Today 3 Years Ago

3 tahun lalu (27 September) sekitar jam 9 malam waktu Indonesia bagian barat, aku duduk sendiri di ruang boarding terminal 2 bandara Soekarno-Hatta Jakarta, tanpa terasa air mata turun tak tertahankan. Kala itu aku menunggu penerbangan dari Jakarta menuju Jepang yang nantinya akan meneruskanku ke negeri yang baru untuk menetap for good, Kanada.

Flash back sekitar 2-3 minggu sebelumnya, ketika sibuk-sibuknya aku mempersiapkan keberangkatan ini, banyak diantara teman atau rekan kerja yang kemudian bertanya “Gimana rasanya? deg-deg-an gak? senang gak?, are you excited?” yang kemudian ku jawab “biasa aja, flat, nggak tau senang atau sedih” itu jawaban jujur, ibarat rem, kayak blong gitu.

Boro-boro mikirin apa yang aku rasakan, kala itu sibuk sekali urus ini itu. Selepas nikah pada bulan May sebelumnya dan ditinggal suami balik ke Kanada di awal Juni, dan bulan Juli kami masukan aplikasi permohonan PRku, segala emosi sudah terkuras habis-habisan. Antara deg-degan nggak tau kapan permohonan itu akan dikabulkan, konon bisa memakan waktu antara 6 bulan hingga setahun kemudian, belum lagi ada kemungkinan di tolak sama sekali. Walau melajang hingga mendekati usia 30 kala itu ntah kenapa status menikah membuat ada semacam perasaan berpisah dengan suami itu tidak menyenangkan. Tidak heran kalo kemudian ada banyak pasangan dengan kasus seperti kami, maju mundur dalam mengambil keputusan antara berpisah kemudian mengajukan PR atau bersama sebagai suami istri selama mungkin dengan resiko pengajuan PR menjadi tertunda-tunda, bahkan tak jarang menjadi sangat complicated.

Ketika permohonan PR sudah diterima di imigrasi Kanada dan mendapat nomor registrasi, saat itu juga aku mengajukan visa kunjungan sementara. Memang itu rencana kami. Asumsi pengajuan PR hanya menunggu proses karena semua dokumen sudah dinyatakan lengkap dan valid. Asumsi lain, saat mengajukan visa kunjungan sementara dengan melampirkan nomor registrasi tersebut membuat kans untuk di approvenya visa menjadi semakin kuat. Berikutnya adalah “gambling”, jika kemudian visa di approve dan masa tinggal di Kanada sudah habis namun PR belum keluar, maka aku terpaksa pulang lagi ke Indonesia untuk kemudian diputuskan apakah lanjut mengajukan visa kunjungan atau menunggu PR saja. Namun kami cukup optimis, jika selama statusku masih di Kanada sebagai turis, PR akan di approved dan aku tinggal menjalankan proses Internal Landing tanpa perlu pulang lagi ke Indonesia/keluar Kanada. Dan doa kami dan doa-doa keluarga dan teman kami menjadi kenyataan, Sekitar bulan Desember PR ku di approved. Pada tanggal 4 Januari 2011, aku resmi berstatus sebagai PR Kanada.

Nah, saat nomor resgitrasi keluar sekitar bulan Agustus tersebut, ditambah proses pengurusan Visa 2 minggu dan ditambah sekitar 2 minggu sebelum hari keberangkatan, banyak sekali yang aku urus dan pikirkan. Untunglah kantor mengsupport karena memang sudah jauh-jauh hari aku woro-woro kalo setiap saat jika visa ku di approve aku akan resign, barang-barang di kost-kostan yang sudah kuhuni sekitar 9 tahun juga harus aku pikirkan, antara di jual, di bagikan, dikirim ke Jambi atau dibuang. Aku juga sempatkan pulang kampung ke Jambi. Berita keberangkatan ku buat pindah selamanya juga agak mengejutkan beberapa teman. Sesuatu yang mereka tau akan terjadi cepat atau lambat, tp begitu itu menjadi kenyataan dalam waktu begitu singkat, rasanya agak tak percaya juga.

Ada untungnya juga selama sebulan tersebut aku sibuk ini itu dan tidak terlalu sentimental, kalo di kilas balik, kok kayaknya hatiku terbuat dari baja, lempeng aja gitu, kayak orang cuma mau liburan aja barang seminggu dua minggu.

Sore itu dalam perjalanan kebandara, aku diantar sama tante, keponakan dan mamaku. Jakarta diguyur hujan cukup deras mengakibatkan macet disepanjang jalan Sudirman. Kala itu aku berkata, Jakarta aja sedih ya aku tinggalin? cup cup cup, jangan sedih ya…

Dibandara juga sempat bertemu Ibu mertua dan adik ipar, kami ngobrol dan makan malam disalah satu merchand di Bandara. Saat waktunya masuk aku masih cengengesan, sebelum pandangan mataku terhalang untuk melihat ke arah mama ku, aku sempatkan melihat dan nampaknya dia menahan tangis atau sudah menangis? kala itulah hatiku remuk.

Setelah duduk tenang di kursi ruang boarding, perasaan nyata bahwa aku pergi untuk “selamanya” baru menampar-nampar. Bukan karir yang mana aku baru saja dipromosikan sebulan sebelumnya yang ku tangisi, bukan pula tangis ketakutan tak bisa lagi menikmati makanan-makan lezat di Indonesia, bukan pula kehilangan teman-teman yang aku tau masih bisa terus dibina melalui social media, bukan pula gereja. Semua itu pasti berdampak dan punya porsinya sendiri-sendiri namun masih bisa di anulir. Yang terberat dan  masih sampai sekarang adalah Keluarga yang ku tinggalkan. Khusus yang ini walau ada Skype, telepon dan segala macam, tidak akan pernah bisa menutup kekosongan yang diakibatkan oleh jarak ini.

Tidak bersama-sama melihat keponakan-keponakanku tumbuh besar. Apalagi saat sedang hamil begini, membayangkan jika ada di Jambi, anakku kelak akan punya banyak saudara untuk bermain dan tumbuh bersama.

Tapi inilah hidup yang sudah dipilih, ada yang dilepas ada yang didapat. Bisa kembali re-united dengan suami dan membangun keluarga sendiri adalah lembaran baru, terlebih di negeri asing yang setelah 3 tahun menetap disini, di dua kota yang berbeda sudah tidak terlalu asing lagi, bahkan bisa ku sebut sebagai my home.

Tanpa melupakan atau mengecilkan peranan tanah air beta selama kurang lebih 30 tahun aku tinggal disana dibandingan 3 tahun disini, ada sesuatu yang nampak nyata bedanya. Hidupku tidak was-was akan kejahatan dijalanan. Puji Tuhan selama 3 tahun disini belum pernah mengalami kejahatan dan memang umumnya lebih aman, sekalipun saat ini kami tinggal dikota besar macam Toronto yang tindak krimininalitasnya cukup tinggi. Betapa lelahnya ketika masih di Indonesia, macam-macam tindak kejahatan sudah ku alami, mulai dari dicopet diatas motor, dijambret sampai kelapa benjol dan begulatan sama si jambret, dicopet di bus, dan yang paling epic dirampok di taxi. Semua terjadi baik ketika masih di Jambi atau di Jakarta. Cukuplah sudah kayaknya ya? apa puas barangkali lebih tepatnya, langganan. Sigh.

Belum lagi  ditambah berita-berita rasis belakangan ini di Indonesia yang semakin marak membuat aku bersyukur sekaligus resah. Bersyukur karena aku sudah tidak disana, tapi resah karena semua keluargaku masih disana. Doaku hanya lindungilah semua orang-orang yang kukasihi disana. Jauhkan dari mara bahaya daripada orang-orang jahat.

Selama 3 tahun ini seperti ku info diatas, kami sudah berkesempatan tinggal di 2 kota, pertama di ujung timur Kanada, di kota bernama Halifax, sebuah kota tepi laut yang cantik dan mungil. Selama 1 1/2 tahun disana, aku sudah sempat kerja selama 8 bulan di studio foto, punya keluarga baru dari para imigran Indonesia, teman-teman dari aneka bangsa. Saat ini kami sudah pindah dan menetap di Toronto, salah satu kota besar Kanada selain Vancouver, sempat ikut program coop selama 3 bulan dan sekarang sedang hamil 5 1/2 bulan. Selama 3 tahun ini juga sudah berkesempatan jalan-jalan ke barat Kanada, Vancouver & Calgari, juga beberapa kota dan provinsi di Timur seperti PEI. Selama perjalanan pindah dari Halifax ke Toronto juga berkesempatan singgah di kota-kota yang dilalui seperti Moncton, Montreal, Ottawa & Quebec.

Ini memang negeri yang indah dan unik yang terbuka dan menerima imigran dengan tangan terbuka. Ia memang tidak selalu menjanjikan yang manis, hatiku bersama orang atau keluarga yang masih kesulitan beradaptasi atau harus “turun” derajat dan struggle mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidang, namun juga tak sedikit yang sudah mencicipi susu dan madunya.

I am looking forward to continue my journey in this country for another 3 years? 30 years? with new member nexy year, my baby girl. In the name of Jesus Christ, Amen!

YuTan

 

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 8 - Final]

Akhirnya, sampai juga kita di penghujung acara cerita serial ini. Buat yang tidak mengikuti dari awal, berikut tautan ke serial-serial sebelumnya :

Part #1 – Persiapan

Part #2 – Vancouver ( Granville, Lynn Canyon, etc )

Part #3 – Vancouver ( Stanley Park, Aqua Bus, etc )

Part #4 – Calgary & Canmore

Part #5 – Banff, Lake Louise, and Lake Agnes Tea House

Part #6 – Icefiled Parkway

Part #7 – Jasper Tramway

Selepas menghantar teman ke terminal bus, kami langsung bertolak kembali ke Calgary, non stop. Pada malam terakhir tersebut kami menginap di kota Calgary, bukan di tengah kotanya tapi lebih ke pinggir kota ( Strathmore ); searah ke target lokasi tujuan kami yang terakhir. Inapnya di hotel kali ini, supaya ketika naik pesawat, penampakan diri bisa lebih manusiawi, haha.

Berikut jadwal hari terakhir kami :

SUN, AUG/26
07:00 BREAKFAST at the hotel
07:30 To Drumheller (1.5 hrs)
11:30 LUNCH at Drumheller
12:00 To Calgary Airport
15:00 Return rental car, Buy dinner
15:30 Baggages drop-off
17:00 Fly to Toronto
18:00 DINNER on the plane
22:40 Arrives in Toronto

Yes, hari ini mau mengunjungi nenek moyang daripada nenek moyang yaitu Dinosaurus!!! Dapat info lokasi ini dari teman kita, Widiono Kwong. Katanya boleh tuh kalo ada waktu mampir ke Drumheller, tempatnya unik. Dipikir-pikir benar juga, kalo sudah ‘bosan’ liat danau dan gunung, ganti suasana dong liat yang bedaan dikit.

(Catatan penulis : Drumheller adalah nama kotanya. Adapun lokasi wisata/look point-nya bernama Badlands, Horse Shoe Canyon dan Horse Thief Canyon)

Lokasinya agak jauh, dari Calgary aja butuh 90 menit perjalanan dengan kondisi jalan yang lengang, itu artinya jauhhhhh…. haha itu juga sebabnya kami paksakan tembak langsung ke Calgary pada hari sebelumnya, supaya bisa start perjalanan dari pagi-pagi sekali (baca: sepagi yang kami bisa) dan sampai di bandara tepat waktu.

Kali ini tinggal berduaan saja, mobil pun terasa lega. Suasana maupun pemandangan selama perjalanan dari Calgary ke Drumheller, lain daripada yang lain. Ini pengalaman pertama mendapat suasana seperti itu. Oh Canada, sungguh unik rupamu.

Jalan rayanya tidak terlalu lebar, seringkali hanya ada 1 jalur, tapi mulus semulus-mulusnya. Ntah karena kontur tanah bawahnya bagus atau karena jarang di lalui? haha. Di sisi kiri dan kanan jalan adalah tanah pertanian, bukan ladang pertanian nanam sayur sih, kayaknya lebih ke gandum atau jagung. Saat itu sudah habis di panen jadi sejauh mata memandang adalah sisa sisa pembantaian, ada yang sudah rapi jali ada juga yang masih meninggalkan sisa-sisa batang gandum yang menguning. Tanahnya cenderung datar atau bergelombang sedikit, hampir tidak ada pohon, jarang ada bangunan rumah tapi sesekali semacam lumbung. Jadi dengan jarak berkilo-kilo meter, mata kita bisa melihat jauhhhhhh seolah-olah hendak menembus horizon.

Nice summer, eh?

Nice summer, eh?

IMG_1820

Semacam dimana ini? Kalo pada naik kuda aja seru kali disini ya

Blue sky... &  I love Canada!

Blue sky… & I love Canada!

IMG_1827

Ladang

IMG_1828

Sepi, dunia milik kita!!!

Kalo nyetir sambil merem juga bisa loh disini, hahah *kidding* soalnya jalan rayanya nyaris lurus doang, bener… lurusssssssssssssssssssssss terusssssssssssssss nggak pake belok-belok. Hanya ketika mendekat ke Drumheller, pemandangan berubah… semacam tiba-tiba berada di planet lain, susah digambarkan dengan kata-kata.

Lokasi ini kesannya antah barantah banget. Tapi hebatnya, GPS yang kami bawa mumpuni banget. Dia (GPS) sempat bikin takut sih, soale tau-tau kok peta yang tergambar di GPS memperlihatkan kalo kami perlu melintasi sebuah sungai kecil. Wah ciloko iki… mobil disuruh kelelep po? Eh ternyata… ada jasa penyebrangan rek… itu semacam ‘kapal’ derek. Mobil parkir di semacam rumah air yang ada halaman cukup gede, bangsa muat 2 mobil jejeran. Rumah air tersebut terbuat dari kayu dan ada semacam tambang kuat yang menggerek sang rumah dari sisi satu ke sisi lainnya. Untuk menyebrang ini kagak perlu bayar, horeeee….! Padahal ada orang yang jaga/mengoperasionalkan tuh alat penyebrang (Kalo pernah ke pedalaman Kalimatan, tau deh yang beginian). Ntahlah siapa yang menanggung biaya operasional ini, dari uang pajak kali. Ingat, ini provinsi kaya… kalo ada yang gratis… biasa aja… jangan heran, haha.

Sebenarnya ada banyak jalan atau at least 2 jalan menuju Drumheller dari kota Calgary. Ini tau ketika pulangnya, kami tidak perlu melewati sungai lagi. Semua GPS yang atur, dan ntah kenapa dia pilih jalan seperti itu, sebagai turis ya senang aja dikasih alternatif lain. Somehow saya merasa arah pulang lebih cepat sampai.

Jelas kami tidak melihat ada perumahan di sekitar area ini, mungkin tidak boleh karena ini masuk dalam Dinosaurus National Park? Ntahlah. Ini daerah kesannya tua banget, tanah yang terkikis di tebingnya mempelihatkan lapisan-lapisan yang berwarna putih, kuning dan orange. Jarangnya mobil yang lalu lelang memberi kesan tersendiri ketika kita hanya sendirian saja disana.

Setelah ‘adegan’ nyebrang sungai itu kami sudah tidak jauh dari ‘Grand Canyon”nya Canada. Itu loh… pusat penemuan Dinosaurus, bentuknya mirip Grand Canyon Amerika, Beberapa yang kami kunjungi adalah Horse Shoe Canyon karena menyerupai tapak kuda bentuknya (jadi ingat Niagara Fall). Ada juga yang namanya Horse Thief Canyon karena konon jaman dulu area ini dipakai untuk mengganti identitas kuda. Maksudnya habis di colong, kuda orang trus didandanin ulang sehingga berubah identitas. Di area ini saja ditemukan sekitar 35 jenis Dino, bayangkan!

Kami tidak sampai turun ke bawah, padahal kayaknya keren kalo jalan ke bawah. Katanya sih kudu hati-hati, nampaknya gampang kayak hiking biasa, tapi kalo nggak waspada katanya bisa nyasar dibawah sana. Makanya dilarang turun kebawah kalo sudah menjelang gelap atau kudu sudah naik kalo sudah mau gelap. Bentuknya yang mirip-mirip bikin mudah nyasar katanya. Lain kalo mau coba kalo ada kesempatan supaya bisa ngerasain apa rasanya melihat keatas dari bawah sana. Ini semua karena waktu yang mepet booowwww… sama sayang duit juga, kalo nggak boleh di coba tuh naik Helikopter buat kelilingin area sini sehingga bisa melihat dari atas. Duh nasib, biarlah saat itu hanya cukup melihat dari atas tanah aja haha. (kebayang sih kerennya kalo dilihat dari atas heli, hiks ).

Yuk naik heli yuk lain kali :)

Yuk naik heli yuk lain kali :)

IMG_1831

Bisa nyasar kalo jalan-jalan sendiri di bawah sana.

Horse Thief Canyon

Horse Thief Canyon

Pemandangan di Horse Thief Canyon

Pemandangan di Horse Thief Canyon

Mat Kodak

Mat Kodak

Karena arah pulang yang berlainan dengan waktu datang, kami berpas-pasan dengan Museum Royal Tyrrell . Nggak ada rencana mampir sih… soale masuk museum kudu bayar cing… $11 buat seorang. Tapi berhubung ada yang lagi kebelet dan sudah kena waktu makan siang, kami mampir deh. Seperti museum pada umumnya, di dalamnya ada cukup banyak gallery yang mejengin tulang belulang Dino dan mahluk-mahluk purba lainnya. Ada foodcourt dan toko menjual merchandise. Museum ini juga menawarkan tour dan penjelasan asal muasal Dino dsbnya. Ini cocok dah buat yang punya anak, apalagi anak dibawah 6 tahun gretong, hehe.

Senang banget kami berhasil mampir juga ke lokasi ini. Let’s say saya ini agak telmi alias telat mikir. Ntah kenapa waktu disana saya secara reflek bilang “Wuih… Dinosaurus itu beneran ada loh…” yang langsung berbuah toyoran dari suami. Kemana aja lu YuTan???! kata anda-anda yang gemes juga. Iyeee… tauuu dari dulu juga tau kalo Dinosaurus itu beneran ada, bukan rekayasa… tp ntah kenapa begitu injek kaki disana, rasanya mereka itu lebih “hidup” gitu. Haha.

Replica Dinosaurus di depan Museum

Replica Dinosaurus di depan Museum

IMG_0301

Salah satu fosil yang dipajang di gallery museum

IMG_0303

Another fosil. Ada yang tau ini namanya apa?

Singkat kata kami kudu kebut balik ke bandara di Calgary. Kudu balikin mobil sewaan soalnya. Ternyata proses kembaliin mobil simple saja nggak pake lama atau belibet. Cukup isi kembali bensin full tank, parkir di tempat parkir khusus kembaliin mobil, kosongkan isi mobil dari barang pribadi dan sampah, ke loketnya yang dekat parkiran buat administrasi dan done!

Luarbiasaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…! Pengalaman perjalanan yang menyenangkan dan teramat berkesan. Thanks God bisa pergi dan pulang tanpa kekurangan suatu apapun (selain tabungan berkurang tentunya). Kalo punya waktu, dana dan masih kuat jalan sendiri, saya rekomendasikan tempat-tempat ini untuk anda. Selera saya dan selera anda mungkin beda tapi kalo soal mengagumi karya ciptaan Tuhan, harusnya sama haha.

Buat yang berkendala, ojo sedih… semoga dengan baca tulisan-tulisan serial ini, secara tidak langsung anda ikut saya melalang buana. Berbahagialah yang melihat apa yang tidak bisa dilihat dibanding orang yang sudah lihat dengan biji matanya sendiri tapi tidak percaya. Itu kata seseorang sih (uhuk!), sambung nggak sambung, sambung-sambungin aja ya rek!

Sampai jumpa di petualangan berikutnya! (isi diluar tanggung jawab penulis (loh?!) ada baiknya cross check lagi dengan mbah google atau nara sumber lainnya (ihik) haha)

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 7]

Okay, sampai dimana cerita terakhir kisah petualangan ke Rocky Mountains ini? Sampai di restoran Korea ya? hehe. Sebelum saya kasih tau jawabannya, lihat dulu foto dibawah ini ya!

Ini habis minum lelehan salju abadi, jadi muda 10 tahun (jadi awet muda apa jadi agak miring ya? you decide)

Ini habis minum lelehan salju abadi, jadi muda 10 tahun (jadi awet muda apa jadi agak miring ya? you decide). Kambing gunung sama (shio) kambing Indo.

Jadi, pas malam kedua kita (teman saya kasih semangat) bertanya ke owner resto. itu kenapa side dish di resto ini kudu bayar? dimana-mana side dish gratis dan bermacam-macam pula, minimal 3 macam gitu. Jawabannya (saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia bebas) “Kita terima pasokan bahan makanan hanya seminggu sekali karena jauhnya lokasi ini dengan penyuplai (Edmonton/Calgary kalo ndak salah) makanan kami, jadi tidak bisa kasih side dish gratis”. Ya, that’s it. Kita respon dengan “Ohh…” dengan muka lempeng sambil keluar dari resto. Opo meneh itu jawaban kagak nyambung blas!

Sewaktu perjalanan ke resto kita dapat pemandangan yang keren banget, pelangi. Bukan sekedar pelangi biasa, tapi double rainbow.

O.o Terbelalak saya melihatnya...

O.o Terbelalak saya melihatnya…

IMG_1767

Walau gerimis saya bela2in turun dari mobil dan jepret2. Susah lagi motretnya, hasil foto tidak sebagus aslinya

Itu kali pertama saya lihat secara langsung dengan mata kepala sendiri dua pelangi dan juga yang pertama kali melihat pelangi segitu gede-nya. Melengkung dari ujung ke ujung sampai lensa iPhone horizontal juga gak muat, kecuali saya mundur sampai jauh sampe masuk hutan kali, haha. Pelanginya juga terasa dekaaaaattttt banget, ujung satunya hanya diseberang sungai, pengen rasanya berenang kesana dan berdiri persis dibawahnya, siapa tau nanti dikira bidadari, ihik ihik. ketika sampai di Jasper Town, pelangi masih membentang dengan cantiknya, banyak turis yang sedang asyik makan di balkon restoran pada terkagum-kagum dan mengabadikan pemandangan tersebut.

Jadwal kegiatan hari ke 3 :

FRI, AUG/24
07:00 BREAKFAST Instant noodles (campground has electricity)
08:00 To Jasper Tramway
12:00 LUNCH
13:00 Medicine Lake, Maligne Lake
18:00 DINNER

Highligh hari itu adalah Jasper Tramway. Yang model begini juga ada di Banff. Konon yang di Banff lebih pendek dan tidak semenarik yang di Jasper. Oleh sebab itulah kami memilih naik yang di Jasper saja. Kalo punya dana lebih ya boleh dicoba dua-duanya.

Campground di Wabasso ini ada colokan listrik, jadi malam itu bisa ngecharge segala battery. Mong ngomong, kami juga bawa colokan special di dalam mobil, jadi satu colokan bisa dipakai buat nancepin cem macam USB. Ini berguna banget karena selain colokan buat GPS kita juga bisa ngecahrge handphone selama dalam perjalanan secara bersamaan. Jangan lupa juga bawa banyakan cem macem plastik, ntah itu kantong kresek atau kantong buat sampah. Terbukti ini penting dikala kami harus mengalami malam dengan hujan gerimis (mengundang), dengan modal kantong sampah/recycle yang gede kami bisa menutupi tiang colokan di campground sehingga colokan listrik beserta battery dan HP kami aman dari gerimis.

Nampak jadwal hari itu sedikit saja, karena ada dua hal. Pertama kami ingin spend waktu lebih banyak diatas gunung saat naik tramway (ogah rugi judulnya) dan setelah itu butuh perjalanan agak lama untuk mencapai Medicine dan Maligne Lake. Pagi-pagi benar keesokan harinya saya dan suami sebelum sarapan pergi hunting foto di tepi sungai Athabasca. Hasil fotonya bisa dilihat di sini. Sehabis foto dan sarapan kami pun langsung menuju ke Jasper Tramway tanpa perlu berkemas karena kami akan menginap semalam lagi di lokasi ini.

Cuaca hari itu lumayan bagus setelah kemarin di guyur hujan, namun awan masih tebal diatas puncak-puncak gunung. Pakailah pakaian yang cukup tebal dan sepatu yang sesuai untuk mendaki bukit/gunung batu. Kita akan dibawa ke ketinggian 2277 meter diatas permukaan laut oleh tramway ini, setelah itu masih bisa hiking ke atas gunung. jadi sudah pasti diatas sana akan dingin, belum anginnya, belum tipisnya oksigen.

Dibawah dekat terminal yang akan membawa kita keatas ada toko suvenir dan juga jajanan-jajanan kecil. Karcis untuk naik keatas dipatok $30 perorang. lebih mahal daripada naik gondola di Banff. Itupun cuma harga naik dan turun, nggak pake embel-embel jasa tur guide atau nonton film dokumenter tentang lokasi ini. Worth it nggak YuTan? tanya anda yang penasaran. Jawabannya oke lah untuk harga segitu dengan pengalaman yang didapat selama di atas, haha… Mereka ini pintar, kalo atraksi yang hampir tidak ada pilihan lain kecuali pakai mereka, harganya pasti dipatok mahal. Tapi ya nggak apa-apalah, toh tontonan lain macam danau-danau yang indah itu kagak disuruh bayar lagi.

Ini tramwaynya, bisa muat bangsa 20 oranglah sekali naik. Pintar-pintar pilih lokasi supaya saat naik bisa lihat pemandangan diluar :)

Ini tramwaynya, bisa muat bangsa 20 oranglah sekali naik. Pintar-pintar pilih lokasi supaya saat naik bisa lihat pemandangan diluar :)

Selepas sampai diatas yang berupa sebuah bangunan besar berisi restoran dan museum kecil, nanti ada jalan setapak dari bahan kayu dan kemudian gunung batu. Diantara bebatuan itu kalo anda jeli, bisa deh liat tikus tikus gunung. Mereka ini gesit sekali, nggak kayak chipmunk atau squirrel, mereka ogah di foto. Boro-boro foto, dilihat saja susah.

Pemandangan melihat kebawah dan sekitar (nyaris bisa liat pemandangan 180 derajat lebih. I would say around 300 derajat?) adalah kota Jasper dibawah dengan beberapa danau dan sungai, gunung-gunung megah berdiri kokoh sejauh mata memandang. Perlu extra hati-hati dan sedikit usaha untuk naik ke atas. turunnya apalagi, kudu pake gaya kepiting, alias gaya miring.

itu yang segitiga, Kota Jasper-nya. Ada jalur kereta api juga yang sekali jalan bisa sepanjang 2 miles...

Itu yang segitiga, Kota Jasper-nya. Ada jalur kereta api juga yang sekali jalan bisa sepanjang 2 miles…

Kita memang gak cita-cita buat naik sampe ke puncaknya atau pun mengitari sekelilingnya (ini kayaknya lebih baik bersama tur guide), cukuplah sampe dimana orang2 kebanyakan berada. Eh eh… apa hendak dikata ya, sudah naik naik… maksudnya sudah liat ujungnya gitu, ok kita naik sampe sana ya, begitu sudah sampai sana lah kok? masih ada naikan lagi keatas, ok naik lagi ya sampai gundukan itu, ealah… masih tinggi aja bowww… hahaha seolah-olah tak berkesudahan. Saking curamnya tuh gunung kali ya, jadi kagak keliatan  puncaknya… jadi kebayang dong… pas naik keatasnya atau pas turunnya.

Suami sekali-kali kudu ingetin bininya ini yang suka jalan-jalan ke tepi gunung.Maklumlah, istri satu-satunya, kalo tergelincir kebawah, alamat gak bisa dibawa pulang dalam keadaan utuh atau salah-salah gak bisa ketemu lagi, nyangkut dilereng gunung ditemani beruang.

Ini ketawa/senyum pake menggigil log...

Ini ketawa/senyum pake menggigil log…

IMG_0035

Itu terminal setelah dibawa ke atas. Ada restoran dan look point

Nyampe juga di (agak) puncak tertinggi dunia :D

Nyampe juga di (agak) puncak tertinggi dunia :D

IMG_1782

Another one life time experience with someone you love, ihik :D

Satu dari 4 diantara kami harus mengaku kalah dan tidak ikut naik ke atas, dia cukup bahagia menikmati secangkir kopi di dalam restaurant dan melihat pemandangan dari balik jendela kaca, haha. Itu juga membuat kami tidak ingin terlalu lama disini, selain tentu saja sudah mau dekat waktu makan siang dan tidak tahan dengan suhu dingin terlalu lama, bisa jadi keripik karena kering, hehe.

Makan siang hari itu di KFC, pilihan yang tepat dan cepat. Jadi nggak perlu sakau sama comfort food selama di Jasper. Walau kotanya gak segede Banff tapi cukup lengkap. Bahkan ada kamar mandi umum buat yang gak ada kamar mandi campgroundnya.

Dua danau yang kami kunjungi selepas makan siang agak jauhan dari kota Jasper. Perlu perjalanan kira-kira satu sampe satu setengah jam. Jangan khawatir, jalanannya mulus dan pemandangannya asri tak terkira. Saat itu walau di langit awan awan menggumpal, mereka seolah-olah bertahan untuk tidak tumpah sebelum larut malam menjelang.

Danau pertama adalah Medicine Lake. Ini danau konon bisa kering kerontang airnya, nggak tau hilang/lari kemana. Saat itu danaunya tenang sekali, letaknya persis dipinggir jalan, jadi nggak pake parkir terus jalan jauh.

Ini foto yang di vote tempo hari untuk jadi feature Artist di instacanv.as yang lalu

Ini foto yang di vote tempo hari untuk jadi feature Artist di instacanv.as yang lalu

IMG_1788

Salah satu pemandangan disekitar Medicine Lake

Berikutnya adalah Maligne Lake, danaunya besar sehingga cocok dipakai buat bercanoe ria.

Maligne Lake, tempat penyewaan canoe

Maligne Lake, tempat penyewaan canoe

IMG_1790

Alamat hujan lagi malam ini…

Karena (ternyata) tidak banyak look point di sepanjang perjalanan menuju dua danau ini yang kami singgahi, maka kami masih punya banyak waktu. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke permandian air panas bernama Miette Hot Springs. Keputusan yang tepat, setelah berlelah-lelah dan mandi ala kadar di Campground, saatnya melunturkan semua lemak dan daki di kolam air panas ini, haha. Letaknya sejalan dengan arah pulang ke Jasper dari Maligne Lake.

Lupa harga beredam disana berapa, yang jelas nggak mahal kok. Ada dua kolam yang cukup besar, dan buka nya pun sampai larut malam dan masih ramai. Karena tiba disana sudah malam, maka tidak lagi bisa leluasa beredam sambil melihat pemandangan alam sekitar, yang ada malah saling lihat2an dengan sesama pengunjung lain, haha… ada yang sambil baca, itu buku plastik apa buku bohong2an ya? :)

Dan seperti saya info di post sebelumnya, malam itu kami makan malam lagi di restoran Korea tsb, selain makanannya enak juga sudah gak usah repot mencari lagi. Hujan gerimis pun perlahan turun seiring dengan semakin turunnya suhu udara yang bikin malas bangun keesokan harinya.

Ini kondisi sarapan di hari ke 4. Roti aja sudah berubah bentuk, haha

Ini kondisi sarapan di hari ke 4. Roti aja sudah berubah bentuk, haha

Hujan memang sudah berhenti keesokan paginya, namun meninggalkan tanah dan semua-semuanya basah. Duh, mana kudu berkemas lagi hari itu. Alhasil kudu kerja extra pagi ini selain ngerapihin tenda juga kudu ngeringin. Ini nih resiko kalo tidur di tenda, apalagi tenda sewaan, LOL.

Ini hari sebelumnya, cuma mau nunjukin suasana Wabasso campsite. itu sebelah kanan adalah colokan listrik.

Ini hari sebelumnya, cuma mau nunjukin suasana Wabasso campsite. itu sebelah kanan adalah colokan listrik.

Sudah saya bilangkan, kalo pagi hari itu adalah waktu paling terbaik di Rocky Mountains? Ntah kebetulan atau gimana, setiap danau yang kami kunjungi dipagi hari selalu adalah danau yang tercantik.

Sebelum saya buktikan dengan foto, berikut jadwal perjalanan hari terakhir kami di Rocky Mountains :

SAT, AUG/25
07:00 BREAKFAST Instant noodles (campground has electricity)
07:30 Break-up tents
08:00 To Yoho National Park (Takkakaw Falls, Emerald Lake, etc)
12:00 LUNCH in Yoho
17:00 To Banff Bus/Train station (1 hr)
18:00 DINNER at Banff Bus/Train station
19:00 To Super 8 Strathmore

Dengan modal peta perjalanan dari brosur yang kami dapatkan di visitor information atau restoran, kami jadi tau kalo ada danau-danau yang patut dikujungi disekitar Jasper. Jadi Pagi itu kami kunjungi dahulu dua danau ( Pyramid dan Patricia Lake ) yang berada dekat sekali dengan kota Jasper (dibelakangnya) sebelum kemudian jalan balik ke arah Banff untuk mampir di Yoho National Park.

Patricia Lake. Sekilas mirip Helbert Lake ya?  cuma ini lebih gede...

Patricia Lake. Sekilas mirip Helbert Lake ya? cuma ini lebih gede…

IMG_0120

Ini versi Vertical-nya Patrcia Lake

Jarak antara Patricia lake dan Pyramid Lake lumayan dekat. Di sekitar sana pun banyak cottage yang dari luar nampak nyaman. Sekali koprol sudah sampai ke danau. kalo ada rejeki ke Jasper lagi, saya mau inap ah disalah satu penginapan disini.

Pyramid Lake. Nggak mau pulang kalo sudah lihat yang beginian.

Pyramid Lake. Nggak mau pulang kalo sudah lihat yang beginian.

Asyik ya, bisa mancing juga...

Asyik ya, bisa mancing juga…

Mungkin Sun Go Kong masih tidur ya, kalo nggak dia terbang-terbang kali disini.

Mungkin Sun Go Kong masih tidur ya, kalo nggak dia terbang-terbang kali disini.

Tanpa banyak buang waktu kami pun segera meluncur ke Yoho. Kali ini nggak bisa sampai meleset estimasi waktu karena dua teman akan melanjutkan perjalanan dengan bus ke Edmonton via Banff. Karcis masuk park yang ditempel di kaca mobil juga expired hari itu. Jadi kami sebenarnya ragu-ragu apa nanti masih bisa masuk ke Yoho. Ternyata tidak ada pemeriksaan selama perjalanan kesana.

Yoho letaknya agak dibawah kiri Banff kalo dilihat dari peta. Jarang pula national park yang satu ini disebut-sebut orang. Tidak seterkenal sodaranya Banff atau Jasper. Saat memasuki Yoho kontur tanah atau alamnya pun nampak sedikit beda, tapi saya nggak bisa jelaskan bedanya dimana, kira-kira nampak lebih ‘alamiah’ atau kagak terjamah? ah ntahlah… mungkin itu perasaan saya saja :)

Target lokasi selama di Yoho adalah Emerald Lake dan Takakaw Fall yang konon adalah air terjun tertinggi kedua setelah Niagara Fall. Tanpa banyak panjang lebar, silahkan dinikmati foto-fotonya. Cuaca hari itu luarbiasa indah dan cerahnya.

Emerlad Lake. Airnya jernih...

Emerlad Lake. Airnya jernih…

Lebih nggak kepengen pulang kalo liat beginian mah...

Lebih nggak kepengen pulang kalo liat beginian mah…

Si ngkoh yang duduk di pagar pengen gua ceburin ke danau deh. Ganggu pemandangan aja, huh!

Si ngkoh yang duduk di pagar pengen gua ceburin ke danau deh. Ganggu pemandangan aja, huh!

Ini di foto hanya karena nama gunungnya sama dengan nama koko saya hahaha :)

Ini di foto hanya karena nama gunungnya sama dengan nama koko saya hahaha :)

Jalan ke arah lain ada air terjunnya segala.

Jalan ke arah lain ada air terjunnya segala. Natural Bridge of The Kicking Horse River Valley.

The Kicking Horse River Valley

The Kicking Horse River Valley

Ada cerita lucu saat di Kicking Horse. Sedang asyik-asyik saya motret kearah air terjun, kok ada emcim encim berpose buat saya. Seolah-olah nyuruh saya foto atau mengira saya motoin dia. Saya jadi serba salah… ini maksudnya apa? dia salah orang kali ya? kalo saya cuekin gimana, kalo saya foto lah buat apa? emak saya bukan. Haha.

Takkakaw Fall, nampak dari jauh

Takkakaw Fall, nampak dari jauh

Takkakaw Fall, nampak dari jauh (vertical)

Takkakaw Fall, nampak dari jauh (vertical)

What a beautiful day!

What a beautiful day!

Untuk mencapai ke bawah air terjun perlu berjalan lumayan jauh. Sekali lagi, karena keterbatas waktu kami tidak sampai jalan ke bawah air terjun, kalo ada waktunya boleh juga sekalian mandi-mandi disana, haha.

Singkat cerita kami pun masuk ke kota Banff. Duh, kotanya ramai deh… penuh dengan aneka restoran dan toko dan turis yang berjubelan di jalan. Kalau tahu kotanya asyik begini, mungkin bisa dicari akal untuk stay lamaan disini. Namun karena padatnya jadwal, kami cuma mampir makan siang menjelang sore saja disini. restoran yang dipilih juga yang pasti-pasti aja, Tony Roma’s. Sudah diujung perjalanan dan hendak berpisah dengan teman bolehlah dirayakan dengan agak istimewa, ihik.

Restoran penuh sekali saat itu, perlu agak lama untuk dilayani, namun makanannya tidak mengecewakan, sehingga puas rasanya.

Ribsnya Toni Roma's yang termasyur. Tapi yang juara yang dibelakang tuh, pizza dengan potongan steak. Glek!

Ribsnya Toni Roma’s yang termasyur. Tapi yang juara yang dibelakang tuh, pizza dengan potongan steak. Glek!

Habis makan dan sempat jalan sebentar keliling kota, tiba waktunya berpisah dengan 2 teman seperjalanan kami yang menyenangkan. Mereka kami lepas di terminas bus dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Calgary pada malam itu juga. Demi supaya besok pagi masih keburu ke satu lokasi wisata lagi sebelum bertolak ke bandara dan balik ke Toronto.

What a journey, dengan menulis blog dan melihat-lihat lagi foto yang diambil dalam perjalanan ini rasanya kok kepengen balik lagi, haha. Gak sangka ini sudah habis 7 judul blog dan masih sisa 1 blog lagi menceritakan pengalaman saya ke jaman purbakala bertemu dengan para Dinosaurus. Yay!

YuTan

[Old Posting] Semua orang bisa ke Bromo

Catatan penulis :

Tulisan ini dibuat pada Agustus 22, 2007. Sekitar 5 1/2 tahun yang lalu dimana Bromo belum begitu ‘terjamah’ oleh para turis lokal. Kira-kira sama halnya dengan saat ini 2012/2013 ketika orang mulai terpesona dengan Raja Ampat, Papua.

Dari tulisan ini tertangkap kalo saya saat itu berusaha menulis dengan cepat dan cenderung hanya memberi informasi nama lokasi-lokasi yang kami kunjungi karena derasnya permintaan informasi dari sesama rekan fotografer yang kepingin hunting foto disana.

—————————————————————————————————————-

Ksatria Bromo

Ksatria Bromo

1st Day ( Jakarta – Surabaya – Bromo )

Jakarta – Surabaya ( Pilih penerbangan malam kira2 Jam 10-11 Malam tiba di Surabaya ). Tiba di SBY sebelum melanjutkan perjalanan mampir ke RAWON SETAN yang buka sampai jauh malam (Tutup jam 3 pagi) Lumayan untuk mengganjal perut dengan makanan local yang khas.
Surabaya – Bromo by Rent Car, Pesan sejak masih di Jakarta, supaya dapat langsung dijemput di Bandara, perkiraan biaya sewa mobil ke Bromo Rp. 400-500rb/hari Include Driver & BBM exclude Makan & inap Supir.
Tengah malam langsung lanjutkan perjalanan ke Bromo ( Butuh waktu kira-kira 3-4 Jam ) dari SBY or di dalam mobil saat perjalanan, persiapkan tubuh dengan baju hangat. Usahakan tidur karena saat tiba, jadwal ke spot foto sudah menanti.
Perkiraan tiba di Bromo ( Cemoro Lawang ) subuh/ dini hari, Istirahat sejenak di Rumah Tour Guide (Mas Fadly, PM me for His Private number [edit : I lost his number] ), titip tas/menambah baju hangat/ke toilet/dll

PANANJAKAN
Jam 4-4.30am
Lanjutkan perjalanan dengan Jeep ( Order via Mas Fadly, rata-rata sekali perjalanan by Jeep Rp. 30-50rb/orang ) ke Pananjakan yang butuh waktu kira-kira 15-20menit perjalanan. Bisa pesan minuman untuk menemani acara foto tp lbh baik menahan diri dan sarapan ( Gorengan/ Mie instant/ Kopi Jahe, Milo, etc ) di warung dekat sana setelah sesi foto berakhir. Di warung-warung tsb juga banyak dijual sarung tangan ( Rp.5rb ) & syal ( Rp.15rb ) tinggal pilih. Pananjakan adalah spot paling ramai, pintar-pintarlah memposisikan diri di lokasi yg tepat untuk mengabadikan moment sunrise agat lensa tak terhalang manusia yg berjubelan, Ingat juga… udara sangat dingin apalagi jika di barengi dgn angin yg berhembus, brrrr….

Explore-lah area ini demi angle yg menarik kearah matahari terbit atau kearah Para Gunung berdiri dengan kokoh, hati2 jangan kebawa nafsu karena lokasi yg curam. Foto yg luar biasa bagus rasanya tidak sepadan nilainya jika di tukar dengan keselamatan diri kita.

Jangan kuatir, di dekat warung juga ada WC Umum, sekali pakai di patok harga Rp. 2rb dengan kondisi WC yg bolong2 dindingnya :)  tp airnya bersih dan dinginnnn…

Saat turun dari Jeep menuju spot foto, jalanlah dengan perlahan-lahan. Kondisi jalan yg menanjak dan udara yg tipis, membuat kita kesulitan menyetok oksigen dalam paru alias cepat ngos2an, santai aja… tutup tubuh dgn jaket tebal, topi untuk melindungi telinga dan kepala serta syal untuk hidung. Telinga dan Hidung sangat rentan dgn dingin yg tiba2, hidung pasti meler dgn sendirinya.

Siap2 terpukau dengan KEBESARAN TUHAN di spot ini, jika kesulitan ambil foto or mati gaya, nikmati saja pemandangan yg ada, awan-awan yg menggumpal dan sejajar dgn kita merupakan pemadangan yg tidak biasa, kokohnya Gunung Semeru yg sesekali batuk , Gn. Batok dan Bromo yg kawahnya berasap serta nun jauh dibawah sana Padang Pasir dan Temple yg tampak kecil apalagi jeep2 yg lalu lalang mengantar pulang para turis, tampak seperti mobil2an, bahkan lbh kecil!

Jika tidak diburu waktu, bertahanlah dilokasi ini hingga pukul 7an, karena lokasi sudah sepi, langit jika bersih kita dpt lebih leluasa mengambil gambar, Jam 7an biasanya matahari sudah terik, foto dgn kamera IR di jam ini adalah ‘surga’.

PADANG PASIR

Pulang dari Pananjakan menuju Hotel kita bisa mampir dulu di Padang Pasir di bawah kaki Gunung yang juga ada Temple-nya, Jam 8 pagi begitu banyak penjual makanan, coba saja Nasinya Lumayan banget kok rasanya, Temple dapat dijadikan Objek foto. Lokasi ini di hari pertama tentative saja, karena hari  berikutnya spot ini kami jadikan spot awal, sehingga mendapat stock Sunrise di Lokasi yg berbeda, karena masih pagi area ini akan ramai dgn pengunjung dan penyewa Kuda, jika dtg setelah ke Pananjakan maka lokasi ini sudah sepi. Kita bs lebih leluasa memotret Temple dgn langit biru yg cerah jika beruntung.

Menjelang siang ada baiknya kembali ke Hotel, karena Hotel belum dpt check in sebelum jam 3 sore, maka rumah Sang Guide (Mas Fadly) kembali menjadi rumah singgah, TIDUR adalah kegiatan yang pas di hari 1, why? krn dr kmrn kita hampir tidak tidur, menjelang jam 1-2 bangun dan mencari makan siang di sekitar Hotel baru kemudian Check In Hotel. di Hotelpun ada baiknya hanya meletakan tas dan kemudian kembali bergerak, tidak ingin menyia-yiakan kesempatan motret hanya dgn tidur2an kan? sedang di Bromo gitu loh…

BUKIT Teletubbies

Jalan menuju Bukit Teletubbies kita akan melewati Padang ilalang yg sangat eksotis, bermain2 dgn cahaya matahari yg jatuh di rumput dan ilalang yg berwarna kuning asyikkan? narsis cocok, prewed cocok, main umpet2an bisa… hehehhe j/k

Kami mengambil session Foto model di lokasi ini :”>, bahkan foto prewed pura2 :D rebah2an di rumputpun tidak masalah, tdk ada binatang berbahaya kata Mas Fadly, hanya siap2 wajah gosong, huhuhuh… ingat… walau dingin… tetap saja matahari akan menggosongkan diri kita.

Di Bukit Teletubbies di waktu sore kami menemukan pemandangan yg menakjubkan, kabut tebal berarak turun dr atas bukit/tebing terjal, di seberang menonjol  beberapa bukit besar kecil persis bukit di film anak2 Teletubbies, wajarlah kemudian dinamakan begitu.. melihat gundukan2 tsb jd pengen teriak : ” Berpelukaaannnnnnnnnnnnnnnn” hahhahaa

Menjelang matahari kembali ke peraduan, bukit2 tsb bisa menjadi siluet yg apik, bernarsis ria di Bukit ? tidak masalah!

Jika sudah gelap, tak ada lg yg bisa di foto di Bromo kecuali punya lensa extra tele, buat apa? motret Bintang dan planet! Karena berada di area tinggi dan jauh dr polusi, Bintang2 akan tampak sangat jelas… bertaburannn… dan eits…. awas2 ke langit, krn sesekali ada saja bintang yg jatuh, wuuuuuzzzzzz make a wish!

Pulanglah ke Hotel, mandi air hangat dan mampir ke restoran untuk makan… tersedia banyak pilihan menu yg pas disantap di cuaca seperti ini, Pisang Goreng dengan kopi Jahe, mau? Pancake  Nanas dengan susu coklat? hmm…  Nanas goreng dengan Skoteng hangat? ahhh… tentu saja tetap ada menu like Rawon, Bakwan, Nas Gor, bahkan western Food, macam steak dan sandwich krn banyaknya turis manca negara.

Istirahat dan nyenyaklah dgn tidur karena jadwal besok pagi akan dimulai dengan sangat dini, lagi2 jam 2.30 pagi :(

2nd Day ( Pananjakan,  Padang pasir & Street Hunting )

Karena rombongan Jakarta tiba 1 hari lbh cepat drpd jadwal sesungguhnya yg baru dimulai hari ini bersama rombongan Semarang maka kami mengulang perjalanan menuju Pananjakan dan Padang pasir.

Hanya saja, pulang dari padang pasir memotret temple dan sekitar tmn2 Semarang yg baru tiba semalam sama seperti kami di hari kemarin tampak ke letihan dan perlu tidur, kami yg lbh fresh dan segar, memilih untuk berfoto disekitar rumah Mas Fadly (Menemani Teman Smrg yg blm bs check In Hotel, hihihiei ) sembari mrk tidur or duduk2, kami ke Ladang Jagung dekat sana, rumah2 di pematang ladang juga sangat layak diabadikan.

Yang namanya hunting bersama maka perlu kebersamaan, kami perlu check Out dr Hotel awal kami Bromo Permai ke Hotel yg gabung dgn tmn2 Smrg yaitu Hotel Cemara Indah, Hotelnya sedikit krg bagus dibanding yg pertama, tp dia punya view yg menawan, lgs menghadap ke Padang pasir dan Gunung, wow…

Street Hunting sekitar Bromo

Siap check in dan mandi2, kami kemudian street hunting di sekitar area Hotel, banyak sekali objek  menarik untuk di foto, seperti kegiatan sehari2 penduduk disana ( Angkut Rumput, pulang dr Ladang, anak kecil bermain, ibu2 mengambil air, memberi makan ternak, bawa pulang ternak, dll ), pemandangan sekitarpun sangat asri, jejeran pohon2, rumah2 penduduk yg unik, jalanannya.. semuanya sangat sejuk dan damai, serasa bukan di Indonesia :D

Malam hari kami makan bersama dan acara perkenalan serta pembagian kaos Hunting, lagi2 malam ini tidak bisa terlalu larut mengingat besok jadwal hunting sudah menanti.

3rd Day

Padang Pasir | Gn. Batok & Bromo

Karena sebelumnya hanya bermain2 di padang pasir dekat temple kami hari ini kami akan bersunrise ria di atas Gunung, ketika hari msh gelap kami sudah tiba, di tempat ini anda akan banyak ditawari naik kuda ke bawah tangga menuju ke Kawah Gn. Bromo. Ongkos naik kuda naik & turun Rp.30rb jika pintar menawar.

Karena tujuannya motret dan waktunya nangung maka saya pribadi tdk berkempatan naik ke atas kawah, konon anak tangganya ada 219 kalo saya gak salah ingat, maaf kalo salah :D. Justru disaat turun saya berkesempatan menyicipi naik kuda, seremmm seremm tp pengen gitu deh, byk sekali turis yg naik kuda, ada yg berani nunggangin sendiri hingga mirip ksatria, ada juga yg seperti saya, harus di tuntun sama pemilik kuda :D

Di Spot ini kita juga bs menyewa  beberapa kuda dan penunggangnya, suruh aja hilir mudik naik turun untuk mendapatkan foto yg asyik, efek debu yg naik dr jejak jejak kuda menambah kemisteriusan foto :D

Watu Ulo / Tanjung Papuma

Pulang dr Padang Pasir, kembali ke hotel untuk mandi karena sdh penuh debu. Isi perut kemudian lanjutkan perjalanan dgn mobil sewaan ke Watu Ulo yg membutuhkan waktu perjalanan selama 9  jam  PP, worthy? Yup! sangat.

Pantai Papuma sangat eksotis… msh Liar dan alami, dengan jejeran kapal nelayan yg unik & kokoh berdiri di terpa ombak batu2 raksasa… wahhhh keren habissss, apalagi Sunset di papuma ciamik habis… sama seperti ketika memandang gunung2 ndi Bromo saya juga kehabisan kata2 melihat sunset dgn di sisi kanan adalah batu2 dan karang dgn ombak besar memecah di batu, Oh… SUNGGUH BESAR & DASYAT ALLAH kita, jd agak ‘malu’ menjadi Manusia, krn seringkali tidak bisa membuat kita bersyukur dan kagum pd Ciptaan Tuhan, beda dgn benda2 ‘mati’ tsb. Dalam diam tp bisa meneriakan bahwa ALLAH Sang Pencipta itu Agung dan Besar!

“Manusia harusnya kamu lbh baik dari kami krn kamu diciptakan serupa dgn Gambar & rupaNYA dan kami harusnya tahluk di bawah pemeliharaanmu, tp lihatlah saat ini kami (alam) lbh berkuasa atas kamu tp ironisnya kamu merasa di atasnya Tuhan”.

Hari ini habis di perjalanan dan waktu Sunset di Papuma, kembali ke Hotel sudah larut, semua sepakat lgs tidur dan memaksa mata terbuka 3-4jam kemudian untuk hari terakhir di Bromo , Hiks…

4rd Day

Bukit Teletubbies | Pagi hari

Jika sebelumnya kami sudah curi start di lokasi ini, untunglah yg kali ini di waktu yg berbeda, sehingga di 1 spot ini kami bisa mendapat sunrise sekaligus sunset :D, Bukit diwaktu pagi berbeda dgn ketika sore, jika sore kabut turun dr tebing, di Pagi hari kabut berangkat dr bawah ke atas… sejajar dgn kita kabut2 bagaikan air laut… menakjubkan…

RANU PANE | Danau

Dari Bukit perjalanan kami lanjutkan ke Ranu Pane, membutuhkan waktu perjalanan kira2 1 jam-an, Ranu Pane adalah Danau, letaknya dekat kaki gunung Semeru, maka tidak heran di lokasi ini menjadi spot para pendaki, sewaktu kami kesana, banyak tenda2 para pendaki yg mendaki dlm rangka 17 Agustusan. Konon di Gunung inilah Soek Ho Gie meninggal dunia, hiks.. :(

Ikuti saja jalan setapak yg ada, telusuri sampai ke dalam… kira2 2-3km kedalam. Banyak objek  menarik, seperti framing dan gunung Semeru. Diluar sekitar rumah penduduk juga banyak objek human interest (lihat Foto saya yg berjudul Gadis Tengger & All about Blue), katanya banyak yg asli Orang Tengger, wajah mereka sangat unik, mirip orang di Tibet dgn ciri mata yg unik dan pipi yg merah terbakar dan kering krn dingin. Eksotis deh!

Harusnya spot kami selanjutnya adalah Air terjun Mada Karipura tp sayang waktu tidak mencukupi krn keasyikan di Ranu Pane + acara makan2/sarapan disana yg dibarengin dgn acara bedah foto. Gorengan disini mantap bener… Kentang goreng. Yummy…

Rawon Nguling

Karena ini hari terakhir, sehabis dr ranu Pane dan kembali ke Hotel, kami berisap untuk check Out dan pulang ke ‘peradaban’ hahahha… jangan lupa mampir ke Rawon Nguling khas Probolinggo, Rawonnya mantap.. pernah di datangi sama Presiden SBY dan Gus Dur, Ngetoplah ceritanya hahahhaa..

Bubaran dr Rawon Nguling kami terpaksa berpisah dgn tmn2 Semarang yg akan terus melanjutkan perjalanan ke Smrg, kami pulang ke Sby dengan mampir dulu di Sidoarjo, melihat semburan atawa lumpur Lapindo. Kebetulan supir mobil sewaan kami adalah  korban lumpur lapindo juga, walau begitu tetap saja kami dimintai duit oleh para pengaja/penduduk yang berjaga-jaga disekitar lokasi, hehehehe…

Asli hancur habis, rmh2 keredam hingga tinggal atap2nya.. semburan baru… alat2 berat untuk membuat tanggul, para pencari nafkah seperti tukang ojek yg siap mengantar ke semburan baru, penjual DVD serial Lumpur sejak hari pertama, Hmm.. no comment deh untuk yg ini, yg jelas kami tdk memakai jasa ojek atau pun membeli DVDnya.

Pesawat Sby-Jkt memang kami pilih flight termalam, spy tidak terburu2.. Karena msh punya waktu kami bahkan sempat mampir kesalah satu Mall di SBY untuk makan junk food yg di pengen2in sejak beberapa hari lalu, ahahahhah… karena Mall ada hotspot kami juga sempat online dan memberikan laporan selayang pandang :D

Tiba di Jkt, cuaca sudah panas, mulailah kami kangen cuaca dingin dan sejuknya Bromo, kulit muka terkelupas terutama bagian hidung, wajah menghitam, tp kata teman jd eksotis, hahahahhaa… ada2 saja.

Perjalanan kali ini puasss banget, didukung rekan seperjalanan yg asyik, lokasi yg Ok. Ittenary yg Ok. Semuanya hampir perfecto :D

Total biaya yg dikeluarkan sekitar  Rp. 2 – 2,5 juta all in ( Ongkos ke Bandara, airport tax, makan tidur enak ) bisa hemat lg dr sana dengan sedikit usaha dan kerja keras, misalnya tidak inap di hotel tp di rumah Mas Fadly ( no air panas dan ranjang tdk seempuk hotel :D ), tidak makan di Hotel tp cukup diwarung2, ke area yg msh terjangkau jalan kaki seperti ke Padang pasir, jd hemat ongkos jeep, tp kuat gak jalan kaki 1 jaman? hmmm?? jika semua itu dijabanin mungkin bisa hemat hingga menjadi 1,5jt saja. Untuk Biaya trip ini dr Jakarta.

So All, Blog ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan teman2 yg penasaran dan pengen tau rute hunting ke Bromo serta biayanya.

Foto2 hunting trip ini bisa dilihat dengan mengklik disini :D

<– Link ke Multiply, ternyata masih hidup linknya ya

Perjalanan hunting ini di Website FN dapat dilihat dengan mengklik disini :D

<– Liputan hunting mencapai 105 halaman di forum fotografer.net. Ampe pegal bacanya, habis sambil ngakak sih… :p

Macro Photo Session at Wabasso Campground, Jasper, Alberta

Only you and me

Only you and me

I decided to create this post as an individual post even though this session was part of my trip to Rocky Mountains. This post only content pictures that I took in the first morning when we stayed at Wabasso Campground, Jasper, Alberta.

To reach this area, we need to walk around 10-15 minutes follow the sign that tell us to some trail. It is side by side with Athabasca River. Because we came here in the morning, there was a beautiful scene waiting for us, the fogging, morning dew and quiet time because nobody around except us.

I used my Canon 50D and 50mm f1.8 & 70-200mm f4.0 lenses. I try to give a little photography’s tips here, hope you enjoy it!

(As you can see all the pictures below, at the end I took not only macro picture but landscape as well. Oh yeah, we are the master of our project, as long as the picture is nice, who care?!)

IMG_9772

Morning Dew

Water Drops

Water Drops

Fresh Morning

Fresh Morning

Tips #1 : Normally, people will bring water spray to take a macro picture in the forest ( or floral ). If you lucky enough like me, there will be fresh and natural dew on the trees, grasses & flowers. But you need to wake up as earlier as possible, ready to shoot after the sunrise, otherwise; they will gone in the blink of your eyes…

IMG_9778

Distance

IMG_9782

Peacefull

Tips #2 : Open your eyes, not just focus on the small things even though the target is for macro picture. Looks around, change your position/eye level. Most of the time, one step more to the right, or to the left, or lower your eyes 15cm, could give you a huge different of perspective. So, move your as*, don’t be lazy, haha.

IMG_9794

Cute Squirrel

Tips #3 : Sometime, it really hard to meet another creature such as bee, spider, dragon fly or others insect because they are too small for our eyes. However, we probably meet a bit bigger object during our photo shoot. If you do find them, don’t be lazy to change your macro lens into a tele lens. Don’t be panic, does it slowly, so you won’t scare the animal. Move slowly, avoid eye contact, and make sure the camera setting is set before you pointing your lens to the object. Good luck!

IMG_9801

Spidernest

IMG_9806

Trees

Spider's House

Spider’s House

Lovely Twig

Lovely Twig

Gloomy

Gloomy

Tips #4 : Personally, What I see through my lens is what I want on my picture. That’s why I hardly to cropping my picture. But, if we are talking about tone color, ambience, and white balance; it will really hard to tell. I mean, I probably dislike the picture when I see it on my camera’s screen, but it will become another story when I see it on my computer’s screen and play the color. I often change it to black and white, and voila!!! The picture is just up to another level.

IMG_9837

Red Cherry

IMG_9841

Twig

IMG_9853

Yello Berry

IMG_9857

Fresh Green

IMG_9868

Juicy

IMG_9870

nn

Tips #5 : There is a rule, standard one when we talk about composition. 1/3 rule is the famous one because people fine dead centre composition is quite boring. However, most photographers I believe don’t follow this rule 100%.  I always said, know how to compose your picture is a TALENT, people can have a same brand new hi-tech camera and lens, stand in the same position and location, and have a same setting on their camera. But when we see the result, the good one is the one who has a picture with nice composition & balancing on their picture. He or she sees something that other people couldn’t see. They just have sharp eyes. So, what are the tips? Learn the standard composition rule, see as much as possible other pictures (what I mean with see, is LOOK), take your own picture and criticize them, did you like the composition? If not, why? If yes, why? By the time you will close enough with them who has it in natural way, Good luck (again)!

Pictures above, I often put my object in diagonal position. I paid attention to their background (background color, since I blur it out with diafragma f2.0-f4.0).

IMG_1775

My partner in crime ( this one I used my iPhone & Instagram’s app)

Tips #6 : Somebody loves to take picture by himself, others like to do it in the group or couple of friends. There is plus and minus of course. Just make sure when you go with another person, he/she or them must have a same purpose and passion with you. Having said that, not only you will have somebody to look after each other (yes, hunting picture could turn into dangerous situation too), you guys can exchange your gear especially lens, filter or tripod.

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 6]

[Disclaimer : Seri ini memuat banyak foto]

Ada permintaan dari pembaca seri ini untuk lihat foto yang ada tendanya. Nggak ada foto, hoax kali maksudnya ya, ngaku-ngaku tidur ditenda tapi gak ada buktinya, haha.

Tenda di Lake Louise Campsite

Tenda di Lake Louise Campsite

Yang diatas meja adalah typical menu sarapan kami di hari-hari mendatang, roti, sayur dan buah. Karena foto diatas adalah pagi pertama, maka buah masih nampak seger-seger, hari-hari berikutnya sudah lodoh, haha. Ohya, campsite ini tidak ada listriknya, jadi tidak bisa buat charger battery handphone or kamera. Sekeliling campsite juga dipagari dengan pagar listrik, biar nggak ada beruang yang mampir.

Karena hanya malam itu tidur di campsite ini, maka sehabis sarapan kami kudu bongkar tenda sebelum beranjak ke lokasi lain. Berikut adalah jadwal perjalanan tercatat untuk hari ke 2 tersebut :

THU, AUG/23
07:00 BREAKFAST (no electricity campground)
07:30 Break-up tents
08:00 Herbert Lake, Mosquito Creek, Bow Lake, Peyto Lake (45 mins)
09:30 To Columbia Icefield
12:00 LUNCH
13:00 Sunwapta Falls, Athabasca Falls
18:00 DINNER at Becker’s
19:00 Wabasso campground, Check-in, Setup tents.

Highligh hari ini adalah ke Columbia Icefield, dibawa ketengah-tengah Columbia Glacier. Nggak persis ditengahnya sih karena nggak mungkin, tapi persis dibawah glacier Athabaska. Tapi sebelumnya, seperti terlihat dalam jadwal tertulis; pagi sampai dengan siang kami akan kebeberapa danau terlebih dahulu. Danau-danau ini terletak antara lake Louise dan Columbia Icefield, jadi ngelewatin.

Ditengah-tengah jalan, kalo kalian lihat ada satu dua mobil yang menepi di bahu jalan, coba deh perhatikan ada apa disekitarnya. Mobil-mobil yang menepi itu kebanyakan karena ingin melihat sesuatu, keseringannya binatang seperti beruang, Caribou/Reindeer, etc. Dan pagi itu kami beruntung bisa melihat secara dekat seekor beruang hitam yang sedang sarapan buah berry (mereka Omnivora sebenarnya dan ukurannya termasuk Medium-Sized atau tergolong kecil dibanding jenis beruang lain, maka awalnya saya sangka kami bertemu anak beruang).

Serem ya...

Ape lu liat-liat? Gua kepret nih….?! said black bear

Saat itu dia sedang sendirian sedang mobil yang berhenti sudah sekitar 5 mobil dengan orang-orangnya pada keluar dan motret-motret atau cuma liatin doang. Jarak antara tepi jalan dan si beruang sekitar 8-10 meter saja. Dia nggak takut orang loh, karena dia anteng-anteng aja, yang nonton juga terlena dan lupa sedang berhadapan dengan mahkluk buas. Secara tiba-tiba dia jalan/keluar dari semak, spontan pada jejeritan (eike sih tepatnya); gak lama kemudian dia bahkan menyebrang jalan raya.

Binatang-binatang yang hidup di North America ini beruntung nian hidupnya, sudahlah hidup di habitatnya sendiri, eh… nggak perlu ketakutan sama pemburu. Walau kata habitatnya sudah ‘kemakan’ sebagian buat jalan raya dan tempat tinggal, toh mereka bebas lalu lalang dan nggak ada yang berani mengusik. Sesekali aja kalo apes, saat nyebrang jalan mereka ke tabrak mobil. Kalo sudah begitu yang disalahkan tentu saja si supir. Jangan heran kemudian ada rambu lalu lintas tempat penyebrangan para binatang.

Selama disana kami cukup beruntung bisa melihat jenis binatang lain selain si beruang hitam ini. Saya ingat malam-malam saat kami melintas dan melihat sebuah mobil sedang stop. Saat itu saya dibalik setir, sempat ragu-ragu karena sudah gelap tapi akhirnya saya minggir juga. Nampak serombongan Caribou (sejenis rusa) yang kira-kira berjumlah sekitar 15 ekor di kepalai oleh sekor diantaranya yang berbadan besar dan bertanduk cabang megah. Mereka berjalan dengan tenang dalam remang cahaya mobil dengan sesekali menengok kearah mobil, suasana saat itu juga sunyi sepi, seketika terasa agung sekali suasananya, serasa dimana gitu…

Di seri ke 5 saya info kalo suasana atau pemandangan alam lebih asyik dipagi hari saat matahari belum bersinar terik. Berikut adalah foto di Herbert Lake, danau pertama dihari itu. Kudu jalan sedikit dari parkiran mobil, tidak ada apa-apa disekeliling danau dan saya yakin kalo anda ikut bus tur, kemungkinan tidak akan diajak kemari karena tidak ada WC, nyaris tidak ada apa-apa disekelilignya. Tapi liat dong pemandangannya.How great Our Creator!

Herbert Lake. Crystal Clear!

Herbert Lake. Crystal Clear,  No wave.  Serenity….

IMG_9350

Mirror Mirror, on the lake, who is the fairest one of them all?

Masih pagi sekitar jam 8/9am, tidak ada manusia lain, danaunya begitu tenang, airnya jernih, pemandangan kalender banget, itu foto diatas cuma resize doang, nggak ada filter apapun. Kalo disuruh mendok disana 4 jam juga betah walau yang dilihat cuma seperti itu. Mata rasanya langsung jernih dan berkilau-kilau seketika, haha. Lambat sedikit kalo matahari sudah agak tinggi, sudah susah motonya; apalagi kalo kagak bawa filter ND. Kontras cahayanya sudah tinggi banget.

Behind the scene

Behind the scene

Hari-hari mata liatnya beginian, sedap... langsung ingat film Sun Go Kong :D

Hari-hari mata liatnya beginian, sedap… langsung ingat film Sun Go Kong :D

Tujuan berikutnya yang searah ke Columbia Icefield adalah Mosquito Creek. Harusnya berupa sungai kecil berupa lelehan air bagian dari Athabasca River. Tapi saat kami kesana, nyaris kering kerontang. Sempat kami melihat dua orang bule anak muda yang sedang berkemas di dekat parkiran mobil. Dari selayang pandang saya lihat mereka membawa kompor portable dan sedang masak sesuatu. Ya, kalo mau lebih hemat lagi silahkan bawa kompor portable begitu, lumayan buat masak air minum kopi/susu cokelat, bikin instant noodle, rebus sausage, dll.

Numpang mejeng di Mosquito Creek yang gak ada apa-apanya :p

Numpang mejeng di Mosquito Creek yang gak ada apa-apanya :p

IMG_1685

Ada kandang kuda, ntah punya siapa, nggak ada bangunan lain sejauh mata memandang soalnya.

Selain dua lokasi ini, kami juga sempat mampir di beberapa tempat yang tidak ada dalam daftar perjalanan, semua hanya berdasarkan apa yang tersaji didepan. Memang sepanjang jalan sesekali ada look point yang bikin penasaran sehingga kita juga berhenti dan melihat-lihat.

Kalo tidak ada look point, ya berhenti di bahu jalan saja, cuma harus lebih hati-hati

Kalo tidak ada look point, ya berhenti di bahu jalan saja, cuma harus lebih hati-hati

IMG_9411

Pemandangan yang dilihat sehari-hari

Ini lokasi nggak tau namanya apaan, ya karena main stop aja jika dirasa pemandangannya bagus

Ini lokasi nggak tau namanya apaan, ya karena main stop aja jika dirasa pemandangannya bagus

Blusuk-blusuk kebawah untuk mendapat perpektif yang berbeda drpd hanya sekedar berdiri di Look point area

Blusuk-blusuk kebawah untuk mendapat perpektif yang berbeda drpd hanya sekedar berdiri di Look point area

Supaya dapat pemandangan detail seperti ini yang suka terlewatkan. Iseng pegang airnya, kayak air es!

Supaya dapat pemandangan detail seperti ini yang suka terlewatkan. Iseng pegang airnya, kayak air es!

Kalo nggak ada modal kamera Pro, kamera Handphone macam iPhone sudah lebih dari cukup :p

Kalo nggak ada modal kamera Pro, kamera Handphone macam iPhone sudah lebih dari cukup :p (Behind the scene foto bunga di tepi air diatas)

Singkat cerita, sampailah kami di markasnya Columbia Icefield Parkway. Bangunannya besar dan konon (tau beneran apa bohong) masuk dalam guiness book of record karena punya jumlah toilet terbanyak. Ada sekitar 600 toilet didalamnya. Didalam gedung juga ada semacam museum berisi macam-macam informasi mengenai glacier, juga ada restaurant all you can eat dan tempat makan semacam food court.

Ramai sekali... Laris manis... Cuaca juga lagi bagus-bagusnya

Ramai sekali… Laris manis… Cuaca juga lagi bagus-bagusnya

Untuk mencapai ke tengah glacier, kita kudu beli tiket seharga $50 perorang. Cukup mahal memang, tapi karena pengen ngerasain gimana rasanya dan supaya nggak menyesal dikemudian hari, maka kami pun membeli tiket yang ada jam keberangkatannya, disaat summer seperti itu bus yang jalan cukup sering, hampir tiap 10-15 menit sekali. Pertama-tama kita akan naik bus super besar yang membawa kita menyebrang jalan dan menuju ke ternimal bus khusus, disana kita akan berganti armada.

Setelah didalam bus, supir bus akan merangkap sebagai tur guide yang sepanjang jalan menceritakan kisah salju abadi. Saat di Bus biasa, supir kami seorang wanita bule. Ntah karena sudah bosan atau cuma sekedar kerja, dia terdengar seperti menghapal semua informasi yang kudu dia sampaikan ke para penumpang, nada bicaranya datar dan aneh. Tapi ada juga joke-nya yang bikin saya ngakak. Diawali dengan kisah soal waktu seperti hanya ada 60 hari dalam setahun bagi para pohon (evergeen/cemara) untuk tumbuh didaerah sana, sehingga pohon-pohon yang kami lihat dipinggir jalan ada yang sudah berumur ratusan tahun, makin tinggi pohon digunung, makin kecil karena lama tumbuhnya.

Trus dilanjutkan dengan selain memakai bus, kita juga bisa berjalan kaki kalo mau, dia sebut pakai angka-angka seperti 5 jam untuk sekali jalan, 50 menit untuk apa, 5 menit untuk apa dan terakhir 5 detik untuk …. jatuh. HA HA HA Bisa lucu juga dia, mungkin joke hapalan juga, who care lah.. yang penting ngakak!

Dengan walkie-talkienya dia melapor kalo sudah akan sampai ke terminal sehingga bus special yang akan membawa kami sudah bersiap-siap disana. Bus atau semacam truk atau alat berat bernama Brewster beserta sang supir sudah menanti kami. Sebagai orang Asia kita bergerak cepat supaya dapat duduk didepan sehingga bisa lihat lebih jelas. Supir Brewster kami adalah seorang keturunan Jepang, namanya Masami Okada.

Saat saya panggil "Masami San...." dia nengok & langsung pose peaceeee LOL

Saat saya panggil “Masami San….” dia nengok & langsung pose peaceeee LOL

Berbeda dengan supir yang sebelumnya, Masami San sangat sangat ramah dan lucu. berkali-kali seisi bus dibikin ngakak. Ambil contoh saat Brewster hendak berjalan menukik tajam, itu menukiknya gak main-main, kalo pake bus biasa mungkin bisa terguling-guling saking tajamnya. Dengan santai dia bilang “tenang.. tenang… “ ketika semua penumpang terkesiap. “Saya agak ragu ini kita bisa lewat apa nggak, profesi saya di Jepang dulu itu Akuntan” yang langsung disambut pekikan dan tawa secara bersamaan. Tentu saja dia hanya bercanda, saya lihat beberapa supir Brewster cewek malahan. Terus roda-rodanya yang besar dan bergerigi tentu kuat mencengkram es.

Sesampai di bawah Athabasca Glacier, kami hanya dikasih waktu sekitar 30 menit untuk berfoto-foto. Masami San pun sudah menawarkan jasa untuk jadi fotografer. Alhasil dia jadi rebutan para penumpang untuk difoto dengan formasi lengkap teman seperjalanan. Disana ada 3 bendera Kanada yang ditancapkan ke es, semua pada foto dengan bendera. Ada teman yang nanya saat saya upload foto tersebut di FB “Nggak bawa bendera Indonesia Yul?” hehe. Ya nggak lah, ini bendera Kanada juga supaya tau kalo ini di Kanada, bukan di Tibet. Pelancong juga kebanyakan bukan dari turis lokal/Kanada jadi seru mungkin bagi mereka di foto dengan bendera Maple.

Karena sudah gali informasi di Internet, kami sudah bawa gelas dissposable buat nampung air lelehan salju abadi. Kata Masami San, orang yang minum air tersebut akan awet muda 10 tahun, LOL. Kita sih nggak percaya begituan, mau seru-seruan saja…

Narsis didalam Brewster

Narsis didalam Brewster

IMG_9606

Lagi antri buat turun tajam menuju glacier

IMG_9614

Mau hemat $50 dan hanya bayar guide buat jalan ke Glacier juga boleh. 5 jam tapinya… pake Anjing juga.

Tanpa bayar guide juga boleh, cuma ya bahaya sekali… katanya pernah ada 2 orang nekat jalan berdua doang. Karena gak bawa guide dan gak ada anjing, salah satunya ke jeblos dan akhirnya meninggal karena terlambat diselamatkan. Lihat medannya aja udah bikin lemas, lain kalo emang 2 harian hanya mau explore daerah sini. Mending bayar $50 terus duduk manis deh.

Tebal dan megah ya es-nya. Saya baru sadar foto ini memuat 2 orang manusia, kamu bisa lihat nggak?

Tebal dan megah ya es-nya. Saya baru sadar foto ini memuat 2 orang manusia, kamu bisa lihat nggak?

Seluruh salju abadi ini konon akan habis dalam waktu 60 tahun kedepan (dikalkulasi dengan kecepatannya meleleh saat ini) dan salju abadi dibagian atas yang bernama Columbia gedenya kira-kira segede kota Vancouver.

Tanda merah itu tempat kami turun dan foto dengan bendera

Tanda merah itu tempat kami turun dan foto dengan bendera

Mission accomplised!

Mission accomplished!

IMG_1713

Rodanya saja hampir setinggi manusia. Naik ke bus kudu pake tangga :D

IMG_1715

Bisa awet muda 10 tahun… Awet tua kali maksudnya ya hehe

Worth it nggak Yutan, bayar $50? tanya anda sekalian yang penasaran karena sudah tau YuTan ogah rugi orangnya, ihik ihik. Susah ya jawabnya… pengalamannya sih boleh… cuma apa perlu mereka ngecharge sampe $50? kayaknya kalo bangsa sekitar $30 bolehlah. Jadi itu jawaban saya, hanya saja kami tidak menyesal tuh… one of life time experience, sekali lagi. catat itu baik-baik hehe. Saya sebenarnya agak sedih pas diceritain kalo esnya bakal hilang dalam waktu 60 thn kemudian kalo suhu udara atau global warming gak berubah. Saya bukan sedih karena itu beneran akan hilang, tapi karena saya sudah menjadi bagian dari percepatan itu… berbondong-bondong manusia kesana dengan suhu tubuh sudah pasti membuat es disana cepat meleleh, apalagi airnya kita minum2in. Maaf ya…

Siang itu kami makan di restaurant food court disana. PERHATIAN ya buat anda yang akan mampir kesana, kalo mau hemat; usahakan bawa air minum di tas atau minum setelah kembali ke mobil. Harga makanannya sih masih oke, masih wajar harganya bangsa $10-$12 perporsi. Harga minumannya yang nggak wajar, air minum botol atau secangkir kopi panas biasa di charge seharga $4.50. Apa nggak bikin meringis? kalo tidak ada air minum sih rela aja bayar segitu, tapi air berbotol-botol di bagasi mobil jadi nampak sia-sia, hehe. Rasa makanannya sih nggak spektakuler, baik masakan western seperti fish & chip atau masakan Asia seperti nasi dan sapi cah sayur. Kami intip restaurant sebelah yang jual makanan ala All You Can Eat harganya cukup mahal (nggak ingat berapa) dan lagian rasanya kok nggak pas makan model begitu dalam suasana seperti itu, makan ala AYCE gitukan kudu santai, paling tidak 2 jam lah supaya gak rugi, haha.

Perjalanan kami lanjutkan ke 2 lokasi berikutnya sebelum ke campsite kami malam itu. Loh Yutan, katanya kemarin kalo bangun tenda kudu segera jangan tunggu sampai malam, ini gimana sih?! Protes anda-anda yang baca seri sebelumnya dan punya daya ingat kuat. Ini gini loh… rute ke 2 lokasi berikutnya itu searah ke arah campsite kami di Wabaso, trus saat itu masih sore dan karena summer, gelapnya lebih lama, alias sekitar jam 8 am malam baru mulai gelap. Tapi memang kami jadi agak terburu-buru di  lokasi kami terakhir karena kudu kejar2an sama matahari yang mana mau ngedelay waktu terbenamnya.

Dua lokasi berikutnya adalah : Sunwapta Fall dan Athabasca Fall

Sunwapta Fall

Sunwapta Fall, nama-nama memang kedengaran aneh, karena memakai nama-nama dari kata bangsa Inuit/Indian asli

Masih di Sunwapta Fall... cantik sekali pemandangannya ya...

Masih di Sunwapta Fall… cantik sekali pemandangannya ya…

Behind the scene foto diatas :D

Behind the scene foto diatas :D

Waktu yang sempit membuat kami sedikit terburu-buru, terutama saat di Athabasca. Padahal tempatnya unik, senang aja dengar bunyi air yang menderu. Air terjunnya deras dan area look point yang sangat dekat dengan air terjun bikin cukup seram.

Athabasca Fall

Athabasca Fall

Setelah itu kami pun kebut ke Campsite kami bernama Wabaso (saya selama disana, pengen nyebut tempat ini dengan Kuah Bakso deh, hehe) Lokasinya agak dalam daripada campsite lain. Jalan menuju kesananya pun sepi dan gelap (gelap karena setelah pasang tenda kami jalan keluar lagi ke Jasper Town buat cari makan malam, walhasil pulangnya sudah gelap), kita sampe takut salah jalan atau tiba-tiba ada yang keluar dari balik pohon atau apabila ada yang tiba-tiba berdiri dipinggi jalan, hiiiiiii….

Yang pilih campsite ini Tuan Hadi terhormat. Letak campsite  persis di pinggir Athabasca River dan ada colokan listriknya. Kami menginap dua malam di tempat ini sehingga esok hari tidak perlu membongkar tenda. Ada plus minusnya stay di campsite yang jauh dari kota/jalan utama, minusnya cukup habis waktu jika mau keluar masuk dari Campsite ke lokasi wisata. Plus-nya karena tempatnya agak terpencil, suasananya lebih asri/natural.

Jika tidak mau ‘terdampar’ di Wabaso, masih ada beberapa pilihan campsite di Jasper. Salah satu yang saya ingat yang paling nyaman dari segi letak yang cukup dekat kemana-mana di area Jasper adalah Whistler Campground. Saat kami membangn tenda belumlah gelap sehingga kami pun masih berkesampatan untuk melihat dimana letak kamar mandi dan toilet. Ya, kamar mandi dan toilet acapkali berbeda lokasi. Untungnya toilet hanya berjarak tidak lebih dari 30 meter dari tenda kami namun kamar mandi cukup jauh alias kudu pake mobil atau jalan kaki sekitar 15-20 menit.

Malam itu seperti saya sampaikan diatas, selepas pasang tenda kami meluncur ke kota Jasper. Kotanya cukup besar tapi tidak sebesar atau seramai Kota Banff. Ada banyak restaurant fast food dan restaurant lainnya. Kami pilih makan malam di restaurant Korea satu-satunya disana setelah sebelumnya tidak berhasil menemukan sebuah restaurant yang saya cari di Yelp (mungkin sudah bangkrut). Nama resto Koreanya “Kimchi House” dan makananya enaaaaaakkkkkkkk…. sayang tidak seperti resto Korea pada umumnya yang memberi free side dish, disini kudu bayar lagi kalo mau ada side dish. 2 malam berturut-turut kami makan dengan menu yang sama disana dan nantikan di kisah selanjutnya ketika kami nekat bertanya kepada pemilik resto mengapa kalo mau side dish kudu bayar lagi? apa kira-kira jawabannya? :)

 

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 5]

Kemarin di milis warga Indonesia di Kanada, ada teman yang bertanya “Hi Yutan,
Di Calgary and Rocky Mountain nyetir mobilnya pake GPS? Akurat ga? Thanks – Herman” Wah saya otomatis langsung ingat kalo ternyata belum memasukan info soal per-GPS-an ini, padahal info ini akan sangat berguna. Thanks sudah bertanya.

Ya, dalam perjalanan ini kami memakai GPS. Jika kalian tidak punya GPS, alat ini bisa disewa di tempat penyewaan mobil. Harganya lumayanan sekitar $7 per hari. Untuk kasus kami, GPS kami bawa sendiri dan semua lokasi tujuan yang ingin dikunjungi sudah dimasukan kedalam GPS dan di favoritkan untuk memudahkan pencarian saat ingin digunakan. Perhatikan juga update-an terakhir GPS kalian, kalo bisa pakai yang versi terbaru supaya peta yang terekam adalah yang terkini.

Boleh dibilang keakuratan GPS ini mencapai 99%. Perjalanan menggunakan GPS katanya enak-enak susah, alias kudu hati-hati dengan memakai akal pikiran dan pandangan mata, tidak pasrah 100% kepada si GPS. Beberapa waktu lalu ada cerita sepasang suami istri yang terjebak dan nyasar di hutan hingga meninggal (?) karena GPS menggiring mereka ke antah barantah sehingga mereka kehilangan orientasi dan kehabisan bensin.

1% ketidakakuratan yang kami alami saat perjalanan tersebut karena di salah satu ruas jalan Icefield Parkway, tiba-tiba GPSnya recalculating. Padahal jalan didepan itu hanya satu-satunya, the only one jadi gak mungkin salah. Bisa saja ruas jalan sepenggal tersebut adalah jalan baru atau karena gunung yang tinggi menjulang menyulitkan GPS menangkap signal. But so far selama perjalanan kami disana, semua berjalan baik dan kami sangat terbantu dengan adanya alat ini.

Yang paling  terbantukan selama memakai GPS adalah kesiagaan kita ketika hendak keluar dari jalan utama dan masuk ke jalanan yang lebih kecil menuju lokasi tujuan. Jalan utama yang mulus membuat hampir semua pengendara melajukan kendaraannya dengan super kencang melewati batas maksimum yang diperbolehkan, ditambah kadangkala papan informasi berukuran kecil sehingga menyulitkan membaca, sehingga dengan adanya GPS kita tidak perlu melambat demi membaca tiap papan informasi sehingga membahayakan pengendara lain dan kita sendiri.

Ok, cukup buat per-GPS-an, sekarang kita lanjut lagi perjalanan kita setelah selesai membangun tenda. Dari Lake Louise campsite ke Lake Louise hanya sekitar 15 menit perjalanan dengan mobil, pada pertengahan akhir bulan Agustus, sudah tidak begitu banyak lagi turis. Tidak sampai berjubelan tapi cukup ramai lancar. (Konon akhir Agustus sudah masanya anak-anak di Amerika kembali ke sekolah dan memang kebanyakan yang kami temui sesama turis adalah anak muda, orang dewasa dan manula, sesekali saja yang bawa anak2)

Sebelum berangkat ntah sudah berapa kali saya lihat foto Lake Louise, saya sampai takut kehilangan gairah saat sudah disana nanti, hehe. Semua terekam begitu baik, sehingga saat berdiri dan menghadap ke danau yang cukup luas tersebut saya cuma bisa membatin dalam hati “Akhirnya, berdiri dan melihat dengan mata kepala sendiri disini. Thanks God” Ya, percaya gak percaya… tau-tau sudah ada disana.

Di pinggir danau berdiri dengan megah The Fairmont Chateau Lake Louise. Ongkos menginap semalam disana cukup sekitar $300 sahaja (harga winter seperti sekarang, ntah kalo summer). Beberapa hotel/cotage/villa/bungalow berdiri disekitar danau danau di Rocky Mountain, ibarat kata danau menjadi frontyard atau backyard hotel tersebut. Jika suatu hari nanti balik lagi ke Rocky Mountain saya minat untuk stay di cotage dekat danau, karena second visit, asumsinya gak bakal kiasu lagi tapi lebih santai dan menikmati alam sepuas-puasnya baru kemudian pindah lokasi. Tidak semua hotel dipinggil danau semahal Fairmont di Lake Louis ini tapi pasti lebih mahal daripada hotel di luar danau, apalagi campsite, hehe.

Peta Lake Louis

Peta Lake Louis

Saat kami tiba di Lake Louis, cuaca sedang panas-panasnya, air danau yang tertimpa cahaya matahari menjadi berkilau-kilauan hingga menyilaukan mata. Trail menuju Tea House ada disebelah kanan danau, ada papan penunjuknya juga. Setelah jalan sekitar 1 km saya baru sadar belum mengaktifkan aplikasi Edomondo. Ini aplikasi untuk ngetrack seberapa jauh,cepat dan kalori yang terbakar saat kita berolahraga. Ada pilihan sepeda, jalan kaki, renang, dll.

Ini contoh hasil track dari Edomondo

Ini contoh hasil track dari Edomondo

Total jendral, habis +/- 4 jam untuk jalan pulang pergi ke Tea House Lake Agnes. Kenapa disebut tea house? jualan teh kah? kurang paham juga mengapa tempat-tempat seperti ini dinamakan tea House. Sewaktu mempelajari tujuan ini sebelum hari keberangkatan, kami coba meyakinkan teman seperjalanan bahwa lokasi ini walau membutuhkan waktu lama tapi trailnya mulus, kami bahkan mengirimkan foto salah satu trail yang kami dapat dari internet, nampak trailnya mulus dan datar.

Apa yang terlewatkan oleh kami adalah informasi lebih mendetail seperti ini “After a forested 3.5 km hike, with an elevation gain of 400 m or 1,300 ft, the valley opens to reveal spectacular Lake Agnes” Bujuk buneng… hampir semua trail adalah jalanan menanjak naik, ada yang cukup landai memang, tapi judulnya cuma naik naik dan nanjak nanjak. Trail pun tidak semuanya mulus, sesekali dipenuhi akar pohon dan bebatuan sehingga perlu berhati-hati ketika melangkah.

Perjalanan ke atas menuju Tea House Lake Agnes

Perjalanan ke atas menuju Tea House Lake Agnes

Ntah berapa kali kami berhenti hanya untuk sekedar menarik nafas, minum atau ngemil buah yang kami tenteng ke atas. Saya mungkin bukan tipe yang kuat-kuat banget untuk urusan beginian, tapi juga gak lemah-lemah amat. Saya boleh kata trail ini cukup sulit tapi sangat mungkin dijalani. Mungkin saja saat itu kondisi tubuh sedang tidak terlalu fit, beban yang dibawa (kamera) terlalu berat, semakin tipisnya oksigen, serta tidak menyangka akan seperti itu trailnya. Kesabaran dan ketekunan untuk mencapai lokasi sangat diuji dalam trip tersebut.

Teman selalu bertanya “sudah mau sampai belum?” yang bagi saya, ini pertanyaan big no no. Secara psikologis malah akan melemahkan, kenapa? setengah jalan saja belom, haha… kalo dijawab jujur nanti malah minta balik, kan repot? kan jadi gagal semuanya? YuTan kan bukan urusan makanan saja yang pantang pulang sebelum habis, tapi juga pantang mundur kalo sudah setengah jalan.

Tapi tetap saja ya, walau sudah bermodalkan google map, mulut ini tak tahan juga bertanya sama pengunjung lain yang berjalan arah pulang “is it close already?” yang dijawab dengan senyum penuh arti, bahkan ada yang jawab “you bet” wakaka… jalan terusss aja dahhh… walau dibalap sama pengunjung lain, sok wae lah… Supaya gak malu-maluin bangsa Indonesia, ternyata bukan kami saja yang rada keok, bahkan ada satu keluarga yang balik badan setelah 2/3 perjalanan, sayang sekali.

Satu sisi saat naik keatas adalah tebing dan sebelah lainnya adalah pepohonan dan sesekali mengintip lake Louise dibawah sana. Ada beberapa lokasi dengan pandangan terbuka kearah danau yang sangat-sangat indah, disuguhi pemandangan dengan angle berbeda kearah danau rasanya terbayarkan deh capeknya jalan keatas.

Salah satu pemandangan di sepanjang trail menuju Tea House

Salah satu pemandangan di sepanjang trail menuju Tea House

Yang kehijauan adalah air danau. Konon  warnanya akan hijau terang butek di musim panas dan menjadi biru tua jernih disaat winter. Semua air danau di Alberta dingin airnya, jangan coba-coba berenang kecuali mau jadi salmon beku.[ Penduduk Alberta ada yang protes sama paragraf diatas, jadi saya koreksi ya sbb : Selama di Rocky Mountain summer tahun lalu dan mengunjungi beberapa danau-nya, kecil maupun besar; saya tidak melihat seorang manusia pun yang berenang disana. Saya pernah pegang airnya dan memang dingin, tapi konon (ntah di danau/empang mana) bisa & ada yang renangi kalo mau ] :D

Sebagai fotografer, sudah biasa motret pemandangan yang biasa biasa saja menjadi nampak luarbiasa difoto. Tapi ada juga pemandangan yang lebih cantik aslinya ketimbang fotonya, salah satunya ya spot ini. Kami berhenti cukup lama disini, hanya sekedar foto dan berdecak kagum, luarbiasa.

Semakin keatas pemandangan semakin terbuka sehingga perjalanan menjadi lebih ringan karena sembari kaki pegal berjalan, mata dimanjakan dengan pemandangan yang eksotik.

Trail mulus, seperti yang kami lihat di internet dan tertipu olehnya :p

Trail mulus, seperti yang kami lihat di internet dan tertipu olehnya :p

IMG_9017

Ealahhh, bisa naik kuda…!

Pantas saja di awal trail kami melihat sebuah cabang jalan yang dipenuhi dengan tai kuda, ternyata bisa keatas dan kebawah tea House dengan modal naik kuda. Informasi ini juga tidak kami temukan selama ngubek-ngubek soal Lake Louise, jadi tidak tau juga berapa biaya sewa kuda untuk keatas. Sewaktu sedang lelah-lelahnya kami saat jalan arah pulang, saya bertanya pada Hadi “Kalo sewa kudanya $25 mau naik nggak?” dijawab “$50 pun gua mau” hahaha.

Tapi naik kuda disini kayaknya nggak populer atau bisa saja kudanya cuma sedikit. Nyatanya lebih banyak yang jalan kaki, jalurnya pun berbeda, hanya sesekali yang rutenya sama dengan yang trail untuk manusia. Saya jadi ingat di Bromo naik kuda pas turun dari gunung Bromonya. Hiiii serem juga loh… waktu itu ada abangnya yang bantu tuntun kudanya, kalo yang ini kayaknya nggak ada penjaga yang tuntunin tuh kuda. Jadi siap-siap saja kalo kudanya tiba-tiba menggila, hiiiiii.

Sebelum mencapai Lake Agnes, kita akan berpas-pasan dengan Lake Mirror. Danau ini kecil saja, mirip empang. Empang malah lebih besar malah, ada ikannya lagi. Ini mirip genangan saja? kalo orang Jakarta yang barusan kebanjiran bakal bilang ” yang gini ini dibilang danau? pretttt” gitu kali, hehe.

Lake Mirror

Lake Mirror

Yay!!! 1/2 mile lagi sampai Lake Agnes!!!

Yay, tinggal 1/2 mile lagi sampai!

Senangnya begitu liat papan diatas, 1/2 mile lagi sampe Lake Agnes. Padahal sisa 1/2 mile itu jalannya sudah mulai naik tajam. Nafas sudah satu-satu aja. Itu yang namanya Trail Plain of The Six Glaciers yang masih 4 miles lagi katanya trailsnya gak begitu sulit dibanding ke Tea House, hanya saja memang lebih jauh. Saya simpan trail ini untuk kesempatan lain. Kalo saja kami tiba pagi-pagi sekali, saya mungkin akan ajak semuanya untuk habiskan 2 trail ini, haha.

Akhirnya, sampailah kami di Tea House. Disambut oleh sebuah air terjun dan anak-anak tangga yang terbuat dari kayu. Pemandangan yang terhampar pun luarbinasa. Bukan Lake Agnesnya yang spektakular, atau jajanan di Tea House yang menggiurkan, tapi pemandangan alam sekeliling yang sejauh mata memandang hanyalah decak kagum.

Air mengalir kebawah menjadi sebuah air terjun. Jauh mata memandang adalah hamparan evergreen dan gunung-gunung.

Air mengalir kebawah menjadi sebuah air terjun. Jauh mata memandang adalah hamparan evergreen dan gunung-gunung.

IMG_1662

Lake Agnes Tea House

Namanya sudah jalan 2 jam-an, disambi dengan minum dan makan, tentulah semua pada kebelet pipis. Urusan ini juga jadi PR banget buat semua traveller. Sebenarnya kalo bukan tipe jijik-an, urusan ini otomatis jadi simple. Yang ribet itu yang jijik-an macam saya, gak mau kalo tidak tidak sangat sangat terpaksa pipis di toilet box! Toilex box itu sama kayak toilet umum, hanya saja tidak ada air dan tidak ada flush, jangan sesekali kurang kerjaan dan ngelongok isi box. Karena tidak ada air dan semua yang dibuang ya disitu-situ saja, akibatnya tidak ada toilet box yang bebas dari bau, bahkan 2-3 meter sudah kecium aromanya, duh. Good newsnya, toilex box ini bertebaran dimana-mana di taman nasional ini, jangan khawatir harus pipis di semak-semak.

Karena dasarnya sudah kebelet dan membayangkan perjalanan turun yang bisa dua jam-an, saya mau tak mau kudu pergi explore toilet di Tea House. Saya pikir karena berupa resto harusnya mereka ada toilet bersihnya, kalo perlu jajan dulu ya jajan deh, rela banget. Ternyata cuma ada toilet umum di luar Tea Housenya sendiri. nampak dari luar sih keren semacam rumah pohon, kudu naik tangga nanjak tajam. Cuma ada  dua toilet dan jangan tanya saya baunya kayak apa. Saya coba kumpulkan nafas sebanyak mungkin untuk modal tahan nafas didalam sebelum masuk.

Dengan kecepatan yang secepat-cepatnya saya ingin segera menyudahi bisnis ini, di toilet sebelah saya lihat sepasang kaki yang sedang bekerja membersihkan isi box, kayaknya box dikeluarkan dan di bawa kesuatu tempat dan diganti dengan box kosong. Saya dengan muka sudah merah karena nahan nafas, juga seketika kasihan sekali sama orang disebelah yang kudu beresin hal beginian, betapa susahnya cari makan di negeri ini. Setelah buru-buru, saya keluar dan bisa lihat siapa orang disebelah tadi, hanya nampak punggungnya dengan tangan menenteng ember, jalannya nampak riang dengan rambut yang diikat ekor kuda meliuk-liuk, ahh…

Jadi, yang namanya negeri Kanada ini, kebersihan alam itu numero uno. Karena kawasan ini sangat dijaga maka bukan saja sampah, limbah kotoran manusiapun tidak bisa seenak udele di buang or di dam di tanah dekat danau. Jadi asumsi saya, kotoran2 tersebut dibawa dan dibuang/recycle di lokasi yang jauh dari danau. Untuk sampah sudah dipastikan akan dibawa turun.

Soal pipis dijalan, tidak ada pilihan lain kecuali saat berpas-pasan dengan jadwal mampir di restaurant atau di hotel. Selebihnya ya cukup bahagiakan dirimu dengan toilet box ini. Bawa saja tissue basah dan kering yang banyak, kalo perlu minyak kayu putih untuk kamuflase aroma tak sedap. Selama 4-5 hari perjalanan tersebut saya pulang dengan bawa sakit anyang-anyang. Itu loh, sakit karena sering nahan pipis, jadi bawaannya malah kepengen pipis melulu padahal nggak. Menyiksa sekali saudara-saudara.

Chipmunk super gendut

Chipmunk super gendut

Masih ingat sama mahkluk ini? jadi ceritanya habis pipis, saya jalan-jalan dong sekitar Lake Agnes ini, foto-foto dan baca-baca tulisan yang ada di papan papan sekitar danau. Kisahnya seru-seru, seperti cerita kisah nyata sejak masih jaman dahulu kala ada orang yang kirim surat ke ortunya dan cerita pengalaman dia berkunjung ke Lake Agnes. Sedang asyik-asyiknya baca, sayup sayup saya mendengar orang setengah menjerit bilang “Look, so fat… bla bla.. fat, FAT, so FAT… bla bla FAT” bah, ribut-ribut apa sih? pas saya nengok, orang yang lagi menjerit itu, seorang pria muda lumayan tampan menatap kearah saya menunjuk2 sesuatu dan keep saying “FAT”, wuihh…. maksud lo? gua FAT gitu? haha, sensi mode ON.

Oalah, ternyata heboh liat chipmunk segede kelinci… itu chipmunk emang gendutnya nggak kira-kira, saya spontan ketawa ngakak. Chipmunk yang suka saya liat di Halifax itu kecil-kecil, imut-imut… gedean Squirell… karena bulunya lebih ngembang, lah nemu yg ini bener-bener ndut malah nggak takut orang, jadi lucu dan gemesin. Dasar ya provinsi kaya, Chipmunknya pun sehat-sehat. Ini karena keseringan dikasih makan sama pengunjung, harusnya nggak boleh.

Puas diatas sana, kami pun jalan turun. Trailnya sama, jadinya ya nurun terus dan otomatis jalan turun lebih cepat ketimbang naik karena nggak pakai stop lagi. rencana makan malam di Tea House kami coret karena masih agak sore dan tidak mau terlalu malam stay disana, takut saat turun sudah gelap karena beberapa bagian cukup rapat tertutup pepohonan.

Tempat sewa canoe di Lake Louise

Tempat sewa canoe di Lake Louise

Saat tiba dibawah, Lake Louise masih cukup banyak pengunjung, sebagian menyewa canoe dan bercanoe ria di danau. Kami sempat foto lagi sejenak dan kemudian meluncur ke Moraine Lake.

Viiew at Moraine Lake

View at Moraine Lake

Letak Moraine Lake juga tidak jauh dari Lake Louise. Danaunya tidak sebesar Louise tapi jauh lebih besar daripada Agnes. Saat kami tiba disana tidak banyak pengunjung, mungkin sudah masuk waktu makan, cuaca juga semakin dingin dengan kabut mulai mengantung dipuncak-puncak gunungnya. (Lake Moraine juga punya Lodge/Hotel didekatnya. Harganya juga ampun DJ, mahal! Untuk summer tahun ini,  cukup bayar $600 saja permalam).

Ohya selama perjalanan dari Calgary ke Lake Louise kami tidak mampir kota Banff demi mengejar waktu. Kami baru mampir ke Banff city saat arah pulang dari Jasper. Kota Banff lebih gede dan ramai ketimbang Canmore. Alternatif tempat tinggal selain didalam kawasan Lake Louise juga ada disepanjang perjalanan dari Camore ke Banff. Harga lebih murah karena letaknya yang agak jauh (sekitar 30-60 menit ke tujuan-tujuan wisata seperti Lake Louise), Kami tidak pilih alternatif ini karena itu nantinya bakal maju mundur maju lagi, habisin waktu saja karena tidak sesuai rute yang kami inginkan yaitu terus naik sampai ke Jasper.

Saat memasuki kawan taman nasional, kita kudu bayar untuk masuk kedalamnya. Dihitung berdasarkan jumlah orang dan berapa lama/hari akan berada dikawasan taman nasional. Nanti akan diberi secarik kertas yang ditempel di kaca mobil. Sesekali ada petugas yang periksa saat kita melewati perbatasan antar taman nasional.

Malam itu kami makan disebuah restaurant Asia yang ada dikawasan lake Louise. Didalam complex tersebut juga terdapat toko suvernir dan mini market! Ya mini market hanya sejangkauan alias 15-20 menit drive dari campsite. Kalo tau begini, ngapain blusuk-blusuk belanja dan memuh-menuhin mobil, toh bisa belanja disini. Sebut aja mau apa? semua kebetuhan percampingan ada. Senter, air kemasan, roti, biskuit, majalah, sabun mandi, handuk, sandal, body lotion, etc! Harganya juga reasonable atau paling beda $0.50 saja dari harga di Calgary.

Mini market ini berlaku sampai nanti di Jasper, jadi jangan khawatir. Amannya sih memang sudah beli barang-barang penting seperti kebutuhan mandi dan air minum, selebihnya kalo soal jajan jajan termasuk buah, anda tidak akan kekurangan selama bersedia beli disana. Mungkin karena taman nasional ini sudah sangat populer dan menjadi tempat wisata dunia, sehingga kebutuhan turis sangat diperhatikan, dibuat senyaman mungkin. Beda dengan campsite di wilayah lain di Kanada, agak mustahil untuk nemu mini market, ambil contoh di Cape Breton, Nova Scotia. Di campsite car camping di Toronto juga sering ada mini marketnya, betapa nyamanya! Dulu saya selalu bawa gummy candy, eh eh… saat car camping di Six Mile Lake di Ontario, mini marketnya jualan gummy candy juga, hahaha.

Next episode, saya akan cerita pengalaman kami ke Glacier  di Icefild Parkway alias salju abadi. Minum air dari lumeran salju abadi, konon bikin awet muda 10 tahun, uhuk!

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 4]

Before I start blogging about this part 4, here the pictures of my breakfast while we stayed in the hotel ( Vancouver and Calgary ). Soon, I’ll miss this breakfast menu, haha.

Nice breakiesss!

Tidak banyak yang bisa saya share selama kunjungan kami ke Calgary, cuma 3 hari 2 malam dengan 2 hari diantaranya hanya setengah hari. Yang jelas kota Calgary-nya sendiri jauh dibawah ekspetasi saya. Jalan rayanya cenderung sempit, sedang banyak perbaikan jalan, pembangunan gedung pencakar langit baru dan suasana pusat kota yang berubah sepi senyap setelah habis jam pulang kantor.

Kota yang satu ini memang unik dibanding kota lain di Kanada. Berikut beberapa yang bisa saya beri contoh (background singkat : Kota Calgary atau provinsi Alberta adalah provinsi terkaya di Kanada karena hasil minyak-nya, daratannya datar alias hampir tidak ada tanjakan/turunan,  lokasi salah satu penemuan terbesar fosil Dinosaurus, terkenal dengan daging sapinya) :

  • Tidak ada pajak daerah, mereka hanya ada pajak pemerintah pusat 5% (kota lain bisa kena 10-15%)
  • MRT-nya kalo naik dan turun masih di tengah kota, gratis tis tis.
  • Harga hotel di weekend lebih murah daripada harga hotel di weekday (kalo weekend jadi sepi karena orang lebih pilih pergi/stay di Banff)
  • Toko-toko atau mall downtown tutup antara jam 4 s/d 6 sore
  • Majalah gratis  “where” yang ada disetiap kota di Kanada (memuat tujuan wisata, restaurant, etc) khusus untuk Calgary berukuran magazine (A4) sedang kota lain hanya uk. A5 (1/2 folio)

Selama di Calgary saya sempat laundry pakaian kotor selama di Vancouver, Ini akibat perjalanan panjang dan cuma bisa bawa tas ukuran sedang. Sama seperti di kota lain, kalau bisa jangan laundry di hotel karena harganya akan mahal sekali, walau memang lebih nyaman karena tidak perlu ditunggu dan sudah dalam keadaan dilipat rapi, haha.

Saya juga belanja keperluan sehari-hari (makanan dan air terutama) untuk dibawa selama jalan-jalan ke Rocky Mountains nanti. Kebanyakan yang dibeli adalah makanan untuk sarapan seperti roti,buah,selai,susu/kopi dan biskuit. Beli juga air minum dalam botol dan aneka snack dan candy buat cemilan selama didalam mobil supaya tidak bosan dan ngantuk. Semua sudah dalam perencanaan sehingga semua yang dibeli kudu muat di bagasi.

Ohya, mobil untuk dipakai selama perjalanan ke RM juga kami sewa di Calgary. Dengan promosi dari kartu kredit yang dapat asuransi gratis kami sewa di Budget Rent A Car. Kami pilih sedan full size dengan harapan dalamnya lebih luas, toh harganya sama dengan sedan ekonomi. Sewa 5 hari termasuk additional 1 driver total habis $225 (tax included) dan bensin habis sekitar $150. Mobil jenis ini cuma pas buat ber-4 walau bisa didudukin untuk ber-5. Dan karena kami genap ber-4 maka harga segitu dibagi 4 jadi hanya sekitar $100 per orang. Menurut saya sangat ekonomis karena dengan harga segitu kami bebas kemana saja dan tidak terikat oleh waktu, kondisi mobil juga bagus dan nyaman. Enaknya lagi saat ambil mobil, kami ambil di lokasi yang terdekat dengan hotel kami menginap dan saat dikembalikan, kami kembalikan di bandara dengan proses pengambilan/pengembalian yang tidak lama dan ribet. (ini harga August, 2012)

Ditengah waktu yang sempit dan kudu urus ini itu, saya sempat ketemu teman yang dulunya sama-sama ambil kelas di ISIS Halifax. Saat ini dia tinggal di Calgary ikut suami yang dapat kerja disana. Karena itu saya sempat menjelajah kota Calgary dan tidak hanya di pusat kotanya saja. Kami janjian di South Centre Mall yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Mallnya gede dan mewah. Selama perjalanan menuju mall saya melihat suasana kota Calgary, Highway-nya, rumah-rumahnya, sedikit banyak mirip Halifax/Dartmouth namun dalam skala lebih besar, haha.

Supaya gak bosa baca tulisan terus, ini saya sisipkan foto makanan yang saya makan di Foodcourtnya mall, Baklava. Terpujilah wahai pencipta Baklava dimanapun kau berada!

IMG_1606

Baklava

Tak lupa, kami juga mencoba makan steak. Sama kayak di Vancouver katanya gak afdol kalo gak makan sushi, di Calgary gak sah kalo belum makan steak-nya. Udah jauh-jauh ke tempat coboy gitu kali maksudnya, haha. Rasa steak-nya sih sama-sama saja, mungkin karena saya juga gak expert dalam per-steak-an, yang jelas harganya gak murah walau mereka penghasil daging sapi terbesar (?) di Kanada.

IMG_1595

Steak with Mushroom Soup, Yum!

Fast forward!

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu… Mobil sewaan saya ambil/sewa sehari sebelum berangkat untuk keperluan belanja dan laundry serta tidak ingin kehilangan waktu di pagi hari H tersebut sehingga malamnya kudu diparkir. Tarif parkirnya mahal bowwww… saya lupa, kayaknya sekitar $15-25 overnight di hotel tempat kami inap. Masalah utama kota besar di Kanada ini ya ini salah satunya, kalo tidak mendesak, jangan parkir mobil di downtown, harganya gak manusiawi, hiks.

Sehabis sarapan terakhir kalinya sebagai kaum ninggrat di hotel, kami meluncur ke bandara untuk menjemput 2 teman yang datang langsung dari Halifax. Syukur pesawatnya ontime. Mereka terbang dari Halifax subuh sekitar jam 5 pagi dan berkat perbedaan waktu mereka pun tiba sekitar jam 10 pagi sahaja di Calgary airport. Sebelum langsung tancap gas ke arah Banf, kami ling keliling dulu sekali lagi di dalam kota Calgary. Maklumlah imigran… kerjanya liat-liat suasana kota lain, karena siapa tau minat atau suatu hari kudu migrasi lagi ke kota lain di Kanada, haha.

Jadwal hari pertama tersebut cukup padat merayap, ogah rugi judulnya. Berikut jadwal perjalanan kami di Day 1 sesuai catatan yang ada :

WED, AUG/22
08:00 BREAKFAST at the hotel
09:30 To Calgary airport
10:10 Anh+Yen arrives in Calgary (AC123/AC117)
10:45 Drive to Canmore
12:30 LUNCH at Canmore
13:30 To Lake Louise visitor centre at Samson Mall
14:30 Check-in, setup tents
15:00 Hiking to Tea House at Lake Agnes/Lake Mirror (4 hrs return)
17:00 DINNER at Tea House
19:30 To Moraine Lake (15 mins)
20:30 To Campsite (15 mins)

Perencanaan matang seperti ini sampai ke jam jam-nya perlu. Walau tidak mesti tepat sekali pada saat prakteknya. Ini lebih kepada supaya enak aja memperkirakan waktu yang akan terpakai selama perjalanan. Ini juga perlu kalo tujuannya dalam tempo seseingkat2nya mendapat sebanyak-banyaknya. Kalo tidak ada jadwal model gini, alamat habis waktu gak karu-karuan atau malah kebanjiran waktu dan gak tau mau ngapain. Estimasi waktu dalam perjalanan didapat dari hasil search di website, google map dan pengalaman pribadi.

Jelas sekali highlight hari pertama ini adalah Tea House di Lake Agnes yang perlu menghabiskan 4 jam untuk sampai kesana dengan jalan kaki di mulai dari Lake Louis. Usahakan dalam tiap hari ada highlight location atau aktifitas yang ingin dilakukan. Dimana nantinya lokasi/aktifitas ini akan kita beri waktu lebih leluasa untuk menikmatinya, kita beri budget lebih leluasa juga untuk dibelanjakan. Bukan berarti tempat atau kegiatan lain tidak boleh dinikmati berlama-lama, apalagi kalo bagus kan? Nanti kalian akan ngerti kenapa saya bilang perlu ada satu highlight kegiatan/lokasi selama dolan di Rocky Mountain (tentu dengan catatan, waktu dan dana anda terbatas. Kalo waktu & dana tidak terbatas? ya sesuaikan saja dengan kemana kaki anda melangkah, suka stop, nggak suka jalan).

Sepanjang perjalanan mulai dari bandara sampai dengan Canmore lebih banyak diisi dengan perbincangan seputar kabar, kangen-kangenan, ledek-ledekan, cerita betapa excitednya kita, dll dan tentu saja sesekali mengomentari suasana yang kami lihat selama perjalanan. Selama perjalanan ini pun pemandangan masih ‘biasa’ dari kejauhan sudah nampak sih gunung-gunungnya.

Boleh dikata sepanjang perjalanan dari Calgary – Canmore – Banff – Jasper itu ibarat kalo nyanyi ada cresendo-nya, ituloh… tehnik/metode nyanyi dari pelan kemudian pelan-pelan naik terus sampe keras. Jadi dari biasa, mulai gak biasa, asyik, asyik banget, wow, wow banget, spektakular sampe terakhir nganga mulutnya, lupa tutup saking dasyatnya. Teorinya sih makin jauh dari hiruk pikuk manusia, alamnya makin asli dan asri. Jam juga menentukan kualitas pemandangan. Semakin pagi dimana manusia-manusia masih terlelap semakin asri dan menawan, khususnya danau-danaunya terlihat lebih cantik di saat pagi hari.

Ada kejadian lucu saat kami cari makan siang setelah masuk kota Canmore. Sesuai kesepakatan ini hanya makan siang asal lewat, alias kagak perlu fancy2an dan toh nguber waktu ke tujuan utama dan gak mau berlama-lama di Canmore. Cari punya cari kami putuskan makan di restoran Thailand. Nampak dari luar resto tulisan masakan Thailand yang menggoda. Begitu kami ber-4 masuk ke ‘restoran’, saya berharap kami lagi syuting film, ada kamera gitu yang bisa zoom in zoom out, sayangnya gak ada, jadi memory ini cuma tersimpan didalam lubung hati kami yang terdalam, ihik ihik.

Ceritanya gini, kami berempat ini kan Asian, dua dari Indonesia dan dua lagi dari Vietnam, empat-empatnya murni kagak pake campuran, jadi secara kasat mata empat orang ini Asian bangetlah, disangka Chinese mungkin. Saat kami masuk, dari dalam restoran yang ternyata lebih mirip restoran take out ( cuma ada 4-6 bangku di meja hadap ke jalan mirip warteg di Indo ) dari arah dapur kami disambut kurang lebih 4 chef dan pegawai toko yang kesemuanya bule! Bulenya juga kayaknya bule murni nggak pakai campuran. Nah kalo dibikin filmkan jadi menarik, ini restoran Thailand (Asia)kan? nah, yang jual sama yang mau beli apa kagak kebalik tuh?

Pengennya saya sih langsung balik badan dan say goodbye. Tapi demi menjaga martabat daripada pegawai toko yang ramah-ramah tersebut, maka kami pun memesan makanan kami. Saya pilih Tom Yum Soup, Hadi kalo gak salah ingat pesan PadThai. Saat makanan datang, makanan di taruh dalam wadah kontainer plastik ala take out gitu deh, bikin drop nafsu makan 20%. Saat dimakan, nafsu makan drop lagi 90% jadi total jenderal minus 10%. Dasar bule kali ya, meras jeruk limenya kagak kira-kira… bukannya asem malah pahit tuh Tom Yum Soup saya, hiks hiks.

Karena pengalaman pahit tersebut tidak saya lampirkan nama restorannya. Ada baiknya pas saja sama Canmore, selain jaraknya gak terlalu jauh dari Calgary dan sudah tak begitu jauh juga dari Banff, baiknya makan kenyang dulu di Calgary atau sabar nunggu sampai di Banff atau makan fast food waelah… lebih membahagiakan kayaknya, haha.

Ini pemandangan di Canmore dimana gunung-gunung sudah nampak lebih jelas dan dekat. Saat tiba disini senangnya sudah bukan main, padahal ini mah kagak atau belum ada apa-apanya. Ibarat kalo menang lotere nih, baru menang $5 aja sudah lompat-lompat padahal besoknya bakal menang sejuta dolar, wakakaka.

Salah satu pemandangan di Canmore

Salah satu pemandangan di Canmore

Habis makan siang kami segera lanjutkan perjalanan dan rencananya malam ini kami akan menginap di Lake Louis campsite (Ada baiknya book dahulu campsite sebelum hari H supaya ada jaminan mendapat tempat). Disepanjang perjalanan tidak sekali dua kali kami berhenti di Look Point untuk melihat pemandangan-pemandangan dan bernarsis ria dengan kamera masing-masing. Sesekali berpas-pasan dengan rombongan turis lainnya.

Fast Forward lagi

Kami pun tiba di campsite. Jika memutuskan untuk tidur di tenda selama perjalanan ke Rocky Mountains atau campsite dibelahan hutan manapun, usahakan sudah mendirikan tenda sebelum gelap. Jangan bela-belain pulang dolan baru tujuan akhirnya ke campsite. Why? Becasue :

  • Kalo sudah gelap, pencahayaan kurang, susah pasang tendanya
  • Kalo sudah gelap, susah cari lokasi yang enak buat pasang tenda (biasanya dipilih yang tanahnya sedatar mungkin tanpa ada batu/akar pohon)
  • Kalo sudah kemalaman, bisa-bisa petugas campsite sudah pulang, jadi nggak bisa ambil nomor dan dokumen-dokumen tenda atau nanya-nanya kalo ada masalah
  • Kalo sudah selesai dolan baru masuk campsite apalagi belum pasang tenda, alamat tidur di alam terbuka karena biasanya sudah capai sekali
  • Kalo sudah gelap baru masuk campsite alamat jadi buta alam sekitar, kehilangan orientasi, dimana kamar mandi, dimana ambil air, dimana ini dan dimana itu

Jadi begitu tenda sudah terpasang dan sudah tau lokasi kamar mandi yang ternyata cukup dekat dan bersih dengan air melimpah ruah, kami pun bergegas ke Lake Louis, ke danaunya. Yang konon merupakan danau dengan pengunjung terbanyak, bisa-bisa saat mau foto danaunya kehalangan para turis yang berjejal disepanjang pinggir danau. Walau tujuan utama kami ke Tea House, toh kami harus melalui Lake Louis, jadi sekali tepuk dua lalat penyet.

Part ke 4 ini saya sudahi dulu disini, dijamin cerita part ke 5 nya bakal seru. Salah satunya ada hubungannya dengan foto dibawah ini.

Ketemu mahluk cute satu ini... Obesitas dia... kasihan hehe :D

Ketemu little friend yang cute satu ini… Obesitas dia… kasihan hehe :D

IMG_9118

Ape liat-liat?!

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 3]

Untuk yang ketinggalan cerita seri ini, silahkan klik link di bawah untuk baca seri  sebelumnya :

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 1]

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 2]

Tujuan utama kami hari ini adalah bersepeda di Stanley Park dan mengunjungi Vancouver  Chinatown Night Market, selebihnya lihat situasi dan kondisi dilapangan.

Setelah sarapan di hotel, kami berjalan kaki ke Stanley Park. Sedang saja jaraknya, tidak jauh juga tidak dekat, bisa saja kami naik bus, namun saat itu kami belum membeli karcis bus harian, dan lagian berdasarkan hasil googling, rutenya hanya lurus tok ampe mentok. Jadilah kami santai saja jalan kaki sambil melihat-lihat suasana kota Vancouver di pagi hari Minggu tersebut.

Jarak tempuh hanya sekitar 20 menit saja. Berbekal cek dan ricek sebelum hari keberangkatan, kami mencari toko tempat penyewaan sepeda yang sudah saya catat paling tidak tiga (2 untuk cadangan). Saya tentu pilih yang menawarkan harga paling murah dengan jam paling fleksible. “You wanna breast you pay the price” demikian istilah om Jeha, atau “You pay peanut you get monkey” atau lagi “Harga kenal barang” berlaku dalam kasus sewa sepeda ini.

Jika turun dari Bus atau sedang berada di ujung jalan raya sebelum masuk kawasan taman, ada satu toko penyewaan sepeda yang mentereng banget, dari namanya saya sudah langsung ngeh, bahwa inilah harga sewa sepeda termahal yang sempat saya temukan dari menggoogling. Tidak heran, karena sepeda yang disewakan bermerk bagus, kondisi juga lumayan, lokasi toko-pun mudah ditemukan karena persis di pengkolan dua jalan utama sebelum masuk ke taman.

Adapun toko sepeda yang kami sewa, sedikit perlu berjalan lagi dan ‘agak’ nyelip walau sebenarnya tidak sulit-sulit amat untuk ditemukan. Nama tokonya EzeeRiders, kondisi sepeda tentu masih sangat layak walau tidak juga bisa dibilang keren seperti toko pertama tadi, kami awalnya ingin sewa tarif 4 jam namun kata sang pelayan toko, kelebihan daripada penyewaan sepeda mereka, harga didasarkan per-menit setelah 1 jam, jadi akan lebih menguntungkan penyewa yang pulangnya mungkin bisa lebih cepat atau lebih lama dan tidak akan terkena harga paket yang biasa ditetapkan penyewa sepeda, seperti toko pertama yang fix pada harga per-jam, per-tiga jam, dll.

Tanpa banyak bole bolo, kami siap dengan helm dan kemudian meng-adjust ketinggian tempat duduk sepeda, fungsi bell dan pastikan berkunci (helm kudu bayar sewa lagi, gak mahal, bangsa $1-2 saja). Bertiga kami meluncur ke taman. Karena salah seorang daripada kami sudah pernah bersepeda ria di Stanley Park maka kami langsung mengambil rute sepeda yang jalannya one way dan nge-loop sepulau sepanjang 8.8km (nama rute ini “Sea Wall”). Rutenya persis di tepi air dengan sesekali tebing di sisi lainnya. Jalannya bagus dan dibuat terpisah antara pejalan kaki dan sepeda. Dalam jarak tidak terlalu jauh selalu ada kursi buat duduk-duduk melepas lelah dan menikmati pemandangan. Acara sepedaan hari itu diiringi dengan suara azan sayup-sayup terdengar dari jauh, karena bertepatan dengan hari raya Idul fitri dan sedang ada sholat berjamaah di Waterfrontnya Vancouver.

xxphoto1

Sebagian pemadangan di Stanley Park, Vancouver

Satu contrengan lagi di Bucket List! :D Sepeda di Stanley Park dan di potret di samping Shiwash Rock!

Satu contrengan lagi di Bucket List! :D Sepedaan di Stanley Park dan dipotret di samping Shiwash Rock!

Saya terobsesi untuk bersepeda ria disini karena ya itu, nonton The Real Housewife of Vancouver. Kok kayaknya asyik ya? hehe. Tak terhingga berapa kali kami stop untuk mengambil gambar (motret) dan tanpa terasa kami sudah kembali ke titik semula sedang jam yang kami habiskan belumlah genap 2 jam.

Sama Benso diajak untuk ke Prospect Point, daerah tertinggi di Stanley Park yang bisa melihat Lion Gate dengan lebih jelas. Nah, pilihannya adalah kembali ke rute Sea Wall dan nanti di suatu area memotong keatas atau dari lokasi kami langsung mengambil trail naik keatas yang secara teori dan fakta adalah pilihan lebih berat. Kondisi trail sih bagus, bersih dan rapi, hanya saja kondisi jalan mayoritas akan menanjak cukup tajam atau cukup lama menanjak terus yang bisa bikin lutut gemetar atau tak kuat lagi mengayuh. Pilihan terakhir diserahkan ke saya, selaku wanita satu-satunya haha. Saya pilih yang sulit.

Apa saya kemudian menyesal? agak. Tapi mengingat pemandangan dan pengalaman yang terasa lain, semua terbayar lunas. Kalo nafas tidak cukup panjang atau malu kalo kudu turun dan giring sepeda, ada baiknya gak lewat jalur ini, saya lupa nama trailnya, tapi harusnya mudah ditemukan, trail membelah hutan menuju keatas.

Belakang adalah jalan masuk/keluar trail yang kami lewati

Belakang adalah jalan masuk/keluar trail yang kami lewati

Ini ekspresi kalo habis sepeda nanjak tajam :p

Ini ekspresi kalo habis sepedaan nanjak tajam :p Belakang adalah Lion Gate Bridge

Pemandangan indah di Prospect Point. Capenya bersepeda terlunaskan!

Pemandangan indah di Prospect Point. Capenya bersepeda terlunaskan!

Singkat kata setelah puas istirahat dan melihat Lion Gate Bridge lebih dekat dari Prospect Point, kami memutuskan langsung kembali ke tempat penyewaan sepeda. Jika sebelumnya menanjak gila-gilaan sampai nafas tersendat-sendat, arah pulang sebaliknya, menurun cukup tajam, tapi siapa yang menolak rute begini setelah babak belur sebelumnya? tidak usah kayuh dan angin menerpa, ahh sedapppp…. ini yang namanya berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian! Tetap harus hati-hati karena cukup  berbahaya jika sampai tak bisa mengendalikan sepeda dalam kondisi jalan menurun tajam.

Dengan perut lapar kami memutuskan untuk makan disekitar kawasan tempat penyewaan sepeda. Area ini hanya berisi tempat sewa sepeda dan restoran. Pilihan jatuh pada great Wall Monggolian BBQ karena tergoda melihat encek didalam kaca yang lagi oseng-oseng mie. Seperti Monggolian style pada umumnya, kita pilih-pilih dan ambil sendiri bahan makanan yang kita inginkan, setelah itu akan dimasak oleh cheft di kuali super besar. Jenis begini tricky sekali, bisa enak banget bisa runyam banget, karena bumbunya kita pula yang tentukan/ambil. Mereka ada pilihan all you can eat, alias mau bolak balik berapa kali terserah atau hanya ingin yang sekali trip saja. Kami pilih cukup yang sekali saja, selain menghindar dari pada kalap, juga karena sudah cukup tangkas memasukan semua bahan makanan sebanyak mungkin kedalam mangkok yang disediakan, haha *kidding*.

Gaya si Encek oseng-oseng mie :)

Gaya si-ngko oseng-oseng mie :) lihat di belakang, semua tempat sewa sepeda :)

Untunglah kami pesan yang sekali ambil, karena juga diberikan semangkuk nasi, sup dan spring roll. Wah ini sih bisa bikin super full. Makanan ‘kreasi’ saya jatuhnya kurang asin saudara-saudara, saking lebih konsentrasi ke aneka bumbu yang tersedia haha. Totally failed, tapi habis. Typical YuTan, pantang pulang sebelum habis, LOL.

Kami kemudian membeli karcis harian bus di sebuah supermarket. Tujuan selanjutnya adalah Granville. Iya, ini area yang sama dengan kemarin. Cuma mau kasih tau Hadi, ini loh Granville, haha. Disini saat di bus dalam perjalanan saya sempat berkenalan dengan seorang gadis yang sedang travelling sendirian. Dia asli dari Taiwan tapi sekolah di Seattel dan jalan-jalan ke Vancouver dengan kereta api. Dia gak punya banyak waktu karena harus buru-buru kembali ke stasiun kereta api. Saya sempat bantu fotokan dia tapi lupa tukaran identitas diri.  Dari Granville kami memutuskan untuk coba baik AquaBus, tanya-tanya sama mbak penjual karcis dan hasil perundingan kami mau turun di Stamp Landing (saya lupa-lupa ingat kenapa kami memutuskan untuk turun disini, ini akibat kelamaan baru ditulis, haha). Yang jadi supir Aquabus kami seorang anak pemuda turunan Asia. Bisa jadi dari China, bisa juga Indonesia, siapa tahu ya kan? Beserta dengan kami masih ada sekitar 4-5 penumpang lain dengan lokasi turun berbeda-beda.

Aquabus yang colorful dan imut-imut

Aquabus yang colorful dan imut-imut

Tidak rugi nyoba Aquabus, karena memberi pesona pemandangan lain dari kota Vancouver. Setelah beberapa penumpang turun saya melihat-lihat peta rute Aquabus, rasa-rasanya kok halte tempat kami turun sudah lewat ya? benar saja, kami ‘lupa’ diturunkan oleh sang kapten, hehe. Jadi kami sempat sampai ke ujung dan kemudian balik lagi ke arah dimana kami harusnya turun. Bertiga kami pasang wajah datar, tidak panik, tidak marah juga tidak kesenangan. Tapi asal tahu saja, yang ada di kepala kami bertiga adalah kira-kira “Syukur… syukur… lumayan dapat jalan-jalan ampe ujung dengan cuma bayar harga setengahnya”, pas turun di halte sang anak muda sempat2nya say sorry, tentu dijawab it’s okay, have a nice day. Saat kapal pergi, tertawalah kami, HA HA HA piala Oscar tahun lalu harusnya jatuh ke kami, pemeran pembantu pria dan wanita terbaik :D

Ini ekspresi bahagia abis dibawa jalan-jalan gratis sama supir AquaBus :))

Ini ekspresi bahagia abis dibawa jalan-jalan gratis sama supir AquaBus :))

Ini salah satu pemandangan yang didapat gara-gara lupa diturnin Supir Aquabus

Ini salah satu pemandangan yang didapat gara-gara lupa diturunin Supir Aquabus

Kemudian kami berjalan kaki mencari stasiun Sky Train. Saatnya mencoba armada lain di kota ini. Terkenal wuzzz wuzzz dan lebih okay di banding Rocket-nya Toronto. Sengaja pilih duduk di paling ujung/buntut train sehingga bs melihat lajunya, tapi karena sebagian besar didalam terowongan ya kagak keliatan apa-apa juga sih *tertunduk sedih*. Tujuan kami berikutnya, errhh.. bukan tujuan sih tepatnya, tapi target armada selanjutnya adalah Seabus seperti kemarin yang saya naik buat ke Lynn Canyon. Tapi kali ini cuma mau sampe terminal-nya saja. Kan emang tujuannya cuma mau ngerasain gimana naik Seabus. Yang kurang lebih cukup untuk melepas kangen naik kapal serupa di Halifax – Dartmouth dulu.

Pemandangan dari dalam kapal menyebrang ke North Vancouver

Pemandangan dari dalam kapal arah ke North Vancouver

Kehabisan Beavertrails yang termasyur, jadinya cuma nyicip yang versi bola-bola kayak Timbits, mungkin itu cocok namanya BeaverPoopoos :p

Kehabisan Beavertrails yang termasyur, jadinya cuma nyicip yang versi bola-bola kayak Timbits, mungkin itu cocok namanya BeaverPoopoos :p

Supaya gak kayak orang bego, naik kapal nyebrang trus nyebrang balik, kami jalan-jalan disekitar stasiun di sisi Utara Vancouver. Ternyata cukup ramai dan penuh resto-resto dan ada foodcourtnya juga. Kami hanya sebentar saja disini sebelum kemudian kembali ke jantung Vancouver dengan armada yang sama dan lanjut lagi dengan SkyTrain ke Chinatown, yay!

Saat itu sudah menjelang malam, dengan sedikit kebingungan mencari lokasi persis Night Market kami jadi bisa melihat-lihat Taman Sun Yat Sen dari depan (sudah tutup jam segitu), konon taman buatan ini sangat cantik namun kudu bayar buat masuk kedalam yang bagi sebagian orang tidaklah sepadan karena ukuran tamannya kecil.

Setelah menemukan Night Market yang dimaksud, rasanya happy banget karena bisa jajan-jajan, tapi belum jalan 15 menit, eh itu stand tempat jualan sudah habis aja. Yang artinya, Night Marketnya cuma kecil aja skalanya, pikirannya kita-kita bakal gede, heboh, meriah, gegap gempita sampai gimana gitu, eh ternyata cuma begitu doang. Turis kecewa. Niat makan malam disini pun pupus, lah apa yang mau dimakan kalo semua hanya berupa cemilan dan aneka aksesoris? Kami memutuskan segera naik Bus dan kembali ke area hotel untuk cari makan malam. Tunggu punya tunggu, bus tidak kunjung datang, yang datang malah gembel yang minta duit, suasana sudah gelap dan area Chinatown yang dilihat di siang hari berubah total saat malam, serem bok! Kami mutuskan kembali naik Skytrain tempat kami turun tadi, gempor-gempor deh dari pada dari padakan?

Suasana stasiun Skytrain di Chinatown

Suasana stasiun Skytrain di Chinatown

Dr. Sun Yat Sen Garden

Dr. Sun Yat Sen Garden, nasib yang cuma bisa liat-liat depannya doang haha

Masih di luar Taman Sun Yat Sen

Masih di luar Taman Sun Yat Sen

Sempat jajan Dorayaki isi Nutella di Night Market

Sempat jajan Dorayaki isi Nutella di Night Market

Begini doang Night Marketnya... Jauh dari ekspetasi!

Begini doang Night Marketnya… Jauh dari ekspetasi!

Bisa bayangkan betapa lelah-nya kami, maka tak heran resto yang dipilih adalah All You Can eat Korean BBQ! Yummy! Malam itu sepertinya di hotel semua tidur dengan pulas sepulas-pulasnya! :)

Yum Yum yum!

Yum Yum yum!

Hari terakhir di Vancouver sebelum kami bertolak ke bandara pada siang hari, saya sempatkan bersepeda kembali di Stanley Park sementara para pria menyelsaikan urusan mereka masing2. Karena masih cukup pagi, hampir semua penyewaan sepeda belum buka atau baru akan buka setengah jam lagi. Waktu saya tidak banyak, jatah cuma  kurang dari dua jam karena kudu ke bandara. Saat celingak celinguk merhatiin harga dipintu salah satu penyewaan sepeda saya dihampiri oleh penjaga toko, ramah nian mereka ini sama turis. Mereka hanya punya paket minimal 2 jam sewa, ya sudahlah gak apa-apa dari pada waktu juga terbuang percuma kalo saya bela-belain nunggu  toko kemarin buka.

Pagi itu saya cuma lewatin Sea Wall, saya perbanyak waktu bersantai duduk di bangku-bangku yang tersedia sepanjang sea wall sambil merenung akan arti hidup, halah! Karena sudah tau estimasi waktu jadi saya bisa lebih santai untuk duduk atau memutuskan jalan. Setelah sampai di titik awal saya lihat jam masih ada cukup waktu, maka saya putuskan untuk keluar taman dari sisi belakang, tidak sampai jauh, cuma sekitar 3km saya putuskan balik karena sudah tidak terlalu cycle friendly.

Beberapa hasil jepretan dari bersepeda sendirian

Beberapa hasil jepretan dari bersepeda sendirian

Buru-buru jalan kaki pulang demi hemat $2 disepanjang Robson St, ditengah-tengah jalan saya dapat kabar waktu ke bandaranya diundur, waduhhhh tau gitu saya lamaan di taman deh. Jadinya saya perlambat aja jalan kakinya dan keluar masuk toko yang baru pada buka. Rasanya bahagia bener waktu nemu Lush Store, toko ini saya cari-cari dari kemarin kagak ketemu, mau beli bomb bath/buble bath-nya buat berendam di hotel. Baru tau saat itu kalo pabrik Lush ada di Vancouver, saya juga dapat gratis satu produk sabunnya, mungkin penglaris karena saya pembeli pertama? hihi.

Itulah akhir perjalanan saya di Vancouver, 3 malam 4 hari. Sangat berkesan baik sehingga tidak nolak kalo disuruh kesana lagi, tapi kalo dibayarin ya, soalnya kalo ada duit, saya mau ke tempat lain dulu yang belum pernah didatangin. Ya ampun YuTan, siapa yang mau bayarin?? mimpi?? Ya elah, just sayin, doh! :) Tujuan selanjutnya adalah Calgary!!! Saya excited banget karena itu tandanya sebentar lagi dolan ke Rocky Mountains & bertemu teman dari Halifax dulu, tapi juga sekaligus deg-degan karena itu artinya, hari-hari ngegembel semakin dekat!

YuTan

Life in 2012, according to my iPhone pictures…

Dimsum party for Wiwit's bday! at Chinatown restaurant, Halifax, Canada. jan 8, 2012

Dimsum party for Wiwit’s bday! at Chinatown restaurant, Halifax, Canada. Jan 8, 2012

Home cooked by Aunt Lilian. Jan 09,2012. Halifax, Canada

Home cooked by Aunt Lilian. Jan 09,2012. Halifax, Canada

Clay Pot Art with friends. This is my first clay art. Love it. Jan 14, 012 in Halifax, Canada

Clay Pot Art with friends. This was my first clay art. Love it. Jan 14, 2012 in Halifax, Canada

 

Celebrated Chinese New Year at Pak Ming & lulu's house. Jan 22, 2012. Dartmouth, Canada

Celebrated Chinese New Year at Pak Ming & lulu’s house. Jan 22, 2012. Dartmouth, Canada

Tried new recipe (Coconut Cream Cake) at Yen's house. Feb 05, 2012. Halifax, Canada

Tried new recipe (Carribean Coconut  Cake) at Yen’s house. Feb 05, 2012. Halifax, Canada

Girls's lunch party at Bianca's house + Haina Art. Halifax, Canada. Feb 08, 2012

Girls’s lunch party at Bianca’s house + Haina Art. Halifax, Canada. Feb 08, 2012

Cupcake Decoration with friends at our condo. Feb 11,2012. Halifax, Canada

Cupcake Decoration with friends at our condo. Feb 11,2012. Halifax, Canada

Gave a Peggy's cove a visit when we already fixed our plan to move for good to Toronto. Feb 19,2012. Nova Scotia, Canada

Gave a Peggy’s cove a visit when we already fixed our plan to move for good to Toronto. Feb 19,2012. Nova Scotia, Canada

Pre Farewell party at Chnatown Dimsum with Yen's family & friends. Feb 28,2012. Halifax,Canada

Pre Farewell party at Chinatown Dimsum with Yen’s family & friends. Feb 28,2012. Halifax,Canada

Said good bye to Pastor Sandy, March 03,2012. Dartmouth, Canada

Said good bye to Pastor Sandy, March 03,2012. Dartmouth, Canada

Visited Indonesia ( Jakarta & Jambi ) and met family & friends. March 14 - April 17, 2012

Visited Indonesia ( Jakarta & Jambi ) and met family & friends. March 14 – April 17, 2012

Did prewedding shot for my cousin. March 31,2012. Jambi, Indonesia

Did prewedding shot for my cousin. March 31,2012. Jambi, Indonesia

Hadi's bday. April 04,2012. Jambi, Indonesia

Hadi’s bday. April 04,2012. Jambi, Indonesia

Visited my Papa. April 10,2012. Jambi, Indonesia

Visited my Papa. April 10,2012. Jambi, Indonesia

At Soekarno Hatta Airport. Time to say goodbye. April 17, 2012. Jakarta, Indonesia

At Soekarno Hatta Airport. Time to say goodbye. April 17, 2012. Jakarta, Indonesia

 

Farewell party for us at Yen's house. April 21,2012. Halifax, Canada

Farewell party for us at Yen’s house. April 21,2012. And Last time at Steak & Stein (Our favorit Steak Restaurant)April 23, 2012. Halifax, Canada

On our way move to Toronto via Moncton - Quebec - Montreal - Ottawa, Canada. April 23-27, 2012

On our way move to Toronto via Moncton – Quebec – Montreal – Ottawa, Canada. April 23-27, 2012

Watched Super Moon with friends. May 05,2012 Mississauga, Canada.

Watched Super Moon with friends. May 05,2012 Mississauga, Canada.

Went to Hamilton with friends. May 12, 2012. Hamilton, Canada

Went to Hamilton with friends. May 12, 2012. Hamilton, Canada

Went to Rockwood with friends. May 19,2012. Rockwood, ON, Canada

Went to Rockwood with friends. May 13,2012. Rockwood, ON, Canada

Went to Toronto Island with friends. May 19,2012. Toronto, Canada

Went to Toronto Island with friends. May 19,2012. Toronto, Canada

Went to Wasaga Beach with friends. May 20,2012. Ontario, Canada

Went to Wasaga Beach with friends. May 20,2012. Ontario, Canada

Celebrate our 2nd Wedding Anniversary at Japanese restaurant. May 22,2012. Toronto,Canada

Celebrate our 2nd Wedding Anniversary at Japanese restaurant. May 22,2012. Toronto,Canada

Went to cycling with Om JeHa. June 02,2012. Toronto, Canada

Went to cycling with Om JeHa. June 02,2012. Toronto, Canada

Went to Park near our Apartment with friends. June 09,2012. Etobicoke, Canada

Went to Park near our Apartment with friends. June 09,2012. Etobicoke, Canada

Went to Waterfront Toronto with friends, while husband went to Montreal for business trip. June 23, 2012. Toronto, Canada

Went to Waterfront Toronto with friends, while husband went to Montreal for business trip. June 23, 2012. Toronto, Canada

Camping at Six Mile Lake with Friends. June 30 - 02 July, 2012. Ontario, Canada

Camping at Six Mile Lake with Friends. June 30 – 02 July, 2012. Ontario, Canada

My first lesson for canoeing at Cherry Beach.  July 14, 2012. Toronto, Canada

My first lesson for canoeing at Cherry Beach. July 14, 2012. Toronto, Canada

Celebrate my Bday at Japanese restaurant. July 20,2012. Toronto,Canada

Celebrate my Bday at Japanese restaurant. July 20,2012. Toronto,Canada

Picnic with Church fellas at Petticoat Creek. July 28, 2012. Onatrio, Canada

Picnic with Church fellas at Petticoat Creek. July 28, 2012. Onatrio, Canada

 

Picnic at Bellwood with friends. July 29,2012. Ontario,Canada

Picnic at Bellwood with friends. July 29,2012. Ontario,Canada

 

Visited Beby's house. August 04-05,2012. at St.Thomas,Canada

Visited Beby’s house. August 04-05,2012. at St.Thomas,Canada

Met Lulu & Anwars's Family. August 08,2012. Toronto, Canada

Met Lulu & Anwars’s Family. August 08,2012. Toronto, Canada

 

IMG_1459

Camping at Collins Inlets with friends. August 10-12,2012. Ontario,Canada

Went to Vancouver. August 17-20,2012. British Columbia, Canada

Went to Vancouver. August 17-20,2012. British Columbia, Canada

Went to Calgary. August 20-21,2012. Alberta, Canada

Went to Calgary. August 20-21,2012. Alberta, Canada

Went to Banff, Yoho & Jasper National Park. August 22-26,2012. Alberta, Canada

Went to Banff, Yoho & Jasper National Park. August 22-26,2012. Alberta, Canada

Cut my hair short. Sept 24,2012. Toronto, Canada

Cut my hair short. Sept 24,2012. Toronto, Canada

 

Went to Balsam Lake, Oct 08,2012. And Credit River Ontario, Canada

Went to Credit River Oct 06,2012 and Balsam Lake, Oct 08,2012. Ontario, Canada

Chrismat Photo Session for Church Fellas & friends. From Nov 11-Dec01,2012. Canada

Christmas Photo Session for Church’s Fellas & friends. From Nov 11- Dec 01,2012. Canada

Met Lulu again this year. Dec 23-24,2012. Toronto, Canada

Met Lulu again this year. Dec 23-24,2012. Toronto, Canada

Christmas's eve dinner at Winardi's house. Dec 25,2012. Mississauga, Canada

Christmas’s eve dinner at Winardi’s house. Dec 24,2012. Mississauga, Canada

Went to Park playing snow. Dec 26,2012. Etobicoke, Canada

Went to Park playing snow. Dec 26,2012. Etobicoke, Canada

photo

New Year’s eve dinner at Lan’s house. Dec 31,2012. Etobicoke, Canada

Good bye and thanks 2012! and welcome 2013! <3

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 2]

Ketika sedang berada di ketinggian ribuan meter dari permukaan laut, kesukaan saya adalah menatap pemandangan di luar jendela pesawat. Tentu tidak tiap saat saya melotot melotot keluar, umumnya ketika pesawat hendak take off dan landing. Sesekali ditengah-tengah perjalanan jika saya tidak dapat tidur, tidak nonton, tidak dengar musik dan sedang bosan. Enaknya memang sambil melihat keluar dan melamun. Tiap tempat punya keunikannya masing-masing.

Ketika pesawat yang membawa kami dari Toronto hampir mendekati Vancouver ( Sekitar 45-60 menit sebelum mendarat ), mata saya terbelalak oleh apa yang ‘tersaji’ didepan mata ( Untung biji mata gak keluar dari ‘cangkangnya’ ). Wah, Tuhan ini benar-benar punya selera humor yang tinggi deh! Ketika melewati daerah Alberta hampir seluruh daratannya rata ta ta, sejauh mata memandang hanya tanah luas yang lapang, tapi mendadak terhampar pergunungan batu yang berdiri kokoh.

Jadi ini imaginasi saya begitu melihat semua itu. Saat Tuhan sedang mencipta, nampaknya Dia rada iseng sambil jongkok dengan menyapu-nyapu tanah di wilayah Alberta, disapunya dengan tangan agar tanah ini menjadi rata dan halus, dari apa yang tersapu digeserkan kesamping, setelah beberapa saat, Dia bilang “Udah ah, capek!” Jadilah mendadak ada tumpukan-tumpukan yang sama sekali dibiarkan begitu saja dan kemudian menjadi pegunungan Rockies. Hehe.

Jauh mata saya mencoba menembus garis horizon, yang tampak hanya hamparan pegunungan batu yang puncak-puncaknya dilapisi salju abadi. Kerut-kerut daripada pergunungan tersebut membentuk cekungan-cekungan yang terisi air, itulah danau-danau yang tak terhitung jumlahnya, ada yang kecil, ada yang lebar, warnanya pun berlain-lainan. Dalam hati saya membatin, beberapa hari kedepan saya akan melihat mereka dari perpektif yang berbeda. Saya berusaha mencari-cari Lake Louis, Ah.. mungkin yang itu karena disekitar danau nampak beberapa bangunan, Oh mungkin yang itu… Demikianlah seterusnya hingga perlahan-lahan bangunan dari pada sebuah kota mulai terlihat, Ah.. Vancouver!

Dilihat dari atas, kota Vancouver tidaklah terlalu luas. Namun kota ini begitu unik karena terletak persis disebelah gunung dan diseberangnya dikelilingi air. Sebuah sungaipun tampak membelah kota yang cantik ini. Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, sudah pernah diinformasikan jika kota ini sungguh beruntung, di satu wilayah yang sama anda bisa lihat pegunungan dan juga lautan. Barulah saya mengerti apa yang dimaksud orang-orang.

Perjalanan dari bandara ke hotel di daerah downtown berjalan cukup lancar, tidak ada macet-macetan. Satu hal yang berbeda dari kota besar seperti Vancouver dibandingkan Toronto adalah Vancouver lebih hijau, pohon-pohon acapkali dijumpai di sepanjang jalan raya. Ketika saya berjalan-jalan di downtownnya beberapa hari kemudian, ntah kenapa  manusia-manusia disana juga nampak lebih keren, baik warga lokal maupun pendatang. Terasa sekali dilihat dari cara berpakaian/fashion mereka (bisa jadi karena saya jarang dan sudah agak lama tidak wara-wiri di DT Toronto hehe) lebih gaul dan ok. Wajah-wajah orang di jalanan dan para pegawai di toko/restaurant juga nampak lebih ramah. Apa karena wisata adalah andalah usaha nomor satu mereka? Sedang Toronto lebih ke bisnis sehingga wajah-wajah orangnya lebih kecut? Hahaha…

Letak hotel Hyatt yang kami tempati sangat strategis ( di Burrard st ). Dalam radius 0-3 km ( yang mana jumlah kilometer tersebut ecel buat ditempuh dengan berjalan kaki ) dari hotel, berserakan toko dan restaurant. Sebut saja toko-toko seperti Gap, American Eagel, Lush, dll letaknya berdekatan satu dengan lainnya. Restaurant yang menyajikan aneka masakan baik Western maupun Asia berjubelan disana-sini. Mayoritas memang adalah restaurant Japan dan Korea. Sehingga tidak heran kalau ada yang mengatakan, belum sah ke Vancouver kalo belum makan Sushi dan Sashimi.

Jadilah siang itu kami makan di restaurant Jepang bernama Kamei Royale (Burrard – Geogia ). Dalam hati, aduh pasti mahal ini ya. Eh ternyata tidak saudara-saudara, harganya sama saja dengan harga makanan di Toronto ( 1 porsi makanan berkisar antara $7-15 ). heheh lega mode ON.

Sushi & Sashimi Combo. Yang sebelah kanan sayur dengan bumbu kacang terasa seperti pecel ^^ Yummy!

Seusai makan siang saya pun jalan-jalan dengan modal sepasang kaki, tas kamera dan sebuah hati yang menentukan arah, cie ileh… :) Sebenarnya sudah ada beberapa tempat yang masuk daftar untuk dikunjungi. Sudah di split juga untuk dibagi dengan suami pada hari Minggu nanti, jadi hari tersebut bisa kami pakai untuk jalan-jalan bersama. Siang tersebut saya pakai untuk jalan ke  False Creek , modal GPS di iPhone sih, hehe.

Boat & Kapal pesiar

Bangunan Apartment & Condo di False Creek

Cuaca saat itu cukup terik, Suatu hari yang konon katanya langka di Vancouver. Mereka langganan dihujani, hahaha. Betapa beruntungnya kami selama disana, tidak ada hujan sama sekali hingga bebas berkeliaran. Daerah False Creek ini tertata rapi dan bersih. Konon harga-harga condo maupun apartment di daerah ini cukup mahal. Didekat sini juga ada sebuah tanah lapang semacam taman yang menghadap ke air. Siang menjelang sore saat saya berada disana, banyak sekali orang-orang yang berjemur disana. Tua muda duduk atau berbaring ria. Yang kesemuanya saya rasa adalah penduduk lokal yang tnggal disekitar sana.

Pria-pria pamer tubuh atletis dengan perut kotak-kotak. Yang cewek-cewek berbikini ria dan kacamata segede gaban. Yang lucu banyak pula para manula, hanya saja mereka tidak berbikini ria. Satu dua ditemani pengasuh yang sesekali memindahkan mereka ke lokasi yang tertepa cahaya matahari. Dasar bulele ya, kalo kita/saya justru cari yang adem, mereka malah nyari yang panas, haha.

Ntah kenapa daerah False Creek masuk dalam satu lokasi tujuan wisata kalo anda menelusuri what to see di Vancouver via google. Pada dasarnya hanya semacam area yang terdiri dari tempat tinggal berupa bangunan tinggi, taman luas yang saya ceritakan diatas, bertepian dengan sungai yang mana banyak kapal-kapal di parkir yang nampak seperti lahan parkir biasa, hanya saja ini bukan mobil tapi kapal! Dermaga disini juga menjadi salah satu haltenya Aqua Bus. Maka tidak heran jika para turis diberi alternatif untuk singgah disini jika berkenan.

Berwisata ke Vancouver hanya bermodal transportasi umum tidaklah sulit atau mahal. Praktis selama disana  boleh dikata sudah mencobai semua transportasi umumnya. Bus, SeaBus, Taxi, AquaBus, Skytrain, dan Sepeda! hehe.

Karena hari sudah menjelang sore dan sedikit letih, saya memutuskan untuk kembali ke hotel saja, sempat nyasar dengan jalan ke arah yang menjauh dari hotel, haha apes tenan. Selisih waktu antara Toronto dan Vancouver adalah Toronto 3 jam lebih cepat. Ketika jalan pulang sekitar jam 3.30pm, saya terima SMS dari teman di Toronto yang ngajak makan malam. Sesaat saya bengong, jam segini kok ngajak mau makan apa? Baru saya sadar perbedaan waktu yang cukup signifikan tersebut. Pantaslah saya agak-agak lapar gimana gitu, hahaha. Saya juga sempat mampir ke 7 eleven, beli Big Gulp $1. Merchain ini cukup banyak dijumpai di Vancouver, termasuk Starbuck yang ada di hampir tiap pengkolan. Tim Horton justru jarang nampak. Dasar kota kaya, warung kopi-nya juga banyakan yang mahal, haha.

[Buat pembaca yang tidak tinggal di Kanada : Tim Horton itu semacam warteg-nya Kanada. Jual minuman macam kopi/teh/susu coklat dan aneka sandwich, cookies dan cake. Sebelas dua belaslah dengan Starbuck, hanya saja harganya miring yang saya percaya sejajar dengan kualitasnya. Soal rasa sih tergantung selera, kata banyak Melayu, Kopi di Timmy (sebuatan imoet-imoetnya) itu macam minum air, Saya biasa beli susu cokelatnya (Btw, susu cokelat paling maknyus bagi saya hanya ada di Second Cup. No, No explanation about Second Cup but you must try their Vanilla Bean Hot Choco, LOL), atau kalo lagi musim panas Ice Cappucinonya, saya juga doyan Muffin Whole Wheat dan Bagel with butternya. Rasa okay tapi kalo kualitas saya gak jamin ya. Lah murah gitu kok, pebandingan aja untuk harga susu cokelat di Starbuck ukuran kecil bisa kena paling tidak $5 sedang di Timmy bisa less than $2. Sebelum pindah Kanada saya sempat baca satu blog yang membuat list 10 hal yang harus dilakukan di Kanada, dan nomor urut satunya adalah Nyobain Tim Horton, tuh apa nggak hebat? Wajar sih, tiap pengkolan ada. Makanya agak aneh kalo di Vancouver jarang terlihat. Banyakan Starbuck dan Second cup yang harganya jauh diatas Timmy].

Hari pertama di Vancouver, semua dilakukan dengan jalan kaki. Sehabis makan malam di restaurant Thailand, Saya dan suami jalan kaki ke waterfront yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari hotel. Pas benar sampai disana menjelang sunset. Lagi-lagi banyak sekali kapal berseliweran termasuk helicopter yang bisa mendarat di air, mbuh namanya apaan. Pinjam istilah Om Jeha “Opo ra hebats?!” Hayooo siapa yang nonton reality show “The Real Housewives of Vancouver”? Memang tidak bisa menjadi standart kalo semua penduduk vancouver sekaya raya begitu, tapi coba mana ada acara The Realhousewive of Toronto? haha.

Waterfront of Vancouver

Sunset!!!

Dari jendela kamar hotel, saya bisa melihat pegunungan dan juga waterfront. Kasur yang empuk di hotel harus saya nikmati sepuas-puasnya sebelum masuk masa ngegembel beberapa hari yang akan datang. Tenaga juga kudu disimpan, karena perjalanan masih panjang.

View from Hotel

Hari kedua saya berpetualang sendirian lagi, selepas sarapan pagi di hotel. Saya jalan ke stasiun Skytrain terdekat untuk membeli karcis bus harian. Saya tidak menemukan vending machine dimana bisa juga dipakai untuk membeli karcis. Saat celingukan di depan mesin beli karcis di stasiun, ada seorang pria setengah baya agak kucel, bisa dipastikan adalah gelandangan (Ohya, di Vancouver daerah downtownya ternyata cukup banyak gelandangan, masih muda-muda lagi, ngegeletak aja tidur di trotoar depan Mc. D, duh!) berusaha menjual tiket bekas ke saya dengan harga lebih murah tentunya. Dia tanya saya mau kemana, saya jawab dengan menggelengkan kepala dan say no thanks. Ini saya aja lagi bingung baca keterangan soal karcis dimana dibagi dalam 3 zona (kalo gak salah ingat ya) dan saya sendiri tidak tau lokasi-lokasi yang ingin saya kunjungi masuk wilayah mana. Tapi ybs tetap maksa sampai ada seorang bapak-bapak parlente ber-jas rapi nenteng tas marah dan ngomel-ngomel ke gelandangan itu, dia bilang Shame on you! jelas dia tau saya turis dari cara bepakaian saya dan sampai mereka adu mulut, ampyun. Saya pun akhirnya beli pass harian seharga $9 yang pasti good deal jika saya perlu naik turun Bus/Skytrain/Seabus berkali-kali dalam hari tersebut.

Bermodalkan google map di iPhone ( saat itu iPhone masih pakai google map ) saya ke lokasi pertama saya, Granville Island. Puji Tuhan untuk teknologi jaman sekarang, tidak saja saya bisa liat kemana arah tujuan, juga diberi tahu harus naik bus nomor berapa dan berapa menit lagi bus tersebut akan tiba. Tuh, Opo ra hebats?! hehe. Cuma siap-siap battery cukup saja selama perjalanan tersebut.

Granville Island juga masuk dalam objek wisata yang populer. Intinya didalam satu area/island terdapat aneka restaurant, toko-toko mainan/pets, galery-galery yang menjual aneka kerajinan seni, dan juga farmer market. Saat turun dari Bus, kita perlu jalan kira-kira 500 meter untuk sampai kedalam dan lagi-lagi melewati semacam kali/muara yang penuh dengan kapal-kapal boat. Kapal-kapal ini bisa disewa kalo mau. Hari itu saya agaknya datang kepagian, masih banyak toko, galery dan restaurant yang belum pada buka.

Yang jelas saya memang tidak tertarik untuk ke toko/galery atau restaurant yang fancy. Tapi kalo belum pada buka gini, apa yang mau di cuci matanya? haha. Pake nyasar lagi selama di dalam, tapi nyasar yang membawa hikmat. Saya nyasar dan sampai ke Farmer Market, haha. Disini kehidupan sudah mulai, sama seperti farmer market di daerah lain, para penjual buah,bunga dan aneka panganan serta pengunjung sudah berjubelan. Ah, bahagia banget liat aneka buah warna warni segar yang dipajang dan paling menarik menelusuri counter demi counter melihat aneka makanan yang dijual, haha teteppp makanan nomor uno.

Sebelum memutuskan jajan sana jajan sini saya sempatkan foto-foto di dalam farmer market dan di dermaga. Enaknya motret di daerah turis, tidak ada yang melarang ketika lensa kita arahkan ke dagangan mereka. Bahkan ada satu counter aneka kue yang menjadi spot favorit fotografer dan turis. Mungkin dalam hati pemiliknya, Duh ileh biyung…. ini beli kagak pada motretin doang! Haha.

Tergoda tidak? :) Harganya lumayan mahal, sekitar $3-4/pc

Cokelat!!!

Flowers!

Pasta!!!

Cookies. Yang didepan, itulah yang saya cemil saat kelaparan ketika di Lynn Canyon

Di Foto aja, Tidak di beli ^^

Fruits!!!

Menggiurkan! Cheese Cake :D

Opo ra mahal?!

Salah satu ‘pemandangan’ bawah dermaga

Setelah puas motret, saya putuskan untuk makan siang disini, namun karena masih rada kenyang dari sarapan pagi tadi dan juga dipusingkan oleh banyaknya pilihan saya akhirnya memutuskan beli bagel, ada satu counter khusus jualan bagel. Saya tergiur dengan bagel lemon cheese-nya. Apa daya saudara-saudara…. perlu sedikit perjuangan untuk menghabiskan tuh bagel. Terlalu asem dan saya belum terlalu lapar, saya pun menyesal tapi sesal tak pernah on time.

Daerah ini asyik didatangin kalo ingin santai-santai, menikmati pemandangan laut dimana kapal dan boat berseliweran, para seagull pun tak ketinggalan menikmati semua pemandangan tersebut. Lagi-lagi ada halte Aquabus disini. Aquabus berbeda dengan Seabus yang masuk dalam group yang sama dengan Bus. Untuk naik Aquabus kita perlu beli karcis dan harganya disesuaikan dengan jarak/halte mana kita akan turun, mereka juga ada karcis harian jadi bisa bebas mau turun dan naik dimana saja. Naik Aquabus memberi pemandangan yang berbeda saja, sekali jalan mereka bisa angkut 6-10 orang, tidak perlu sampai penuh baru jalan karena disaat Summer cukup banyak Aquabus yang beroperasi, rata-rata dinahkodai oleh anak muda. Somehow terasa seperti di daerah Kalimantan atau pinggiran kota Jambi yang kapal boat kecil adalah sarana transportasi mereka, hanya saja yang ini tidak ada yang bawa pisang setandan atau ayam dan bebek, haha.

Setelah puas melihat-lihat, foto dan istiraha, saya kembali menuju ke halte bus dimana saya turun tadi. Tujuan selanjutnya adalah Lynn Canyon Suspension Bridge yang ada di bagian North Vancouver. Sebenarnya ada suspension bridge lainnya bernama Capilano. Namun yang Lynn ini FREE gitu hahaha…Menuju kesananya pun tidak sulit. Karena ada di North maka saya perlu turun di halte waterfront kemudian nyambung SeaBus dan nyambung bus lagi. Terdengar melelahkan? Nggak kok, asyik malah. Karena tidak tahu persis bus turun di halte mana, begitu sudah dekat area waterfront saya turun dan jalan kaki mencari jalan masuk ke stasiun. Area saya turun ternyata bernama Gastown yaitu secuprit area yang penuh bangunan-bangunan tua dan penuh oleh cafe maupun galery, sekilas mirip downtown Halifax. Bus pun sempat melewati area Chinatown yang terasa lebih besar, meriah dan bersih dibandingkan dengan chinatown di Toronto.

Waktu untuk nyebrang dengan Seabus hanya sekitar 15 menit, dan kalau lagi beruntung kita tidak perlu tunggu terlalu lama untuk dapat SeaBus berikutnya karena tiap 15 atau 30 menit SeaBusnya jalan bolak balik. Tidak ada petugas satu pun yang memeriksa karcis, sistem kepercayaan katanya.

Turun dari Seabus ikuti saja jalan keluar dan akan sampai pada terminal Bus. Lagi-lagi berkat google map saya tau nomor bus berikutnya yang akan membawa saya ke Lynn Canyon. Bus yang dimaksud sudah menanti jadi tidak pakai celingak-celinguk. Perjalanan selama di Bus di North Vancouver kebanyakan menanjak naik, banyak pula lagi-lagi saya lihat restaurant Jepang dan Korea bertebaran disini. Sekitar 20 menit akhirnya saya sampai di halte bus, sebenarnya saya hanya kira-kira saja dan kebetulan juga ada beberapa orang yang turun disana. Jalan masuk ke Lynn Canyon masih banyak perumahan atau mungkin Villa, hingga tidak seperti sedang berada di pusat/lokasi atraksi.

Jalan kaki masuk ke area Lynn Canyon yang hanya sekitar 1km saya berjumpa 2 bus besar berisi anak-anak umur 8-10 tahun dari Korea. Oke, jadi pada study banding atau semacamnya, beruntung sekali mereka ini? Jaman saya sekolah dulu, wisata dari sekolahnya ke Radio RRI atau kebun binatang doang, haha.

Ada beberapa trail yang bisa dijalani, tapi gak sah dong kalo gak nyebrang di suspension bridgenya! Apalagi beberapa trail kudu melewati jembatan tersebut. Saya ini dibilang sudah antisipasi sih memang sudah antisipasi, maksudnya sudah tau apa itu suspension bridge, bilang sendiri kalo rada serem jalan diatas jembatan model gitu, goyang-goyang bikin lutut lemas. Tapi opo yo? pas sampe disana walau orang berjubelan saya pake jalan aja, sampe ditengah baru deh nyesal… iya sesal lagi-lagi terlambat. Nah karena sudah ditengah-tengah, lebih susah balik badan dan jalan pulang dari pada terus saja, betul?

Itu kalo liat kebawah isinya air dan 50 meter ketinggiannya, jembatan goyang terayun-ayun, para manusia-manusia bergerak sebagian ketakutan sebagian lempeng, ntah mati rasa atau sok berani, haha. Sebenarnya pikiran yang bikin jiper. Aduh gimana kalo jembatan putus? bisa saja kan putus? siapa tau giliran gua disana putus? Sampe diseberang saya perlu cari tempat duduk, perut rasanya mual, kepala pusing, nafas tinggal satu-satu. Saya SMS suami “Saya kayaknya mau stay saja disini, kamu cari istri baru gih”. Haha. Saya phobia ketinggian ( itu loh, kalo berdiri di ketinggian dan liat kebawah, bawaannya mau lompat. Giliran suruh turun kaki langsung lemas dan kalo kudu turun, gaya turunnya ngesot atau ngerayap ) dan daerah sana cukup tinggi sehingga oksigen sudah lebih tipis.

Jembatannya cukup panjang. Sudah ada sejak 1912

Setelah semua nyawa kumpul kembali, saya punya dua alternatif trail. Yang kiri apa yang kanan? saya pilih yang jaraknya dekat saja (Twin falls Loop Trail), walau tidak tahu apa yang akan dijumpai disana layak untuk dikunjungi. Trailnya cukup okay, tanah dan sesekali akar pohon dan batu, kondisi trail naik dan turun cukup sering walau arah kesana cenderung lebih sering turun. Beberapa kali pas-pasan dengan pengunjung yang berjalan arah pulang. Saya mencoba membaca ekpresi wajah mereka, terlihat puas kah? lemas kah? kecewakah? jangan sampai saya jauh-jauh berjalan hasilnya nol haha.

Karena sudah kadung jalan dan ekpresi wajah yang tricky ( Gimana kagak tricky kalo sebagian cemberut sebagian senyum-senyum? ) saya teruskan saja, toh nggak ada tujuan lain yang menanti atau mendesak. Setelah 40 menit berjalan saya berjumpa dengan sebuah jembatan kecil, nampak banyak orang berkerumun disana. Usut punya usut, ternyata ada dua pelompat yang melompat dari atas jembatan kebawah. Sampai dibawah mereka nyelam, Ketinggian jembatan ke air paling sedikit 30 meter dan konon airnya dingin. Sewaktu pelompat-pelompat tersebut naik lagi ke Jembatan, ada ibu-ibu yang nanya apakah mereka bisa sampai ke bawah sana tanpa pake loncat? haha. Bisa katanya tapi minimal kudu berenang.

Setelah puas di jembatan saya mencari jalan untuk turun ke bawah, karena saya lihat ada beberapa orang dibawah sana. Saya sih gak mau pake berenang karena gak bawa baju ganti, tapi kalo misalnya worth to try, hajar bleh! Trail kebawah itu tidak ada tandanya, nampaknya tidak disarankan untuk turun kebawah, jalan turunnya bisa di susuri dengan melewati samping pagar di dekat jembatan. Ikuti saja nanti akan sampai di tujuan di semacam kali dengan batu-batuan besar dan sedikit pasir. Sampai disana ternyata cukup banyak manusia, ada yang duduk duduk di batu nampak habis nyemplung ke air, sebagian duduk-duduk santai di pasir seperti piknik. Saya pun ambil posisi di sebuah batu karang, copotin sepatu dan kaus kaki. Wuih, nekat… mau nyemplung juga YuTan? Kagak, cuma mau rendam kaki. Sebelum adegan rendam kaki, ada satu rombongan keluarga terdiri dari anak gadis dan ibunya. Pertama sang anak melompat terlebih dahulu, ketika dia sudah naik ke batu dan tertawa terkekeh-kekeh lanjut emaknya yang nyemplung, di air tuh emak menjerit-jerit histeris karena dingin. Saya tanya anaknya is it cold? Dia jawab it’s not cold, its FREEZING! Karena penasaran itulah saya buka sepatu. Cukup 2-3 menit, kaki saya numb!

Selain pasangan ibu anak tersebut ada pula beberapa manusia gila lainnya yang berenang kira-kira 30 meter untuk sampai dibawah air terjun dimana dua pelompat yang terjun bebas tadi. Nampak mereka perlu stop 1-2x sebelum sampai ditujuan. Aksi perenang-perenang tersebut menjadi tontonan kami yang duduk-duduk dibatu. Lucu-lucu pula gaya dan ekspresi wajahnya membuat kami terkadang perlu bersorak memberi semangat atau tertawa terpingkal-pingkal. Karena sebagian dari mereka mengumpat ngumpat soalnya, lah siapa suruh berenangkan? LOL

Twin Fallnya begini ‘doang” tuh pelompat kalo salah mendarat bisa walahualam :(

Airnya super jernih dan dingin. Asyik banget leyeh-leyeh disini

Hayoo, siapa mau berenang disini? Next time kalo bisa kesini lagi saya mau berenang!

Setelah paus leyeh-leyeh, lapar juga yang menyadarkan hamba, haha. Sudahlah boleh dikata gak makan siang, Gak bawa bekal lagi. Tapi lumayan ada air putih dan snack semacam energy bar (  mirip karena terdiri dari campuran nuts dan oat yang saya beli di Farmer Market. Rencananya buat nanti hiking di Rocky Mountain ) yang saya sikat untuk mengganjal perut. Jalan kembali ke arah suspension Bridge bikin mpot-mpotan, hampir seluruhnya adalah tanjakan, ini rupanya yang bikin ekpresi wajah orang sulit dibaca!

Tantangan berikutnya adalah jalan di suspension bridge yang mana kali ini pas betul berpas-pasan sama anak-anak Korea yang hendak menyebrang. Agak-agak semaput jalan, eh ada satu anak lompat-lompat diatas jembatan. Tanpa sadar saya agak keras bilang Stop it! Diam dia langsung, LOL Ditengah-tengah jembatan terjadi macet parah, gak bisa maju sama sekali. Rupanya pada liatin dibawah ada bulele edan yang seluncur terjun di sebuah air terjun mini. Karena tergoda untuk mengabadikan moment tersebut sesampai di ujung saya balik lagi ke jembatan dengan kamera SLR ditangan. Edan yo! Dari yang mau pingsan jadi malah balik lagi hanya demi mau motret, mana susah lagi motret karena jembatan bergoyang dan jarak objek yang jauh, hasilnya blur lah yau :(

Saya mampir di kafetaria namun tidak nafsu dengan pilihan makanan disana yang berupa hotdog dan sejenisnya. Belum lagi hiruk pikuk anak-anak tersebut yang mau beli Ice Cream. Yang tua ini menyingkir aja deh. Haha. Sebelum naik bus lagi saya touch up touch up dikit dong ke washroom. Alamak, muka saya merah blas karena pas berhiking ria tadi. Yang liat wajah saya pasti takut, titisan Judge Bao dari mana ini? Haha.

Saat pulang dengan bus, saya menanti persis di halte ketika saya turun tadi. Menanti cukup lama bangsa 30 menit sebelum bus datang. Di seberang juga ada halte bus tapi saya tidak yakin dimana bus yang akan saya tumpangi stop. Saya putuskan stay ditempat turun karena kalo sampai salah toh akan balik lagi ke terminal seabus karena asumsi rute busnya nge-loop. Ternyata sesuai arahan google map saya harusnya naik dari halte seberang, tapi sudahlah toh busnya juga sudah pergi haha. Ketika naik bus saya sudah sadar rutenya tidak ngeloop atau kalopun nge-loop lebih jauh karena muter. Tapi lagi-lagi berkat google map saya diarahkan untuk pindah bus di terminal cukup besar ditengah jalan yang singkat cerita membawa saya kembali ke Hotel lebih cepat karena tidak perlu naik seabus dan lanjut bus yang waktu tunggunya mungkin lebih lama, sedang bus yang saya ganti di terminal ini langsung membawa saya ke belakang hotel! Opo ra hebats?! Lagi-lagi ‘salah’ yang membawa hikmat, haha. Dan sudah pasti harga tiket daypass $9 sudah kembali modal.

Dengan perut amat sangat lapar, malam itu kami makan di sebuah restaurant Jepang yang punya rating cukup tinggi di Yelp. Ya, gunakan aplikasi Yelp or Urbanspoon untuk mendapat informasi lengkap akan sebuah tempat. Nama restaurantnya Guu Original yang terletak kurang lebih 2 km dari hotel. Tempat tidak besar dan penuh dengan manusia yang kebanyakan anak muda. Untung kami tidak perlu menunggu lama karena hanya berdua dan bersedia duduk di bar area. Saya malah suka area ini karena bisa liat ‘atraksi’ chefnya di open kitchen.

Dengan modal foto di buku menu yang memuat tulisan kanji kami order beberapa makanan. Tunggu punya tunggu makanan tak kunjung datang, padahal konsumen di sebelah yang datang lebih lama sudah mendapatkan makanan mereka. Wah sudah mulai keluar tanduk nih saya, gak tau apa kalo saya sedang lapar selapar-laparnya, Kata bulele I am so hungry, I could eat a whole horse! Kami panggil satu orang yang nampak adalah manager restaurant yang kurang begitu fasih bahasa Inggris. Dia cuma iya iya bilang makanannya sudah di order, maaf dan tunggu sebentar lagi. sejuta persen setelah dikomplain pesanan kami baru masuk ke sistem komputer yang mengtransfer data ke dapur. Bodoh-bodoh gini kan dari tadi ngeliatin 3 chefnya masak ini itu, jadi tau dong mana pesanan eike yang sedang dikerjakan, haha.

Harganya memang tergolong murah/terjangkau tapi porsinya kecil. Soal rasa relative, bagi saya cenderung asin dan oily. Tapi pengalaman makan disana yang menarik karena melihat 3 chefnya yang cekatan masak ini itu. Sama pilihan menunya yang berharga kisaran $4-12. Saking larisnya waktu makan di jatah loh. Opo ra Hebats?! LOL

Guuud pale lu peang, kalo gak dikasih tau ampe resto tutup kita cuma makan angin haha

Ini pesanan meja sebelah. Masing2 seporsi gede salad dan orderan lain. Anak muda, makan aja terus yang banyak ntar end up kayak tante YuTan, mau? LOL

Ini persis ada didepan muka saya, kalo saya cuih cuih apa jadinya? Kayaknya enak ya ini, cuma kagak tau namanya apaan di menu :(

Duh mas mas… jenggotnya mana tahan…. haha 3 chef handle 3 station. Kerjanya wuzz wuzz wuzz…

Ini gak ingat apaan, kayaknya mushroom sama scallop atau apa gitu.

Semacam kulit tahu, rasanya biasa saja.

Ini asin bowwww…

Ini baru favorit saya, Calamary, Yum!

Itulah akhir dari hari ke 2 di Vancouver. Sehabis makan kami jalan kaki pulang ke hotel. Sekaligus cuci mata sana sini.Edisi berikutnya masih akan di Vancouver, another full day obok-obok Vancouver, Haha…  termasuk satu lagi yang bisa di contreng di Bucket List. Naik sepeda di Stanley Park seperti yang ada di serial The Real Housewives of Vancouver! Tunggu ceritanya ditayangan yang akan datang :)

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 1]

Ini tulisan mengenai perjalanan saya dan suami ( serta 2 orang teman yang menyusul kemudian ) ke Vancouver, Calgary & beberapa National Park ( Banff, Yoho & Jasper di Provinsi Alberta ) selama 10 hari. Perjalanan dilakukan sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya di pertengahan akhir bulan Agustus 2012. Karena tulisannya akan super panjang maka akan saya buat menjadi dua bagian, biar serasa kayak Twilight – Breaking Dawn Saga, ada part one dan part two. LOL  tiga atau bahkan empat bagian. Ya jadi kayak Twilight dah dimana 3 buku jadi 4 film. Diusahakan tidak sampai jadi seperti serial Harry Potter dimana 7 buku jadi 8 film, hehe.

[Note]

Ini tulisan dibuat dari perspektif :

Seorang turis yang baru pertama kali berkunjung ke lokasi-lokasi tersebut dan yang melakukan perjalanan ala backpacker selama di National Park dan semi backpacker selama di kota.

Seluruh isi tulisan, khususnya tip dan trik dan cerita bole bolonya lebih berfokus pada perjalanan selama di Rocky Mountains namun saya akan ceritakan secara kronologis perjalanan kami sejak dari Toronto – Vancouver – Calgary – Banff – Jasper – Yoho – Banff – Calgary – Toronto. Jika anda hanya butuh informasi selama perjalanan ke National Park, saya mengwajibkan anda baca seluruh judul blog ini yang mungkin akan terdiri dari 3 seri paling sedikit, karena disana sini mungkin akan terselip informasi yang berguna mengenai trip ke RM ( maksa dot com ) hehe.

Rencana dan persiapan perjalanan

Manusia boleh berencana namun Tuhan jualah yang menentukan. Saya, suami dan beberapa teman berencana suatu hari nanti ingin melancong bersama-sama ke Rocky Mountains ( yang meliputi Banff, Yoho & Jasper National Park, Canada ). Yang konon sangatlah spektakular dan one life time experience, the place that you want to come before you die, Ya segitu lebay-nya lah orang-orang mempromosikan keindahan tempat ini. Namun apalah daya, walau berdomisili di Kanada, impian ke daerah sana harapannya cukuplah tipis. Apalagi saat itu kami masih tinggal di Halifax, bagian paling timurnya Kanada, sedang daerah Rocky Mountain terletak di wilayah barat Kanada.

Melihat harga tiket pesawatnya saja sudah bikin merinding atau sekurang-kurangnya malah jadi mikir lebih baik pulang kampung aka dolan ke tanah air beta Indonesia kalau punya dana segitu. Namun seperti saya katakan diatas, manusia berencana Tuhan jualah yang menentukan. Bukan saja kami kemudian dapat melancong kesana tapi kami juga hanya mengeluarkan separuh biaya yang semestinya, dikasih dua orang teman seperjalanan yang dapat mengikuti trip ini dari very short notice yang kami beri. I cannot complaint. God is good.

Begitu sudah ada kepastian keluarnya permit boleh ambil cuti. Maka berita ini segera kami layangkan ke teman-teman yang dulu kita sempat berangan-angan untuk pergi bersama tersebut. 1 orang akan kesana juga tapi bersama keluarganya yang datang dari Indonesia dan selisih 1 minggu lebih lambat dari jadwal perjalanan kami, 1 pasang teman terpaksa tidak bisa ikut atau berusaha ikut karena sudah terlanjur beli paket tur ke Cuba sejak awal tahun sehingga mustahil untuk dapat cuti atau ada dana sisa untuk melakukan trip jauh dan makan banyak biaya, sisa 1 pasang teman yang domisili di Halifax yang pada awalnya saya sendiri pesimis kalau mereka mau atau bisa join. Walau memang sejak Juni sudah saya tiup-tiup informasi soal tunda semua rencana jalan-jalan karena ada kemungkinan kita akan ke Rocky Mountain, please stay tune, hahaha… very confident. So, begitu sudah pasti waktu itu sudah masuk bulan Juli, alhasil hanya punya waktu sekitar 1 1/2 bulan persiapan. Tak disangka-sangka mereka bilang Yes, we’re in!

Tuhan itu luar biasa, bisa-bisanya Dia menyanggupi sepasang teman yang secara lokasi ‘terpaksa’ keluar dana lebih banyak untuk tiket pesawat, mengatur sejak lama bahwa teman ini punya Om di Edmonton (salah satu kota di Alberta) yang mengharapkan mereka untuk suatu kali mampir menengok beliau sekeluarga, memberi kami teman seperjalanan yang punya concern yang sama soal dana perjalanan yang irit ( not to try to blame or judge another friends who probably won’t stay at tent and prefer stay at hotel, it’s okay though. We just cannot afford it, hmm… we can (kalo terpaksa, ya kannnn? :p ) but we prefer to spend as low as possible ), Kami ber-empat pun sama-sama belum diberi anak kala itu, sehingga lebih bebas bergerak dan bepergian dibandingkan misal sudah punya baby. Perjalanan ini pun jatuh di hampir akhir libur summer, sehingga harga-harga sudah lebih murah dan lokasi-lokasi wisata tidak sepadat pada peak liburan summer. So, How awesome our God? He is the planner. All credit go to Him.

Begitu  teman bilang oke. Maka babak selanjutnya adalah beli tiket pesawat dan mulai googling sana sini dan tanya sana sini mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Adapun perjalanan bersama teman hanya saat di National Park saja. Kami jemput mereka di bandara Calgary dan kemudian langsung melanjutkan perjalanan ke Rocky Mountains selama 4 hari 3 malam sebelum kami drop mereka di stasiun Bus untuk mereka lanjutkan perjalanan ke Edmonton dan kami lanjut ke Calgary untuk pulang ke Toronto keesokan harinya.

Agenda ketika hanya berdua selama di Vancouver dan Calgary tidak terlalu dipikirkan diawal karena mostly kalo jalan-jalan ya cuma saya sendiri terus yang namanya di kota ya paling gitu-gitu aja kan? jadi kami pull a side dulu perincian ittenary selama di dua kota tersebut dan lebih fokus ke detail perjalanan selama di National Park. Bukan saja karena ini melibatkan orang lain tapi juga karena sempitnya waktu yang dimiliki membuat kami harus waspada jangan sampai salah atur sehingga habis waktu dan biaya. Sudah disinggung diatas ini mungkin akan jadi one life time experience, mungkin gak bisa atau akan kembali kesini lagi, jadi waktu yang ada harus dipakai semaksimal mungkin.

Kepala saya sampai cenat cenut ketika menelusuri forum demi forum di Internet yang membahas perjalanan ke lokasi ini. Saya tidak mau hanya mengandalkan informasi dari website tempat wisata yang tentu menyiarkan yang indah-indah saja atau lebih tourist oriented, saya lebih prefer ala backpacker dimana dengan biaya serendah-rendahnya tapi bisa mendapatkan semaksimal-maksimalnya sama seperti para turis yang uangnya tidak berseri, Ha!

Pengaturan detail rencana perjalanan saya hanya pakai kata “saya” karena secara tidak langsung saya ditunjuk sebagai pengatur perjalanan, tiga yang lain juga melakukan survey dan searching, sehingga begitu saya kirimkan email v.01 mereka sudah ngeh apa yang saya maksud, baik karena mereka sudah pernah baca/tahu atau pasrah saja sama pilihan saya, mereka pun sesekali memberi usul. Mungkin ada sekitar 5 email yang hanya bahas soal tempat yang akan dikunjungi dan tempat inap. Cukup efisien karena semua ngerjain PRnya masing-masing. Banyak email tek tok lebih kepada urusan bole bolo karena terlalu excited, haha.

Gak seru kalo semua lancar mulus tanpa halangan. H minus 2 minggu kalo tidak salah. Katanya ada sedikit perubahan jadwal. What?! Yang kalo sampai itu terjadi, tidak banyak sih ‘kerusakan’ yang akan terjadi, hiks hiks. Paling dari awal yang rencana punya perjalanan wisata hemat menjadi super boros dan tidak penting. Saya pun loyo dan tidak bersemangat lagi, haha. Loyo tinggal loyo, lemes tinggal lemes, show must go on. Doa saya kencengin… haha. Berharap tetap stay dengan jadwal semula, berharap tidak perlu ubah tiket pesawat (walau dengan terpaksa tetap cari-cari informasi soal ganti tiket), berusaha tetap calm walau hati sungguh cemas. In short, semua kembali ke selera asal, eh maaf maksudnya semua kembali ke posisi semula. Mulus tanpa cacat! See? The power of Pray!

Judulnya kalo mau wisata hemat, biaya yang paling cepat untuk dihemat adalah biaya akomodasi. Ya, tempat tinggal! Pilih saja mulai dari Hotel Bintang 5, Jadi Hotel bintang 3, turun lagi jadi Villa, Cottage, Hostel, turun lagi ke kamar dorm, turun lagi ke TENDA! kalo perlu numpang di rumah saudara teman dan handai taulan, hehe. Kok untuk Tenda hurufnya lu gedein sih YuTan? Iya, habis special sih… kayaknya cuma di daratan Amerika Utara sini deh yang umum kalo jalan-jalan disaat summer atau ketika cuaca cukup warm untuk tinggal di tenda, nggak melulu pas jalan ke hutan loh, ke kota pun alternatif ini cukup populer. Gak pernah dengarkan kalo misal orang Jogya pas jalan-jalan ke Jakarta trus pilih/bisa tinggal di tenda. Disini cukup banyak campground, baik di Provincial Park, National Park sampai di dalam kota, ya tentu gak persis sis ditengah kota tapi cukup dekat.

Sayangnya tidak semua orang rela/mau/bisa/pilih tidur di tenda. Kita juga ogah sih kalo duitnya ada, hahaha tapi karena bisa hemat banyak dan lagian namanya jalan-jalan pasti waktunya habis di jalan/lokasi wisata. Jadi buat apa sewa hotel atau Cottage bagus-bagus tapi cuma buat tidur dan mandi? Terus kalo sudah satu malam di tenda ya kenapa juga malam-malam berikutnya harus di hotel? itu namanya cari perkara karena gotong-gotong tenda dan sleeping bag hanya untuk di pakai  satu malam.

Pilih tidur di tenda bukan perkara sudah hemat sekian dan sekian. Faktor keberuntungan sangat penting dalam situasi demikian. Kalo sampai hujan maka judulnya hemat plus nelongso. Nggak pakai hujan saja sudah berat buat sebagian besar manusia apalagi pake hujan. Rempong booookkkk kata penghuni taman lawang.Tapi selama kita masih tinggal di bawah kolong langit, ada harga ada barang. Kalo cuma sanggup bayar harga segitu ya kudu terima sepaket plus dan minusnya juga. No complaint gitu. Kalo cuma mau bayar harga campground tapi mau nikmat kayak hotel bintang 5 ya ke laut aja sono, nyemplung trus jangan nimbul-nimbul lagi, hihi.

Kelebihan pilih tidur di tenda selain jauh lebih hemat juga pengalamannya beda. Kalo pergi sama pasangan atau teman bisa jadi ajang belajar kesabaran, toleransi, berbagi, gotong royong. Yang ujung-ujungnya kalo bisa melewati semua dengan baik akan ada ikatan yang lebih kuat. Ah bisa-bisa lo aja itu YuTan. Gak percaya? Coba aja… p butuh satu trouble maker aja kok maka akan rusak semua-semuanya. Ya jadwal perjalanan rusak, mungkin jadi buang waktu, dan yang paling parah adalah rusak mood semua rombongan. Yang pilih tidur di hotel yang cuma buka pintu pake kunci, lima langkah sampai ke toilet, sprei dan ranjang sudah rapi tinggal rebahin badan, pas mau check out tinggal ambil barang pribadi dan tutup pintu, gak usah peduli sprei, bantal, sabun, handuk berceceran dimana-mana saja bisa bikin masalah, bayangkanlah kami atau mereka yang tidur di tenda. Kemungkinan errornya naik 500%. So banggalah kalo semua lancar dan happy terus sampai akhir.

Tidak perlu malu kalo hanya sanggup tinggal di tenda di Amerika Utara sini, malah kalo boleh bangga atau dongak dikit dagunya karena hanya sedikit melayu yang sanggup begitu disini hahaha kidding. Bule-bule atau orang yang lama tinggal disini itu konon selalu bilang  “Nggak sah kamu ngaku-ngaku Canadian kalo camping ( artinya pasti tidur di tenda ) saja belum pernah“. Buktinya apa YuTan? Yah gimana gak umum kalo bisa ngebook campground di saat musim panas saja sudah boleh bikin syukuran karena masih berkesempatan, sering-sering sudah fully booked, apalagi wilayah yang populer.

Kekurangan pilih tidur di tenda adalah waktu yang harus di spare untuk bangun dan bongkar tenda, jika dari awal sampai akhir kering maka lebih mudah, tapi kalo pake hujan walau gerimis, waktunya jadi lebih lama karena kudu bersih-bersih dan lap kering. Terutama kalo pake tenda sewaan seperti kami, jangan sampai yang nyewain ngedumel ngedamprat pas ngebersihin tenda bekas kita sewa, bisa sial hahaha oke yang bagian sial cuma bisa-bisanya saya saja, gak sampe sial kok, cuma jadi bad impression saja . Faktor kedua adalah tempat mandi atau toilet yang jaraknya seringkali agak jauh dari tenda.Tentu kalo mau dipanjangin soal kekurangan dan kelebihan bertenda dibanding kalo inap di hotel gak akan habis sampai 2-3 blog.

Penghematan secara cepat nomor dua adalah masalah transportasi. Saya tetap kagum sama para backpacker yang tidak bisa sewa mobil dan terpaksa dolan ke Rocky Mountain dengan hanya mengandalkan kendaraan umum dan kayaknya sesekali nekat minta tumpangan. Tentu daya jangkau wilayah mereka menjadi sangat sangat terbatas, tapi tetap loh, mereka judulnya wisata ke Rocky Mountain. Saya tidak anjurkan ke Rocky Mountain dengan memakai jasa tur dengan bus dan segroup manusia, kecuali dengan amat sangat terpaksa. Tadinya saya pikir paling ideal untuk backpacker ke RM itu menggunakan RV ( trailer yang berfungsi sebagai tempat tinggal & kendaraan ), tapi ternyata ongkos sewa RV onde mande, setara dengan kalo tinggal di hotel, Yo opo maneh yo?.

Ntar lah kalo ada rejekinya, pengen juga punya pengalaman ber-RV ria. Kayaknya cocok buat keluarga yang punya anak bahkan bayi sekalian. Karena segala sepeda bisa diangkut, beberapa RV bahkan dilengkapin dengan dapur sehingga bisa menghemat dari sisi makanan. Jalan-jalan pakai RV mungkin bisa dimasukan dalam istilah Advanced Backpacker, LOL Karena lebih maju setingkat walau tetap ‘ngegembel’ di campground.

Kami saat itu sewa full size sedan. Karena berjumlah 4 orang dewasa maka ukurannya pas. Agak sempit bagasinya karena ketambahan 2 tenda beserta perlengkapan camping. Padahl masing-masing sudah diwanti-wanti. Tiap pasang hanya berhak ( duh, bahasanya ) membawa 1 tas untuk semua alat camping, 1 tas untuk pakaian, 1 backpack karena kita backapaker jd kudu bawa backpack, hahahha kagak ding… LOL pokoknya 1 tas buat isi duit/dokumen/topi dll. Itu semua tidak boleh ada tas model koper yang keras, yang gak bisa di tekan. Sedang barang ‘milik’ bersama adalah air putih dalam kemasan, aneka menu sarapan seperti roti/kopi/teh/buah/biskuit serta aneka snack atau camilan. Kecuali Fotografer, jadi berhak nenteng 1 tas lagi isi kamera, hahaha… tidak boleh ada yang komplain “mentang-mentang fotografer”. Awas ya! Haha.Namanya bukan packpaker kalo bawaannya segambreng kayak mau bedol desa. Light Travel is the best.

Patungan bayar sewa mobil atau Van kalo orang nya kisaran 6-8 orang adalah pilihan yang tepat. Sewa mobil + bensin + gantian nyetir + ongkos dibagi beramai-ramai = Bisa menjangkau lokasi-lokasi lebih jauh, stop dimana saja dan kapan saja semau kita. Di mobilpun tidak terlalu membosankan karena bisa ngobrol sana sini.

Faktor penghematan cukup besar berikutnya adalah di makanan. Jauh-jauh sebelum berangkat saya sudah bilang sama suami. Perjalanan kali ini bukan untuk menyenangkan lidah dan perut tapi untuk menyenangkan mata. Statement ini disambut dengan jabatan tangan tanda DEAL. Secara ya, berdua doyan makan. Jadi harus ada kesepakatan sehingga tidak sampai terjadi kanibalism, LOL. Ujung-ujungnya sih kami gak hemat-hemat banget dimakanan, selain tidak bawa kompor portable dan sudah merasa cukup hemat karena sarapan ala kadar tiap hari, jadinya untuk makan siang dan makan malam kami agak longgarkan walau tetap kalo ada pilihan lebih murah kami pilih yang termurah. Kecuali tidak ada pilihan lain atau tidak kuat menahan godaan atau karena ingin ending yang membahagiakan lidah di akhir perjalanan. Woii YuTan… saruah kabeh, banyak kali alasanmu biar makan nyaman! Waahahaha… lagian, soal makanan ngomongnya ke saya :p Saya kan punya prinsip, apa yang dipakai boleh ala kadarnya, tapi kalo makan dan jalan mengapa harus cheap? selama bisa enjoy ya enjoy lah. Buat apa jadi toko mas berjalan tapi ini itu belum pernah coba dan di pergiin, bagi saya itu ngenas, tapi kalo bagi kamu sebaliknya, it’s okay, it’s free country. Hehe.

Hanya tiga bagian tersebut bisa kamu kontrol. Sedang yang lain-lain tidak ada pilihan lain selain bayar sesuai permintaan jika ingin menikmatinya. Jika pergi bersama teman ada baiknya didiskusikan mana yang mau di skip mana yang kudu. Yang mana semua-semua itu kudu keluar ongkos lagi perorang yang nilainya cukup mahal. Ambil contoh naik Gondola ke atas gunung di daerah Jasper $30an/ orang. Sepasang sudah kena $65. Apa jadinya kalo ada yang mau ada yang nggak mau. Lagi-lagi dengan siapa anda bepergian sangatlah penting. Jangan sampai salah pilih teman perjalanan. Acapkali ada yang terpaksa tidak mengikutkan atau tidak ajak si A si B bukan karena jahat tapi karena pertimbangan seperti ini. Jangan sampai ada saling nggak enak sehingga salah satu pihak kecewa dan yang lain feeling quilty. Tentu kita perlu berupaya ‘menjual’ destination/atraksi tersebut sehingga teman seperjalanan pun merasa tertarik dan ingin mencoba.

Ongkos motor mambur pun tidak bisa menolong banyak. Apalagi yang perginya mendadak. Eh, masih ada satu lagi YuTan yang bisa bikin penghematan. Pemilihan waktu jalan-jalannya, kalo peak season pasti lebih mahal. Betul betul *manggut-manggut*  tapiiiii…. ini kita bicara kemana dulu. Kalo didaerah tropis ya kapanpun dimanapun cuma jumpa terik atau hujan. Kalo ke Rocky MOuntains gak bisa neng atau pilihannya terbatas. Waktunya cuma antara Summer atau Winter. Kan masih ada Spring sama Fall YuTan, gimana sih kau? mau bodoh-bodohi kami ya? Duh, sabar… jangan esmosi dulu dong… sini, tak kasih tau ya… ada banyak lokasi/atraksi di National Park itu yang cuma beroperasi di kala Summer atau Winter doang. Nah kalo sampeyan hobbynya bukan main ski atau olahraga salju lainnya atau anggaplah mau motret suasana winter disana, pilihanmu tuh cuma di musim panas. Dimana semua lokasi dan atraksi dibuka full dengan waktu lebih lama dan almost everyday. Kecuali ada suatu hal misal resiko longsor di sebuah lokasi maka lake didekat daerah sana akan tutup. Apalagi kalo ngetenda om tante… banyak campground tutup kalo belum masuk summer atau paling sedikit diawal summer or akhir Spring. Apa harganya jadi lebih murah? nggak juga setahu saya, kalo pun ada juga gak banyak-banyak amat untuk kelas camping ( kalo hotel mungkin cukup signifikan ) yang ada juga memang jadi lebih gampang ngebook campground. Puas? lanjut lagi ya… :)

Okay balik lagi ke ittenary. Dari sekian banyak sumber yang saya ketemukan di internet hampir tidak ada yang menjelaskan secara rinci perjalanan mereka secara backpacker. Alhasil kudu ngintip-ngintip ittenarynya tur travel, lumayan jadi dapat gambaran. Google map juga kudu dibuka bolak balik. Ibarat mau memperbaiki komputer yang rusak, maka perlu kanibalism, comot sana comot sini sehingga tercipta sebuah jadwal perjalanan yang khusus dibuat sesuai dengan keinginan dan kemampuan, baik dari sisi waktu dan dana demi hasil yang maksimal.

Perjalanan kami di mulai dari Calgary (Pusat kotanya Alberta) dilanjutkan ke Canmore, Banff dan terus naik ke Jasper. Agak sulit untuk nyasar dalam rute ini karena praktis hanya ada satu jalan besar/utama menuju keatas, yakni lewat Icefield Parkway. Setelah sampai di Jasper turun lagi dengan rute yang sama ke Calgary. Selama dalam perjalanan itulah kami menginap dan mengunjungi tempat-tempat wisata. Cerita lebih lanjut mengenai nama lokasi, rute, harga beserta tip dan triknya akan saya ceritakan pada part lain ketika sudah masuk ke bagian perjalanan ke Rocky Mountains ini, harap bersabar.

Sebelum mata anda berair, apa sudah?, saya akan stop sampai disini dan lanjut cerita mengenai wisata ke Vancouver pd bagian ke dua dengan judul yang sama beberapa hari mendatang. Saya akhiri part 1 ini dengan sebuah foto pendangan dari atas pesawat.

Rocky Mountains terlihat dari atas pesawat perjalanan dari Vancouver ke Calgary

YuTan