The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 2]

Ketika sedang berada di ketinggian ribuan meter dari permukaan laut, kesukaan saya adalah menatap pemandangan di luar jendela pesawat. Tentu tidak tiap saat saya melotot melotot keluar, umumnya ketika pesawat hendak take off dan landing. Sesekali ditengah-tengah perjalanan jika saya tidak dapat tidur, tidak nonton, tidak dengar musik dan sedang bosan. Enaknya memang sambil melihat keluar dan melamun. Tiap tempat punya keunikannya masing-masing.

Ketika pesawat yang membawa kami dari Toronto hampir mendekati Vancouver ( Sekitar 45-60 menit sebelum mendarat ), mata saya terbelalak oleh apa yang ‘tersaji’ didepan mata ( Untung biji mata gak keluar dari ‘cangkangnya’ ). Wah, Tuhan ini benar-benar punya selera humor yang tinggi deh! Ketika melewati daerah Alberta hampir seluruh daratannya rata ta ta, sejauh mata memandang hanya tanah luas yang lapang, tapi mendadak terhampar pergunungan batu yang berdiri kokoh.

Jadi ini imaginasi saya begitu melihat semua itu. Saat Tuhan sedang mencipta, nampaknya Dia rada iseng sambil jongkok dengan menyapu-nyapu tanah di wilayah Alberta, disapunya dengan tangan agar tanah ini menjadi rata dan halus, dari apa yang tersapu digeserkan kesamping, setelah beberapa saat, Dia bilang “Udah ah, capek!” Jadilah mendadak ada tumpukan-tumpukan yang sama sekali dibiarkan begitu saja dan kemudian menjadi pegunungan Rockies. Hehe.

Jauh mata saya mencoba menembus garis horizon, yang tampak hanya hamparan pegunungan batu yang puncak-puncaknya dilapisi salju abadi. Kerut-kerut daripada pergunungan tersebut membentuk cekungan-cekungan yang terisi air, itulah danau-danau yang tak terhitung jumlahnya, ada yang kecil, ada yang lebar, warnanya pun berlain-lainan. Dalam hati saya membatin, beberapa hari kedepan saya akan melihat mereka dari perpektif yang berbeda. Saya berusaha mencari-cari Lake Louis, Ah.. mungkin yang itu karena disekitar danau nampak beberapa bangunan, Oh mungkin yang itu… Demikianlah seterusnya hingga perlahan-lahan bangunan dari pada sebuah kota mulai terlihat, Ah.. Vancouver!

Dilihat dari atas, kota Vancouver tidaklah terlalu luas. Namun kota ini begitu unik karena terletak persis disebelah gunung dan diseberangnya dikelilingi air. Sebuah sungaipun tampak membelah kota yang cantik ini. Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, sudah pernah diinformasikan jika kota ini sungguh beruntung, di satu wilayah yang sama anda bisa lihat pegunungan dan juga lautan. Barulah saya mengerti apa yang dimaksud orang-orang.

Perjalanan dari bandara ke hotel di daerah downtown berjalan cukup lancar, tidak ada macet-macetan. Satu hal yang berbeda dari kota besar seperti Vancouver dibandingkan Toronto adalah Vancouver lebih hijau, pohon-pohon acapkali dijumpai di sepanjang jalan raya. Ketika saya berjalan-jalan di downtownnya beberapa hari kemudian, ntah kenapaΒ  manusia-manusia disana juga nampak lebih keren, baik warga lokal maupun pendatang. Terasa sekali dilihat dari cara berpakaian/fashion mereka (bisa jadi karena saya jarang dan sudah agak lama tidak wara-wiri di DT Toronto hehe) lebih gaul dan ok. Wajah-wajah orang di jalanan dan para pegawai di toko/restaurant juga nampak lebih ramah. Apa karena wisata adalah andalah usaha nomor satu mereka? Sedang Toronto lebih ke bisnis sehingga wajah-wajah orangnya lebih kecut? Hahaha…

Letak hotel Hyatt yang kami tempati sangat strategis ( di Burrard st ). Dalam radius 0-3 km ( yang mana jumlah kilometer tersebut ecel buat ditempuh dengan berjalan kaki ) dari hotel, berserakan toko dan restaurant. Sebut saja toko-toko seperti Gap, American Eagel, Lush, dll letaknya berdekatan satu dengan lainnya. Restaurant yang menyajikan aneka masakan baik Western maupun Asia berjubelan disana-sini. Mayoritas memang adalah restaurant Japan dan Korea. Sehingga tidak heran kalau ada yang mengatakan, belum sah ke Vancouver kalo belum makan Sushi dan Sashimi.

Jadilah siang itu kami makan di restaurant Jepang bernama Kamei Royale (Burrard – Geogia ). Dalam hati, aduh pasti mahal ini ya. Eh ternyata tidak saudara-saudara, harganya sama saja dengan harga makanan di Toronto ( 1 porsi makanan berkisar antara $7-15 ). heheh lega mode ON.

Sushi & Sashimi Combo. Yang sebelah kanan sayur dengan bumbu kacang terasa seperti pecel ^^ Yummy!

Seusai makan siang saya pun jalan-jalan dengan modal sepasang kaki, tas kamera dan sebuah hati yang menentukan arah, cie ileh… πŸ™‚ Sebenarnya sudah ada beberapa tempat yang masuk daftar untuk dikunjungi. Sudah di split juga untuk dibagi dengan suami pada hari Minggu nanti, jadi hari tersebut bisa kami pakai untuk jalan-jalan bersama. Siang tersebut saya pakai untuk jalan keΒ  False Creek , modal GPS di iPhone sih, hehe.

Boat & Kapal pesiar

Bangunan Apartment & Condo di False Creek

Cuaca saat itu cukup terik, Suatu hari yang konon katanya langka di Vancouver. Mereka langganan dihujani, hahaha. Betapa beruntungnya kami selama disana, tidak ada hujan sama sekali hingga bebas berkeliaran. Daerah False Creek ini tertata rapi dan bersih. Konon harga-harga condo maupun apartment di daerah ini cukup mahal. Didekat sini juga ada sebuah tanah lapang semacam taman yang menghadap ke air. Siang menjelang sore saat saya berada disana, banyak sekali orang-orang yang berjemur disana. Tua muda duduk atau berbaring ria. Yang kesemuanya saya rasa adalah penduduk lokal yang tnggal disekitar sana.

Pria-pria pamer tubuh atletis dengan perut kotak-kotak. Yang cewek-cewek berbikini ria dan kacamata segede gaban. Yang lucu banyak pula para manula, hanya saja mereka tidak berbikini ria. Satu dua ditemani pengasuh yang sesekali memindahkan mereka ke lokasi yang tertepa cahaya matahari. Dasar bulele ya, kalo kita/saya justru cari yang adem, mereka malah nyari yang panas, haha.

Ntah kenapa daerah False Creek masuk dalam satu lokasi tujuan wisata kalo anda menelusuri what to see di Vancouver via google. Pada dasarnya hanya semacam area yang terdiri dari tempat tinggal berupa bangunan tinggi, taman luas yang saya ceritakan diatas, bertepian dengan sungai yang mana banyak kapal-kapal di parkir yang nampak seperti lahan parkir biasa, hanya saja ini bukan mobil tapi kapal! Dermaga disini juga menjadi salah satu haltenya Aqua Bus. Maka tidak heran jika para turis diberi alternatif untuk singgah disini jika berkenan.

Berwisata ke Vancouver hanya bermodal transportasi umum tidaklah sulit atau mahal. Praktis selama disanaΒ  boleh dikata sudah mencobai semua transportasi umumnya. Bus, SeaBus, Taxi, AquaBus, Skytrain, dan Sepeda! hehe.

Karena hari sudah menjelang sore dan sedikit letih, saya memutuskan untuk kembali ke hotel saja, sempat nyasar dengan jalan ke arah yang menjauh dari hotel, haha apes tenan. Selisih waktu antara Toronto dan Vancouver adalah Toronto 3 jam lebih cepat. Ketika jalan pulang sekitar jam 3.30pm, saya terima SMS dari teman di Toronto yang ngajak makan malam. Sesaat saya bengong, jam segini kok ngajak mau makan apa? Baru saya sadar perbedaan waktu yang cukup signifikan tersebut. Pantaslah saya agak-agak lapar gimana gitu, hahaha. Saya juga sempat mampir ke 7 eleven, beli Big Gulp $1. Merchain ini cukup banyak dijumpai di Vancouver, termasuk Starbuck yang ada di hampir tiap pengkolan. Tim Horton justru jarang nampak. Dasar kota kaya, warung kopi-nya juga banyakan yang mahal, haha.

[Buat pembaca yang tidak tinggal di Kanada : Tim Horton itu semacam warteg-nya Kanada. Jual minuman macam kopi/teh/susu coklat dan aneka sandwich, cookies dan cake. Sebelas dua belaslah dengan Starbuck, hanya saja harganya miring yang saya percaya sejajar dengan kualitasnya. Soal rasa sih tergantung selera, kata banyak Melayu, Kopi di Timmy (sebuatan imoet-imoetnya) itu macam minum air, Saya biasa beli susu cokelatnya (Btw, susu cokelat paling maknyus bagi saya hanya ada di Second Cup. No, No explanation about Second Cup but you must try their Vanilla Bean Hot Choco, LOL), atau kalo lagi musim panas Ice Cappucinonya, saya juga doyan Muffin Whole Wheat dan Bagel with butternya. Rasa okay tapi kalo kualitas saya gak jamin ya. Lah murah gitu kok, pebandingan aja untuk harga susu cokelat di Starbuck ukuran kecil bisa kena paling tidak $5 sedang di Timmy bisa less than $2. Sebelum pindah Kanada saya sempat baca satu blog yang membuat list 10 hal yang harus dilakukan di Kanada, dan nomor urut satunya adalah Nyobain Tim Horton, tuh apa nggak hebat? Wajar sih, tiap pengkolan ada. Makanya agak aneh kalo di Vancouver jarang terlihat. Banyakan Starbuck dan Second cup yang harganya jauh diatas Timmy].

Hari pertama di Vancouver, semua dilakukan dengan jalan kaki. Sehabis makan malam di restaurant Thailand, Saya dan suami jalan kaki ke waterfront yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari hotel. Pas benar sampai disana menjelang sunset. Lagi-lagi banyak sekali kapal berseliweran termasuk helicopter yang bisa mendarat di air, mbuh namanya apaan. Pinjam istilah Om Jeha “Opo ra hebats?!” Hayooo siapa yang nonton reality show “The Real Housewives of Vancouver”? Memang tidak bisa menjadi standart kalo semua penduduk vancouver sekaya raya begitu, tapi coba mana ada acara The Realhousewive of Toronto? haha.

Waterfront of Vancouver

Sunset!!!

Dari jendela kamar hotel, saya bisa melihat pegunungan dan juga waterfront. Kasur yang empuk di hotel harus saya nikmati sepuas-puasnya sebelum masuk masa ngegembel beberapa hari yang akan datang. Tenaga juga kudu disimpan, karena perjalanan masih panjang.

View from Hotel

Hari kedua saya berpetualang sendirian lagi, selepas sarapan pagi di hotel. Saya jalan ke stasiun Skytrain terdekat untuk membeli karcis bus harian. Saya tidak menemukan vending machine dimana bisa juga dipakai untuk membeli karcis. Saat celingukan di depan mesin beli karcis di stasiun, ada seorang pria setengah baya agak kucel, bisa dipastikan adalah gelandangan (Ohya, di Vancouver daerah downtownya ternyata cukup banyak gelandangan, masih muda-muda lagi, ngegeletak aja tidur di trotoar depan Mc. D, duh!) berusaha menjual tiket bekas ke saya dengan harga lebih murah tentunya. Dia tanya saya mau kemana, saya jawab dengan menggelengkan kepala dan say no thanks. Ini saya aja lagi bingung baca keterangan soal karcis dimana dibagi dalam 3 zona (kalo gak salah ingat ya) dan saya sendiri tidak tau lokasi-lokasi yang ingin saya kunjungi masuk wilayah mana. Tapi ybs tetap maksa sampai ada seorang bapak-bapak parlente ber-jas rapi nenteng tas marah dan ngomel-ngomel ke gelandangan itu, dia bilang Shame on you! jelas dia tau saya turis dari cara bepakaian saya dan sampai mereka adu mulut, ampyun. Saya pun akhirnya beli pass harian seharga $9 yang pasti good deal jika saya perlu naik turun Bus/Skytrain/Seabus berkali-kali dalam hari tersebut.

Bermodalkan google map di iPhone ( saat itu iPhone masih pakai google map ) saya ke lokasi pertama saya, Granville Island. Puji Tuhan untuk teknologi jaman sekarang, tidak saja saya bisa liat kemana arah tujuan, juga diberi tahu harus naik bus nomor berapa dan berapa menit lagi bus tersebut akan tiba. Tuh, Opo ra hebats?! hehe. Cuma siap-siap battery cukup saja selama perjalanan tersebut.

Granville Island juga masuk dalam objek wisata yang populer. Intinya didalam satu area/island terdapat aneka restaurant, toko-toko mainan/pets, galery-galery yang menjual aneka kerajinan seni, dan juga farmer market. Saat turun dari Bus, kita perlu jalan kira-kira 500 meter untuk sampai kedalam dan lagi-lagi melewati semacam kali/muara yang penuh dengan kapal-kapal boat. Kapal-kapal ini bisa disewa kalo mau. Hari itu saya agaknya datang kepagian, masih banyak toko, galery dan restaurant yang belum pada buka.

Yang jelas saya memang tidak tertarik untuk ke toko/galery atau restaurant yang fancy. Tapi kalo belum pada buka gini, apa yang mau di cuci matanya? haha. Pake nyasar lagi selama di dalam, tapi nyasar yang membawa hikmat. Saya nyasar dan sampai ke Farmer Market, haha. Disini kehidupan sudah mulai, sama seperti farmer market di daerah lain, para penjual buah,bunga dan aneka panganan serta pengunjung sudah berjubelan. Ah, bahagia banget liat aneka buah warna warni segar yang dipajang dan paling menarik menelusuri counter demi counter melihat aneka makanan yang dijual, haha teteppp makanan nomor uno.

Sebelum memutuskan jajan sana jajan sini saya sempatkan foto-foto di dalam farmer market dan di dermaga. Enaknya motret di daerah turis, tidak ada yang melarang ketika lensa kita arahkan ke dagangan mereka. Bahkan ada satu counter aneka kue yang menjadi spot favorit fotografer dan turis. Mungkin dalam hati pemiliknya, Duh ileh biyung…. ini beli kagak pada motretin doang! Haha.

Tergoda tidak? πŸ™‚ Harganya lumayan mahal, sekitar $3-4/pc

Cokelat!!!

Flowers!

Pasta!!!

Cookies. Yang didepan, itulah yang saya cemil saat kelaparan ketika di Lynn Canyon

Di Foto aja, Tidak di beli ^^

Fruits!!!

Menggiurkan! Cheese Cake πŸ˜€

Opo ra mahal?!

Salah satu ‘pemandangan’ bawah dermaga

Setelah puas motret, saya putuskan untuk makan siang disini, namun karena masih rada kenyang dari sarapan pagi tadi dan juga dipusingkan oleh banyaknya pilihan saya akhirnya memutuskan beli bagel, ada satu counter khusus jualan bagel. Saya tergiur dengan bagel lemon cheese-nya. Apa daya saudara-saudara…. perlu sedikit perjuangan untuk menghabiskan tuh bagel. Terlalu asem dan saya belum terlalu lapar, saya pun menyesal tapi sesal tak pernah on time.

Daerah ini asyik didatangin kalo ingin santai-santai, menikmati pemandangan laut dimana kapal dan boat berseliweran, para seagull pun tak ketinggalan menikmati semua pemandangan tersebut. Lagi-lagi ada halte Aquabus disini. Aquabus berbeda dengan Seabus yang masuk dalam group yang sama dengan Bus. Untuk naik Aquabus kita perlu beli karcis dan harganya disesuaikan dengan jarak/halte mana kita akan turun, mereka juga ada karcis harian jadi bisa bebas mau turun dan naik dimana saja. Naik Aquabus memberi pemandangan yang berbeda saja, sekali jalan mereka bisa angkut 6-10 orang, tidak perlu sampai penuh baru jalan karena disaat Summer cukup banyak Aquabus yang beroperasi, rata-rata dinahkodai oleh anak muda. Somehow terasa seperti di daerah Kalimantan atau pinggiran kota Jambi yang kapal boat kecil adalah sarana transportasi mereka, hanya saja yang ini tidak ada yang bawa pisang setandan atau ayam dan bebek, haha.

Setelah puas melihat-lihat, foto dan istiraha, saya kembali menuju ke halte bus dimana saya turun tadi. Tujuan selanjutnya adalah Lynn Canyon Suspension Bridge yang ada di bagian North Vancouver. Sebenarnya ada suspension bridge lainnya bernama Capilano. Namun yang Lynn ini FREE gitu hahaha…Menuju kesananya pun tidak sulit. Karena ada di North maka saya perlu turun di halte waterfront kemudian nyambung SeaBus dan nyambung bus lagi. Terdengar melelahkan? Nggak kok, asyik malah. Karena tidak tahu persis bus turun di halte mana, begitu sudah dekat area waterfront saya turun dan jalan kaki mencari jalan masuk ke stasiun. Area saya turun ternyata bernama Gastown yaitu secuprit area yang penuh bangunan-bangunan tua dan penuh oleh cafe maupun galery, sekilas mirip downtown Halifax. Bus pun sempat melewati area Chinatown yang terasa lebih besar, meriah dan bersih dibandingkan dengan chinatown di Toronto.

Waktu untuk nyebrang dengan Seabus hanya sekitar 15 menit, dan kalau lagi beruntung kita tidak perlu tunggu terlalu lama untuk dapat SeaBus berikutnya karena tiap 15 atau 30 menit SeaBusnya jalan bolak balik. Tidak ada petugas satu pun yang memeriksa karcis, sistem kepercayaan katanya.

Turun dari Seabus ikuti saja jalan keluar dan akan sampai pada terminal Bus. Lagi-lagi berkat google map saya tau nomor bus berikutnya yang akan membawa saya ke Lynn Canyon. Bus yang dimaksud sudah menanti jadi tidak pakai celingak-celinguk. Perjalanan selama di Bus di North Vancouver kebanyakan menanjak naik, banyak pula lagi-lagi saya lihat restaurant Jepang dan Korea bertebaran disini. Sekitar 20 menit akhirnya saya sampai di halte bus, sebenarnya saya hanya kira-kira saja dan kebetulan juga ada beberapa orang yang turun disana. Jalan masuk ke Lynn Canyon masih banyak perumahan atau mungkin Villa, hingga tidak seperti sedang berada di pusat/lokasi atraksi.

Jalan kaki masuk ke area Lynn Canyon yang hanya sekitar 1km saya berjumpa 2 bus besar berisi anak-anak umur 8-10 tahun dari Korea. Oke, jadi pada study banding atau semacamnya, beruntung sekali mereka ini? Jaman saya sekolah dulu, wisata dari sekolahnya ke Radio RRI atau kebun binatang doang, haha.

Ada beberapa trail yang bisa dijalani, tapi gak sah dong kalo gak nyebrang di suspension bridgenya! Apalagi beberapa trail kudu melewati jembatan tersebut. Saya ini dibilang sudah antisipasi sih memang sudah antisipasi, maksudnya sudah tau apa itu suspension bridge, bilang sendiri kalo rada serem jalan diatas jembatan model gitu, goyang-goyang bikin lutut lemas. Tapi opo yo? pas sampe disana walau orang berjubelan saya pake jalan aja, sampe ditengah baru deh nyesal… iya sesal lagi-lagi terlambat. Nah karena sudah ditengah-tengah, lebih susah balik badan dan jalan pulang dari pada terus saja, betul?

Itu kalo liat kebawah isinya air dan 50 meter ketinggiannya, jembatan goyang terayun-ayun, para manusia-manusia bergerak sebagian ketakutan sebagian lempeng, ntah mati rasa atau sok berani, haha. Sebenarnya pikiran yang bikin jiper. Aduh gimana kalo jembatan putus? bisa saja kan putus? siapa tau giliran gua disana putus? Sampe diseberang saya perlu cari tempat duduk, perut rasanya mual, kepala pusing, nafas tinggal satu-satu. Saya SMS suami “Saya kayaknya mau stay saja disini, kamu cari istri baru gih”. Haha. Saya phobia ketinggian ( itu loh, kalo berdiri di ketinggian dan liat kebawah, bawaannya mau lompat. Giliran suruh turun kaki langsung lemas dan kalo kudu turun, gaya turunnya ngesot atau ngerayap ) dan daerah sana cukup tinggi sehingga oksigen sudah lebih tipis.

Jembatannya cukup panjang. Sudah ada sejak 1912

Setelah semua nyawa kumpul kembali, saya punya dua alternatif trail. Yang kiri apa yang kanan? saya pilih yang jaraknya dekat saja (Twin falls Loop Trail), walau tidak tahu apa yang akan dijumpai disana layak untuk dikunjungi. Trailnya cukup okay, tanah dan sesekali akar pohon dan batu, kondisi trail naik dan turun cukup sering walau arah kesana cenderung lebih sering turun. Beberapa kali pas-pasan dengan pengunjung yang berjalan arah pulang. Saya mencoba membaca ekpresi wajah mereka, terlihat puas kah? lemas kah? kecewakah? jangan sampai saya jauh-jauh berjalan hasilnya nol haha.

Karena sudah kadung jalan dan ekpresi wajah yang tricky ( Gimana kagak tricky kalo sebagian cemberut sebagian senyum-senyum? ) saya teruskan saja, toh nggak ada tujuan lain yang menanti atau mendesak. Setelah 40 menit berjalan saya berjumpa dengan sebuah jembatan kecil, nampak banyak orang berkerumun disana. Usut punya usut, ternyata ada dua pelompat yang melompat dari atas jembatan kebawah. Sampai dibawah mereka nyelam, Ketinggian jembatan ke air paling sedikit 30 meter dan konon airnya dingin. Sewaktu pelompat-pelompat tersebut naik lagi ke Jembatan, ada ibu-ibu yang nanya apakah mereka bisa sampai ke bawah sana tanpa pake loncat? haha. Bisa katanya tapi minimal kudu berenang.

Setelah puas di jembatan saya mencari jalan untuk turun ke bawah, karena saya lihat ada beberapa orang dibawah sana. Saya sih gak mau pake berenang karena gak bawa baju ganti, tapi kalo misalnya worth to try, hajar bleh! Trail kebawah itu tidak ada tandanya, nampaknya tidak disarankan untuk turun kebawah, jalan turunnya bisa di susuri dengan melewati samping pagar di dekat jembatan. Ikuti saja nanti akan sampai di tujuan di semacam kali dengan batu-batuan besar dan sedikit pasir. Sampai disana ternyata cukup banyak manusia, ada yang duduk duduk di batu nampak habis nyemplung ke air, sebagian duduk-duduk santai di pasir seperti piknik. Saya pun ambil posisi di sebuah batu karang, copotin sepatu dan kaus kaki. Wuih, nekat… mau nyemplung juga YuTan? Kagak, cuma mau rendam kaki. Sebelum adegan rendam kaki, ada satu rombongan keluarga terdiri dari anak gadis dan ibunya. Pertama sang anak melompat terlebih dahulu, ketika dia sudah naik ke batu dan tertawa terkekeh-kekeh lanjut emaknya yang nyemplung, di air tuh emak menjerit-jerit histeris karena dingin. Saya tanya anaknya is it cold? Dia jawab it’s not cold, its FREEZING! Karena penasaran itulah saya buka sepatu. Cukup 2-3 menit, kaki saya numb!

Selain pasangan ibu anak tersebut ada pula beberapa manusia gila lainnya yang berenang kira-kira 30 meter untuk sampai dibawah air terjun dimana dua pelompat yang terjun bebas tadi. Nampak mereka perlu stop 1-2x sebelum sampai ditujuan. Aksi perenang-perenang tersebut menjadi tontonan kami yang duduk-duduk dibatu. Lucu-lucu pula gaya dan ekspresi wajahnya membuat kami terkadang perlu bersorak memberi semangat atau tertawa terpingkal-pingkal. Karena sebagian dari mereka mengumpat ngumpat soalnya, lah siapa suruh berenangkan? LOL

Twin Fallnya begini ‘doang” tuh pelompat kalo salah mendarat bisa walahualam πŸ™

Airnya super jernih dan dingin. Asyik banget leyeh-leyeh disini

Hayoo, siapa mau berenang disini? Next time kalo bisa kesini lagi saya mau berenang!

Setelah paus leyeh-leyeh, lapar juga yang menyadarkan hamba, haha. Sudahlah boleh dikata gak makan siang, Gak bawa bekal lagi. Tapi lumayan ada air putih dan snack semacam energy bar (Β  mirip karena terdiri dari campuran nuts dan oat yang saya beli di Farmer Market. Rencananya buat nanti hiking di Rocky Mountain ) yang saya sikat untuk mengganjal perut. Jalan kembali ke arah suspension Bridge bikin mpot-mpotan, hampir seluruhnya adalah tanjakan, ini rupanya yang bikin ekpresi wajah orang sulit dibaca!

Tantangan berikutnya adalah jalan di suspension bridge yang mana kali ini pas betul berpas-pasan sama anak-anak Korea yang hendak menyebrang. Agak-agak semaput jalan, eh ada satu anak lompat-lompat diatas jembatan. Tanpa sadar saya agak keras bilang Stop it! Diam dia langsung, LOL Ditengah-tengah jembatan terjadi macet parah, gak bisa maju sama sekali. Rupanya pada liatin dibawah ada bulele edan yang seluncur terjun di sebuah air terjun mini. Karena tergoda untuk mengabadikan moment tersebut sesampai di ujung saya balik lagi ke jembatan dengan kamera SLR ditangan. Edan yo! Dari yang mau pingsan jadi malah balik lagi hanya demi mau motret, mana susah lagi motret karena jembatan bergoyang dan jarak objek yang jauh, hasilnya blur lah yau πŸ™

Saya mampir di kafetaria namun tidak nafsu dengan pilihan makanan disana yang berupa hotdog dan sejenisnya. Belum lagi hiruk pikuk anak-anak tersebut yang mau beli Ice Cream. Yang tua ini menyingkir aja deh. Haha. Sebelum naik bus lagi saya touch up touch up dikit dong ke washroom. Alamak, muka saya merah blas karena pas berhiking ria tadi. Yang liat wajah saya pasti takut, titisan Judge Bao dari mana ini? Haha.

Saat pulang dengan bus, saya menanti persis di halte ketika saya turun tadi. Menanti cukup lama bangsa 30 menit sebelum bus datang. Di seberang juga ada halte bus tapi saya tidak yakin dimana bus yang akan saya tumpangi stop. Saya putuskan stay ditempat turun karena kalo sampai salah toh akan balik lagi ke terminal seabus karena asumsi rute busnya nge-loop. Ternyata sesuai arahan google map saya harusnya naik dari halte seberang, tapi sudahlah toh busnya juga sudah pergi haha. Ketika naik bus saya sudah sadar rutenya tidak ngeloop atau kalopun nge-loop lebih jauh karena muter. Tapi lagi-lagi berkat google map saya diarahkan untuk pindah bus di terminal cukup besar ditengah jalan yang singkat cerita membawa saya kembali ke Hotel lebih cepat karena tidak perlu naik seabus dan lanjut bus yang waktu tunggunya mungkin lebih lama, sedang bus yang saya ganti di terminal ini langsung membawa saya ke belakang hotel! Opo ra hebats?! Lagi-lagi ‘salah’ yang membawa hikmat, haha. Dan sudah pasti harga tiket daypass $9 sudah kembali modal.

Dengan perut amat sangat lapar, malam itu kami makan di sebuah restaurant Jepang yang punya rating cukup tinggi di Yelp. Ya, gunakan aplikasi Yelp or Urbanspoon untuk mendapat informasi lengkap akan sebuah tempat. Nama restaurantnya Guu Original yang terletak kurang lebih 2 km dari hotel. Tempat tidak besar dan penuh dengan manusia yang kebanyakan anak muda. Untung kami tidak perlu menunggu lama karena hanya berdua dan bersedia duduk di bar area. Saya malah suka area ini karena bisa liat ‘atraksi’ chefnya di open kitchen.

Dengan modal foto di buku menu yang memuat tulisan kanji kami order beberapa makanan. Tunggu punya tunggu makanan tak kunjung datang, padahal konsumen di sebelah yang datang lebih lama sudah mendapatkan makanan mereka. Wah sudah mulai keluar tanduk nih saya, gak tau apa kalo saya sedang lapar selapar-laparnya, Kata bulele I am so hungry, I could eat a whole horse! Kami panggil satu orang yang nampak adalah manager restaurant yang kurang begitu fasih bahasa Inggris. Dia cuma iya iya bilang makanannya sudah di order, maaf dan tunggu sebentar lagi. sejuta persen setelah dikomplain pesanan kami baru masuk ke sistem komputer yang mengtransfer data ke dapur. Bodoh-bodoh gini kan dari tadi ngeliatin 3 chefnya masak ini itu, jadi tau dong mana pesanan eike yang sedang dikerjakan, haha.

Harganya memang tergolong murah/terjangkau tapi porsinya kecil. Soal rasa relative, bagi saya cenderung asin dan oily. Tapi pengalaman makan disana yang menarik karena melihat 3 chefnya yang cekatan masak ini itu. Sama pilihan menunya yang berharga kisaran $4-12. Saking larisnya waktu makan di jatah loh. Opo ra Hebats?! LOL

Guuud pale lu peang, kalo gak dikasih tau ampe resto tutup kita cuma makan angin haha

Ini pesanan meja sebelah. Masing2 seporsi gede salad dan orderan lain. Anak muda, makan aja terus yang banyak ntar end up kayak tante YuTan, mau? LOL

Ini persis ada didepan muka saya, kalo saya cuih cuih apa jadinya? Kayaknya enak ya ini, cuma kagak tau namanya apaan di menu πŸ™

Duh mas mas… jenggotnya mana tahan…. haha 3 chef handle 3 station. Kerjanya wuzz wuzz wuzz…

Ini gak ingat apaan, kayaknya mushroom sama scallop atau apa gitu.

Semacam kulit tahu, rasanya biasa saja.

Ini asin bowwww…

Ini baru favorit saya, Calamary, Yum!

Itulah akhir dari hari ke 2 di Vancouver. Sehabis makan kami jalan kaki pulang ke hotel. Sekaligus cuci mata sana sini.Edisi berikutnya masih akan di Vancouver, another full day obok-obok Vancouver, Haha…Β  termasuk satu lagi yang bisa di contreng di Bucket List. Naik sepeda di Stanley Park seperti yang ada di serial The Real Housewives of Vancouver! Tunggu ceritanya ditayangan yang akan datang πŸ™‚

YuTan

Sintingers go to Collins Inlets

Disclaimer :

1. Postingan ini memuat tulisan yang cukup panjang, jika anda hanya punya sedikit waktu, mending kembali saat punya waktu lebih banyak.

2. Postingan ini memuat banyak adegan yang agak jijay, hindari membaca ketika sedang ngemil atau ngemut.

3. Sudah gua peringatkan ya, jadi jangan salahkan hamba, hehe.

================================================

Sebutan Sintingers diprakarsai oleh Om Jeha yang juga sekaligus adalah Team lead trip ke Collins Inlets ini ( Auguts 10-12, 2012). Julukan sintingers ini ditujukan kepada kami kami semua peserta Collins Inlets yang total berjumlah 14 orang. Para Sintingers yang pada hari-hari menjelang keberangkatan walau forecast cuaca amburadul gak karu-karuan, memutuskan untuk tetap pergi. Ya, tetap pergi seolah-olah tidak ada hari lain atau seolah-olah Collins Inlets bakal musna dari muka bumi ini.

Bagaimana tidak sinting? Keberangkatan direncanakan pada hari Jumat pagi dan kembali hari Minggu. Prakiraan cuaca hari Jumat dari pagi hingga sehari penuh adalah mendung hujan bangsa 20mm dan akan berlanjut terus hingga Sabtu dengan guntur disana sini. Cuaca hari Minggu membaik namun tidak akan sebaik hari Senin dan hari-hari berikutnya.

Singkat kata, perjalanan ini akan sia-sia belaka. Bayangkan jika harus bangun subuh di hari Jumat dengan hujan lebat menyetir selama 5 jam, dipastikan sampai dilokasi akan tetap hujan dan dalam kondisi seperti itu membangun, tidur dan bongkar tenda adalah pekerjaan paling amat sangat tidak menyenangkan yang pernah ada dimuka bumi ini. Percayalah!

Belum lagi target kami sebenarnya adalah Collins Inlets, dimana untuk mencapai lokasi ini diperlukan 1 jam perjalanan menggunakan Canoe, Dalam 1 jam perjalanan tersebut kami harus melewati sebuah wilayah yang terbuka cukup luas selama kurang lebih 15 menit dan ombak biasanya cukup tinggi di wilayah tersebut, belum ditambah dengan speed boat yang sesekali berseliweran dan menimbulkan ombak yang cukup besar bergelombang dan sanggup membalikan canoe.

Jadi, ketika H minus 1 prakiraan cuaca belum berubah membaik, Om Jeha kemudian membuat plan A, Plan B dan bahkan Plan C. Satu persatu peserta yang tadinya berjumlah 19 orang bertumbangan hingga hanya menjadi 14 sintingers, 5 yang mengundurkan diri di detik-detik terakhir ternyata tidak cukup sinting, mereka memilih untuk golak golek di kasur empuk nan hangat, sebuah keputusan yang sangat menarik tentunya dan akan dipilih orang waras manapun.

Day 1

Rencana semula untuk bertemu di rest area pada pukul 06.30 akhirnya diundur hingga kira-kira dua jam kemudian, karena no point untuk berangkat pagi-pagi karena bisa dipastikan kami tidak akan langsung menyebrang ke Collins namun perlu menginap 1 malam di George Lake dikarenakan ombak yang katanya mencapai dua sampai tiga meter di hari tersebut.

Setelah semua peserta komplit dengan 4 buah mobil bertemu di rest area, kami pun langsung tancap gas untuk mampir ke toko kopi nan termasyur di Kanada, apalagi kalo bukan Tim Horton. Beramai-ramailah kami kemudian memborbardir toilet di Timmys namun tak lupa pula jajan kopi ataupun susu cokelatnya. Ada insiden kecil terjadi disini yang gua tau belakangan, salah satu peserta ketinggalan sandal jepitnya di parkiran Tim Horton, alamak! Jangan tanya gua kenapa bisa, gua juga gagal paham soalnya, haha.

Awi didaulat untuk menyetir mobil kami, Hadi duduk disampingnya dan gua sendiri dibelakang. Setelah sesekali memainkan iPhone, rasa kantuk datang menyerang. Sayup-sayup mendengar mereka bercakap-cakap soal perkomputeran dan topik ini terus bergulir sampai kami tiba di lokasi yang memakan waktu kurang lebih 5 jam tadi.

Welcome... ^^ Serem aja Sign-nya πŸ˜€

Sebenarnya cuaca selama perjalanan semakin membaik, nampak sedikit terik di langit walau tanpa matahari, beda sekali dengan ketika masih di Toronto, awan gelap dan hujan mengguyur. Setelah membereskan administrasi car camping di Office Park, kami segera menuju lokasi campground dan bersiap membangun tenda. Gua dan hadi memutuskan untuk tidur saja di mobil malam itu daripada harus membangun tenda dan membongkarnya keesokan hari dengan kondisi basah dan becek.

Hujan-hujannya ^^

Setelah merampungkan makan siang buat sebagian peserta yang tidak sempat makan di mobil selama perjalanan, sebagian besar rombongan langsung mengambil ancang-ancang. Mau lomba lari? bukan. Ada yang bersiap mancing, bersiap motret, bersiap nontonin yang mancing dan motret. Haha. Sayang acara mancing dan motret hanya bisa berlangsung kurang dari 2 jam karena hujan yang tadinya rintik-rintik kemudian menjadi besar-besar segede biji jagung.

Ada di ‘pedalaman’ dengan cuaca mendung dan hujan, apalagi yang asyik selain tidur dan makan? Ya, itulah yang gua lakukan πŸ™‚ Tidur-tidur ayam kemudian bangun untuk menyantap nasi dengan lauk ayam goreng kuning, tempe bacem dan sayur asem buatan tante Cecile. Gaya makan darurat karena terpal yang dipasang hanya cukup untuk menaungi kira-kira 10 orang saja.

Karena judulnya mau interior camping maka untuk acara makan setiap peserta membawa mangkuk atau kontainer makan berbahan plastik/seng yang kemudian dicuci supaya bisa dipakai lagi. Tidak memungkinkan bagi kami untukΒ  membawa piring kertas seperti yang biasa dilakukan kalo car camping atau piknik, tidak perlu cuci-cuci tinggal buang saja. Karena setiap sampah yang ada selama interior kudu dibawa pulang kembali, duh bisa berapa banyak sampah yang akan dihasilkan 14 orang kan?

Malam itu tempat makan gua dan Hadi di cuci pake air hujan, air yang terkumpul di terpal di tampung di kontainer, aduk2 dan tralala… bersih deh, tinggal di lap kering. Jorok ya? Hihihi. Selesai makan, Gua, Awi, Tante Cecile dan Om JeHa main kartu truf, pernah main game ini tapi sudah lupa-lupa ingat, jadi perlu di refresh kembali. Mereka yang sudah jago-jago tentu senang mendapat lawan main nan dodol seperti gua, hehe… kalah maning kalah maning. namun malam itu ternyata yang kalah adalah Om JeHa, semua terjadi karena ybs nekat ngebit 0 dan kemudian ‘dihajar’ beramai-ramai oleh kami πŸ™‚

Selesai main 1 set game. Gua dan Hadi ke tempat permandian. Toilet dan tempat mandi di George Lake cukup banyak dan bersih. Membuat acara car camping hari tersebut menjadi sedikit lebih mudah. Air hangat yang deras mengucur memberikan rasa relax tersendiri. Apahal? karena kami pernah merasakan camping dengan air mandi yang sedingin es, tubuh serasa di silet-silet. Pernah juga mengalami yang namanya mandi kudu masukin duit receh, tiap 2 menit mati airnya dan kudu masukin lagi, duileh… mandi paling terburu-buru & rempong saat itu.

Tubuh bersih dan suasana sudah gelap gulita, hanya tampak campsite tetangga yang sudah menyalakan api di fire pit. Kok bisa? kan basah? Bisa, karena mereka memasang terpal yang lebar dan lagi mereka pake trailer, mungkin kayu bakarnya tidak sampai basah begitu juga fire pitnya. Duh nyamannya melihat mereka dalam suasana hujan duduk melingkar di meja segi empat dengan api menyala-nyala disampingnya. Sementara gua dan hadi bersiap mengambil posisi masing-masing.

Mau ngapain Yul? ancang-ancang ambil posisi? Mau tidur nyong… kan mau tidur di mobil malam itu? kursi depan kami turunkan kebelakang, sleeping bag di siapkan, kaca diturunkan sedikit supay nggak tau-tau sudah kaku aja berduaan didalam mobil. Malam itu hujan bukannya makin reda tapi makin deras, turun terus hingga esok pagi. Hadi katanya bisa tidur dengan pulas. Gua? cukup terbangun bangsa 5x sahaja. Yang kedinginan lah ( awalnya gak pake sleeping bag karena efek air panas sewaktu mandi ), yang kesemutanlah, yang mimpilah. Tapi walau kebangun-bangun seperti itu, Puji Tuhan paginya nggak jadi zombie.

Day 2

Bubur Ayam ala Tante Cecile

Sabtu pagi ketika gua bangun sekitar jam 7 pagi. Hujan sudah berhenti total. Bubur ayam buatan Om Jeha dan tante Cecile sudah memanggil-manggil. Bubur dimakan dengan irisan cakwe, duh sedapnya. Hari kedua adalah hari babak penentuan, Apakah akhirnya kami bisa menyeberang ke Collins Inlets, atau harus car camping lagi, atau paling parah harus pulang hari itu juga karena kemungkinan untuk mendapatkan free campsite di weekend agak mustahil. Benar saja, semua campsite di George Lake untuk weekend tsb sudah fully booked, kalo mau kami menjadi cadangan dan akan diberi kabar siang harinya apabila ada yang cancel.

Photo by Awi

Harapan kami satu-satunya dan tentu menjadi harapan utama kami adalah ombak di Georgian Bay sudah bersahabat hingga kami bisa mencapai lokasi utama kami. Tidak ada pilihan berarti selain mencoba mengarunginya, toh prakiraan cuaca menyatakan ombak tidak tinggi dan kondusif untuk diarungi. Setelah meluncurkan Tante Cecile, Joshua dan Devin, rombongan berikutnya satu persatu ikut meluncur. Kami tidak mendapati rintangan berarti selama perjalanan dari Chikanising ke Crown Land dimana kami bermalam pada hari kedua. Sebelum sampai pada area terbuka, kami melewati semacam muara yang somehow mengingatkan gua akan perjalanan-perjalanan selama tugas kantor di pedalaman Kalimantan Tengah beberapa tahun yang lalu. Lebar muara sekitar 5 meter dengan semak/tanaman di sepanjang kiri kanan muara, airnya tenang. Hanya saja yang ini katanya tidak ada buaya sedang yang di KalTeng ada.

Selama kurang lebih satu jam mendayung, kami sampai di pulau tak berpenghuni, hmm… sebenarnya ada sih penghuni lain, nampak ‘jejak’nya disana sini.Β  Jejak kaki Yul? Bukan sayangnya… tapi ‘ranjau-ranjau’ disana sini dengan bentuk dan tipe serupa. Kami, terutama gua dan hadi kemudian menebak-nebak, tokai siapakah ini? manusia kah? binatangkah? kalo binatang, binatang apakah? paling sedikit kami menjumpai 3 tumpukan ‘ranjau’ dilokasi yang tidak terlalu berjauhan. Huh, ilfeel deh ih…

Sampai tulisan ini dibuat kami belum menemukan kata sepakat, tokai siapakah itu? Hadi cenderung menganggap itu tokai burung. Gua tentu menolak keras karena burung jenis apa yang tokainya bisa segede-gede kelingking orang dewasa? Sepertinya e ek anjing? mungkin ada yang bawa anjingnya jalan-jalan dan mengkhususkan pulau ini sebagai toiletnya si anjing. Hadi menolak teori anjing ini! Jadi begitulah, kami belum tahu ‘ranjau’ siapakah itu.

Ketika turun dari canoe, sudah dikasih tau jangan injak batu yang basah karena super licin. Tapi apa daya, gua dan Devin harus memberi salam cium ala lutut ke batu ketika berusaha turun dari Canoe. Gua sih gak sampai kenapa-napa. Si Devin ampe biru tulang keringnya. Ketika hal ini disampaikan ke Papanya beberapa hari kemudian, mau tau apa komentar sang Papa? “Yah, namanya juga matanya di kaki bukan di dengkul” Bwahaha… ini Papa nyeleneh ya… Kita pecat aja apa sebagai Papa? LOL

Hotel bintang 5 atau cottage manapun lewatlah... πŸ™‚

Hal pertama yang kami lakukan kemudian adalah pasang tenda. Sebagain besar terutama Om JeHa dan Tante cecile sudah berkali-kali ke pulau ini, sehingga mereka sudah punya spot special aka spot langganan. Tempatnya sangat strategis, dibawah cekukan tanah agak landai dan rata dibawah pohon pinus (?) cocok sekali buat yang ingin mojok, nah loh? GUa & Hadi yang plengak plengok akhirnya memutuskan untuk membangun tenda kami di spot paling tinggi daripada semua spot yang sudah diambil para peserta. Agak dekat ke tepi air di samping pohon pinus dengan alas yang mayoritas adalah batu. Terpaksa tenda di ikat ke batu dengan harapan tenda beserta isi-isinya tidak terbawa angin, hehe.

Siang itu, kami makan sandwich ala Cik Ayrini. ada cold pork & beef dengan olesan mayonaise dan berbagai macam sayur mayur serta tak ketinggalan keju lembaran. Hmm… simple dan nikmat, gak perlu pake acara cuci-cuci piring, hehe. Abis makan terus ngapain Yul? apalagi kalo bukan pada mancing dan motret? Setelah wara wiri dan lesehan di batu karang, rasa kantuk kembali menyerang. Kali ini tidur siang dilakukan berdua dan konon katanya aku ngorok. Mungkin efek tidur kagak puas didalam mobil hingga membuat tidur siang hari kedua tersebut yang dilakukan didalam tenda 3 season serasa tidur di kasur nan empuk.

Karena ini pulau tak berpenghuni maka tidak ada namanya toilet, atas kesepakatan bersama kami menunjuk sebuah area yang agak jauh dari semua tenda sebagai area buang hajat. Dengan antisipasi yang cukup matang untuk menghadapi situasi ini, jauh-jauh hari kami sudah menyiapkan ember beserta centongnya untuk cebok, se-pak gede tissue basah & tissue gulung. Ntah karena sudah lama tidak pernah lagi pipis ditempat terbuka atau karena bawaan tinggal di negeri asing, adegan pipis sambil baca mantra tidak gua lakukan. Dulu sekali, jaman masih pake celana kotok wara wiri tanpa rasa malu, saat kebelet dan harus pipis di tempat umum, maka gua akan bermantra ria “nenek numpang kencing, kakek numpang kencing” Yang ketawa karena melakukan hal yang sama, silahkan tertawa yang lebar, yang tertawa karena merasa gua tolol, silahkan blame my mom, dia yang ajarin, hohoho.

Tidur siang dilakukan juga dengan harapan supaya malamnya tidak ngantuk, berharap nanti malam bisa nonton perseid meteor. Apa daya dengan awan tebal, adegan nonton bintang jatuhpun buyar. mereka-mereka yang memasang weker jam 2am dan jam 4am harus kembali lanjut tidur. Sore itu para pemancing kita mendapat cukup banyak ikan, mulai dari yang ukuran cukup besar, sedang hingga kecil. Yang kecil-kecil dan masih bugar dikembalikan ke alam, berharap mereka tumbuh besar dan bisa ditangkap tahun depan.

Namanya anak-anak yang besar di Kanada, adalah hal yang fantastis bagi mereka melihat wujud ikan seutuhnya, apalagi yang masih mengelapar2. Beberapa waktu waktu piknik di Belwood, ada seorang anak yang akhirnya merengek pada mamanya untuk dibelikan ikan hidup. Saat ikan hasil pancingan disembelih, dia tak henti menatap dengan rasa ingin tahu. beberapa waktu lalu juga pernah dengar cerita, ada anak yang mengira kalo telur ayam itu tumbuh di pohon. Gak heran sih, hari-hari mereka melihat ikan sudah dalam bentuk fillet. Bule dewasa aja geli geli ogah kalo diajak makan ikan yang masih ada kepalanya.

Nah sore itu saat ikan hasil tangkapan akan dibersihkan, tentu ikan-ikan yang masih fresh dan hidup tersebut perlu dimatikan dahulu. Sebuah proses yang bikin gak tega sebenarnya. Awi sang pakar perikanan malakukan teknik dengan memukul kepala ikan dengan alat potong ikannya, ketok satu dua kali ikannya sudah diam. Berikutnya di gorok dan dibuang semua isi perut serta insangnya, cuci cuci sebentar kemudian sisiknya di bersihkan juga. Karena jumlah ikan ada belasan maka secara sukarela satu dua peserta yang masih masuk golongan pre-teen pun membantu. Mau tau cara mereka mematikan para ikan? Teknik pertama, ikan di pegang mendekat ke ekornya, area kepala kemudian di hantamkan ke batu karang. Ntah licin ntah gak kuat hantamnya, tuh ikan mati susah hidup apalagi. Merasa teknik pertama kurang cespleng, maka dilancarkan teknik ke dua. Ikan dibaringkan di batu, dipegang supaya gak menggelepar2 dan kemudian kepalanya dihantam pake batu, berkali-kalii sampe ikannya menyerah. Kalo ikannya bisa ngomong mungkin ikannya akan nyanyi lagu Killing me softly.

Ikan-ikan ini pun kemudian di beri garam dan di goreng hingga garing. Hingga malam sudah larut ternyata ikan sisa 2 ekor, yang terpaksa dihabiskan oleh pasutri Hilwan. Gua tentu saja tidak makan. Kenapa? Masih terbayang-bayang kail di mulut ikan yang masih ada cacingnya, Hiiii… jijay!

Day 3

Dimanapun, kapanpun, makanya tetap Indomie Seleraku....

Tidur malam kedua nyenyak hingga keesokan harinya, rada kesiangan sebenarnya. Sarapan pagi hari ke 3 adalah oatmeal dengan dry fruit. Tapi ntah kenapa saat gua beranjak ke area makan, Cik Ayrini dan Tante Cecile sedang memasak Indomie goreng. Walhasil gua jadi ikut ngantri dengan harap-harap cemas, hehe. Singkat kata kebagian juga itu Indomie, Jadi deh sepiring berdua. Berhubung kami harus pulang hari itu juga, maka Hadi bersiap merapikan tenda sedang yang lain kembali beraktifitas karena mereka memutuskan untuk stay 1 malam lagi di Collins Inlets.

Kendaraan kami menuju Collins Inlets

Pagi itu masih sempat memotret disekitar island, hanya saja awan masih cukup tebal sehingga matahari tidak terbuka dengan sempurna, alhasil kontras cahaya sangat tinggi, begitu matahari terbuka dan memapar batu karang, langsung deh jeprat jepret. Suasana pagi hari di pulau tak berpenghuni selalu mengasyikan. Tenang, syahdu, sejauh yang dapat didengar hanyalah suara deburan air yang memecah batu karang, suara-suara dari bebek dan burung serta sesekali lengkingan dari arah rombongan yang memancing, ah pasti salah satu ikan telah terjerat ke kail mereka.

Tempat yang asyik untuk menenangkan diri, halah! πŸ˜€

Ketika duduk berdiam diri di tepi batu karang dan menikmati suara deburan airnya, ntah kenapa seolah-olah tiap deburan ombak tersebut seperti saling berbicara, kadang terkesan mereka bersahut2an, kadang hanya berupa bisik2 kecil saja tapi acapkali saling bersahut2an hingga ingin rasanya nimbrung dan bilang “Diam… diammm ngomongnya giliran aja” πŸ™‚

Salah satu kendala yang ditakuti oleh orang-orang ketika diajak interior camping adalah masalah buang hajat. Dikarena tidak ada toilet maka adegan pembuangan harus terjadi di alam terbuka dengan fasilitas minim semacam skop untuk menggali & menimbun hasil buangan. Gua sudah juah-jauh hari mengantisipasi dengan menanamkan self confident bahwa gua akan berusaha dan memastikan ketika sedang di pulau tidak akan memenuhi panggilan alam tersebut.

Beberapa tahun lalu sebenarnya gua sudah pernah melakukan trip yang serupa. Kala itu bersama beberapa teman backpacker bercamping ria di beberapa pulau tak berpenghuni di Kepulauan Seribu. Kala itu tidak seseram ini karena percaya kami masih bisa mampir ke pulau berpenghuni dan akan mudah mendapatkan toilet. Dikarenakan saat itu campingnya berhari-hari maka ada juga kejadian ketika alam sudah memanggil2 dan perasaan lega karena akan mampir kesebuah pulau pribadi yang punya fasilitas villa, tentu harapannya kami boleh menumpang. Apa boleh buat ketika sudah sampai kami tidak diijinkan untuk memakai toilet, duh biyung… rasanya muka sudah pucat, kuning, hijau, balik pucat lagi. Walhasil ketika kembali ke Pulau Pramuka, habislah rumah seorang warga gua bombardir, LOL

Maka pada trip ini gua nggak terlalu khawatir, apalagi cuma semalam. Namun lagi-lagi kita tidak boleh terlalu over confident sama alam. Nyatanya pagi itu perut rasanya sudah geli-geli, antara iya dan tidak. Melihat gejala-gejala yang lebih ke iya ( mungkin begitu rasanya kontraksi mau melahirkan, hehe ) gua putuskan dengan berani untuk melakukannya di pulau ini, biar lengkap deh misi kali ini, begitu harapannya πŸ™‚ Dengan agak malu-malu kucing, suami gua tugaskan untuk meminjam skop, hehe.

Bermodalkan skop, air seember berserta centong, tissue basah & kering, gua pun menuju area pembuangan. Hadi kemudian memberi sedikit tip dan triks sebelum ia kemudian berbalik dan berjaga-jaga disekitar, jangan sampai gua lagi asyik-asyik berbisnis eh ada yang lewat, haha. Sejenak gua berdiri menatap alam sekitar, rata-rata adalah bebatuan, gimana nyekopnya nih? melihat gua plengak plengok, Dari kejauhan suami teriak “Cepetan, gak usah pikir lama-lama” Duhileh, gimana gak pake mikir kalo lokasinya aja belum nemu yang pas. Ada kali kira-kira 10 menit mondar mandir, liat sana sini, termenung, otak berputar memikirkan cara, mengumpulkan segenap tenaga dan keberanian, yang akhirnya anti klimak. Panggilan alam tersebut akhirnya hilang, tak berbekas, hehe… hore!

Pas balik dengan lempeng bilang ke penjaga “Nggak jadi, sudah nggak pengen” bwahahaha… πŸ˜€ Dari 14 sintingers yang ada, gua rasa gua the most sintinger! KArena satu bulan sebelumnya gua sudah tau kalo hari-hari pas camping ini gua akan kedatangan tamu bulanan. Suami sudah bilang untuk batalin aja kalo tidak nyaman, dia lupa punya istri auban/nut shell/kepala batu. Sudah bilang mau ikut masa batal gara2 beginian? Jadi memang betul-betul terjadi sesuai prediksi, untungnya tidak ada adegan kram perut. Gimana? apa saya layak menyandang title The Most Sintingers?

Adegan paling epic selama interior camping adalah menyaksikan orang-orang yang baru selesai buang hajat. Rata-rata bermuka lempeng (baca : Lega plus malu-malu kucing) & tangan mengenggam sekop. Kalo di videokan dan di slow motion terus digabungkan adegan beberapa orang, pasti seperti teaser film-film perang, ketika jagoan pulang dari medan peperangan. Ekspresi mukanya adalah bangga karena berhasil menang namun juga sedih karena banyak teman-temannya yang gugur, Hahaha EPIC!

Ketika hari sudah menjelang siang, gua, Hadi, Adhi dan Ian sebagai rombongan yang akan kembali ke kehidupan normal, bersiap kembali untuk mengarungi Georgian Bay. Secanoe berempat dan dilepas oleh sang Team Lead. 20 menit perjalanan semua berjalan dengan lancar bahkan terhitung cepat, memang beda kalo yang dayung anak muda, wahaha… Ketika mendekati area terbuka untuk kembali masuk ke muara, kami sempat ‘tersesat’ mengira bahwa kami sudah sampai pada muara yang akan membawa kami ke ‘pelabuhan’, alhasil kembali dayung rada ketengah.

Siang itu ombak tidak besar, menurut prakiraan cuaca hanya 0,3 meter. Sesaat gua melihat ada sebuah speed boat yang melintas namun gua gak memperhatikan ombak yang datang, kami semua tepatnya tidak siap dengan ombak bergelombang yang datang tiba2. Pertama menyadari kehadiran ombak tersebut gua berusaha tidak berteriak, tidak ingin membuat panik yang lain, tapi begitu Ian (kalo gak salah) berteriak maka gua dengan berbekal training sebelum2nya cuma bisa bilang it’s okay, dayung terus dan berusaha mendayung dengan sepenuh hati ( Iya ngaku, sebelumnya gak sepenuh hati… biarkan tiga pria2 ini mendayung hahaha ).

Busyet deh ya tu gelombang ombak, membuat canoe kami terayun-ayun. Untung posisi canoe tidak sejajar dengan ombak sehingga kami tidak terdorong atau terhempas. Lepas dari kekagetan karena ombak pertama tadi, kami kembali mendapat gelombang ombak berikutnya dari speed boat yang lain. Berhubung kali ini lebih waspada, tidak ada lagi teriakan histeris, hanya semua siaga mendayung dengan sepenuh hati. Berharap cepat-cepat untuk sampai ke muara hingga tak perlu lagi berjumpa dengan para speed boat.

Ketika akhirnya berhasil masuk ke muara, perjuangan kami belumlah selesai. Setidaknya 2 kali canoe menerobos semak di sisi kiri canoe. Ranting2 pohon harus ditahan dengan tangan agar tidak ngejepret ke muka. Karena hal inilah maka saat menjelang turun dari canoe gua melihat ada ulet ijo meliuk-liuk di backpacknya Adhi. Dengan gaya tante-tante penuh perhatian gua memberitahu kalo ada ulet di tas mereka. Apa hendak dikata kalo beberapa saat kemudian gua mendapati juga dua ekor ulat di celana gua. Damn.

Fish & Chip! Yummy!!! $14/porsi Mehong!

Setelah kembali ke George Lake, rasanya lega sekali. Bermodal year passnya Awi. Gua dan Hadi masuk kembali ke campsite untuk menumpang mandi dan bersih-bersih. Adhi dan Ian segera menuju ke Killarney Outfitter untuk mengembalikan PFD dan paddle sebelumnya kami say goodbye di Chikanising. Selesai mandi, kami menuju ke Fish & Chip yang termasyur untuk lunch. Ikannya fresh, lokasinya asyik buat santai-santai. Cocok buat orang yang habis paddling kurang lebih sejam untuk kembali mengisi tenaga sebelum melanjutkan perjalanan selama 4 jam-an.

Walau cuaca tidak mendukung, namun secara keseluruhan camping kali ini menarik. Kasur di kamar terasa lebih empuk 20x lipat πŸ™‚ Walau cuma semalam, paling tidak gua sudah boleh mengclaim pernah interior camping di Kanada, Yes!

Lucu yaaaaa πŸ™‚

Terimakasih untuk rekan-rekan yang ikut serta, trip ini tidak akan berkesan tanpa kalian, cieeee ileeehhh… ^^ Terimakasih juga sudah dimasakin dan siapain makan selama 3 hari ^^ (nasib yang gak kebagian tugas nyiapin makanan), Maaf kalo selama trip atau di tulisan ini ada salah salah kata & perbuatan ^^ Semoga kita bertemu lagi di lain kesempatan dan kesempitan!

==================================================

Sekalian nih, karena bertepatan dengan HUT Republik Indonesia, Gua mau ucapkan MERDEKA!!!

Ini kupersembahkan foto dengan tema Merah Putih πŸ˜€

Maple Leaf

Is it true? πŸ˜€

YuTan

Yang besok pagi siap-siap vacation lagi ke Vancouver, Calgary & sekitarnya!!!

#28 – 365 Project

Saturday!

It’s time to stay longer on bed, haha.

Went to friend’s house to have a hotpot. We went there aroung 5pm, all friends and new friends were preparing the food, we had shrimp, squid, beef, veggies, tofu, mushroom, etc. Wow! Eat a lot and ending it with ice cream.

After finished our hot pot on the floor… ( actually, we still have a lot of food left, and decide it to have a 2nd hotpot tomorrow LOL ) we played game, UNO. Always hillarious, haha… Tonight must be my lucky night, I won about 4 games from total 10-12 games we played, happy πŸ™‚

And before midnight, we need to come back home, both of us cannot drive after 12 am, LOL. Hope you all have a nice Saturday also.

Happy Sunday!

Yuli