Drama Kantong Plastik Dua Ratus Perak

Sedang menyimak beberapa status yang bahas soal dikenakannya biaya sebesar Rp.200 per kantong apabila berbelanja di supermarket di Indonesia. Tanggapannya macam-macam sih, tapi yang dominan atau kalo mau diambil inti sarinya, pada sepakat kalo tidak rela bayar Rp.200 perak KARENA merasa perusahaan supermarket diuntungkan dengan peraturan ini.

[update- sembari saya pause dan buat balik untuk check spelling post ini, kebaca lagi di Facebook link berita ada yang ogah bayar kantong plastik dan sebut-sebut ini ulah Pemerintah zalim dan juga bawa-bawa urusan kemasan produk semacam minyak sayur yang memakai kemasan bahan plastik tebal, konon lebih bahaya dan lama terurainya daripada kantong plastik. *urut dada*]

Saya tepok jidat *jidat kuda nil*

Sebelum saya komentari kenapa saya pake tepok jidat, ini saya informasikan situasi disini di Kanada. Sebagian supermarket tidak lagi menyediakan kantong plastik, tapi mereka sediakan kardus-kardus bekas produk yang bisa kita pakai secara cuma-cuma, tapi ada yang betul-betul tidak ada sama sekali. Kalo tidak bawa kantong sendiri, ya terpaksa beli, harganya $0.05 sahaja. Sebagian lagi masih memberikan kantong plastik secara gratis. Apakah supermarket yang tanpa kantong plastik gratis, barang-barang jualannya lebih murah dibanding supermarket yang memberi gratis kantong plastik? Tidak juga. Jadi tidak ada hubungan sama sekali. (Ada 1-2 supermarket yang mencoba branding kesana seperti Costco & No Frill).

OK, kembali soal status-status tak rela diatas. Apa iya? Itu hal pertama yang terlintas dipikiran kalian? Atau barangkali itu pikiran terlintas nomor urut kesekian, yang utama adalah “wah, ide bagus ini, supaya ramah lingkungan, mari kita dukung!” Ah, kalian lah yang lebih tau. Tapi apa hendak dikata, yang kalian expose adalah soal perusahaan supermarket yang diuntungkan, alias mereka jadi ketambahan laba karena biaya beli dan cetak plastik belanjaan bisa dicoret dari biaya pengeluaran, lumayan… Bahkan jauh lebih dari sekedar lumayan, ucap kalian yang matematikanya dulu dapat angka sembilan. Cobalah hitung dua ratus perak dikali sepuluh ribu dikali lagi tiga puluh hari, wuih…

Saya sih gak menolak mentah-mentah analisa kalian, berpikir kritis boleh, tapi entah kenapa, yang saya rasa malah ada kecenderungan tidak rela kalo kita yang dibuat susah dan orang lain yang menikmati hasilnya. Mungkin juga pikiran saya ini terpengaruh oleh kentalnya topik mengenai “Orang Indonesia itu sirikan, nggak bisa maju dibanding orang dari negara lain, ya opo? Kerjaannya sirik kalo liat orang senang dan senang kalo lihat orang susah” di tanah perantauan sini (baca:Toronto).

Untuk merubah sebuah habit, perlu usaha, tenaga, waktu, biaya dari setiap elemen masyarakat. Jika kita ada dalam circle tersebut, kerjakanlah apa yang bisa kita kerjakan, biar kecil dan terkesan sepele, yuk dimulai. Gak usah pusing ini itu urusan orang lain, wes gak jadi-jadi udahannya. Dalam setiap proses pasti ada gesekan yang nggak mengenakan, ada yang tertatih2 mengimbangi, perlu revisi, penyesuaian, sampai nanti ketemu pada titik dimana semua dewasa dan matang bersama. Tapi kalo mentalnya sirikan, gak relaan, tunggu-tungguan, hitung untung rugi atau celakanya tidak mampu melihat bahwa ini usaha bersama dan bisa berhasil, alhasil ya gak bakal berubah bangsa ini, mental kerupuk lempem, orang sudah kemana-mana, dia masih bahagia pikir hidupnya baik-baik saja, dunia tempat dia tinggal baik-baik saja.

Ini suatu gerakan yang positif. Saya akui, untuk yang tidak biasa, ini merepotkan dan kadang menjengkelkan, ketika harus ketambahan biaya beli kantong plastik. Percaya deh, lama-lama, begitu sudah siap tiap kali belanja dengan kantong daur ulang kita, selesai belanja kita akan tepuk pundak sendiri, Good Job! Dan saat itu mungkin ada benarnya kalo orang model pelit kayak diatas kemudian merubah mindset-nya dan berpikir “Yay!!! gua bawa kantong sendiri, nggak jadi nambah untung deh Lo, rasain!” Gimana? Puas?! 😆

Trus, untuk yang nyalah-nyalahin Pemerintah gimana? Yang suruh Pemerintah larang dahulu ke produsen-produsen yang masih memakai bahan plastik sebagai bahan packagingnya? Untuk manusia kalangan demikian, hanya dewa uget-uget yang bisa menolong mereka.

YuTan

PS. Beri masukan dong ke perusahaan-perusahaan supermarket itu atau desak Pemerintah untuk mengompensasi orang yang bawa kantong sendiri, misal dapat sabun cuci atau apalah, hitung-hitung sebagai promosi/buzzer supaya budaya belanja dengan bawa kantong daur ulang sendiri bisa menjadi hal yang biasa dan lazim. Jangan cuma tau menolak mentah-mentah, menyalahkan Pemerintah dan merajuk kayak anak kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *