Supaya Sopan atau …?

Photo by: Vansu

Photo by: Vansu

Cerita edisi ulang tahun nih.

Pertambahan usia yang setahun demi setahun dirayakan ataupun yang hanya sekedar dilewatkan begitu saja, secara tidak sadar membuat kita, atau paling tidak saya, merasa bahwa saya tidak tua-tua. Kasarnya, nggak sadar kalau sudah tua, haha. #forever21

Saat berkenalan dengan teman baru yang dikenal dari grup teman-teman seumuran, hampir selalu saya menganggap kalo teman baru ini pastilah usianya diatas saya. Apalagi kalo mereka sudah punya anak yang kira-kira usianya 8 tahun keatas. Acapkali dalam satu grup pertemanan saya menjadi yang termuda.

Namun seiring waktu, hal-hal tersebut diatas tidak lagi berlaku. Alih-laih menjadi yang termuda, salah-salah saya malah jadi yang tertua, haha. Tebak-tebak umur pun demikian. Sebenarnya sih tidak apa-apa, yang ngenes itu ketika ditebak oleh teman kalo umurku jauh atau diatas umurku yang sebenarnya, ck ck… segitu awet tuanya kah gua? Dulu sih masih bilang “Oh, gua emang lebih dewasa dibanding teman-teman seumuran” cieleh…. sekarang sih ogah lah ah, haha.

Akibat sering dianggap lebih tua, lama-lama jadi maklum dan ikhlas, haha. Dulu bisa senewen kalo dipanggil tante sama anak remaja, anak remaja loh ya…. bangsa 15-18 tahun. Padahal dulu eike masih awal 30an. Cuma bangsa 1/2 umur dari mereka, kok tega sih, hahaha. Sekarang kalo ada anak teen manggil gua tante, gua cuma senyum penuh ketante-tantean aja eh keibuan maksudnya, hahaha.

Jadi, selamat ulang tahun ke 36 Yutan! 35 kebawah masih boleh bilang “in my early 30s” tapi karena sudah 36 ya artinya lebih dekat ke 40, jadi kudu mulai biasain bilang “in my late 30s” huhuhuh *nangis dipojokan*.

Saya tutup kisah pilu ini *halah* wakakakak dengan kisah nyata berikut ini:

Adalah suatu hari dalam perkumpulan ramah tamah komunitas orang Indonesia di Toronto sini, seorang bapak-bapak aka om-om yang setelah ngobrol ini itu bangsa 15 menit, memperkenalkan anak gadisnya ke gua. Beliau bilang gini nih ” Dek dek… (manggil anaknya supaya mendekat ke kami) sini kenalin sama Ai (tante) ini” Nah kan, kata Tante/Ai nya keluar…Terus belakangan gua tau dong kalo anak gadis si Om, umurnya 33 tahun saja saudara-saudara. Yah… kalo ketemu cerita begini kadang saya merasa…..merasa….

.

.

.

.

.

TUA ┬ásaudara-saudara!!!! ­čśÇ

Si Om mau sopan kali ya….? atau dikiranya gua bangsa cewek paruh baya in her early 50! Thanks loh Om… segitu tuanya gua, bwahahahaha ­čśÇ

YuTan





Sudah ‘Sah’ Jadi Kanadian

Kurang tahu juga kenapa awalnya bisa memasukan “makan maple candy yang digulung diatas salju” masuk dalam salah satu bucket list gua. Kalo dipiki-pikir kan kayaknya biasa aja tuh, apa sih hebat dan menariknya makan semacam permen lolipop?!

Tebakan ku sih kemungkinan karena adegannya yang unik dan nggak bisa didapat di sembarang tempat kalo mau. Impian ini sih sempat pudar dan nggak begitu diharap-harap cemasin ketika pernah suatu ketika makan maple candy yang sudah keras yang dijual di toko oleh-oleh atau di tempat wisata di Kanada. Bentuknya daun maple lagi, rasanya sih ya gitu lah, manis. ihik :)

Terus suatu malam saat asyik nonton Youtube, eh ada iklan dari White Meadows Farms yang promosi lokasi mereka, begitu lihat ada adegan makan maple candy on snow, yuk mariiiiiii kita datangggg…. haha. Sekalian dong sebagai warga yang baik kita kudu paham sejarah tentang maple tree, supaya “sah dan afdol” menyebut diri sebagai Kanadian. [iya pake tanda kutip, karena untuk sah jadi Kanadian ya kalo bukan lahir di Kanada ya kudu melamar buat jadi warga negaranya dengan mengambil sumpah enak bener kalo cuma perlu ha ha hi hi makan maple candy trus langsung bisa pegang passport maple leaf haha]

Biar seru dan ramai, tak ajak teman-teman yang minat sekalian. Tur cuma ada 2 jadwal tadinya, jam 11 pagi dan jam 2 sore. Kita janjian ikut yang jam 11. Apa daya begitu kita sampai jam 10.50 tiket tur jam 11 sudah habis, 3 keluarga dapat tiket, 2 keluarga termasuk kami kehabisan. Hati ini langsung nyessssss gagal deh coret bucket list. Karena kelamaan kalo kudu ikut yang jam 2 & kita ada rencana jalan-jalan ke tempat lain. Tapi kalo sudah rejeki memang nggak kemana, ternyata sabtu itu tur ada juga buat yang jam 12.30 siang, horeeee…

Jumlah peserta dibatasi sesuai dengan kapasitas wagon yang mengantar para peserta ke tengah-tengah perkebunan maple ternyata. Berbeda dengan saat ikut Apple atau Cherry Picking, ratusan orang tumplek jadi satu. Itulah akibat main asumsi dan nggak pakai nanya-nanya dulu, haha. Hikmahnya sih akhirnya jadi bisa mampir ke Pancake Housenya, lihat-lihat binatang peliharaannya Old McDonald, belanja belenji dan istirahat menghangatkan diri.

Hasil sadapan dari pohon maple itu bening kayak air, cara nyadapnya nggak seperti nyadap pohon karet yang batangnya disayat-sayat tp cukup di colok aja langsung ke pohonnya. Total 40 liter air sadapan itu cuma menghasilkan 1 liter maple syrup. Alamak, pantesan dibilangnya Liquid Gold. Karena tidak semua pohon maple bisa di sadap, kalo bisa pun ada batasannya sesuai ukuran si pohon, plus suhu udara juga mempengaruhi, termasuk mempengaruhi warna hasil akhirnya,hasil yang pekat/dark ternyata didapat pada saat suhu dingin.

Gua pribadi ketika dikasih icip-icip maple syrup, lebih suka yang dark karena rasnya lebih kuat, aroma after tastenya juga lebih kuat, ada semacam rasa & bau hangus tapi enak haha. Tepatnya jenis Amber yang paling gua doyan dan itu tipe tergelap yang direkomendasi buat dimakan sama pancake.

Terus gimana Yul setelah nyobain makan maple candy on snow-nya? tanya kalian yang penasaran. Jawabannya …

.

.

.

.

.

Enak gila.

Hahaha, mungkin lebay ya… tapi sungguhan loh… enak banget :) tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ntah apa yang bikin dia bisa enak begitu. Mungkin karena fresh from the pot atau karena teksturnya yang belum mengeras tp juga gak seencer caramel. Atau karena lapar dan suhu dingin? ah ntahlah… yang jelas gua makan 2!!! dan tidak menyesal saudara-saudara :)

Ini cuplikan video yang sempat gua buat di hari itu, yang bertepatan dengan ultah suami.

Jadi sudah ‘sah’? ‘sah’? ‘sah’? SAHHHHH!!!! :)

YuTan





Senyum Pria Itu

Rambutnya ikal sebahu dibiarkan terurai kusut, hanya ditutup oleh topi lusuh. Kulit mukanya kering merah tidak tahan oleh suhu dingin di akhir bulan Maret. Baju dan jaket tipis yang membungkus badannya, tak kalah lusuhnya. Pastilah ia tak mandi beberapa minggu terakhir ini. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tersandar sebuah sepeda yang hanya tinggal kerangka utama, masih berfungsi tentunya.

Dalam sepersekian detik ketika mataku melihat dirinya di persimpangan itu, ketika laju mobil harus dihentikan karena lampu merah, aku bergumam “ah, pengemis”. Ia memang sedang meminta-minta, di dekatinya jendela mobil satu persatu dengan satu tangan terjulur, mulutnya komat kamit, ntah apa yang dikatakannya, suaranya tak menembus dinding kaca mobilku.

“Tak akan aku beri dia uang” begitu cepat aku mengambil keputusan. Keputusanku bulat seperti bola pingpong untuk urusan seperti ini. Kotornya praktek pengemis di Jakarta adalah alasan dibalik pendirianku ini, jadi jangan coba-coba melabel aku dengan “si tak punya hati”. Apalagi ketika ku lihat sepeda belel itu “Uh, aku aja tak punya sepeda disini” kataku mencibir sedikit iri padanya.

Mobil di depanku menurunkan kaca mobilnya, menyerahkan segenggam uang receh ke tangan si lelaki paruh baya itu. Ntah berapa total nominalnya, yang jelas bukan seperak dua perak tapi juga jelas tidak akan lebih dari dua puluh dolar prediksiku. Pecahan koin terbesar Kanada itu dua dolar, anggap saja ada sepuluh keping ditangannya sekarang.

Lampu merah berganti hijau, mobil bergerak maju. Si Pengemis masih takjub dengan uang yang diterimanya, Ia nampak masih mengucapkan terimakasih ke si pemberi uang dan menolehkan kepalanya ke arah ku, senyum lebar menghias wajahnya. Senyum yang menampar muka ku. Seiring mobil melaju baru kulihat sekantung buntelan plastik didekat sepedanya, itulah seluruh harta benda dan hidupnya.

Sepanjang sisa perjalanan, rasa penyesalan merayapi seluruh alam pikiranku. Mengapa aku berubah menjadi manusia yang begitu cepat menghakimi manusia lain, iri hati dan dengki semakin menutupi mata hati untuk melihat dan mensyukuri apa yang ada disekitar, padahal yang remeh dan kecil, mungkin adalah yang terbesar dan berharga dimata Tuhan. Mengapa kerasnya dunia dan pahitnya pengalaman-pengalaman masa lalu harus berubah menjadi kristal-kristal yang menghiasi hati.

Hidup hanya sekali dan senyum pria itu membuatku bertekad untuk menikmati hidup lebih lagi. Buang jauh rasa prasangka, tumbuhkan kembali rasa simpati, melebarkan hati lebih luas untuk memaafkan, bersyukur tidak hanya untuk bahagia dan manis yang kurasa tapi juga sukacita orang lain. Tak mau lagi ada stigma, takut kecewa atau sebuah hitung-hitungan yang rumit. Karena memberi adalah lebih baik daripada  menerima apalagi jika tak berbuat apa-apa tapi nomor satu dalam berkomentar.

YuTan