Love Power Dalam Sepotong Tempe

Tempe in ziplock (homemade) photo: yulianatan.com

If you tell me ten years ago that I will make Tempe by myself, I will look into your eyes, smile, poke your forehead with my index finger and say “Are you crazy? What on earth that you think I am ABLE to make homemade Tempe OR in what occasion that I NEED to make Tempe?!”

And here we are… June,  two thousand seventeen!!! I made my very first homemade Tempe! *tap my own shoulder* (you should see my face when I open my oven door to check the Tempe after 2 days, I believe my face glowing and my eyes almost pop out).

So Yutan, YOU are able to make Tempe now, what is the occasion that in 2017 you decided to make Tempe? What’s the urgency? You just challenging yourself or what?

Well, see the title above? All because of love. The mother love that breaks all the barriers. My daughter, Olivia who is 3 years old, love eating Tempe. Recently she is so picky about food. And Tempe is one of very limited foods that she willing to eat, happily, without any drama or left over.

Of course I can go to some Asian grocery stores for the Tempe but frozen Tempe in those stores are not fresh and don’t taste good in my opinion. In Toronto we do have fresh (by order) Tempe that taste good, very good in fact. But, it so far away from my place. So, I left no choice but have to be able to make one by myself.

I learned how to make it through some YouTube videos, including how to make the Tempe starter (ragi). I am so impressed by the end result and so grateful for those people who share the recipes online so people like me can make it.

The hardest process was to remove the soy bean’s skin. No easy or fastest way except if you have the machine. Believe me, I went through so many YouTube videos and websites and I decided to stop searching and start to peeling the skin 🙂

Lesson learned from this achievement is we are able to do almost anything beyond our comfort zone. We just need some purposes or motivations. If we can get some support, that would be even better.

I still cannot believe I made Tempe! Are you kidding me? Tempe? In Canada? In 2017? Haha.

Fresh Tempe with homemade Tempe Starter (ragi). Photo: Yulianatan.com

YuTan (the Tempe lover as well) 💙





Rasa penasaran saya

Penasaran, berapa banyak yang kemudian minta suaka. Atau paling sedikit mulai serius mencari tahu informasi tentang pindah dan menetap di negara baru.

Dulu pernah dengar cerita, beberapa WNI bisa ada di Kanada karena minta suaka setelah kejadian 1998 atau bahkan jauh setelahnya. Dengan alasan sudah tidak merasa aman tinggal di negeri kelahirannya. Tak pikir mestinya mereka itu yang agamanya minoritas saja karena kan memang mereka ini yang  jadi target atau korban, ternyata banyak juga loh yang dari agama mayoritas. Saya pun heran, lah mereka ini kemudian pake alasan apa pas minta suaka? Ternyata pakai alasan mereka juga sudah tidak merasa tentram karena umat agamanya menyerang umat agama lain, jika lain berpendapat mereka pun akan masuk dalam daftar musuh juga.
Ah, paham saya sekarang dan tidak heran lagi. Jika ada sejuta alasan bagi seseorang untuk minggat dari negara asalnya. Mau pakai alasan legit atau alasan-alasan lain yang dipaksakan, toh keputusan akhir ada ditangan petugas imigrasi negara yang dituju. Untuk saat ini, bukti tersebar dimana-mana, cukup gampang mengumpulkan informasi tentunya.

Nah, dengan kejadian yang terus menerus terjadi di Indonesia sampai sekarang saya kurang tahu berapa banyak orang Indonesia yang kemudian minta suaka lagi setelah pasca peristiwa Mei 1998. Kebanyakan yang berimigrasi lewat jalur suaka acap kali menyimpan rapat statusnya sampai suatu titik. Tidak semua tentunya, apalagi buat yang memang lari dari horror. Tidak ada status yang lebih memlnyedikan, menakutkan dan mengecewakan daripada status sebagai seorang refugee. (Catatan: penulis pribadi tidak merasa status refugee berbeda dengan status imigrasi lainnya).

Pertanyaan selanjutnya, apakah semua orang yang bermaksud bermigrasi ini akan bisa memulai hidup yang baru di negara yang asing? Konon katanya menjadi imigran itu hanya untuk orang-orang pilihan. Pilihan bukan maksudnya mereka Special, tapi karena mereka sudah bulat sekali tekadnya, tidak ada jalan putar balik, tidak ada lagi jembatan untuk menyebrang balik, mau hujan badai di negara asing sekalipun mereka akan bertahan sepenuh hati. Dalam itu semua, mereka pun harus masuk dalam golongan beruntung. Beruntung punya pekerjaan, punya pendapatan untuk bertahan hidup hari demi hari, biar sedikit dan cukup saja untuk hidup, biar kerja malam hingga pagi buta, tulang belulang hendak rontok dari sendi2nya, mereka ini akan baik-baik saja dan sujud syukur pada Tuhan hidup dalam ketenangan.

Apakah di negara baru itu tidak ada diskriminasi? Kejahatan? Penebar kebencian? Pembunuh berdarah dingin? Macet? Banjir? Gempa? Ada. Lah sama aja dong kalo begitu? Nggak sama, at least belum sama. Disini hukum itu hidup alias bukan barang pajangan yang cuma enak dipandang dan di bingkai di ruang tamu. Disini pun, seseorang dianggap harus tau semua hukum. Ambil contoh saat melanggar lalu lintas dan di stop Pak polisi. Adalah fatal jika coba berkelit dengan alasan “maaf Pak, saya TIDAK TAHU kalo harus stop di stop sign” yang tadinya mungkin cuma akan dikasih peringatan sama Pak Polisi bisa akhirnya jadi kena tiket plus omelan. Ngaku tidak tahu tapi berani bawa mobil? Itu surat ijin mengemudi dapat darimana? Untuk mendapatkan itu saja perlu ujian tertulis dan praktik, masakan tidak tau soal peraturan2 berlalu lintas? Maka dosa besarlah jawaban tidak tahu itu, sekalipun diucapkan pakai nada memelas dan ekspresi puppy eyes.

Setidaknya di negara baru seperti Kanada ini, setiap manusia dipayungi oleh hukum untuk semua hak-hak dan kewajibannya. Selama tidak melanggar hukum dan tidak sedang apes kena peluru nyasar atau naas, Anda bisa tidur nyenyak, makan enak walau cuma sama garam, jalan-jalan juga nyaman dan aman. Segudang nikmat lainnya.

Bagaimana kalo kemudian tidak sanggup lagi bertahan? Ntah karena tidak kunjung mendapat pekerjaan atau tidak puas dengan kehidupan baru? Tidak puas disini bisa luas sekali spektrumnya, mulai dari perubahan status sosial yang mana barangkali di Indonesia adalah Somebody disini tiba-tiba jadi nobody? Dulu boro-boro pegang sapu, cukup teriak panggil mbak, sekarang kudu sikat WC atau karena tidak terbiasa dengan hukum yang hidup dan ketika terlibat didalamnya menjadi frustrasi karena tidak bisa pakai salam tempel karena hanya ada hitam diatas putih? Buat mereka-mereka ini akan kembali ke negara asal tapi tentu sudah dengan mental dan sikapnya yang berbeda. Hujan susu dan madu di negara lain, tidak akan menggoda mereka lagi, biar macet dan demo saban hari tidak mengapa, asal bisa makan ketoprak langsung beli dari abang-abang. Soal diskriminasi dan sejenisnya gimana? Ah, biasa itu… biar takdir yang bicara, toh cepat atau lambat, semua manusia akan mati juga.

Ya begitu saja cerita saya hari ini. Anggap saja sebagai cerita pendek pengantar tidur. Contoh-contoh diatas tentu saja versi ekstrim kiri atau kanan. Masih banyak lagi varian suka dan duka para imigran disini, tak habis diceritakan 3 turunan. Inti tulisan ini lebih kepada:

1. Dengan kejadian di Indonesia belakangan ini saya penasaran berapa banyak yang kemudian untuk pilih hengkang saja, menjauhi arena hiruk pikuk, hidup ini sudah susah.

2. Buat yang kepikiran untuk pindah, saya kasih info ada yang namanya jalur suaka. Saya kurang tahu gimana Applynya tapi jelas semua informasi lengkap ada di website resmi imigrasi Kanada. Nah jalur ini nampaknya yang paling visibel saat ini.

3. Yang sudah cukup bulat tekadnya, saya kasih preview sedikit kehidupan disini yang bisa berbeda bagai bumi dan langit. Yang merasa sudah mantap saja kadangkala pakai cucuran air mata juga diawal-awal kepindahahan. Yang lompat kegirangan saban hari senyum-senyum lega juga banyak. Keseringan temporary saja kok, maklum saja kalo masih pada kangen emaknya atau kangen sebungkus nasi Padang. Wajar.

Perlu saya tekankan sebelum nanti ada yang komentar dan melibatkan posisi tempat saya bercokol saat ini dengan motivasi tulisan ini. Saya tidak sedang mempromosikan Kanada apalagi mengharapkan Anda berbondong-bondong pindah kemari tanpa perhitungan matang. Saya juga tau tidak semua minat atau bisa untuk pindah jadi saya tidak baperan kok kalo kemudian ada yang apatis. Saya juga bukan konsultan di kantor imigrasi, apalagi pakar imigrasi. Jadi silahkan cek sendiri ke website cic.gc.ca langsung, pelajari dengan seksama. Banyak diluar sana para pengacara yang bisa disewa untuk urus beginian tapi Anda harus rogoh kocek yang dalam dan hati-hati hanya untuk memilih mereka yang memang kompeten. Tapi tidak pulalah sulit untuk mengurus sendiri selama sabar membaca dan melengkapi semua dokumen yang dibutuhkan  

Jadi berapa banyak ya yang minat pindah setelah penat sama situasi terkini? 😅 selain Kanada masih ada Amerika, Australia, New Zealand dan barangkali Timbuktu 😂





Drama Kantong Plastik Dua Ratus Perak

Sedang menyimak beberapa status yang bahas soal dikenakannya biaya sebesar Rp.200 per kantong apabila berbelanja di supermarket di Indonesia. Tanggapannya macam-macam sih, tapi yang dominan atau kalo mau diambil inti sarinya, pada sepakat kalo tidak rela bayar Rp.200 perak KARENA merasa perusahaan supermarket diuntungkan dengan peraturan ini.

[update- sembari saya pause dan buat balik untuk check spelling post ini, kebaca lagi di Facebook link berita ada yang ogah bayar kantong plastik dan sebut-sebut ini ulah Pemerintah zalim dan juga bawa-bawa urusan kemasan produk semacam minyak sayur yang memakai kemasan bahan plastik tebal, konon lebih bahaya dan lama terurainya daripada kantong plastik. *urut dada*]

Saya tepok jidat *jidat kuda nil*

Sebelum saya komentari kenapa saya pake tepok jidat, ini saya informasikan situasi disini di Kanada. Sebagian supermarket tidak lagi menyediakan kantong plastik, tapi mereka sediakan kardus-kardus bekas produk yang bisa kita pakai secara cuma-cuma, tapi ada yang betul-betul tidak ada sama sekali. Kalo tidak bawa kantong sendiri, ya terpaksa beli, harganya $0.05 sahaja. Sebagian lagi masih memberikan kantong plastik secara gratis. Apakah supermarket yang tanpa kantong plastik gratis, barang-barang jualannya lebih murah dibanding supermarket yang memberi gratis kantong plastik? Tidak juga. Jadi tidak ada hubungan sama sekali. (Ada 1-2 supermarket yang mencoba branding kesana seperti Costco & No Frill).

OK, kembali soal status-status tak rela diatas. Apa iya? Itu hal pertama yang terlintas dipikiran kalian? Atau barangkali itu pikiran terlintas nomor urut kesekian, yang utama adalah “wah, ide bagus ini, supaya ramah lingkungan, mari kita dukung!” Ah, kalian lah yang lebih tau. Tapi apa hendak dikata, yang kalian expose adalah soal perusahaan supermarket yang diuntungkan, alias mereka jadi ketambahan laba karena biaya beli dan cetak plastik belanjaan bisa dicoret dari biaya pengeluaran, lumayan… Bahkan jauh lebih dari sekedar lumayan, ucap kalian yang matematikanya dulu dapat angka sembilan. Cobalah hitung dua ratus perak dikali sepuluh ribu dikali lagi tiga puluh hari, wuih…

Saya sih gak menolak mentah-mentah analisa kalian, berpikir kritis boleh, tapi entah kenapa, yang saya rasa malah ada kecenderungan tidak rela kalo kita yang dibuat susah dan orang lain yang menikmati hasilnya. Mungkin juga pikiran saya ini terpengaruh oleh kentalnya topik mengenai “Orang Indonesia itu sirikan, nggak bisa maju dibanding orang dari negara lain, ya opo? Kerjaannya sirik kalo liat orang senang dan senang kalo lihat orang susah” di tanah perantauan sini (baca:Toronto).

Untuk merubah sebuah habit, perlu usaha, tenaga, waktu, biaya dari setiap elemen masyarakat. Jika kita ada dalam circle tersebut, kerjakanlah apa yang bisa kita kerjakan, biar kecil dan terkesan sepele, yuk dimulai. Gak usah pusing ini itu urusan orang lain, wes gak jadi-jadi udahannya. Dalam setiap proses pasti ada gesekan yang nggak mengenakan, ada yang tertatih2 mengimbangi, perlu revisi, penyesuaian, sampai nanti ketemu pada titik dimana semua dewasa dan matang bersama. Tapi kalo mentalnya sirikan, gak relaan, tunggu-tungguan, hitung untung rugi atau celakanya tidak mampu melihat bahwa ini usaha bersama dan bisa berhasil, alhasil ya gak bakal berubah bangsa ini, mental kerupuk lempem, orang sudah kemana-mana, dia masih bahagia pikir hidupnya baik-baik saja, dunia tempat dia tinggal baik-baik saja.

Ini suatu gerakan yang positif. Saya akui, untuk yang tidak biasa, ini merepotkan dan kadang menjengkelkan, ketika harus ketambahan biaya beli kantong plastik. Percaya deh, lama-lama, begitu sudah siap tiap kali belanja dengan kantong daur ulang kita, selesai belanja kita akan tepuk pundak sendiri, Good Job! Dan saat itu mungkin ada benarnya kalo orang model pelit kayak diatas kemudian merubah mindset-nya dan berpikir “Yay!!! gua bawa kantong sendiri, nggak jadi nambah untung deh Lo, rasain!” Gimana? Puas?! 😆

Trus, untuk yang nyalah-nyalahin Pemerintah gimana? Yang suruh Pemerintah larang dahulu ke produsen-produsen yang masih memakai bahan plastik sebagai bahan packagingnya? Untuk manusia kalangan demikian, hanya dewa uget-uget yang bisa menolong mereka.

YuTan

PS. Beri masukan dong ke perusahaan-perusahaan supermarket itu atau desak Pemerintah untuk mengompensasi orang yang bawa kantong sendiri, misal dapat sabun cuci atau apalah, hitung-hitung sebagai promosi/buzzer supaya budaya belanja dengan bawa kantong daur ulang sendiri bisa menjadi hal yang biasa dan lazim. Jangan cuma tau menolak mentah-mentah, menyalahkan Pemerintah dan merajuk kayak anak kecil.