[Old Posting] Semua orang bisa ke Bromo

Catatan penulis :

Tulisan ini dibuat pada Agustus 22, 2007. Sekitar 5 1/2 tahun yang lalu dimana Bromo belum begitu ‘terjamah’ oleh para turis lokal. Kira-kira sama halnya dengan saat ini 2012/2013 ketika orang mulai terpesona dengan Raja Ampat, Papua.

Dari tulisan ini tertangkap kalo saya saat itu berusaha menulis dengan cepat dan cenderung hanya memberi informasi nama lokasi-lokasi yang kami kunjungi karena derasnya permintaan informasi dari sesama rekan fotografer yang kepingin hunting foto disana.

—————————————————————————————————————-

Ksatria Bromo

Ksatria Bromo

1st Day ( Jakarta – Surabaya – Bromo )

Jakarta – Surabaya ( Pilih penerbangan malam kira2 Jam 10-11 Malam tiba di Surabaya ). Tiba di SBY sebelum melanjutkan perjalanan mampir ke RAWON SETAN yang buka sampai jauh malam (Tutup jam 3 pagi) Lumayan untuk mengganjal perut dengan makanan local yang khas.
Surabaya – Bromo by Rent Car, Pesan sejak masih di Jakarta, supaya dapat langsung dijemput di Bandara, perkiraan biaya sewa mobil ke Bromo Rp. 400-500rb/hari Include Driver & BBM exclude Makan & inap Supir.
Tengah malam langsung lanjutkan perjalanan ke Bromo ( Butuh waktu kira-kira 3-4 Jam ) dari SBY or di dalam mobil saat perjalanan, persiapkan tubuh dengan baju hangat. Usahakan tidur karena saat tiba, jadwal ke spot foto sudah menanti.
Perkiraan tiba di Bromo ( Cemoro Lawang ) subuh/ dini hari, Istirahat sejenak di Rumah Tour Guide (Mas Fadly, PM me for His Private number [edit : I lost his number] ), titip tas/menambah baju hangat/ke toilet/dll

PANANJAKAN
Jam 4-4.30am
Lanjutkan perjalanan dengan Jeep ( Order via Mas Fadly, rata-rata sekali perjalanan by Jeep Rp. 30-50rb/orang ) ke Pananjakan yang butuh waktu kira-kira 15-20menit perjalanan. Bisa pesan minuman untuk menemani acara foto tp lbh baik menahan diri dan sarapan ( Gorengan/ Mie instant/ Kopi Jahe, Milo, etc ) di warung dekat sana setelah sesi foto berakhir. Di warung-warung tsb juga banyak dijual sarung tangan ( Rp.5rb ) & syal ( Rp.15rb ) tinggal pilih. Pananjakan adalah spot paling ramai, pintar-pintarlah memposisikan diri di lokasi yg tepat untuk mengabadikan moment sunrise agat lensa tak terhalang manusia yg berjubelan, Ingat juga… udara sangat dingin apalagi jika di barengi dgn angin yg berhembus, brrrr….

Explore-lah area ini demi angle yg menarik kearah matahari terbit atau kearah Para Gunung berdiri dengan kokoh, hati2 jangan kebawa nafsu karena lokasi yg curam. Foto yg luar biasa bagus rasanya tidak sepadan nilainya jika di tukar dengan keselamatan diri kita.

Jangan kuatir, di dekat warung juga ada WC Umum, sekali pakai di patok harga Rp. 2rb dengan kondisi WC yg bolong2 dindingnya 🙂  tp airnya bersih dan dinginnnn…

Saat turun dari Jeep menuju spot foto, jalanlah dengan perlahan-lahan. Kondisi jalan yg menanjak dan udara yg tipis, membuat kita kesulitan menyetok oksigen dalam paru alias cepat ngos2an, santai aja… tutup tubuh dgn jaket tebal, topi untuk melindungi telinga dan kepala serta syal untuk hidung. Telinga dan Hidung sangat rentan dgn dingin yg tiba2, hidung pasti meler dgn sendirinya.

Siap2 terpukau dengan KEBESARAN TUHAN di spot ini, jika kesulitan ambil foto or mati gaya, nikmati saja pemandangan yg ada, awan-awan yg menggumpal dan sejajar dgn kita merupakan pemadangan yg tidak biasa, kokohnya Gunung Semeru yg sesekali batuk , Gn. Batok dan Bromo yg kawahnya berasap serta nun jauh dibawah sana Padang Pasir dan Temple yg tampak kecil apalagi jeep2 yg lalu lalang mengantar pulang para turis, tampak seperti mobil2an, bahkan lbh kecil!

Jika tidak diburu waktu, bertahanlah dilokasi ini hingga pukul 7an, karena lokasi sudah sepi, langit jika bersih kita dpt lebih leluasa mengambil gambar, Jam 7an biasanya matahari sudah terik, foto dgn kamera IR di jam ini adalah ‘surga’.

PADANG PASIR

Pulang dari Pananjakan menuju Hotel kita bisa mampir dulu di Padang Pasir di bawah kaki Gunung yang juga ada Temple-nya, Jam 8 pagi begitu banyak penjual makanan, coba saja Nasinya Lumayan banget kok rasanya, Temple dapat dijadikan Objek foto. Lokasi ini di hari pertama tentative saja, karena hari  berikutnya spot ini kami jadikan spot awal, sehingga mendapat stock Sunrise di Lokasi yg berbeda, karena masih pagi area ini akan ramai dgn pengunjung dan penyewa Kuda, jika dtg setelah ke Pananjakan maka lokasi ini sudah sepi. Kita bs lebih leluasa memotret Temple dgn langit biru yg cerah jika beruntung.

Menjelang siang ada baiknya kembali ke Hotel, karena Hotel belum dpt check in sebelum jam 3 sore, maka rumah Sang Guide (Mas Fadly) kembali menjadi rumah singgah, TIDUR adalah kegiatan yang pas di hari 1, why? krn dr kmrn kita hampir tidak tidur, menjelang jam 1-2 bangun dan mencari makan siang di sekitar Hotel baru kemudian Check In Hotel. di Hotelpun ada baiknya hanya meletakan tas dan kemudian kembali bergerak, tidak ingin menyia-yiakan kesempatan motret hanya dgn tidur2an kan? sedang di Bromo gitu loh…

BUKIT Teletubbies

Jalan menuju Bukit Teletubbies kita akan melewati Padang ilalang yg sangat eksotis, bermain2 dgn cahaya matahari yg jatuh di rumput dan ilalang yg berwarna kuning asyikkan? narsis cocok, prewed cocok, main umpet2an bisa… hehehhe j/k

Kami mengambil session Foto model di lokasi ini :”>, bahkan foto prewed pura2 😀 rebah2an di rumputpun tidak masalah, tdk ada binatang berbahaya kata Mas Fadly, hanya siap2 wajah gosong, huhuhuh… ingat… walau dingin… tetap saja matahari akan menggosongkan diri kita.

Di Bukit Teletubbies di waktu sore kami menemukan pemandangan yg menakjubkan, kabut tebal berarak turun dr atas bukit/tebing terjal, di seberang menonjol  beberapa bukit besar kecil persis bukit di film anak2 Teletubbies, wajarlah kemudian dinamakan begitu.. melihat gundukan2 tsb jd pengen teriak : ” Berpelukaaannnnnnnnnnnnnnnn” hahhahaa

Menjelang matahari kembali ke peraduan, bukit2 tsb bisa menjadi siluet yg apik, bernarsis ria di Bukit ? tidak masalah!

Jika sudah gelap, tak ada lg yg bisa di foto di Bromo kecuali punya lensa extra tele, buat apa? motret Bintang dan planet! Karena berada di area tinggi dan jauh dr polusi, Bintang2 akan tampak sangat jelas… bertaburannn… dan eits…. awas2 ke langit, krn sesekali ada saja bintang yg jatuh, wuuuuuzzzzzz make a wish!

Pulanglah ke Hotel, mandi air hangat dan mampir ke restoran untuk makan… tersedia banyak pilihan menu yg pas disantap di cuaca seperti ini, Pisang Goreng dengan kopi Jahe, mau? Pancake  Nanas dengan susu coklat? hmm…  Nanas goreng dengan Skoteng hangat? ahhh… tentu saja tetap ada menu like Rawon, Bakwan, Nas Gor, bahkan western Food, macam steak dan sandwich krn banyaknya turis manca negara.

Istirahat dan nyenyaklah dgn tidur karena jadwal besok pagi akan dimulai dengan sangat dini, lagi2 jam 2.30 pagi 🙁

2nd Day ( Pananjakan,  Padang pasir & Street Hunting )

Karena rombongan Jakarta tiba 1 hari lbh cepat drpd jadwal sesungguhnya yg baru dimulai hari ini bersama rombongan Semarang maka kami mengulang perjalanan menuju Pananjakan dan Padang pasir.

Hanya saja, pulang dari padang pasir memotret temple dan sekitar tmn2 Semarang yg baru tiba semalam sama seperti kami di hari kemarin tampak ke letihan dan perlu tidur, kami yg lbh fresh dan segar, memilih untuk berfoto disekitar rumah Mas Fadly (Menemani Teman Smrg yg blm bs check In Hotel, hihihiei ) sembari mrk tidur or duduk2, kami ke Ladang Jagung dekat sana, rumah2 di pematang ladang juga sangat layak diabadikan.

Yang namanya hunting bersama maka perlu kebersamaan, kami perlu check Out dr Hotel awal kami Bromo Permai ke Hotel yg gabung dgn tmn2 Smrg yaitu Hotel Cemara Indah, Hotelnya sedikit krg bagus dibanding yg pertama, tp dia punya view yg menawan, lgs menghadap ke Padang pasir dan Gunung, wow…

Street Hunting sekitar Bromo

Siap check in dan mandi2, kami kemudian street hunting di sekitar area Hotel, banyak sekali objek  menarik untuk di foto, seperti kegiatan sehari2 penduduk disana ( Angkut Rumput, pulang dr Ladang, anak kecil bermain, ibu2 mengambil air, memberi makan ternak, bawa pulang ternak, dll ), pemandangan sekitarpun sangat asri, jejeran pohon2, rumah2 penduduk yg unik, jalanannya.. semuanya sangat sejuk dan damai, serasa bukan di Indonesia 😀

Malam hari kami makan bersama dan acara perkenalan serta pembagian kaos Hunting, lagi2 malam ini tidak bisa terlalu larut mengingat besok jadwal hunting sudah menanti.

3rd Day

Padang Pasir | Gn. Batok & Bromo

Karena sebelumnya hanya bermain2 di padang pasir dekat temple kami hari ini kami akan bersunrise ria di atas Gunung, ketika hari msh gelap kami sudah tiba, di tempat ini anda akan banyak ditawari naik kuda ke bawah tangga menuju ke Kawah Gn. Bromo. Ongkos naik kuda naik & turun Rp.30rb jika pintar menawar.

Karena tujuannya motret dan waktunya nangung maka saya pribadi tdk berkempatan naik ke atas kawah, konon anak tangganya ada 219 kalo saya gak salah ingat, maaf kalo salah :D. Justru disaat turun saya berkesempatan menyicipi naik kuda, seremmm seremm tp pengen gitu deh, byk sekali turis yg naik kuda, ada yg berani nunggangin sendiri hingga mirip ksatria, ada juga yg seperti saya, harus di tuntun sama pemilik kuda 😀

Di Spot ini kita juga bs menyewa  beberapa kuda dan penunggangnya, suruh aja hilir mudik naik turun untuk mendapatkan foto yg asyik, efek debu yg naik dr jejak jejak kuda menambah kemisteriusan foto 😀

Watu Ulo / Tanjung Papuma

Pulang dr Padang Pasir, kembali ke hotel untuk mandi karena sdh penuh debu. Isi perut kemudian lanjutkan perjalanan dgn mobil sewaan ke Watu Ulo yg membutuhkan waktu perjalanan selama 9  jam  PP, worthy? Yup! sangat.

Pantai Papuma sangat eksotis… msh Liar dan alami, dengan jejeran kapal nelayan yg unik & kokoh berdiri di terpa ombak batu2 raksasa… wahhhh keren habissss, apalagi Sunset di papuma ciamik habis… sama seperti ketika memandang gunung2 ndi Bromo saya juga kehabisan kata2 melihat sunset dgn di sisi kanan adalah batu2 dan karang dgn ombak besar memecah di batu, Oh… SUNGGUH BESAR & DASYAT ALLAH kita, jd agak ‘malu’ menjadi Manusia, krn seringkali tidak bisa membuat kita bersyukur dan kagum pd Ciptaan Tuhan, beda dgn benda2 ‘mati’ tsb. Dalam diam tp bisa meneriakan bahwa ALLAH Sang Pencipta itu Agung dan Besar!

“Manusia harusnya kamu lbh baik dari kami krn kamu diciptakan serupa dgn Gambar & rupaNYA dan kami harusnya tahluk di bawah pemeliharaanmu, tp lihatlah saat ini kami (alam) lbh berkuasa atas kamu tp ironisnya kamu merasa di atasnya Tuhan”.

Hari ini habis di perjalanan dan waktu Sunset di Papuma, kembali ke Hotel sudah larut, semua sepakat lgs tidur dan memaksa mata terbuka 3-4jam kemudian untuk hari terakhir di Bromo , Hiks…

4rd Day

Bukit Teletubbies | Pagi hari

Jika sebelumnya kami sudah curi start di lokasi ini, untunglah yg kali ini di waktu yg berbeda, sehingga di 1 spot ini kami bisa mendapat sunrise sekaligus sunset :D, Bukit diwaktu pagi berbeda dgn ketika sore, jika sore kabut turun dr tebing, di Pagi hari kabut berangkat dr bawah ke atas… sejajar dgn kita kabut2 bagaikan air laut… menakjubkan…

RANU PANE | Danau

Dari Bukit perjalanan kami lanjutkan ke Ranu Pane, membutuhkan waktu perjalanan kira2 1 jam-an, Ranu Pane adalah Danau, letaknya dekat kaki gunung Semeru, maka tidak heran di lokasi ini menjadi spot para pendaki, sewaktu kami kesana, banyak tenda2 para pendaki yg mendaki dlm rangka 17 Agustusan. Konon di Gunung inilah Soek Ho Gie meninggal dunia, hiks.. 🙁

Ikuti saja jalan setapak yg ada, telusuri sampai ke dalam… kira2 2-3km kedalam. Banyak objek  menarik, seperti framing dan gunung Semeru. Diluar sekitar rumah penduduk juga banyak objek human interest (lihat Foto saya yg berjudul Gadis Tengger & All about Blue), katanya banyak yg asli Orang Tengger, wajah mereka sangat unik, mirip orang di Tibet dgn ciri mata yg unik dan pipi yg merah terbakar dan kering krn dingin. Eksotis deh!

Harusnya spot kami selanjutnya adalah Air terjun Mada Karipura tp sayang waktu tidak mencukupi krn keasyikan di Ranu Pane + acara makan2/sarapan disana yg dibarengin dgn acara bedah foto. Gorengan disini mantap bener… Kentang goreng. Yummy…

Rawon Nguling

Karena ini hari terakhir, sehabis dr ranu Pane dan kembali ke Hotel, kami berisap untuk check Out dan pulang ke ‘peradaban’ hahahha… jangan lupa mampir ke Rawon Nguling khas Probolinggo, Rawonnya mantap.. pernah di datangi sama Presiden SBY dan Gus Dur, Ngetoplah ceritanya hahahhaa..

Bubaran dr Rawon Nguling kami terpaksa berpisah dgn tmn2 Semarang yg akan terus melanjutkan perjalanan ke Smrg, kami pulang ke Sby dengan mampir dulu di Sidoarjo, melihat semburan atawa lumpur Lapindo. Kebetulan supir mobil sewaan kami adalah  korban lumpur lapindo juga, walau begitu tetap saja kami dimintai duit oleh para pengaja/penduduk yang berjaga-jaga disekitar lokasi, hehehehe…

Asli hancur habis, rmh2 keredam hingga tinggal atap2nya.. semburan baru… alat2 berat untuk membuat tanggul, para pencari nafkah seperti tukang ojek yg siap mengantar ke semburan baru, penjual DVD serial Lumpur sejak hari pertama, Hmm.. no comment deh untuk yg ini, yg jelas kami tdk memakai jasa ojek atau pun membeli DVDnya.

Pesawat Sby-Jkt memang kami pilih flight termalam, spy tidak terburu2.. Karena msh punya waktu kami bahkan sempat mampir kesalah satu Mall di SBY untuk makan junk food yg di pengen2in sejak beberapa hari lalu, ahahahhah… karena Mall ada hotspot kami juga sempat online dan memberikan laporan selayang pandang 😀

Tiba di Jkt, cuaca sudah panas, mulailah kami kangen cuaca dingin dan sejuknya Bromo, kulit muka terkelupas terutama bagian hidung, wajah menghitam, tp kata teman jd eksotis, hahahahhaa… ada2 saja.

Perjalanan kali ini puasss banget, didukung rekan seperjalanan yg asyik, lokasi yg Ok. Ittenary yg Ok. Semuanya hampir perfecto 😀

Total biaya yg dikeluarkan sekitar  Rp. 2 – 2,5 juta all in ( Ongkos ke Bandara, airport tax, makan tidur enak ) bisa hemat lg dr sana dengan sedikit usaha dan kerja keras, misalnya tidak inap di hotel tp di rumah Mas Fadly ( no air panas dan ranjang tdk seempuk hotel 😀 ), tidak makan di Hotel tp cukup diwarung2, ke area yg msh terjangkau jalan kaki seperti ke Padang pasir, jd hemat ongkos jeep, tp kuat gak jalan kaki 1 jaman? hmmm?? jika semua itu dijabanin mungkin bisa hemat hingga menjadi 1,5jt saja. Untuk Biaya trip ini dr Jakarta.

So All, Blog ini sekaligus untuk menjawab pertanyaan teman2 yg penasaran dan pengen tau rute hunting ke Bromo serta biayanya.

Foto2 hunting trip ini bisa dilihat dengan mengklik disini 😀

<– Link ke Multiply, ternyata masih hidup linknya ya

Perjalanan hunting ini di Website FN dapat dilihat dengan mengklik disini 😀

<– Liputan hunting mencapai 105 halaman di forum fotografer.net. Ampe pegal bacanya, habis sambil ngakak sih… :p





[Old Posting] Kisahku, Leukemia & kemungkinannya menurun kepadaku – Jan 16, 2009

 

 

Terlahir sebagai anak yang Ayahnya meninggal karena penyakit Leukemia tak pernah membuatku frustasi, malu, kecewa, marah, dll walau hanya barang sedetik pun. Apakah karena ketika peristiwa itu berlangsung (Papa berjuang melawan penyakit tsb) hingga Papa harus menyerah pada penyakit Leukemia aku masih seorang anak kecil yang tidak tau apa – apa.

Namun kenyataannya aku tak pernah sedikitpun mempunyai perasaan tersebut atau merasa aku harus bersikap demikian, yang aku tau Papaku serta Mamaku sudah berjuang sampai titik darah penghabisan, betul-betul habis secara mental dan materi karena sebuah hidup perlu diperjuangkan.

Di dunia ini tak ada seorangpun yang girang ketika dinyatakan sakit, jangankan sakit yang parah macam kanker, demam berdarah, diabetes  atau tipus. Dinyatakan mempunyai sakit ringan macam panuan atau cacingan saja ogah. Itulah mengapa orang berlomba-lomba untuk hidup sehat walau kadang mengucapkannya lebih gampang ketimbang melakukannya,. Maklumlah, sakit di negeri ini memang bisa bikin bangkrut karena rumah sakit – rumah sakit sudah seperti ‘perampok’.

Konon, selain Diabetes Militus (DM) ternyata penyakit kanker juga termasuk penyakit yang menurun tapi tidak menular. Ketika 20 tahun yang lalu, Papa masih di takuti oleh beberapa sanak saudara karena disangka bisa menular ke mereka walau saat itu kedokteran sudah bisa menginformasikan bahwa kanker tidak dapat menular.

Celakanya persentase sifat turunannya tidak ada seorangpun yang bisa memastikan secara signifikan atau paling tidak mendekati seperti yang bisa mereka prediksikan untuk turunan dari penyakit DM ke generasi selanjutnya. ( sejauh informasi yang bisa aku dapatkan dari menggoogling )

Walau aku sudah mengetahui penyakit kanker bisa menurun ke keturunan penderita, aku tak pernah ambil pusing, bahkan pernah ku katakana pada Mamaku, jika seandainya (hanya bisa berandai-andai karena belum tentu Papa langsung mengwariskannya ke anaknya, mungkin ke cucu, ke cicitnya atau bahkan hanya aka nada di Papaku saja krn berbagai hal, mis : gen generasi selanjutnya sudah lebih kuat, generasi selanjutnya lebih menjaga pola hidup sehat, generasi selanjutnya memang tidak di ijinkan Tuhan untuk kena) penyakit itu akan turun ke anak-anak Papa, biarlah aku yang mendapatkannya, ketimbang saudara-saudaraku yang lain. Bukan sok Pahlawan, sok cinta dan peduli pada  saudara-saudaraku yang lain, sok kuat atau lain-lain tp karena alasan yang agak sedikit tolol dan egois yaitu aku tak akan kuat/tega jika harus kehilangan saudara-saudara gua terlebih dahulu dan jika aku yg ‘dipercaya’ untuk mendapatkan penyakit yang sama atau sejenis dengan Papa itu sebuah kehormatan besar buat aku.

Bukan tanpa alasan aku bisa berkeyakinan dan begitu percaya diri pada penyataan aku tersebut tapi semata-mata karena aku begitu mencintai Papaku melebihi apa yang mungkin orang lain bisa bayangkan atau mampu bayangkan.

But hey… apakah penyakit tersebut sudah di depan mata? Apakah penyakit tersebut sudah mengintai di sekitarku? Sekitar saudara-saudaraku? Cucunya? Belum tuh. Apakah belum adalah jawaban yang tepat? Seolah-olah itu PASTI akan terjadi hanya soal waktu? Tapi bolehkah aku lengah atas kemungkinan yang bisa terjadi walau hanya 0,1% saja? Tapi menjalanin hidup dengan ketakutan yang tak pasti apakah baik? Macam orang tak berTuhan saja.

Beberapa tahun yang lalu ada cerita seperti berikut :

Aku punya seorang teman wanita yang Ibunya mengidap penyakit Kanker rahim dan meninggal ketika kami masih di bangku kuliah, Teman ku ini sebut saja namanya Ani. Ani adalah wanita dengan paras yang cantik dan tubuh yg proposional, tak sedikit teman-teman pria diam-diam menaruh hati padanya, namun Ani bukan tipe wanita yang mudah di goyahkan sampai dengan suatu hari, sebagai teman yang cukup dekat dengannya aku tau dia  menyukai seseorang, seberapa dalam itu aku tak tau tapi aku tau dengan pasti, pria ini akan punya harapan. Beberapa  waktu kemudian aku perhatikan Ani sedikit kecewa dengan pria ini, katanya pria ini sudah mulai menjauhinya, loh? Aku lupa apakah aku sengaja memancing pembicaraan kesana atau memang hal ini kemudian diungkapkan sang pria kepadaku, yang aku ingat saat kami berkumpul ramai-ramai di kolam renang sang pria berkata kepada ku : (kurang lebih) Anikan mamanya sakit  kanker dan penyakit itu menurun!

Maksud lo? (tentu saja masa itu belum popular istilah ini, tp mungkin ini lah reaksi pertama ku menanggapi penyataannya) jadilah beberapa menit kemudian, sang pria aku omel-omelin ampe garing, yang dia gak sopanlah, egoislah, sok kegantengan lah, sok tau lah, sok sehat lah, dll

Bukan karena sesama anak dari penderita kanker aku bereaksi demikian, bahkan sejujurnya tak melintas di otak ku kalo suatu hari nanti aku akan mengalami hal yang sama atau jangan kaget jika ada pria yang juga akan berpikir dan berkata kepada ku : Papa lu kan leukemia, penyakit kanker  itu menurun! Aku hanya tidak habis pikir, sesempit itukah hati dan pikiran mereka? Orang waras dengan IQ rata-rata pun tau kalo itu tidak pantas dan merupakan sikap arogan, sekalipun misalnya ada yang setuju alias ogah menikahi wanita/pria yang beresiko bakal kena penyakit kanker apakah pantas kalimat/pilihan/pikiran/sikap dia itu di ceritakan ke orang-orang atau bahkan ke calon pasangannya sendiri?

Seingatku peristiwa tsb diatas tak kuceritakan ke Ani, aku tau mau dia kemudian marah/kecewa/berpikir yang macam-macam. Justru sebagai pemilik orangtua yang punya histori penyakit kanker kita harus bangga karena gak semua orang punya orang tua seperti itu!

Berbasis rasa percaya diri dan kemanusian yang cukup tinggi dalam hal ini sejak peristiwa tersebut tak pernah lagi hal turun menurun itu aku pikirkan, aku tak pernah takut, tak pernah khawatir soal tersebut dan hasil pencarian ku di google belum lama ini, sikap seperti ini justru menolong, positive thinking gitu … jadi penyakit juga jauh ketimbang yang paranoid, salah-salah gak ada histori kanker malah kanker otak/hati jadinya.

Serius nih gak takut? Duh, bukan sombong… tapi ya mau gimana lagi kalo memang akhirnya kena? Kalo sudah positive kena ya di obati semampunya, dipercayakan hidup di dunia ini oleh Tuhan maka harus punya semangat untuk hidup walau angin topan menerjang. Apakah ngobatinnya harus sampai habis-habisan? Tergantung situasi jika sampai harus melaratkan anak cucu atau membuat hutang sana sini pdhal ternyata penyakitnya tidak membaik sedikitpun ya lebih baik jangan (berdasarkan pengalaman cerita dari orang-orang baik sebagai penderita maupun keluarga penderita), memang betul-betul perlu hikmat dan bijaksana dari Tuhan.

Dalam keadaan yang masih single seperti sekarang ini JIKA kemudian aku dinyatakan sakit yang parah dan tak tersembuhkan (gak harus kanker) maka kemungkinan besar aku memilih tak akan menikah kecuali berdasarkan pimpinan Tuhan yang jelas banget dan tuh cowok ntah kesamber gledek atau jangan-jangan punya penyakit mematikan juga atau memang dia juga di pimpin Tuhan dengan jelas sehingga mau menikah dengan aku dan menerima apa adanya aku. Itu kalo ternyata aku punya dan sudah pasti memang berpenyakit mematikan.

Tapi Puji Tuhan sampai saat ini aku masih sehat sejahtera, dari kecil memang sempat sakit-sakitan (waktu Batita ) kemudian sehat banget sampai SD ‘tumbang’ karena sakit Tipus, setelah sembuh sehat banget sampai sekarang sebelum beberapa bulan lalu terserah yang namanya alergi yang lumayan akut, but sejauh ini ya baik-baik saja, sekali lagi Terimakasih Tuhan, begitu juga saudara-saudaraku.

Seperti aku katakan tadi bahwa sebelum beberapa hari yang lalu aku tak pernah lagi mengingat-ingat bahwa akan ada kemungkinan cowo yang akan ragu/mundur mendekatiku karena beralasan (setelah kemudian mereka tau) Papa lu Leukemia. Kalo iya kenapa? Ya anda – anda pasti sudah tau jawabannya.

Resiko menikahi orang yang punya penyakit mematikan apa? Korban perasaan karena melihat orang yang disayangi hidup segan mati tak mau alias mati pelan-pelan? Resiko bakal habis harta? Resiko bakal jd janda/duda secara cepat? Malas repotnya? Malas ngurusinnya? For Joke : kalo tuh orang punya harta melimpah ya oke-oke aja, lebih cepet game over malah lebih bagus.

Eh itukan kalo udah pasti kena atau sudah berpenyakit kalo ternyata belum? Tapi ada kemungkinan terkena walau gak tau pesentasenya berapa, but forget it about persentase! Why? Kalo ilmu kedokteran  bisa memastikan penyakit tsb menurun sebesar 20%, 50% , 68% (ha ha .. ), 99% so what? Hanya cukup 0,1% saja jika memang harus kena ya kena, begitu juga sebaliknya jika gak dijinkan Tuhan untuk kena ya gak bakal kena walau kedokteran sudah melabel bakal 99,999999% a tau bahkan 100%!

So resiko menikahi orang yang berpotensi berpenyakit parah apa?

  1. a.       Ada kemungkinan cepet jadi janda/duda à Hello???!!! Umur manusia ditangan Tuhan, nikahi yang sehat jasmani rohani apakah bisa jamin dia bakal nemenin ampe tua? Ntah dia ‘pulang’ duluan karena tabrakan/dibunuh/’lewat’ gitu aja atau bahkan salah-salah situ yang ‘lewat’ duluan.
  2. b.      Susah mikirin mau punya anak apa nggak, karena takut nanti anaknya berpotensi kena penyakit tersebut juga à Oi… jadi orang gak punya Iman sedikitpun? Sesama pengidap HIV AIDS pun masih punya keinginan dan harapan beranak cucu, bahkan dokter-dokter sudah berhasil membuat semacam terapi agar pasangan orang tua yang kedua-duanya positive AIDS masih bisa melahirkan anak yang negative HIV AIDS! Contoh AIDS tsb mungkin ekstrem aku sendiripun akan memilih tidak akan punya anak kalo sudah kena penyakit itu *knock wood* seperti diatas, punya pasangan aja gua milih nggak apalagi anak, tp ini kita bicara belum kena ya kok mikirnya jauh amat dan nyalinya sekerdil itu seperti Tuhan  itu tidak ada saja untuk melindungi anak-anakNya.
  3. c.       Aduh… bakal ada kemungkinan sad story, mungkin gak kuat liat yang di sayang mati pelan-pelan à Jangan bull sh*t deh… justru kalo sayang itu gak bakal mikir maju mundur atau menjadi ragu.
  4. d.      Harta benda bakal ludes buat ngobatin à Harta gak di bawa mati, yang sakit jg gak kepengen sakit dan habis2in harta. Biasanya kalo salah satu anggota keluarga sudah sakit, yang dipikirkan bagaimana dia sembuh,  yang dikhawatirkan gak ada duit, tp kalo masih ada duitnya dan ogah/pelit di habiskan untuk berobat, ya berdoa saja supaya bibit yang kamu tanam, waktunya panen kamu dapat buah yang lain, bukan hasil buah yang kau tanam.
  5. e.      Anything else?

 

Bagaimanapun mengetahui terlebih dahulu jauh lebih baik ketimbang segala-galanya sudah terlambat, walau itu akan menyakitkan perasaan.

Untuk anda yang setelah membaca tulisan ini kemudian merasa jalan pikiran dan sikapku tentang hal ini salah, silahkan di ungkapkan. Mungkin dari sisi luar akan melihatnya secara berbeda.

Aku akan “no hard feeling” jika aku tau seorang pria punya pikiran seperti itu kemudian ‘mencoretku’ dari daftar hatinya, malah jika aku mengetahui isi hatinya ini aku yang akan step back, tidak perlu rasa kasihan malah silahkan manjauh dengan teratur dan kembalilah jika sudah punya respek dengan orang-orang seperti kami walau jalan untuk bersatu sudah tertutup.

Jika aku bertanya, anggap saja kemungkinan 50%  aku akan terkena penyakit itu dan 50% tidak akan terkena penyakit tsb maka bagaimana sikapmu? Pilihan jawabannya mungkin tak banyak

  1. a.       It’s nothing for me ( Bisa ditambah kata-kata, aku sayang maka aku tak peduli, atau sejuta kalimat serupa lainnya )
  2. b.      Pikir-pikir dahulu dan akan sulit menjawab (need times to anwers)
  3. c.       No, Thanks (minggat, terbirit2, mundur teratur)

Jika jawabannya C, sayonara …

Jika jawabannya B, sayonara juga … apakah kita bisa hidup dengan orang yang ragu dan sempat dalam pikiran dan hatinya walau hanya sepersekian detik ragu untuk melangkah kedepan bersama kita? Tentu kita tak mau ada penyesalan atau hal ini menjadi kambing hitam suatu hari kelak.

Jika jawabannya A, Let’s step forward!

Kalau anda punya pikiran yang sama dengan ku, jangan sungkan untuk member alasannya, mungkin alasan kita berbeda.

Aku membuat tulisan ini dengan serius, aku mohon setiap reply dari teman-teman tidak ada unsur bercandanya, Aku menghormati orang-orang yang mungkin terkait/mengalami secara langsung situasi dan kondisi ini ntah sebagai pihak yang mana dan berharap kita mendapat pembelajaran dari kisahku ini.

Terimakasih sudah membacanya dan meresponnya

Mazmur 91 :  …. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu

Mazmur 23:4 : Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

 

===

Some comments :

1. Daurie – Desember kemarin…soulmate rie meninggal karena kanker otak, jam 5 sore harinya masih bercanda di telepon dan jam 21.30 dia kirim sms yg isinya, “kepalaku sakit, mungkin fisikku drop atau ajal yg mendekat”…dan 4 jam kemudian dia meninggal dunia…kanker adalah pembunuh dalam sunyi…

namun kita bisa meninggal dunia atas alasan dan sebab apa saja, tetangga depan rumah rie meninggal waktu tidur dan gak bangun lagi, ada kawan rie yg meninggal karena kecelakaan waktu menuju lokasi pernikahannya, ada yang meninggal tanpa harus ada penyakit atau sebab apapun…

almarhum bapak rie terkena stroke dan beliau meninggal bukan karena stroke, namun karena lambungnya pecah akibat gak kuat sama obat2an yg harus diminumnya kala sakit…justru ketika dia berhasil berjuang dari kelumpuhan dan bisa berjalan meski pakai tongkat…

menjalani hidup dan bersyukur, merasa nyaman atas apapun…gak ada hidup yg lebih baik daripada hidup dalam kenyataan, sesadis apapun…

tentang cinta, kawan…cinta itu bukan refleksi perasaan, cinta adalah kata kerja…mencintai artinya melakukan apapun untuk menghidupkan cinta agar terus bertumbuh dalam jiwa…

enak banget ngomongnya rie yah…hehehe….siapa bilang ?….hancur lebur juga ini jiwa….namun hidup harus diperjuangkan seperti yg yuliana tuliskan…so mari kita foto2 lagi….1 2 3 …pose…jepreeeettss…

2. Ajie – Bapakku sakit DM hingga ajal menjemput
dan istriku yg cerewet, menjagaku biar gulanya lebih terkontrol

itulah cinta

tfs yul, moga2 byk yg membaca postingan ini

3. Wisnu – kalo udah cinta, seberat apapun dijalani bersama, bener gak?





[Old Posting] Buku Diary – April 28, 2009 at 11:24pm

Sepulang dari kantor tadi saya mampir ke toko buku yang ada di Mall Ambasador, rencananya hendak membeli sebuah buku agenda, untuk keperluan pribadi berhubung sudah mulai pelupa *sigh*.

Ketika melihat-lihat rak yang penuh berisi buku agenda,memo dan sejenisnya,mata saya tertumpu pada sebuah notes ukuran sedang berwarna meriah. Isi lembaran demi lembaran  halaman didalamnya, background kertasnya juga tak kalah meriah warnanya.

Sesaat tadi, ingatan saya terlempar beberapa puluh tahun yang lalu, atau tepatnya masa-masa SD/SMP dahulu kala, di jaman Buku Diary booming di Jambi ( Ntahlah kalo juga ‘musim’ di kota-kota lain), Buku Diary disini bukanlah dalam pegertian sebenarnya tp ntah siapa yang menamai kegiatan ini sbg Buku Diary.

Buku Diary pada arti sebenarnya adalah sebuah buku yang berisi catatan-catatan dari Si empunya buku Diary, berisi kegiatan sehari-hari, puisi or anything yang konon selalu bersifat rahasia, sehingga sangatlah tidak sopan membaca/melihat/membuka Diary seseorang tanpa sepengetahuan pemiliknya. Nah kalo buku diary yang saya maksud pada tulisan ini justru buku diary tsb di edarkan oleh sang Empunya ke teman-temannya. Mulai bingung?

Buku Diary yang dimaksud tak lain dan tak bukan mirip account Friendster/Facebook masa kini, Buku Diary yang dimaksud diedarkan ke teman untuk diisi, hal-hal yang perlu diisi mencakup data pribadi Si Pengisi, termasuk zodiaknya, kata mutiara, pesan & kesan terhadap Si Empunya Diary dan tentu saja tak lupa menempelkan minimal 1 bh foto diri Si penulis, terakhir tanda tangan tentunya 😛

Semakin rapi tulisannya, semakin kreatif cara menuliskan kata-katanya, semakin keren foto yang ditempel, seberapa bayak halaman yang berhasil di tulis akan mencerminkan ‘pribadi’ si penulis. Tujuan dari buku Diary ini adalh sebagai buku kenangan, jika dimasa mendatang dibuka lagi maka masih bisa mengingat siapa-siapa aja teman jaman waktu itu.

Aktifitas melihat-lihat buku Diary orang lain yang sudah terisi (hampir) penuh juga sangat menarik, acapkali berharap menemukan ‘teman baru’ yang cute dr si pemilik buku Diary ^0^( ingat : ada fotonya ), Buku Diary ini tidak diisi di Sekolah, kudu bawa pulang supaya santai dan okay mengisinya. Celakanya adalah jika salah tulis, kudu di hapus pakai Tip Ex (bikin jelek) atau terpaksa kertas halaman tsb di jepret (biasanya kena marah sang empunya Diary karena kita sudah bikin ‘buruk rupa’ Diarynya)  dan tentu saja ‘kualitas’ halaman kita akan kurang diminati oleh penikmat buku Diary lain yang kebetulan dapat giliran menulis setelah kita, karena belum apa-apa, halaman yang memuat ttg kita sudah mengesankan jelek atau jorok.

So, Jaman itu tidak heran jika antar teman (almost all are Girl)  pamer2an soal seberapa cantik/manis/gayanya buku Diary yang mereka punya. Yang bersampul hardcopy, yang ada gemboknya, yang wangi, yang tebal & yang paling okay halaman personalnya! 😀 Demam foto studio juga booming, kan kudu pasang foto keren ^0^, punya pulpen warna warni dan glitter2 adalah sebuah keharusan, kalo perlu ada stiker-stiker yang lucu-lucu. Intinya jaman itu kalo gak punya buku Diary dianggap katrok dan gak gaul. Damn.

Berhubung Mama & aku adalah type orang yang gak tega main buang barang-barang, aku yakin Buku Diary jadulku masih ada disalah satu sudut rumahku di Jambi, ntah dimana. Selintas aku masih bisa ingat beberapa halaman dan foto yang diisi oleh temanku, Yakin 1000% gua bakal ngakak-ngakak jika menemukan dan membaca semuanya, lol.

Ah, techonology sudah amat sangat maju, now bisa dipastikan Buku Diary model gitu sudah gak ‘laku’ sudah ada FS/MP/FB yang gak bakal ada kejadian salah tulis (baca : ketik), bisa gonta ganti avatar tiap menit (kalo mau), kagak perlu diedarkan walau jaman FS boming beberapa tahun lalu masih ada adegan ‘nodong’ teman buat nulis tentang kita di wall kita. hahaha.

Artinya, masa ke masa sebenarnya dunia berputar-putar disini-sini aja kan? (ya iyalah, masa mau putar kesana kemari, nbrak dong) maksudnya kek yang dibilang ama Bible, tidak ada yang baru di muka bumi ini. Jika jaman dulu perlu aktualisasi diri, bersosialisasi, bernarsis ria melalui buku Diary, now melalui account- account  pertemanan yang sudah canggih2, hmm.. trus jangan kata masalah homoseksual baru boom beberapa tahun ini, jaman Lot sudah sudah ada *busyet, berapa ribu thn lalu ye?*

Maaf jika setelah membaca panjang lebar begini anda tidak menemukan sepenggal cerita penuh rahasia  dalam Buku Diaryku (dalam artian sebenarnya), karena memang bukan itu maksudnya. Hanya sedikit bernostalgila dengan pengalaman tempoedoloe dan hubungannya dengan Buku Diary masa kini (baca : facebook,dkk).

Saya kutip Kata Mutiara yang paling sering di tulis dalam buku Diary jaman itu :

“Jika ada sumur di ladang, boleh kita menumpang mandi, Jika ada umurku panjang, boleh kita berjumpa lagi” Oh yah… aku pengen banget bisa bertemu sama mereka semua 🙂 teman masa kecilku

Ada 1 lg yang aku lupa baris awalnya (ada yg bs bantu?) tp bagian terakhirnya bunyi begini :
” ….. Yuliana cantik siapa yang punya?” HAHUAHAUHA biasa yang nulis teman cowo, baru gua sadari cowo2 kecil jaman dulu itu pada minus matanya, LOL

Did you have a same experince like me? have a  norak “Diary Book”? It’s sweet memory, rite? ha ha ha.

YuTan