendapat gambaran apa sih yang sedang disampaikan. Kesulitannya hanya kita mudah hilang konsentrasi ketika mendengar rekaman yang panjang isinya sembari kita berusaha mengingat-ingat apa yang baru saja kita dengar karena bisa saja itu nanti keluar dipertanyaan.

Kita diberi kertas dan pena untuk boleh kita pakai mengorat-oret (dimana pena dan kertas ini akan diminta kembali saat kita selesai ujian. Level security selama ujian ini melebihi security di perbatasan South Korea dan North Korea barangkali, begitu seriusnya mereka berupaya agar tidak ada soal yang bocor keluar). Saran saya tidak perlu berusaha untuk menulis catatan, kecuali tingkat multi tasking antara kuping dan tangan kompak sama otak. Seringkali tidak ada gunanya itu orat-oret, yang dcatat malah nggak keluar dipertanyaan, saat mencatat konsentrasi sedikit buyar dan untuk rekaman yang cuma boleh didengar 1 x itu riskan sekali. Mending kertas dan pena buat di remas-remas aja hilangin grogi, haha.

SPEAKING (20 menit)

Sebelum test dimulai kita disuruh untuk test kelayakan audio kita. Seperti apakah mike-nya berfungsi dan komputernya bisa merekam suara kita dengan baik. Seperti saya sampaikan diatas, jika sehari-hari anda sudah cukup lancar berbahasa English atau French maka untuk test speaking ini tidaklah terlalu sulit. Sama sepertidi Listening, di Speaking ini juga ada timernya, bahkan saat pertanyaan muncul dilayarpun ada timernya. Timer di pertanyaan berfungsi untuk membatasi waktu kita untuk mempersiapkan jawaban sebelum timer merekam jawaban di mulai. Kuncinya hanya anda perlu memahami pertanyaannya dan bisa cepat mengambil keputusan, jawaban seperti apa yang ingin anda sampaikan dalam bentuk berbicara dan di rekam. Walau pertanyaannya real, tapi jawabannya bisa saja kita karang secara kreatif. Misal jika pertanyaanya tentang “Ceritakan tentang liburanmu yang terakhir kali bersama teman-temanmu” nah untuk mudahnya memang kita cerita saja apa adanya, tapi bisa juga kita karang bebas selama kita gunakan grammar yang baik.

Kendala yang dihadapi pada bagian kedua test ini hanya masalah kagok. Kagok karena berbicara sendiri, apalagi diwaktu bersamaan, peserta lain juga sedang merekam jawaban mereka, seruangan langsung berisik. Walau kita tidak bisa mendegar jelas apa yang mereka katakan kata perkata, tapi kegaduhan itu cukup menganggu. Kendala berikutnya adalah antara kita terlalu pendek jawabannya sehingga ketika bar merekam masih sisa banyak, kita sudah bengong tidak tahu mau bicara apalagi. Atau ketika masih ada yang perlu disampaikan tapi waktu merekam sudah habis. Kuncinya santai aja, mereka bukan menilai seberapa lihai kita biacara panjang lebar, tapi apakah omongan kita mudah dimengerti, apa kita ngerti yang sedang kita bicarakan.

PERSIAPAN

Saat hari ujian ada baiknya tidak membawa banyak barang karena tidak boleh dibawa masuk ke ruang ujian, semua barang termasuk jam tangan, kalung dan tetek bengek lainnya harus dititipkan. Buat yang dikit-dikit beser mending ke WC dulu sebelum ujian dan mampukan diri untuk menahan panggilan alam paling tidak selama 1 1/2 jam. Ijin ke WC cuma diperbolehkan saat selesai test 1 bagian dan sebelum lanjut ke bagian kedua. Itu pun di kawal. Emang enak?

Begitu tegasnya aturan yang mereka buat, ada banyak sekali hal yang bisa bikin kita gagal dan uang melayang, bahkan sebelum kita injak ruang ujian. Misal kalo kita mau pindah hari ujian, lupa bawa print-out pendaftaran dan dokumen data diri (Seperti PR Card atau Passport yang dipakai saat mendaftar), datang telat, HP bunyi saat ujian berlangsung, kedapatan kasak kusuk atau berbicara dengan peserta lain.

Hasil test baru kita dapatkan setelah 8 hari kerja. Kalo penasaran atau butuh cepat, mereka bisa percepat, cukup 3 hari kerja, tapi bayar lagi ya. Mau belajar-belajar lagi sebelum test? bisa beli modul pelajaran sama mereka, DDD banget deh ini… Dikit Dikit Duit… haha. Setelah 8 hari, hasil test bisa di cek di website mereka dengan login ke akun kita disana dan beberapa hari kemudian mereka kirim 2 sertifikat yang kita pakai sebagia lampiran saat apply citizenship (kalo lulus ya).

Konon makin hari, urusan beginian akan makin dipersulit, misal jika sekarang yang diminta hanya minimun level 4, maka tidak menutup kemungkinan, di masa depan mintanya minimun level 5 dstnya. Ini sudah terjadi buat test bahasa untuk akademik, levelnya naik terus. Belum biayanya, mana ada ceritanya harga turun. Jadi jika memang sudah ada rencana apply, mending segera.

Demikian informasi yang bisa saya bagikan, Silahkan kalo ada yang punya info lebih detail atau sekiranya ada perubahan lagi di waktu mendatang (sangat mungkin) bisa di sharing di bagian komentar.





Supaya Sopan atau …?

Photo by: Vansu

Photo by: Vansu

Cerita edisi ulang tahun nih.

Pertambahan usia yang setahun demi setahun dirayakan ataupun yang hanya sekedar dilewatkan begitu saja, secara tidak sadar membuat kita, atau paling tidak saya, merasa bahwa saya tidak tua-tua. Kasarnya, nggak sadar kalau sudah tua, haha. #forever21

Saat berkenalan dengan teman baru yang dikenal dari grup teman-teman seumuran, hampir selalu saya menganggap kalo teman baru ini pastilah usianya diatas saya. Apalagi kalo mereka sudah punya anak yang kira-kira usianya 8 tahun keatas. Acapkali dalam satu grup pertemanan saya menjadi yang termuda.

Namun seiring waktu, hal-hal tersebut diatas tidak lagi berlaku. Alih-laih menjadi yang termuda, salah-salah saya malah jadi yang tertua, haha. Tebak-tebak umur pun demikian. Sebenarnya sih tidak apa-apa, yang ngenes itu ketika ditebak oleh teman kalo umurku jauh atau diatas umurku yang sebenarnya, ck ck… segitu awet tuanya kah gua? Dulu sih masih bilang “Oh, gua emang lebih dewasa dibanding teman-teman seumuran” cieleh…. sekarang sih ogah lah ah, haha.

Akibat sering dianggap lebih tua, lama-lama jadi maklum dan ikhlas, haha. Dulu bisa senewen kalo dipanggil tante sama anak remaja, anak remaja loh ya…. bangsa 15-18 tahun. Padahal dulu eike masih awal 30an. Cuma bangsa 1/2 umur dari mereka, kok tega sih, hahaha. Sekarang kalo ada anak teen manggil gua tante, gua cuma senyum penuh ketante-tantean aja eh keibuan maksudnya, hahaha.

Jadi, selamat ulang tahun ke 36 Yutan! 35 kebawah masih boleh bilang “in my early 30s” tapi karena sudah 36 ya artinya lebih dekat ke 40, jadi kudu mulai biasain bilang “in my late 30s” huhuhuh *nangis dipojokan*.

Saya tutup kisah pilu ini *halah* wakakakak dengan kisah nyata berikut ini:

Adalah suatu hari dalam perkumpulan ramah tamah komunitas orang Indonesia di Toronto sini, seorang bapak-bapak aka om-om yang setelah ngobrol ini itu bangsa 15 menit, memperkenalkan anak gadisnya ke gua. Beliau bilang gini nih ” Dek dek… (manggil anaknya supaya mendekat ke kami) sini kenalin sama Ai (tante) ini” Nah kan, kata Tante/Ai nya keluar…Terus belakangan gua tau dong kalo anak gadis si Om, umurnya 33 tahun saja saudara-saudara. Yah… kalo ketemu cerita begini kadang saya merasa…..merasa….

.

.

.

.

.

TUA  saudara-saudara!!!! 😀

Si Om mau sopan kali ya….? atau dikiranya gua bangsa cewek paruh baya in her early 50! Thanks loh Om… segitu tuanya gua, bwahahahaha 😀

YuTan





Sudah ‘Sah’ Jadi Kanadian

Kurang tahu juga kenapa awalnya bisa memasukan “makan maple candy yang digulung diatas salju” masuk dalam salah satu bucket list gua. Kalo dipiki-pikir kan kayaknya biasa aja tuh, apa sih hebat dan menariknya makan semacam permen lolipop?!

Tebakan ku sih kemungkinan karena adegannya yang unik dan nggak bisa didapat di sembarang tempat kalo mau. Impian ini sih sempat pudar dan nggak begitu diharap-harap cemasin ketika pernah suatu ketika makan maple candy yang sudah keras yang dijual di toko oleh-oleh atau di tempat wisata di Kanada. Bentuknya daun maple lagi, rasanya sih ya gitu lah, manis. ihik :)

Terus suatu malam saat asyik nonton Youtube, eh ada iklan dari White Meadows Farms yang promosi lokasi mereka, begitu lihat ada adegan makan maple candy on snow, yuk mariiiiiii kita datangggg…. haha. Sekalian dong sebagai warga yang baik kita kudu paham sejarah tentang maple tree, supaya “sah dan afdol” menyebut diri sebagai Kanadian. [iya pake tanda kutip, karena untuk sah jadi Kanadian ya kalo bukan lahir di Kanada ya kudu melamar buat jadi warga negaranya dengan mengambil sumpah enak bener kalo cuma perlu ha ha hi hi makan maple candy trus langsung bisa pegang passport maple leaf haha]

Biar seru dan ramai, tak ajak teman-teman yang minat sekalian. Tur cuma ada 2 jadwal tadinya, jam 11 pagi dan jam 2 sore. Kita janjian ikut yang jam 11. Apa daya begitu kita sampai jam 10.50 tiket tur jam 11 sudah habis, 3 keluarga dapat tiket, 2 keluarga termasuk kami kehabisan. Hati ini langsung nyessssss gagal deh coret bucket list. Karena kelamaan kalo kudu ikut yang jam 2 & kita ada rencana jalan-jalan ke tempat lain. Tapi kalo sudah rejeki memang nggak kemana, ternyata sabtu itu tur ada juga buat yang jam 12.30 siang, horeeee…

Jumlah peserta dibatasi sesuai dengan kapasitas wagon yang mengantar para peserta ke tengah-tengah perkebunan maple ternyata. Berbeda dengan saat ikut Apple atau Cherry Picking, ratusan orang tumplek jadi satu. Itulah akibat main asumsi dan nggak pakai nanya-nanya dulu, haha. Hikmahnya sih akhirnya jadi bisa mampir ke Pancake Housenya, lihat-lihat binatang peliharaannya Old McDonald, belanja belenji dan istirahat menghangatkan diri.

Hasil sadapan dari pohon maple itu bening kayak air, cara nyadapnya nggak seperti nyadap pohon karet yang batangnya disayat-sayat tp cukup di colok aja langsung ke pohonnya. Total 40 liter air sadapan itu cuma menghasilkan 1 liter maple syrup. Alamak, pantesan dibilangnya Liquid Gold. Karena tidak semua pohon maple bisa di sadap, kalo bisa pun ada batasannya sesuai ukuran si pohon, plus suhu udara juga mempengaruhi, termasuk mempengaruhi warna hasil akhirnya,hasil yang pekat/dark ternyata didapat pada saat suhu dingin.

Gua pribadi ketika dikasih icip-icip maple syrup, lebih suka yang dark karena rasnya lebih kuat, aroma after tastenya juga lebih kuat, ada semacam rasa & bau hangus tapi enak haha. Tepatnya jenis Amber yang paling gua doyan dan itu tipe tergelap yang direkomendasi buat dimakan sama pancake.

Terus gimana Yul setelah nyobain makan maple candy on snow-nya? tanya kalian yang penasaran. Jawabannya …

.

.

.

.

.

Enak gila.

Hahaha, mungkin lebay ya… tapi sungguhan loh… enak banget :) tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ntah apa yang bikin dia bisa enak begitu. Mungkin karena fresh from the pot atau karena teksturnya yang belum mengeras tp juga gak seencer caramel. Atau karena lapar dan suhu dingin? ah ntahlah… yang jelas gua makan 2!!! dan tidak menyesal saudara-saudara :)

Ini cuplikan video yang sempat gua buat di hari itu, yang bertepatan dengan ultah suami.

Jadi sudah ‘sah’? ‘sah’? ‘sah’? SAHHHHH!!!! :)

YuTan