Indahnya Masa Waktu Itu

Badannya kurus dengan rambut hitam berkilap lurus, kulitnya pun hitam penanda ia sering main diluar, sekilas dia sama saja dengan anak-anak seusianya yang asyik jalan kesana kemari mencari bekas bungkus permen. Hanya satu yang menbedakan dia dengan teman-temanya yang lain, matanya sipit.

Lain waktu di jam yang kurang lebih sama, sore hari sehabis pulang sekolah dan makan siang, ia kembali berkumpul dengan satu dua temannya. Kali ini mereka pergi mencari ulat pisang, tampak wajah-wajah penasaran sekaligus geli apabila mereka berhasil menemukan daun pisang yang bergulung, harap-harap cemas seberapa besar ulat yang ada dalam daun tersebut. Lagi-lagi ia tampak sama dengan anak-anak yang lain, hanya saja jika sudah waktunya pulang, ia kembali ke rumahnya yang ada didepan, dipinggir jalan raya bangunan beton bernama ruko.

Jika tak ada ide bermain yang menarik, maka biasanya mereka akan tidur-tidur siang disebuah Langgar yang ada diatas rawa-rawa berkolam kangkung. Langgar dengan lantai papan dan bentuk bangunan seperti rumah panggung itu memang suka sepi di jam-jam tersebut. Tak ada yang aneh apalagi melarang si gadis kecil bermata sipit dan berkulit legam tersebut ‘hangout’ di rumah ibadah temannya.

Sewaktu bapaknya meninggal dan ekonomi keluarganya menjadi sulit, Ia pergi menjaja es batu kala bulan Ramadhan tiba. Pengalaman bermain bersama anak-anak kampung sebelumnya membuatnya cukup paham seluk beluk jalan ke kampung belakang, belum lagi Ia juga cukup populer. Badannya yang kurus ceking karena habis sembuh dari sakit Typus mampu menenteng 2 kantong kresek besar berisi masing-masing 3 es batu. Daganganya selalu habis, bahkan kadangkala Ia perlu bolak balik 2 kali, laris manis judulnya. Waktu itu tak ada yang aneh apalagi mencibir.

Ingat Langgar yang diceritakan diatas? itu jaraknya dekat sekali dengan si Ruko pinggir jalan raya. Tiap kali azan mengumandang atau sesekali jika ada yang mengaji, maka suara yang masuk ke Ruko bukan sayup-sayup saja. Resiko suara berisik akibat letak rumah dekat jalan raya? dekat sebuah Langgar? tidak juga. Sebulan penuh setiap waktu menjelang sahur, suara anak-anak kampung dengan segala perkakas yang bisa mereka temukan dan pakai dari dapur Ibunya akan bersatu padu membangunkan segala mahluk yang masih terlelap. Waktu itu tidak ada yang gelisah apalagi ngomel-ngomel.

Sekelumit kisah hidup masa kecil si kurus berkulit legam dan bermata sipit itu secara tidak langsung membentuk dirinya yang saat ini. Bahwasannya kita dapat hidup berdampingan dengan rukun dan damai, tanpa ada sikap saling mencurigai, tanpa sikap pilah pilih berdasarkan warna kulit apalagi kepercayaan. Tidak ada label-labelan bahwa kamu kafir atau kamu si fanatik.

Selamat menjalankan ibadah puasa buat teman-temanku sekalian dimanapun kalian berada, semoga berkah. Amin.

YuTan

[Yang sudah tidak kurus & selegam dulu, tapi masih sipit dan suka berteman]

One thought on “Indahnya Masa Waktu Itu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *