Sintingers go to Collins Inlets

Disclaimer :

1. Postingan ini memuat tulisan yang cukup panjang, jika anda hanya punya sedikit waktu, mending kembali saat punya waktu lebih banyak.

2. Postingan ini memuat banyak adegan yang agak jijay, hindari membaca ketika sedang ngemil atau ngemut.

3. Sudah gua peringatkan ya, jadi jangan salahkan hamba, hehe.

================================================

Sebutan Sintingers diprakarsai oleh Om Jeha yang juga sekaligus adalah Team lead trip ke Collins Inlets ini ( Auguts 10-12, 2012). Julukan sintingers ini ditujukan kepada kami kami semua peserta Collins Inlets yang total berjumlah 14 orang. Para Sintingers yang pada hari-hari menjelang keberangkatan walau forecast cuaca amburadul gak karu-karuan, memutuskan untuk tetap pergi. Ya, tetap pergi seolah-olah tidak ada hari lain atau seolah-olah Collins Inlets bakal musna dari muka bumi ini.

Bagaimana tidak sinting? Keberangkatan direncanakan pada hari Jumat pagi dan kembali hari Minggu. Prakiraan cuaca hari Jumat dari pagi hingga sehari penuh adalah mendung hujan bangsa 20mm dan akan berlanjut terus hingga Sabtu dengan guntur disana sini. Cuaca hari Minggu membaik namun tidak akan sebaik hari Senin dan hari-hari berikutnya.

Singkat kata, perjalanan ini akan sia-sia belaka. Bayangkan jika harus bangun subuh di hari Jumat dengan hujan lebat menyetir selama 5 jam, dipastikan sampai dilokasi akan tetap hujan dan dalam kondisi seperti itu membangun, tidur dan bongkar tenda adalah pekerjaan paling amat sangat tidak menyenangkan yang pernah ada dimuka bumi ini. Percayalah!

Belum lagi target kami sebenarnya adalah Collins Inlets, dimana untuk mencapai lokasi ini diperlukan 1 jam perjalanan menggunakan Canoe, Dalam 1 jam perjalanan tersebut kami harus melewati sebuah wilayah yang terbuka cukup luas selama kurang lebih 15 menit dan ombak biasanya cukup tinggi di wilayah tersebut, belum ditambah dengan speed boat yang sesekali berseliweran dan menimbulkan ombak yang cukup besar bergelombang dan sanggup membalikan canoe.

Jadi, ketika H minus 1 prakiraan cuaca belum berubah membaik, Om Jeha kemudian membuat plan A, Plan B dan bahkan Plan C. Satu persatu peserta yang tadinya berjumlah 19 orang bertumbangan hingga hanya menjadi 14 sintingers, 5 yang mengundurkan diri di detik-detik terakhir ternyata tidak cukup sinting, mereka memilih untuk golak golek di kasur empuk nan hangat, sebuah keputusan yang sangat menarik tentunya dan akan dipilih orang waras manapun.

Day 1

Rencana semula untuk bertemu di rest area pada pukul 06.30 akhirnya diundur hingga kira-kira dua jam kemudian, karena no point untuk berangkat pagi-pagi karena bisa dipastikan kami tidak akan langsung menyebrang ke Collins namun perlu menginap 1 malam di George Lake dikarenakan ombak yang katanya mencapai dua sampai tiga meter di hari tersebut.

Setelah semua peserta komplit dengan 4 buah mobil bertemu di rest area, kami pun langsung tancap gas untuk mampir ke toko kopi nan termasyur di Kanada, apalagi kalo bukan Tim Horton. Beramai-ramailah kami kemudian memborbardir toilet di Timmys namun tak lupa pula jajan kopi ataupun susu cokelatnya. Ada insiden kecil terjadi disini yang gua tau belakangan, salah satu peserta ketinggalan sandal jepitnya di parkiran Tim Horton, alamak! Jangan tanya gua kenapa bisa, gua juga gagal paham soalnya, haha.

Awi didaulat untuk menyetir mobil kami, Hadi duduk disampingnya dan gua sendiri dibelakang. Setelah sesekali memainkan iPhone, rasa kantuk datang menyerang. Sayup-sayup mendengar mereka bercakap-cakap soal perkomputeran dan topik ini terus bergulir sampai kami tiba di lokasi yang memakan waktu kurang lebih 5 jam tadi.

Welcome... ^^ Serem aja Sign-nya πŸ˜€

Sebenarnya cuaca selama perjalanan semakin membaik, nampak sedikit terik di langit walau tanpa matahari, beda sekali dengan ketika masih di Toronto, awan gelap dan hujan mengguyur. Setelah membereskan administrasi car camping di Office Park, kami segera menuju lokasi campground dan bersiap membangun tenda. Gua dan hadi memutuskan untuk tidur saja di mobil malam itu daripada harus membangun tenda dan membongkarnya keesokan hari dengan kondisi basah dan becek.

Hujan-hujannya ^^

Setelah merampungkan makan siang buat sebagian peserta yang tidak sempat makan di mobil selama perjalanan, sebagian besar rombongan langsung mengambil ancang-ancang. Mau lomba lari? bukan. Ada yang bersiap mancing, bersiap motret, bersiap nontonin yang mancing dan motret. Haha. Sayang acara mancing dan motret hanya bisa berlangsung kurang dari 2 jam karena hujan yang tadinya rintik-rintik kemudian menjadi besar-besar segede biji jagung.

Ada di ‘pedalaman’ dengan cuaca mendung dan hujan, apalagi yang asyik selain tidur dan makan? Ya, itulah yang gua lakukan πŸ™‚ Tidur-tidur ayam kemudian bangun untuk menyantap nasi dengan lauk ayam goreng kuning, tempe bacem dan sayur asem buatan tante Cecile. Gaya makan darurat karena terpal yang dipasang hanya cukup untuk menaungi kira-kira 10 orang saja.

Karena judulnya mau interior camping maka untuk acara makan setiap peserta membawa mangkuk atau kontainer makan berbahan plastik/seng yang kemudian dicuci supaya bisa dipakai lagi. Tidak memungkinkan bagi kami untukΒ  membawa piring kertas seperti yang biasa dilakukan kalo car camping atau piknik, tidak perlu cuci-cuci tinggal buang saja. Karena setiap sampah yang ada selama interior kudu dibawa pulang kembali, duh bisa berapa banyak sampah yang akan dihasilkan 14 orang kan?

Malam itu tempat makan gua dan Hadi di cuci pake air hujan, air yang terkumpul di terpal di tampung di kontainer, aduk2 dan tralala… bersih deh, tinggal di lap kering. Jorok ya? Hihihi. Selesai makan, Gua, Awi, Tante Cecile dan Om JeHa main kartu truf, pernah main game ini tapi sudah lupa-lupa ingat, jadi perlu di refresh kembali. Mereka yang sudah jago-jago tentu senang mendapat lawan main nan dodol seperti gua, hehe… kalah maning kalah maning. namun malam itu ternyata yang kalah adalah Om JeHa, semua terjadi karena ybs nekat ngebit 0 dan kemudian ‘dihajar’ beramai-ramai oleh kami πŸ™‚

Selesai main 1 set game. Gua dan Hadi ke tempat permandian. Toilet dan tempat mandi di George Lake cukup banyak dan bersih. Membuat acara car camping hari tersebut menjadi sedikit lebih mudah. Air hangat yang deras mengucur memberikan rasa relax tersendiri. Apahal? karena kami pernah merasakan camping dengan air mandi yang sedingin es, tubuh serasa di silet-silet. Pernah juga mengalami yang namanya mandi kudu masukin duit receh, tiap 2 menit mati airnya dan kudu masukin lagi, duileh… mandi paling terburu-buru & rempong saat itu.

Tubuh bersih dan suasana sudah gelap gulita, hanya tampak campsite tetangga yang sudah menyalakan api di fire pit. Kok bisa? kan basah? Bisa, karena mereka memasang terpal yang lebar dan lagi mereka pake trailer, mungkin kayu bakarnya tidak sampai basah begitu juga fire pitnya. Duh nyamannya melihat mereka dalam suasana hujan duduk melingkar di meja segi empat dengan api menyala-nyala disampingnya. Sementara gua dan hadi bersiap mengambil posisi masing-masing.

Mau ngapain Yul? ancang-ancang ambil posisi? Mau tidur nyong… kan mau tidur di mobil malam itu? kursi depan kami turunkan kebelakang, sleeping bag di siapkan, kaca diturunkan sedikit supay nggak tau-tau sudah kaku aja berduaan didalam mobil. Malam itu hujan bukannya makin reda tapi makin deras, turun terus hingga esok pagi. Hadi katanya bisa tidur dengan pulas. Gua? cukup terbangun bangsa 5x sahaja. Yang kedinginan lah ( awalnya gak pake sleeping bag karena efek air panas sewaktu mandi ), yang kesemutanlah, yang mimpilah. Tapi walau kebangun-bangun seperti itu, Puji Tuhan paginya nggak jadi zombie.

Day 2

Bubur Ayam ala Tante Cecile

Sabtu pagi ketika gua bangun sekitar jam 7 pagi. Hujan sudah berhenti total. Bubur ayam buatan Om Jeha dan tante Cecile sudah memanggil-manggil. Bubur dimakan dengan irisan cakwe, duh sedapnya. Hari kedua adalah hari babak penentuan, Apakah akhirnya kami bisa menyeberang ke Collins Inlets, atau harus car camping lagi, atau paling parah harus pulang hari itu juga karena kemungkinan untuk mendapatkan free campsite di weekend agak mustahil. Benar saja, semua campsite di George Lake untuk weekend tsb sudah fully booked, kalo mau kami menjadi cadangan dan akan diberi kabar siang harinya apabila ada yang cancel.

Photo by Awi

Harapan kami satu-satunya dan tentu menjadi harapan utama kami adalah ombak di Georgian Bay sudah bersahabat hingga kami bisa mencapai lokasi utama kami. Tidak ada pilihan berarti selain mencoba mengarunginya, toh prakiraan cuaca menyatakan ombak tidak tinggi dan kondusif untuk diarungi. Setelah meluncurkan Tante Cecile, Joshua dan Devin, rombongan berikutnya satu persatu ikut meluncur. Kami tidak mendapati rintangan berarti selama perjalanan dari Chikanising ke Crown Land dimana kami bermalam pada hari kedua. Sebelum sampai pada area terbuka, kami melewati semacam muara yang somehow mengingatkan gua akan perjalanan-perjalanan selama tugas kantor di pedalaman Kalimantan Tengah beberapa tahun yang lalu. Lebar muara sekitar 5 meter dengan semak/tanaman di sepanjang kiri kanan muara, airnya tenang. Hanya saja yang ini katanya tidak ada buaya sedang yang di KalTeng ada.

Selama kurang lebih satu jam mendayung, kami sampai di pulau tak berpenghuni, hmm… sebenarnya ada sih penghuni lain, nampak ‘jejak’nya disana sini.Β  Jejak kaki Yul? Bukan sayangnya… tapi ‘ranjau-ranjau’ disana sini dengan bentuk dan tipe serupa. Kami, terutama gua dan hadi kemudian menebak-nebak, tokai siapakah ini? manusia kah? binatangkah? kalo binatang, binatang apakah? paling sedikit kami menjumpai 3 tumpukan ‘ranjau’ dilokasi yang tidak terlalu berjauhan. Huh, ilfeel deh ih…

Sampai tulisan ini dibuat kami belum menemukan kata sepakat, tokai siapakah itu? Hadi cenderung menganggap itu tokai burung. Gua tentu menolak keras karena burung jenis apa yang tokainya bisa segede-gede kelingking orang dewasa? Sepertinya e ek anjing? mungkin ada yang bawa anjingnya jalan-jalan dan mengkhususkan pulau ini sebagai toiletnya si anjing. Hadi menolak teori anjing ini! Jadi begitulah, kami belum tahu ‘ranjau’ siapakah itu.

Ketika turun dari canoe, sudah dikasih tau jangan injak batu yang basah karena super licin. Tapi apa daya, gua dan Devin harus memberi salam cium ala lutut ke batu ketika berusaha turun dari Canoe. Gua sih gak sampai kenapa-napa. Si Devin ampe biru tulang keringnya. Ketika hal ini disampaikan ke Papanya beberapa hari kemudian, mau tau apa komentar sang Papa? “Yah, namanya juga matanya di kaki bukan di dengkul” Bwahaha… ini Papa nyeleneh ya… Kita pecat aja apa sebagai Papa? LOL

Hotel bintang 5 atau cottage manapun lewatlah... πŸ™‚

Hal pertama yang kami lakukan kemudian adalah pasang tenda. Sebagain besar terutama Om JeHa dan Tante cecile sudah berkali-kali ke pulau ini, sehingga mereka sudah punya spot special aka spot langganan. Tempatnya sangat strategis, dibawah cekukan tanah agak landai dan rata dibawah pohon pinus (?) cocok sekali buat yang ingin mojok, nah loh? GUa & Hadi yang plengak plengok akhirnya memutuskan untuk membangun tenda kami di spot paling tinggi daripada semua spot yang sudah diambil para peserta. Agak dekat ke tepi air di samping pohon pinus dengan alas yang mayoritas adalah batu. Terpaksa tenda di ikat ke batu dengan harapan tenda beserta isi-isinya tidak terbawa angin, hehe.

Siang itu, kami makan sandwich ala Cik Ayrini. ada cold pork & beef dengan olesan mayonaise dan berbagai macam sayur mayur serta tak ketinggalan keju lembaran. Hmm… simple dan nikmat, gak perlu pake acara cuci-cuci piring, hehe. Abis makan terus ngapain Yul? apalagi kalo bukan pada mancing dan motret? Setelah wara wiri dan lesehan di batu karang, rasa kantuk kembali menyerang. Kali ini tidur siang dilakukan berdua dan konon katanya aku ngorok. Mungkin efek tidur kagak puas didalam mobil hingga membuat tidur siang hari kedua tersebut yang dilakukan didalam tenda 3 season serasa tidur di kasur nan empuk.

Karena ini pulau tak berpenghuni maka tidak ada namanya toilet, atas kesepakatan bersama kami menunjuk sebuah area yang agak jauh dari semua tenda sebagai area buang hajat. Dengan antisipasi yang cukup matang untuk menghadapi situasi ini, jauh-jauh hari kami sudah menyiapkan ember beserta centongnya untuk cebok, se-pak gede tissue basah & tissue gulung. Ntah karena sudah lama tidak pernah lagi pipis ditempat terbuka atau karena bawaan tinggal di negeri asing, adegan pipis sambil baca mantra tidak gua lakukan. Dulu sekali, jaman masih pake celana kotok wara wiri tanpa rasa malu, saat kebelet dan harus pipis di tempat umum, maka gua akan bermantra ria “nenek numpang kencing, kakek numpang kencing” Yang ketawa karena melakukan hal yang sama, silahkan tertawa yang lebar, yang tertawa karena merasa gua tolol, silahkan blame my mom, dia yang ajarin, hohoho.

Tidur siang dilakukan juga dengan harapan supaya malamnya tidak ngantuk, berharap nanti malam bisa nonton perseid meteor. Apa daya dengan awan tebal, adegan nonton bintang jatuhpun buyar. mereka-mereka yang memasang weker jam 2am dan jam 4am harus kembali lanjut tidur. Sore itu para pemancing kita mendapat cukup banyak ikan, mulai dari yang ukuran cukup besar, sedang hingga kecil. Yang kecil-kecil dan masih bugar dikembalikan ke alam, berharap mereka tumbuh besar dan bisa ditangkap tahun depan.

Namanya anak-anak yang besar di Kanada, adalah hal yang fantastis bagi mereka melihat wujud ikan seutuhnya, apalagi yang masih mengelapar2. Beberapa waktu waktu piknik di Belwood, ada seorang anak yang akhirnya merengek pada mamanya untuk dibelikan ikan hidup. Saat ikan hasil pancingan disembelih, dia tak henti menatap dengan rasa ingin tahu. beberapa waktu lalu juga pernah dengar cerita, ada anak yang mengira kalo telur ayam itu tumbuh di pohon. Gak heran sih, hari-hari mereka melihat ikan sudah dalam bentuk fillet. Bule dewasa aja geli geli ogah kalo diajak makan ikan yang masih ada kepalanya.

Nah sore itu saat ikan hasil tangkapan akan dibersihkan, tentu ikan-ikan yang masih fresh dan hidup tersebut perlu dimatikan dahulu. Sebuah proses yang bikin gak tega sebenarnya. Awi sang pakar perikanan malakukan teknik dengan memukul kepala ikan dengan alat potong ikannya, ketok satu dua kali ikannya sudah diam. Berikutnya di gorok dan dibuang semua isi perut serta insangnya, cuci cuci sebentar kemudian sisiknya di bersihkan juga. Karena jumlah ikan ada belasan maka secara sukarela satu dua peserta yang masih masuk golongan pre-teen pun membantu. Mau tau cara mereka mematikan para ikan? Teknik pertama, ikan di pegang mendekat ke ekornya, area kepala kemudian di hantamkan ke batu karang. Ntah licin ntah gak kuat hantamnya, tuh ikan mati susah hidup apalagi. Merasa teknik pertama kurang cespleng, maka dilancarkan teknik ke dua. Ikan dibaringkan di batu, dipegang supaya gak menggelepar2 dan kemudian kepalanya dihantam pake batu, berkali-kalii sampe ikannya menyerah. Kalo ikannya bisa ngomong mungkin ikannya akan nyanyi lagu Killing me softly.

Ikan-ikan ini pun kemudian di beri garam dan di goreng hingga garing. Hingga malam sudah larut ternyata ikan sisa 2 ekor, yang terpaksa dihabiskan oleh pasutri Hilwan. Gua tentu saja tidak makan. Kenapa? Masih terbayang-bayang kail di mulut ikan yang masih ada cacingnya, Hiiii… jijay!

Day 3

Dimanapun, kapanpun, makanya tetap Indomie Seleraku....

Tidur malam kedua nyenyak hingga keesokan harinya, rada kesiangan sebenarnya. Sarapan pagi hari ke 3 adalah oatmeal dengan dry fruit. Tapi ntah kenapa saat gua beranjak ke area makan, Cik Ayrini dan Tante Cecile sedang memasak Indomie goreng. Walhasil gua jadi ikut ngantri dengan harap-harap cemas, hehe. Singkat kata kebagian juga itu Indomie, Jadi deh sepiring berdua. Berhubung kami harus pulang hari itu juga, maka Hadi bersiap merapikan tenda sedang yang lain kembali beraktifitas karena mereka memutuskan untuk stay 1 malam lagi di Collins Inlets.

Kendaraan kami menuju Collins Inlets

Pagi itu masih sempat memotret disekitar island, hanya saja awan masih cukup tebal sehingga matahari tidak terbuka dengan sempurna, alhasil kontras cahaya sangat tinggi, begitu matahari terbuka dan memapar batu karang, langsung deh jeprat jepret. Suasana pagi hari di pulau tak berpenghuni selalu mengasyikan. Tenang, syahdu, sejauh yang dapat didengar hanyalah suara deburan air yang memecah batu karang, suara-suara dari bebek dan burung serta sesekali lengkingan dari arah rombongan yang memancing, ah pasti salah satu ikan telah terjerat ke kail mereka.

Tempat yang asyik untuk menenangkan diri, halah! πŸ˜€

Ketika duduk berdiam diri di tepi batu karang dan menikmati suara deburan airnya, ntah kenapa seolah-olah tiap deburan ombak tersebut seperti saling berbicara, kadang terkesan mereka bersahut2an, kadang hanya berupa bisik2 kecil saja tapi acapkali saling bersahut2an hingga ingin rasanya nimbrung dan bilang “Diam… diammm ngomongnya giliran aja” πŸ™‚

Salah satu kendala yang ditakuti oleh orang-orang ketika diajak interior camping adalah masalah buang hajat. Dikarena tidak ada toilet maka adegan pembuangan harus terjadi di alam terbuka dengan fasilitas minim semacam skop untuk menggali & menimbun hasil buangan. Gua sudah juah-jauh hari mengantisipasi dengan menanamkan self confident bahwa gua akan berusaha dan memastikan ketika sedang di pulau tidak akan memenuhi panggilan alam tersebut.

Beberapa tahun lalu sebenarnya gua sudah pernah melakukan trip yang serupa. Kala itu bersama beberapa teman backpacker bercamping ria di beberapa pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu. Kala itu tidak seseram ini karena percaya kami masih bisa mampir ke pulau berpenghuni dan akan mudah mendapatkan toilet. Dikarenakan saat itu campingnya berhari-hari maka ada juga kejadian ketika alam sudah memanggil2 dan perasaan lega karena akan mampir kesebuah pulau pribadi yang punya fasilitas villa, tentu harapannya kami boleh menumpang. Apa boleh buat ketika sudah sampai kami tidak diijinkan untuk memakai toilet, duh biyung… rasanya muka sudah pucat, kuning, hijau, balik pucat lagi. Walhasil ketika kembali ke Pulau Pramuka, habislah rumah seorang warga gua bombardir, LOL

Maka pada trip ini gua nggak terlalu khawatir, apalagi cuma semalam. Namun lagi-lagi kita tidak boleh terlalu over confident sama alam. Nyatanya pagi itu perut rasanya sudah geli-geli, antara iya dan tidak. Melihat gejala-gejala yang lebih ke iya ( mungkin begitu rasanya kontraksi mau melahirkan, hehe ) gua putuskan dengan berani untuk melakukannya di pulau ini, biar lengkap deh misi kali ini, begitu harapannya πŸ™‚ Dengan agak malu-malu kucing, suami gua tugaskan untuk meminjam skop, hehe.

Bermodalkan skop, air seember berserta centong, tissue basah & kering, gua pun menuju area pembuangan. Hadi kemudian memberi sedikit tip dan triks sebelum ia kemudian berbalik dan berjaga-jaga disekitar, jangan sampai gua lagi asyik-asyik berbisnis eh ada yang lewat, haha. Sejenak gua berdiri menatap alam sekitar, rata-rata adalah bebatuan, gimana nyekopnya nih? melihat gua plengak plengok, Dari kejauhan suami teriak “Cepetan, gak usah pikir lama-lama” Duhileh, gimana gak pake mikir kalo lokasinya aja belum nemu yang pas. Ada kali kira-kira 10 menit mondar mandir, liat sana sini, termenung, otak berputar memikirkan cara, mengumpulkan segenap tenaga dan keberanian, yang akhirnya anti klimak. Panggilan alam tersebut akhirnya hilang, tak berbekas, hehe… hore!

Pas balik dengan lempeng bilang ke penjaga “Nggak jadi, sudah nggak pengen” bwahahaha… πŸ˜€ Dari 14 sintingers yang ada, gua rasa gua the most sintinger! KArena satu bulan sebelumnya gua sudah tau kalo hari-hari pas camping ini gua akan kedatangan tamu bulanan. Suami sudah bilang untuk batalin aja kalo tidak nyaman, dia lupa punya istri auban/nut shell/kepala batu. Sudah bilang mau ikut masa batal gara2 beginian? Jadi memang betul-betul terjadi sesuai prediksi, untungnya tidak ada adegan kram perut. Gimana? apa saya layak menyandang title The Most Sintingers?

Adegan paling epic selama interior camping adalah menyaksikan orang-orang yang baru selesai buang hajat. Rata-rata bermuka lempeng (baca : Lega plus malu-malu kucing) & tangan mengenggam sekop. Kalo di videokan dan di slow motion terus digabungkan adegan beberapa orang, pasti seperti teaser film-film perang, ketika jagoan pulang dari medan peperangan. Ekspresi mukanya adalah bangga karena berhasil menang namun juga sedih karena banyak teman-temannya yang gugur, Hahaha EPIC!

Ketika hari sudah menjelang siang, gua, Hadi, Adhi dan Ian sebagai rombongan yang akan kembali ke kehidupan normal, bersiap kembali untuk mengarungi Georgian Bay. Secanoe berempat dan dilepas oleh sang Team Lead. 20 menit perjalanan semua berjalan dengan lancar bahkan terhitung cepat, memang beda kalo yang dayung anak muda, wahaha… Ketika mendekati area terbuka untuk kembali masuk ke muara, kami sempat ‘tersesat’ mengira bahwa kami sudah sampai pada muara yang akan membawa kami ke ‘pelabuhan’, alhasil kembali dayung rada ketengah.

Siang itu ombak tidak besar, menurut prakiraan cuaca hanya 0,3 meter. Sesaat gua melihat ada sebuah speed boat yang melintas namun gua gak memperhatikan ombak yang datang, kami semua tepatnya tidak siap dengan ombak bergelombang yang datang tiba2. Pertama menyadari kehadiran ombak tersebut gua berusaha tidak berteriak, tidak ingin membuat panik yang lain, tapi begitu Ian (kalo gak salah) berteriak maka gua dengan berbekal training sebelum2nya cuma bisa bilang it’s okay, dayung terus dan berusaha mendayung dengan sepenuh hati ( Iya ngaku, sebelumnya gak sepenuh hati… biarkan tiga pria2 ini mendayung hahaha ).

Busyet deh ya tu gelombang ombak, membuat canoe kami terayun-ayun. Untung posisi canoe tidak sejajar dengan ombak sehingga kami tidak terdorong atau terhempas. Lepas dari kekagetan karena ombak pertama tadi, kami kembali mendapat gelombang ombak berikutnya dari speed boat yang lain. Berhubung kali ini lebih waspada, tidak ada lagi teriakan histeris, hanya semua siaga mendayung dengan sepenuh hati. Berharap cepat-cepat untuk sampai ke muara hingga tak perlu lagi berjumpa dengan para speed boat.

Ketika akhirnya berhasil masuk ke muara, perjuangan kami belumlah selesai. Setidaknya 2 kali canoe menerobos semak di sisi kiri canoe. Ranting2 pohon harus ditahan dengan tangan agar tidak ngejepret ke muka. Karena hal inilah maka saat menjelang turun dari canoe gua melihat ada ulet ijo meliuk-liuk di backpacknya Adhi. Dengan gaya tante-tante penuh perhatian gua memberitahu kalo ada ulet di tas mereka. Apa hendak dikata kalo beberapa saat kemudian gua mendapati juga dua ekor ulat di celana gua. Damn.

Fish & Chip! Yummy!!! $14/porsi Mehong!

Setelah kembali ke George Lake, rasanya lega sekali. Bermodal year passnya Awi. Gua dan Hadi masuk kembali ke campsite untuk menumpang mandi dan bersih-bersih. Adhi dan Ian segera menuju ke Killarney Outfitter untuk mengembalikan PFD dan paddle sebelumnya kami say goodbye di Chikanising. Selesai mandi, kami menuju ke Fish & Chip yang termasyur untuk lunch. Ikannya fresh, lokasinya asyik buat santai-santai. Cocok buat orang yang habis paddling kurang lebih sejam untuk kembali mengisi tenaga sebelum melanjutkan perjalanan selama 4 jam-an.

Walau cuaca tidak mendukung, namun secara keseluruhan camping kali ini menarik. Kasur di kamar terasa lebih empuk 20x lipat πŸ™‚ Walau cuma semalam, paling tidak gua sudah boleh mengclaim pernah interior camping di Kanada, Yes!

Lucu yaaaaa πŸ™‚

Terimakasih untuk rekan-rekan yang ikut serta, trip ini tidak akan berkesan tanpa kalian, cieeee ileeehhh… ^^ Terimakasih juga sudah dimasakin dan siapain makan selama 3 hari ^^ (nasib yang gak kebagian tugas nyiapin makanan), Maaf kalo selama trip atau di tulisan ini ada salah salah kata & perbuatan ^^ Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan dan kesempitan!

==================================================

Sekalian nih, karena bertepatan dengan HUT Republik Indonesia, Gua mau ucapkan MERDEKA!!!

Ini kupersembahkan foto dengan tema Merah Putih πŸ˜€

Maple Leaf

Is it true? πŸ˜€

YuTan

Yang besok pagi siap-siap vacation lagi ke Vancouver, Calgary & sekitarnya!!!





#28 – 365 Project

Saturday!

It’s time to stay longer on bed, haha.

Went to friend’s house to have a hotpot. We went there aroung 5pm, all friends and new friends were preparing the food, we had shrimp, squid, beef, veggies, tofu, mushroom, etc. Wow! Eat a lot and ending it with ice cream.

After finished our hot pot on the floor… ( actually, we still have a lot of food left, and decide it to have a 2nd hotpot tomorrow LOL ) we played game, UNO. Always hillarious, haha… Tonight must be my lucky night, I won about 4 games from total 10-12 games we played, happy πŸ™‚

And before midnight, we need to come back home, both of us cannot drive after 12 am, LOL. Hope you all have a nice Saturday also.

Happy Sunday!

Yuli





#22-365 Project

Frozen coke!

The weatherΒ  was super cold yeterday. The bottle of coke that I left in the car, was frozen the next day, Haha.

Minus 11 + windchill. However, that was a sunny Sunday.

Sunny Sunday

Cemetery

What a day!

After went to church, we had Indonesian gathering at Lulu & Pak Ming’s house. They served so many mouth watering foods. I ate a lot, hehe. We gathered together to celebrate Lunar New Year aka Imlek. It suppose to be today ( Jan 23rd ) but we did it 1 day earlier, on Weekend. So everyone could come and join. It’s lovely Sunday with a bunch of friends and good food!

Yuli