Trip to PEI [seri #2 tamat]

 

Bangga berpose dengan sertifikat Tip to Tip ^^

 

Holaaa!

Hutang tulisan lanjutan tentang trip ke Prince Edward Island [PEI] seri #2, untuk seri #1-nya bisa disimak disini 🙂

Setelah bahagia banget bisa nyampe di Westnya PEI lbh tepatnya di Nort Cape, hari terakhir di PEI kami rencanakan dengan menyusuri wilayah Timur dan berharap bisa nyampe di ujungnya dan melengkapi Tip to Tip kami dan boyong pulang sertifikat sebagai penjelajah yang sudah berhasil nyampe dari ujung ke ujung-nya pulau ini, wohooo…

Menurut gua, sepanjang perjalanan menyisir wilayah timur, pemandangan alamnya lebih seru untuk dinikmati dibandingkan yang sisi sebelah west. Atau mungkin juga karena cuaca di hari minggu itu lebih cemerlang, sunny bowww ^^Alhasil kami pun lumayan banyak berhenti di beberapa point view untuk sekedar mengabadikan moment perjalanan ini, langit biru… pantai… lighthouse… teman-teman… what a wonderful trip, right? gua sempat nyerocos saat liat hasil foto di camera “ Ini baru foto luar negeri “ suasana-nya sama dengan post card2 luar negeri yang pernah gua liat, hehe silly me!

Ohya, sebelum perjalanan ini di mulai sudah di info kalo kami bakalan berkunjung ke Bear Lighthouse dimana menjadi lighthouse pertama yang menangkap signal dari kapal legendaris Titanic saat mereka mengalami kecelakaan, menabrak gunung es. Tapi sungguh sedih karena sempitnya waktu dan harus ngepasin waktu keberangkatan kapal yang akan menyebrangi kami dari PEI ke Halifax, kami harus merelakan lokasi tersebut untuk dikunjungi di lain waktu ( another reason untuk come back ke PEI, hehe ). Tapi kesedihan itu berganti dengan sukacita karena berhasil mendapatkan sertifikat Tip to Tip :’) plus dapat bonus liat serigala liar hanya berjarak 3 meter, OMG!

Dihari yang sama kami juga melakukan short hiking di trail yang akan membawa kami melihat gurun pasir yang ciamik, menurut gua gurun pasirnya sih biasa saja walau agak aneh karena bisa ada begituan, tp alam disekelilingnya sungguh menakjubkan… bisa disimak di foto yang akan gua pasang ^^

Karena perjalanan ini sudah 2 bulan lebih, jadi sudah banyak detail yang terlupakan, moral of story : segeralah tulis perjalanan anda sebelum semuanya keburu pudar, jangan malas nulis kalo mau jadi blogger hehehe… sebagai gantinya, gua banyakin fotonya deh, hehe… ^^Silahkan disimak..

 

Berpose didepan Lighthouse berukuran mini 🙂

 

Berada diatas kapal yg akan membawa kami kembali ke Halifax 😀

Pancake terbesar yg pernah ku lihat --"

Ini gurun pasirnya, kerena yaaa... lokasinya terlihat lain drpd yg lain

wih my husband ^^

Seafood Chowder yang yuammyyyy buangettt ^^

Foto dan di foto, ini hasilnya ^^

See ya!

 





Trip to PEI [seri #1]

 

Pose didepan Charlottetwon Backpacker INN - PEI

Sekitar dua minggu yang lalu, gua bersama suami dan beberapa teman menghabiskan akhir pekan dengan jalan-jalan ke provinsi lain di Canada, yaitu Provinsi Prince Edward Island yang biasa disingkat PEI (baca : pi ai). Konon dari cerita orang-orang yang sudah pernah kesana, provinsi PEI dengan kotanya yang bernama Charlottetown adalah lokasi yang sepi sunyi dan berpenduduk sedikit (bayangkan pd thn 2006 penduduknya cuma 135ribu orang), pulau ataupun luas wilayahnya pun tidak gede-gede amat, makanya suka heran kok mereka bisa jd provinsi sendiri.

Walaupun sepi dan banyak perantau yang ogah menetap disana, toh ternyata informasi wisatanya sangat menggiurkan. Tak heran jika musim panas menjelang, provinsi ini banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara, siapa yang menolak jika diming-imingin makan lobster dan aneka seafood lainnya yang super fresh? atau ketika mengunjungi pantai baik yang ada di barat/utara pulau sampai daerah timur pulau mata selalu dimanjakan dengan alam yang asri? langit & laut biru membentang, bersih pula. Yang tak ketinggalan adalah objek wisata ke rumah/museum Anne of Green Gables, bakan pasangan Royal-pun akan berbulan madu kesana, konon Kate pembaca setia buku-buku seri Anne of Green Gables yang dikarang oleh Lucy Maud Montgomery. Kisah cerita ini fiktif adanya, namun lokasi dan penggambaran dalam buku-buku ini adalah nyata. Hingga tak heran para pembaca bukunya berbondong-bondong ingin melihat secara langsung, hal ini ditangani dengan baik oleh pemerintah sehingga bisa menjadi salah satu bahkan mungkin  tujuan utama para pelancong dolan ke PEI.

Kami melakukan perjalanan pada sore hari di hari Jumat, jarak antara Halifax – Charlottetown ditempuh dalam waktu 4 jam dengan menyebrang via jembatan yang panjangnya mencapai 12km, untuk sampai ke PEI melalui jalan darat ada 2 alternatif yaitu lewat jembatan atau memakai ferry, uniknya jika masuk ke pulau gratis maka keluarnya bayar hehe. Keluar melalui jembatan dipatok harga per mobil sekitar $40 sedangkan kl keluar via ferry sekitar $70/mobil. Berhubung perjalanan agak santai dan waktunya kagok dengan jam ferry maka kami memutuskan untuk nyebrang via jembatan, pas pulang saja baru nyoba naik ferry walau bayarnya kudu mahalan.

Sesampai di kota kami langsung berburu makan malam, sempat bingung mau makan apa karena jam sudah menunjukan pukul 8 malam, jam segini rata-rata restoran sudah tutup disana. Atas saran teman, kamipun makan di restoran chinese langganannya dulu, sempat protes karena jauh-jauh ke PEI kok makannya ya Chinese food? hehe tp karena tidak ada pilihan lain yang lebih menarik ya sudah sepakat untuk makan disana, ternyata makanannya boleh punya, semangkok seafood noodle dengan cumi segede gaban pun tandas, so yummy! Selesai makan kami pun check in ke hostel “Charlottetwon backpacker INN” 1 kamar berisi 3 buah ranjang bertingkat yang pas memuat kami ber-enam. Tempatnya bersih dan khas hostel-hostel dibelahan dunia lain, saat itu ada penghuni lain juga dari Korea, mereka tengah asyik makan lobster di dapurnya hostel, baunya kemana-mana bikin lapar lagi, hehe…

Setelah taruh barang dan tur singkat dalam hostel (ngecek kamar mandi,dapur,dll) kamipun memutuskan mencari udara malam, sayang amatkan kalo langsung dekam dikamar, dengan berjalan kaki kami coba menangkap keindahan kota dengan bangunan-bangunan tua khas kota-kota di daerah timur di canada sini, kami juga mendatangi waterfront mereka yang tampak lebih kecil drpd waterfront di Halifax. Acara foto-foto narsispun dimulai, karena cukup capek diperjalanan tadi kamipun langsung pulang tanpa pengen nyoba nachos dan denger live music disalah satu resto bule di waterfront. Mending tidur dan siapkan energy untuk perjalanan yang ckp panjang jg besok dengan menjelajahi bagian utara/barat pulau PEI. Ughh.. lama ga tidur dikasur bertingkat rasanya nikmat, apalagi beramai-ramai… bunyi dengkur yang saut-sautan bahkan bergantian pun mengiringi gua terbang ke mimpi buat makan lobster dan butter cair!

Esok harinya kami sarapan di Hostel, roti panggang dengan aneka selai serta cake coklat buatan salah satu pegawai hostel, karena namanya hostel ya artinya selesai makan kudu cuci piring sendiri. tanpa banyak buang waktu kami sempatkan juga mampir ke Farmer Market yang cuma buka setiap hari Sabtu atas info pemilik Hostel yang kami temui semalam. Suasananya beda dengan farmer market di Halifax, mungkin karena tdk terbiasa, tapi justru jd menarik. Kami mencoba sedikit jajanan disana berupa sosis dan bacon, wah maknyus… baru kali pertama saya lihat dan nyicip bacon setebal itu, rasanya sungguh sip sip markosip. Luas farmer market yg tdk begitu besar tidak makan waktu lama untuk mengitarinya, disayup2i dengan bau sausage dr panggangan stand yang menjual hotdog bikin betah deh, namun perjalanan masih panjang, yuk capcups!

Hari Sabtu tsb, PEI diguyur hujan gerimis yang lama, langitpun kelam bikin semangat untuk motretpun redup seketika. Namanya tukang molor, gua kalo gak ngemil ya tertidur pulas dimobil haha… supaya tau-tau pas bangun sudah sampai, horey… sempat kami nekat turun dr mobil ketika nemu spot yang ciamik, tapi angin yang menderu dan dingin yang merasuk ketulang terpaksa membuat kami tidak pernah lebih dari 10 menit di satu lokasi, asal lumayan sudah mengabadikan diri dgn latar belakang yang dasyat sudah cukup. Sebelum tancap gas ke ujung utara barat kami mampir ke Green Gables, ga lengkap rasanya dan bakal menyesal nampaknya kalo sampai tidak mengunjungi Anne hahah #lebay. Untuk masuk dan menikmati semua suguhan disana kami kudu bayar karcis seharga $ 12/orang. Awalnya disuguhi film singkat tentang latar belakangnya supaya non pembaca dapat memakluminya, kemudian kita bebas untuk masuk ke lokasi gudang,rumah & hutan kecil dibelakang rumah Anne, semua perkakas dalam rumah tsb tersusun rapi, karena bukunya ditulis diawal 1900 maka byk barang jadulnya, interior rumahpun bersuasana tahun tsb.

Ternyata Anne adalah gadis berambut merah yang dikepang dua dan suka pake topi jerami, ciri khasnya ini tertuang dalam semua suvenir dan cinderamata yang dapat dibeli di gift shop (belakangan saya tau kl di kotapun byk dijual aneka barang bertemakan si Anne, termasuk sebuah toko coklat yang naasnya cuma bisa ditatap karena dipagi hari belum buka dan dimalam hari saat kami kmb ke kota, tokonya sudah tutup). Yang ga baca bukunya mungkin heran, kenapa juga kudu bela-belain ngeliat beginian doang, tp gua cukup mengerti karena sebagai penggemar Laura Ingals Wilder, guapun bertekad dan bermimpi suatu saat nanti bisa ke San Fransisco dan ke museum dimana banyak barang-barang Laura yang bisa dilihat.

Sehabis dari Anne of Gables, saatnya makan Lobster yang termasyur itu. namanya di Atlantic atau tinggal dibagian timur Canada, sebenarnya gak asing-asing banget kalo cuma mau makan Lobster, tapi ya namanya kemakan sama promosi dan cerita-cerita dari pelancong sebelumnya, acara makan lobster ini harus di lebay-lebayin hehe..  Yang lain sibuk pesan makanan ini dan itu, gua sudah memantapkan hati akan makan Lobster SEEKOR hehe… paket yang kupilih seharga $30.50 sudah termasuk Lobster 1lbs + Kerang + Sop seafood (chawder)  + salad bar + dessert + secangkir kopi, puas buanget kan?! Cara makannya juga seru karena dikasih celemek plastik spy saat ngutak ngatik lobster ga bikin kotor baju 🙂 tak ketinggalan sebuah ember kaleng untuk kulit lobster, makan lobsternya cuma dicelupin ke butter  cair, makk makk… mertua lewat juga sudah kagak disapa nih hehe… so yang dolan ke PEI kudu nyoba makan lobster di resto yg namanya LOBSTER SUPPER!

Oh ya sedikit info, Lobster segede kira2 1 lbs atau 454grams membutuh waktu hidup sekitar 10-12 tahun, ck .. ck… lama amat ya… di resto dipajang fosil sebuah Lobster berukuran raksasa seberat 20kg yang konon katanya berumur 40 thn *pingsan* lobster berumur 2 thn saja ternyata hanya sepanjang telunjuk orang dewasa. Ya nasibmulah Lobster… hidup segitu lama cuma untuk ditandaskan gua dalam waktu kurang dari 30 menit *heningkan cipta untuk Lobster yg sudah mengorbankan dirinya dgn mulia untuk masuk perut gua*

Saat kami sampai di ujung utara barat kota PEI, nyaris ingin menyerah saja karen angin dan dingin yang mencekam, namun setelah menenangkan diri di lagi-lagi gift shop di sana, kamipun (minus 2 petualang yang lebih rela duduk manis didalam mobil menanti kami ber-empat sang pemburu angin hehe) menjelajah tepi pantai yang luar biasa indah, yang bikin lokasi ini menarik karena banyaknya kincir angin modern yg dibuat untuk wind energy. Syukur matahari sempat muncul sesaat *nyegir lebar selebar-lebarnya*. Di lokasi ini kamipun meminta pita sebagai tanda kalo kami sudah berhasil sampai ke ujung sini, jadi kalo besok berhasil nyampe ujung satunya lg disebelah timur maka kami akan mendapatkan sertifikat “Tip to Tip” kerenkan….? serasa sertifikatnya bisa ditukar dengan duit $1000 hehe…

Pulang dari Nort Cape kami tiba lagi-lagi disaat hari sudah malam di Charlottetown, kami pun kembali bingung hendak makan apa, rasanya kok gak minat ya kalo kudu makan makanan bule lagi? hmm.. tp masa iya makan di Noodle House lagi sih? hahaha… setelah debat cukup panjang kami putuskan nyoba Korean atau Vietname food (lupa) namun sesampai didepan resto, kok sepi sih? seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan? sepertinya tidak enak nih resto makanya sepi, bahkan saat kami menerawang kedalam resto, pajangan nuansa natal (pohon natal gituh) masih apik didalam resto, Hiii… ogah ah… ngacir dan kembali kami mendarat di Noodle house, si restoran China, haha.. kali ini pesan makanan buat dimakan beramai-ramai, sang pemilik restopun tersenyum simpul.

Demi meratakan perut yang nyembul karena kekeyangan, eh sebenarnya gak maksud meratakan sih .. lah wong pake mobil ya jalannya hehe… bukan karena malas tapi karena dinginnnnn kami mampir ke Starbuck, tadinya pengen makan es krim COW yang ternyata asalnya dr PEI, tapi apa daya tokonya juga sudah tutup, duh PEI… buru-buru tutup toko pada mau ngapain sih? hehe… Maka usailah sudah perjalanan kami sepanjang hari itu, dari pagi hingga malam sungguh berkesan. Nantikan cerita keesokan harinya di PEI pd tayangan berikutnya. Saya mau siap-siap jalan lagi ke Toronto! 🙂

 

Yuliana Tan