민들레 가족 / Mindeulle Gajok / Dandelion Family

[Review]

Sejak kembali menjadi seorang Ibu rumah tangga full time, otomatis punya banyak waktu senggang yang sayang kalo hanya dipakai buat makan tidur doang. Maka salah satu kegiatan gua adalah nonton drama seri Korea via Boxee.

Judul pertama yang gua habiskan sebenarnya adalah “Jewel in the palace” yang sangat termasyur itu, juga di kenal dengan nama Jang Geum sesuai dengan nama tokoh utamanya. Serial ini sudah gua tonton sejak di Halifax dan sempat terputus ketika pulang kampung dan sibuk pindahan. Serial ini tidak gua bahas karena memang sudah sangat terkenal dan buat pecinta drama korea pasti hapal betul atau terkesan betul dengan seri ini.

Sedang serial yang baru saja gua khatam-kan berjudul “Dandelion Family” dengan setting di jaman modern. Total serinya adalah 50 serial dengan durasi masing-masing sekitar 60 menit per seri, jadi in total gua sudah habiskan 50 jam waktu hidup gua atau 2 hari + 2 jam hanya untuk menyelesaikan serial ini. What a waste time? Nah.

Walau gua masuk kategori pantang nonton film setengah jalan walau sejelek apapun selama tidak ngantuk, ini tidak berlaku untuk Tv serial, kalo memang tak bagus tak mungkin ku lanjutkan sampai tuntas, biasanya 15 menit pertama dari seri pertama sudah bisa menentukan apakah lanjut atau skip. Enaknya nonton via Boxee, semua serial2 atau Tv series sudah tersedia dan gratis. Nggak kayak jaman dulu atau sekarang yang masih notnon via DVD, sia-sia dibeli kalo tidak di tonton. Varian series yang ada di Boxee juga cukup banyak. Thanks untuk pencipta Boxee (Apa itu Boxee? silahkan google ya)

Ok, cukup untuk kata-kata pengantar.

Dandelion Family diawali dengan kisah disebuah keluarga yang sedang menerima tamu seorang pria tampan yang hendak meminta restu orang tua kekasihnya untuk menikahi putri sulung mereka. Di waktu bersamaan pula putri kedua dikeluarga tersebut sedang melancarkan aksi kabur dari rumah untuk kawin lari dengan kekasihnya dengan sebelumnya menggondol uang simpanan emaknya. Tak hanya itu, putri bungsu keluarga tersebut pulang-pulang dalam keadaan menangis karena baru saja di dump pacarnya yang berkhianat dengan sahabatnya sendiri. Ya ampun, what a life di keluarga tsb ya. Haha.

Cerita kemudian fast forward ke 8 tahun kemudian, dimana putri sulung yang bernama Ji-Won telah hidup bahagia dengan suaminya yang adalah anak orang kaya berprofesi sebagai dokter gigi. Putri kedua yang kabur itu bernama Mi-Won (macam bumbu Sasa Cup Cup ya namanya hehe) dan telah punya seorang putra berumur 7 tahun bersama pasangan kawin larinya, mereka hidup cukup prihatin karena putus sekolah sang suami pun lebih sering jadi pengangguran. Sedang putri ketiga yang terbontot yaitu Hye-Won masih single dan menjadi seorang wanita karir yang lumayan sukses.

Inti cerita ya seputar keluarga beranak 3 ini. Ditambah dengan peran-peran pelengkap yang cukup unik dan memberi warna pada serial ini, seperti adanya 2 wanita single parent dalam cerita ini dengan masing-masing punya anak laki dewasa, yang satu adalah teman karib sang mama dan satunya teman college sang Ayah dimasa lalu, Ada juga pacar yang akhirnya menjadi suami putri ketiga beserta keluarganya yang kocak yang terdiri dari Ayah, Kakak perempuan dan kakak iparnya.  Selebihnya hanya peran-peran pendukung yang tidak significant.

Yang ku suka dari drama korea ini adalah ceritanya yang tidak lebay, memang agak heran dan kemungkinan tidak terjadi pada keluarga riil dimana masalah bisa-bisanya datang silih berganti seperi dalam skenario, selesai yang satu, muncul lagi yang berikut yang diderita masing-masing tokoh secara bergantian. Namun lika liku kehidupan yang diangkat nampak natural dan sangat bisa terjadi pada keluarga dimana saja dibawah kolong langit ini. Kemudian yang cukup unik juga adalah tidak ada tokoh yang 100% antagonis, dari sekian banyak tokoh dalam serial ini mungkin hanya ada 1 yang dominan antaganis, selebihnya masuk kategori umum, walau mereka tidak jahat atau baik ala ala sinetron Indonesia, mereka juga tak luput dari kesalahan maupun juga bs menunjukan sikap baik, cukup manusiawi dan alami seperti yang gua sampaikan sebelum ini.

Dua hal ini harusnya bisa dicontoh oleh penulis cerita ataupun produser dari pembuat Sinetron di tanah air. Yang pada akhirnya penonton bisa seperti bercermin dari kisah-kisah tokoh dalam cerita, tidak melulu hanya dicecoki sesuatu yang unreal dan terus berulang-ulang dalam lingkaran cerita yang sama walau masih dalam seri yang sama. Seperti anak malang di siksa, di zolomi oleh peran antagonis sampe amat sangat mengharu biru, gak berdaya trus ntah gimana nanti berbalik yg antagonis pada akhir cerita menjadi yg kalah (ya iyalah) belum ditambah dengan kamera yang acap kali zoom in zoom out ngeclose up wajah pemain, slow motion, wajah tokohnya yang melotot, cemberut, penuh amarah dan benci. Hello… ada gitu org kalo lagi ngejahatin trus sempat2nya melotot melotot selama 1 menit? atau pas pandang2an bisa 1 menit juga. Geezzz…

Kembali ke Dandelion Family (gak tau kenapa diberi judul Englishnya ini, sesekalinya Dandelion muncul cuma sekali dalam dialog ketika salah satu tokoh menyilakan minum teh Dandelion) Serial ini ada pendukung atau sponsornya. Awalnya gua nggak ngeh hehe setelah agak heran dan diperhatikan barulah sadar, sponsornya antara lain adalah Kipling (tas), Happy Call (alat masak) dan obat herbal. Jadi tidak heran 3 produk ini terselip dalam adegan-adegannya. Tidak menyolok sebenarnya. Pertama notice tentang tas karena beberapa kali adegan memberi hadiah, hadiah yang dikasih adalah tas. Sampe gua sempat mikir orang Korea kayaknya umum ngasih kadonya tas haha. Kalo Happy Call tergantung di dapur, secara produk itu hebohkan di Indo, beli 1 dapat 2? LOL Trus kalo obat herbal karena sesekali tokoh2nya minum. Pas akhir cerota ada kredit title dan muncullah brand2 itu, baru deh paham. Mungkin ada juga sponsor lain tp terlewat sama gua? ntahlah. Yang jelas 3 brands itu sangat berhasil ditampilkan dan kagak rugi ngesponsorin.

Dalam serial ini kemungkinan untuk bikin mata sakit agak jarang, disebabkan oleh paling tidak 2 hal ini, yaitu : Wajah yang cantik rupawan dan tampan-tampan serta fashionnya. Saya paling suka liat fashion dari Jiwon dan Hyewon. Jiwon karena istri dari keluarga kaya, bajunya tentu ciamik, warna2 yang dipilih selalu yg pastel lembut sesuai karakternya yang lembut dan kalem. Fashion Hyewon juga menarik karena dia paling muda dan kerja di dept. store, selalu amazed sama fashion dia yang rata-rata pake blazer, tidak menampakan kesan tua atau boring dengan blazer-blazernya yang unik, termasuk pandanannya selalu dengan sepatu high heel, mengingatkan masa-masa gua berhigh heel dulu hehe. Itu fashion untuk cewek, sedang untuk prianya fashion suaminya si Hyewon yang paling enak dilihat menurut gua, postur tubuh dia memang tidak tinggi tp padanan bajunya selalu keren, kadang santai yang terlihat agak fashionable, kadang dengan kostum formal tapi tetap menonjolkan karakternya yang lucu, easy going dan periang. Dia itu fotografer, jadi gua sarankan pria-pria fotografer professional untuk nonton film ini supaya juga bisa berpakaian seperti dia. Sudah bukan rahasia kalo kostum aman fotografer itu cuma hitam dan hitam, saat dealing harga dengan konsumen atau saat pemotretan ntah prewedd atau wedding yang ntah di gedung atau taman, selalu menuntut fotografer berkostum sesuai pada tempatnya, jangan sampe terlalu kucel dan merusak pemandangan atau terlalu rapi jali yang bisa nyaingin Pak Pendeta atau Penghulunya haha. Untuk fotografer wanita jauh lebih rumit, fotografer pria lebih mudah walau jatuhnya masih ya itu lagi itu lagi, cara aman yaitu hitam dan hitam 🙂

Tidak heran kalo para ibu-ibu atau siapa saja di Indonesia yang pecinta sinetron secara sadar maupun tidak terpengaruh oleh cerita di sinetron, akibatnya jadi gampang mencurigai, mudah menjadi nyinyir dan drama. Habis nonton 50 episode serial ini paling tidak membuat gua pengen banget nyobain apa rasanya Soju, tingkat kecintaan akan makanan Korea yang memang sudah ada naik menjadi 90%, kosa kata baru Korea nambah 0,2% hahaha, keinginan balik lagi ke Korea dan pakai baju tradisionalnya kembali mengebu-gebu, dan mata jadi segar liat yg cantik dan tampan.

Overal ceritanya bisa membuat naik turun perasaan penontonnya, kadang sedih kadang terpingkal-pingkal. Isi ceritanya pun cukup bervariasi dan mendalam, yang diakhiri pada akhirnya dengan happy ending. Akting para pemainnya sangat memuaskan, semua betul-betul memerankan tokohnya dengan sangat baik. Gua rasa sutradaranya si Im Tae Woo cukup berhasil mengarahkan para pemain. Good job!

Jadi menghabiskan 50 jam nonton serial ini dalam kurun waktu sekitar 2-3 minggu is not bad, beberapa life lesson checked! Okay, siapa mau nemenin makan makanan korea plus Soju? Glek!

Gomawo….,

Yuli

Note :

Yang mau nonton via Internet like I do walau bukan via Boxee bisa klik disini

Yang mau liat-liat website resminya ( Bahasa Korea ) klik disini

 

 





Again and again and again

[Review]

I’m  just wondering, what would I do if I could back to the past,  back to some episode of my life few years ago, few months ago or few hours ago? again and again ?  it will be interesting or boring to the max? dunno.

When I watched Source Code movie last month, I really like its story about back in the same time/situation over and over again. Here little bit story of this movie written by rcs0411@yahoo.com published on IMDB

Colter Stevens an American Army helicopter pilot whose last memory is flying in Afghanistan, wakes up on a commuter train. But he discovers he has assumed the identity of another man. 8 minutes later the train explodes and Stevens finds himself in some kind of pod. He then talks to someone named Goodwin who tells him he has to go back and find who the bomber is. He is sent back and is going through the whole thing again and tries to find who the bomber is but fails and the bomb goes off and he is back in the pod. He is sent back again and still can’t find out anything…

Jake Gyllenhaal as Colter Stevens, he was so good in this movie. Eventhough He backs again and again to the train, we wont get bored because the movie just keep move by its plot story, no such as wasting time on unnecassry story. For some part there will be something like you can said “what the he** is this?” ” How comes?” something like that, but thats only a minor things. Let’s jump to the end of story, Colen Stevens finally can stay in his “new life” as somebody else with someone (and other train passangers) who actually already die bacause the train explosion in a real life.

Long long time ago, in 1993. There is a similiar movie story about an actor back to same situation again and again, Goundhog Day.

A weather man is reluctantly sent to cover a story about a weather forecasting “rat” (as he calls it). This is his fourth year on the story, and he makes no effort to hide his frustration. On awaking the ‘following’ day he discovers that it’s Groundhog Day again, and again, and again. First he uses this to his advantage, then comes the realisation that he is doomed to spend the rest of eternity in the same place, seeing the same people do the same thing EVERY day. Written by Rob Hartill

I don’t like this movie very much 🙁 I don’t like how many times the main actor did a same mistake again and again like he didn’t learn something from his past! Not because you will back again on same situation you can do a same thing, especially when the thing is a bad thing, huh! This is what I call “such as wasting time story” Likes we know where this movie will going to the end but the director or someone who take responsibility likes their audience to going around and around before they reach the final line, no point! But I appreciated in 1993 they already created story idea about back to the past over and over again like this 🙂

We are not finish yet

Here another movie I want relate it to Source Code. Created in 2005  The Jacket with Adrien Brody blast my movie mood! If Colen Stevens on Source Code back to the past over and over again to finish his mission, here Jack Starks ( Adrien Brodly) can go to the future again and again to finish his mission too 🙂

The film centers on a wounded Gulf war veteran who returns to his native Vermont suffering from bouts of amnesia. He is hitching and gets picked up by a stranger, things go pear shaped when a cop pulls them over and is murdered by the stranger. The vet. is wrongly accused of killing the cop and lands up in an asylum. A quack doctor prescribes a course of experimental therapy, restraining him in a heavy duty straight jacket-like device, and locks him away in a body drawer of the basement morgue. During course of his treatment he gets flashbacks and visions of his future , where he can foresee he is to die in four days time. The catch is he doesn’t know how. Thus commences the classic race against time. Written by Austin4577@aol.com

I don’t know if Jack can stay in his “future life” like Colter Steven, The movie end with unclear answer… will he or he will dissapear when he finally really die on reality (reality on this movie :)) actually there are so many conclutions we can make for this movie, that’s another reason I like this movie, we can let our imagination to create the end of the story.

So, after watching this 3 movies. I’m suspicious if Source Code story is colaboration between Groundhog Day and The Jacket story ( off course only about time, repeatedly and transcend from reality ), hehehe… Maybe I’m wrong, but thats what I can tell after I watched them all!

From IMDB

YuTan

MovieLover





The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader

[MovieTalks]

The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader

Narnia is comeback! gaung kehadiran film ini tidak semenggelegar seperti saat seri ke-2nya muncul, mungkin  perhatian pecinta film telah banyak tersedot ke Harry Potter ^^ Sejak di-film-kan (kembali) pada tahun 2005 kemudian 2008 dan tahun 2010 ini nampaknya kita cukup sabar juga ya menanti seri-seri selanjutnya muncul, kita menanti bertahun-tahun. Lihat saja pemeran filmnya bahkan sudah tumbuh dewasa, Lucy si bungsu yang pertama masuk kedunia narnia saat di seri The Chronicles of Narnia: The Lion, the Witch and the Wardrobe masih imut-imut eh sekarang sudah remaja ^^ trus… apakabar kita sendiri ya? hahaha…

Untuk yang sudah baca bukunya  gak akan kecewa dengan film ini, so far itu yang gua rasakan. Animasi dalam film sangat halus padahal bisa dipastikan semua palsu hehehe… sedikit yang beda adalah kadar keseraman antara film & buku, bisa saja karena via buku alur cerita menjadi lebih lambat dan kita bermain dengan imajinasi kita, saat di table of Aslan, di Deathwater Island saat seorang Lord yang membeku menjadi emas, saat kapal memasuki Last island dimana mimpi buruk bisa menjadi kenyataan seingatku waktu membacanya sampe nahan nafas, hehehe…

Buat yg belum baca, ini 7 seri Narnia yang layak di koleksi!

Beberapa hal  rohani yang disisipkan C.S Lewis dalam seri ini sesuai tangkapan gua adalah sebagai berikut :

a. Eutase, seorang anak yang sombong/jahat/egois/tidak sopan/yang jelek-jelek deh… sampe rasanya pengen banget benyekin nih anak hehe… mana pemerannya di film ini muka dan alisnya unik habis… bikin dia makin ‘berkarakter’ hehe… karena ketamakan & kejelekannya akhirnya dia berubah menjadi Naga bowww…. baru kali ini ada naga nangis dan mau kabur hihihi… begitu dia sudah menyadari kesalahannya baru Aslan merubahnya kembali menjadi anak laki-laki <– Kadang kita diberi sesuatu yang buruk agar kita menyadari/intropeksi kesalahan kita.

b. Lucy, yang kepingin cantik seperti kakaknya (Susan) di film diterjemahkan dengan cukup apik, bagaimana seorang Lucy begitu ‘termakan’ dengan hasratnya ingin serupa dengan kakaknya,  satu kalimat indah dr Aslan ” You’ve missed value yourself, you the one who bring them to narnia, don’t you remember it?” (kira2 gitu sih ngomongnya tadi ahahah) <– Kadang dan bahkan sering dan selalu kita merasa rumput tetangga lbh hijau, kadang kita ingin seperti si A si B dan lupa menyadari bahwa kita sangat berharga dimata Tuhan. Setelah menyadari Lucypun bs berkata kpd seorang anak yang berkata jika dia dewasa nanti ingin seperti Lucy ” When you grown up, You just will be like you!”

c. Edmund, kasihan bocah ini… dari seri pertama sampe seri ketiga selalu dihantui dengan masalah ingin menjadi yang nomor satu alias tidak mau dibayang2in oleh Kakaknya Peter atau bahkan sekarang oleh Prince Caspian, belum lagi itu penyihir putih terus menggoda, untungnya dia berhasil lolos dari semua godaan & pikiran negative tsb <– Kadang kita juga seperti itukan? ingin lebih unggul dan wah, bahkan kita rela mengganti sesuatu yg berharga dengan sampah hanya karena kenikmatan sesaat atau krn egois semata.

d. Aslan, sudah sangat jelas sebagai analogi dari Tuhan. Saat dia mengorbankan dirinya demi menyelamatkan/menggantikan Edmun di seri pertama dan kemudian bangkit terlihat seperti kisah apa hayoo? Yup! Kristus saat mengorbankan dirinya di Salib demi menebus dosa kita dan membayar kita lunas dari jeratan maut. Di seri ini ketika Lucy harus berpisah dan dipastikan dia tdk akan kembali ke Narnia lagi, Aslan berkata dia juga ada dinegeri sana.

Hint2 lainnya silahkan kalian temukan sendiri ya ^^ Clive Staples Lewis (29 November 1898 – 22 November 1963) emang penulis yang keren, Narnia adalah tulisan fiksinya yang ditulis untuk cucunya (kalo gak salah pernah baca begitu), bukunya yang lain yang asyik dibaca adalah The Screwtape Letters buku tentang paman setan & keponakannya yang surat-suratan, beneran… surat-suratan… lucu deh (ceritanya sikeponakan diutus kedunia untuk menggoda manusia, kadang dia gagalkan… nah si paman memberi nasehat2, hati-hati jgn salah pas baca buku ini, kalo dibilang musuh dalam buku ini, itu maksudnya Tuhan ^^)<– jadi OOT dikit gak apa-apa ya.. emang seru sih ngomongin Om Lewis… mana sobatan ama J.R.R Tolkien lagi yang nulis Lord of the ring, duhh… tambah ‘nyembah-nyembah’ deh gua ama keahlian mereka merangkai kisah dan cerita ^^

Clive Staples Lewis aka CS Lewis aka Jack!

Beruntunglah kita yang masih hidup dijaman ini… pembuat film sudah super canggih… imajinasi kita yang berkembang dr membaca serial ini bs diterjemahkan dengan apik, coba liat deh seri TV kisah ini yang dibuat di tahun 80an akhir… masih jadul kalo kita nyebutnya sekarang hehehe… dulu pernah beli VCDnya, lucu juga kalo dibandingin ^^ overall… Narnia belum pernah mengecewakan! Oh ya… ribut-ribut soal film ini, konon banyak ABG ( krn pemainnya kebanyakan masih ABG juga kali ya ) yang habis nonton serial ini pd heboh membandingkan gantengan mana antara Edmund dan Caspian, busyet… ya jelas Caspianlah! *gubrak!!!* <– tante-tante ikyut2an ribut siapa yang gantengan LOL

Seri ke 3 ini peperangan terjadi antara para Narnians dengan kuasa kegelapan dengan macam-macam jebakannya ( harta, mimpi, keinginan terpendam,dll ) jika kita flashback, seri 1 peperangan antara Narnian dengan si penyihir putih yang menguasai Narnia dan membekukannya hingga ratusan tahun, kemudian seri 2 peperangan narnians dengan human/manusia yang dipimpin oleh Miraz yang dengan usaha liciknya berusaha memusnahkan Narnia dan para narnians.

Apakah yang belum/tidak nonton seri 1 dan seri 2 (versi film, kalo versi buku urutannya beda ) bisa tetap enjoy langsung nonton yang ke 3? bisa-bisa aja.. tapi akan lebih afdol kalo sudah nonton, apalagi jika seri 1 dan 2nya direfresh sesaat sebelum nonton yang ke3, dijamin makin asyik karena makin dapat menjiwai (like what I did, kebut 2 film malam sebelumnya hahaha… sekalian biar suami nonton dan ngerti awalnya dan gak ngomel-ngomel merasa gak ada awal gak ada ujung saat diajak nonton Harpot terakhir hehehe)

Trailer :

Semoga mereka bikin lagi seri selanjutnya… ^^

YuTan