The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 1]

Ini tulisan mengenai perjalanan saya dan suami ( serta 2 orang teman yang menyusul kemudian ) ke Vancouver, Calgary & beberapa National Park ( Banff, Yoho & Jasper di Provinsi Alberta ) selama 10 hari. Perjalanan dilakukan sekitar tiga bulan yang lalu, tepatnya di pertengahan akhir bulan Agustus 2012. Karena tulisannya akan super panjang maka akan saya buat menjadi dua bagian, biar serasa kayak Twilight – Breaking Dawn Saga, ada part one dan part two. LOL  tiga atau bahkan empat bagian. Ya jadi kayak Twilight dah dimana 3 buku jadi 4 film. Diusahakan tidak sampai jadi seperti serial Harry Potter dimana 7 buku jadi 8 film, hehe.

[Note]

Ini tulisan dibuat dari perspektif :

Seorang turis yang baru pertama kali berkunjung ke lokasi-lokasi tersebut dan yang melakukan perjalanan ala backpacker selama di National Park dan semi backpacker selama di kota.

Seluruh isi tulisan, khususnya tip dan trik dan cerita bole bolonya lebih berfokus pada perjalanan selama di Rocky Mountains namun saya akan ceritakan secara kronologis perjalanan kami sejak dari Toronto – Vancouver – Calgary – Banff – Jasper – Yoho – Banff – Calgary – Toronto. Jika anda hanya butuh informasi selama perjalanan ke National Park, saya mengwajibkan anda baca seluruh judul blog ini yang mungkin akan terdiri dari 3 seri paling sedikit, karena disana sini mungkin akan terselip informasi yang berguna mengenai trip ke RM ( maksa dot com ) hehe.

Rencana dan persiapan perjalanan

Manusia boleh berencana namun Tuhan jualah yang menentukan. Saya, suami dan beberapa teman berencana suatu hari nanti ingin melancong bersama-sama ke Rocky Mountains ( yang meliputi Banff, Yoho & Jasper National Park, Canada ). Yang konon sangatlah spektakular dan one life time experience, the place that you want to come before you die, Ya segitu lebay-nya lah orang-orang mempromosikan keindahan tempat ini. Namun apalah daya, walau berdomisili di Kanada, impian ke daerah sana harapannya cukuplah tipis. Apalagi saat itu kami masih tinggal di Halifax, bagian paling timurnya Kanada, sedang daerah Rocky Mountain terletak di wilayah barat Kanada.

Melihat harga tiket pesawatnya saja sudah bikin merinding atau sekurang-kurangnya malah jadi mikir lebih baik pulang kampung aka dolan ke tanah air beta Indonesia kalau punya dana segitu. Namun seperti saya katakan diatas, manusia berencana Tuhan jualah yang menentukan. Bukan saja kami kemudian dapat melancong kesana tapi kami juga hanya mengeluarkan separuh biaya yang semestinya, dikasih dua orang teman seperjalanan yang dapat mengikuti trip ini dari very short notice yang kami beri. I cannot complaint. God is good.

Begitu sudah ada kepastian keluarnya permit boleh ambil cuti. Maka berita ini segera kami layangkan ke teman-teman yang dulu kita sempat berangan-angan untuk pergi bersama tersebut. 1 orang akan kesana juga tapi bersama keluarganya yang datang dari Indonesia dan selisih 1 minggu lebih lambat dari jadwal perjalanan kami, 1 pasang teman terpaksa tidak bisa ikut atau berusaha ikut karena sudah terlanjur beli paket tur ke Cuba sejak awal tahun sehingga mustahil untuk dapat cuti atau ada dana sisa untuk melakukan trip jauh dan makan banyak biaya, sisa 1 pasang teman yang domisili di Halifax yang pada awalnya saya sendiri pesimis kalau mereka mau atau bisa join. Walau memang sejak Juni sudah saya tiup-tiup informasi soal tunda semua rencana jalan-jalan karena ada kemungkinan kita akan ke Rocky Mountain, please stay tune, hahaha… very confident. So, begitu sudah pasti waktu itu sudah masuk bulan Juli, alhasil hanya punya waktu sekitar 1 1/2 bulan persiapan. Tak disangka-sangka mereka bilang Yes, we’re in!

Tuhan itu luar biasa, bisa-bisanya Dia menyanggupi sepasang teman yang secara lokasi ‘terpaksa’ keluar dana lebih banyak untuk tiket pesawat, mengatur sejak lama bahwa teman ini punya Om di Edmonton (salah satu kota di Alberta) yang mengharapkan mereka untuk suatu kali mampir menengok beliau sekeluarga, memberi kami teman seperjalanan yang punya concern yang sama soal dana perjalanan yang irit ( not to try to blame or judge another friends who probably won’t stay at tent and prefer stay at hotel, it’s okay though. We just cannot afford it, hmm… we can (kalo terpaksa, ya kannnn? :p ) but we prefer to spend as low as possible ), Kami ber-empat pun sama-sama belum diberi anak kala itu, sehingga lebih bebas bergerak dan bepergian dibandingkan misal sudah punya baby. Perjalanan ini pun jatuh di hampir akhir libur summer, sehingga harga-harga sudah lebih murah dan lokasi-lokasi wisata tidak sepadat pada peak liburan summer. So, How awesome our God? He is the planner. All credit go to Him.

Begitu  teman bilang oke. Maka babak selanjutnya adalah beli tiket pesawat dan mulai googling sana sini dan tanya sana sini mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Adapun perjalanan bersama teman hanya saat di National Park saja. Kami jemput mereka di bandara Calgary dan kemudian langsung melanjutkan perjalanan ke Rocky Mountains selama 4 hari 3 malam sebelum kami drop mereka di stasiun Bus untuk mereka lanjutkan perjalanan ke Edmonton dan kami lanjut ke Calgary untuk pulang ke Toronto keesokan harinya.

Agenda ketika hanya berdua selama di Vancouver dan Calgary tidak terlalu dipikirkan diawal karena mostly kalo jalan-jalan ya cuma saya sendiri terus yang namanya di kota ya paling gitu-gitu aja kan? jadi kami pull a side dulu perincian ittenary selama di dua kota tersebut dan lebih fokus ke detail perjalanan selama di National Park. Bukan saja karena ini melibatkan orang lain tapi juga karena sempitnya waktu yang dimiliki membuat kami harus waspada jangan sampai salah atur sehingga habis waktu dan biaya. Sudah disinggung diatas ini mungkin akan jadi one life time experience, mungkin gak bisa atau akan kembali kesini lagi, jadi waktu yang ada harus dipakai semaksimal mungkin.

Kepala saya sampai cenat cenut ketika menelusuri forum demi forum di Internet yang membahas perjalanan ke lokasi ini. Saya tidak mau hanya mengandalkan informasi dari website tempat wisata yang tentu menyiarkan yang indah-indah saja atau lebih tourist oriented, saya lebih prefer ala backpacker dimana dengan biaya serendah-rendahnya tapi bisa mendapatkan semaksimal-maksimalnya sama seperti para turis yang uangnya tidak berseri, Ha!

Pengaturan detail rencana perjalanan saya hanya pakai kata “saya” karena secara tidak langsung saya ditunjuk sebagai pengatur perjalanan, tiga yang lain juga melakukan survey dan searching, sehingga begitu saya kirimkan email v.01 mereka sudah ngeh apa yang saya maksud, baik karena mereka sudah pernah baca/tahu atau pasrah saja sama pilihan saya, mereka pun sesekali memberi usul. Mungkin ada sekitar 5 email yang hanya bahas soal tempat yang akan dikunjungi dan tempat inap. Cukup efisien karena semua ngerjain PRnya masing-masing. Banyak email tek tok lebih kepada urusan bole bolo karena terlalu excited, haha.

Gak seru kalo semua lancar mulus tanpa halangan. H minus 2 minggu kalo tidak salah. Katanya ada sedikit perubahan jadwal. What?! Yang kalo sampai itu terjadi, tidak banyak sih ‘kerusakan’ yang akan terjadi, hiks hiks. Paling dari awal yang rencana punya perjalanan wisata hemat menjadi super boros dan tidak penting. Saya pun loyo dan tidak bersemangat lagi, haha. Loyo tinggal loyo, lemes tinggal lemes, show must go on. Doa saya kencengin… haha. Berharap tetap stay dengan jadwal semula, berharap tidak perlu ubah tiket pesawat (walau dengan terpaksa tetap cari-cari informasi soal ganti tiket), berusaha tetap calm walau hati sungguh cemas. In short, semua kembali ke selera asal, eh maaf maksudnya semua kembali ke posisi semula. Mulus tanpa cacat! See? The power of Pray!

Judulnya kalo mau wisata hemat, biaya yang paling cepat untuk dihemat adalah biaya akomodasi. Ya, tempat tinggal! Pilih saja mulai dari Hotel Bintang 5, Jadi Hotel bintang 3, turun lagi jadi Villa, Cottage, Hostel, turun lagi ke kamar dorm, turun lagi ke TENDA! kalo perlu numpang di rumah saudara teman dan handai taulan, hehe. Kok untuk Tenda hurufnya lu gedein sih YuTan? Iya, habis special sih… kayaknya cuma di daratan Amerika Utara sini deh yang umum kalo jalan-jalan disaat summer atau ketika cuaca cukup warm untuk tinggal di tenda, nggak melulu pas jalan ke hutan loh, ke kota pun alternatif ini cukup populer. Gak pernah dengarkan kalo misal orang Jogya pas jalan-jalan ke Jakarta trus pilih/bisa tinggal di tenda. Disini cukup banyak campground, baik di Provincial Park, National Park sampai di dalam kota, ya tentu gak persis sis ditengah kota tapi cukup dekat.

Sayangnya tidak semua orang rela/mau/bisa/pilih tidur di tenda. Kita juga ogah sih kalo duitnya ada, hahaha tapi karena bisa hemat banyak dan lagian namanya jalan-jalan pasti waktunya habis di jalan/lokasi wisata. Jadi buat apa sewa hotel atau Cottage bagus-bagus tapi cuma buat tidur dan mandi? Terus kalo sudah satu malam di tenda ya kenapa juga malam-malam berikutnya harus di hotel? itu namanya cari perkara karena gotong-gotong tenda dan sleeping bag hanya untuk di pakai  satu malam.

Pilih tidur di tenda bukan perkara sudah hemat sekian dan sekian. Faktor keberuntungan sangat penting dalam situasi demikian. Kalo sampai hujan maka judulnya hemat plus nelongso. Nggak pakai hujan saja sudah berat buat sebagian besar manusia apalagi pake hujan. Rempong booookkkk kata penghuni taman lawang.Tapi selama kita masih tinggal di bawah kolong langit, ada harga ada barang. Kalo cuma sanggup bayar harga segitu ya kudu terima sepaket plus dan minusnya juga. No complaint gitu. Kalo cuma mau bayar harga campground tapi mau nikmat kayak hotel bintang 5 ya ke laut aja sono, nyemplung trus jangan nimbul-nimbul lagi, hihi.

Kelebihan pilih tidur di tenda selain jauh lebih hemat juga pengalamannya beda. Kalo pergi sama pasangan atau teman bisa jadi ajang belajar kesabaran, toleransi, berbagi, gotong royong. Yang ujung-ujungnya kalo bisa melewati semua dengan baik akan ada ikatan yang lebih kuat. Ah bisa-bisa lo aja itu YuTan. Gak percaya? Coba aja… p butuh satu trouble maker aja kok maka akan rusak semua-semuanya. Ya jadwal perjalanan rusak, mungkin jadi buang waktu, dan yang paling parah adalah rusak mood semua rombongan. Yang pilih tidur di hotel yang cuma buka pintu pake kunci, lima langkah sampai ke toilet, sprei dan ranjang sudah rapi tinggal rebahin badan, pas mau check out tinggal ambil barang pribadi dan tutup pintu, gak usah peduli sprei, bantal, sabun, handuk berceceran dimana-mana saja bisa bikin masalah, bayangkanlah kami atau mereka yang tidur di tenda. Kemungkinan errornya naik 500%. So banggalah kalo semua lancar dan happy terus sampai akhir.

Tidak perlu malu kalo hanya sanggup tinggal di tenda di Amerika Utara sini, malah kalo boleh bangga atau dongak dikit dagunya karena hanya sedikit melayu yang sanggup begitu disini hahaha kidding. Bule-bule atau orang yang lama tinggal disini itu konon selalu bilang  “Nggak sah kamu ngaku-ngaku Canadian kalo camping ( artinya pasti tidur di tenda ) saja belum pernah“. Buktinya apa YuTan? Yah gimana gak umum kalo bisa ngebook campground di saat musim panas saja sudah boleh bikin syukuran karena masih berkesempatan, sering-sering sudah fully booked, apalagi wilayah yang populer.

Kekurangan pilih tidur di tenda adalah waktu yang harus di spare untuk bangun dan bongkar tenda, jika dari awal sampai akhir kering maka lebih mudah, tapi kalo pake hujan walau gerimis, waktunya jadi lebih lama karena kudu bersih-bersih dan lap kering. Terutama kalo pake tenda sewaan seperti kami, jangan sampai yang nyewain ngedumel ngedamprat pas ngebersihin tenda bekas kita sewa, bisa sial hahaha oke yang bagian sial cuma bisa-bisanya saya saja, gak sampe sial kok, cuma jadi bad impression saja . Faktor kedua adalah tempat mandi atau toilet yang jaraknya seringkali agak jauh dari tenda.Tentu kalo mau dipanjangin soal kekurangan dan kelebihan bertenda dibanding kalo inap di hotel gak akan habis sampai 2-3 blog.

Penghematan secara cepat nomor dua adalah masalah transportasi. Saya tetap kagum sama para backpacker yang tidak bisa sewa mobil dan terpaksa dolan ke Rocky Mountain dengan hanya mengandalkan kendaraan umum dan kayaknya sesekali nekat minta tumpangan. Tentu daya jangkau wilayah mereka menjadi sangat sangat terbatas, tapi tetap loh, mereka judulnya wisata ke Rocky Mountain. Saya tidak anjurkan ke Rocky Mountain dengan memakai jasa tur dengan bus dan segroup manusia, kecuali dengan amat sangat terpaksa. Tadinya saya pikir paling ideal untuk backpacker ke RM itu menggunakan RV ( trailer yang berfungsi sebagai tempat tinggal & kendaraan ), tapi ternyata ongkos sewa RV onde mande, setara dengan kalo tinggal di hotel, Yo opo maneh yo?.

Ntar lah kalo ada rejekinya, pengen juga punya pengalaman ber-RV ria. Kayaknya cocok buat keluarga yang punya anak bahkan bayi sekalian. Karena segala sepeda bisa diangkut, beberapa RV bahkan dilengkapin dengan dapur sehingga bisa menghemat dari sisi makanan. Jalan-jalan pakai RV mungkin bisa dimasukan dalam istilah Advanced Backpacker, LOL Karena lebih maju setingkat walau tetap ‘ngegembel’ di campground.

Kami saat itu sewa full size sedan. Karena berjumlah 4 orang dewasa maka ukurannya pas. Agak sempit bagasinya karena ketambahan 2 tenda beserta perlengkapan camping. Padahl masing-masing sudah diwanti-wanti. Tiap pasang hanya berhak ( duh, bahasanya ) membawa 1 tas untuk semua alat camping, 1 tas untuk pakaian, 1 backpack karena kita backapaker jd kudu bawa backpack, hahahha kagak ding… LOL pokoknya 1 tas buat isi duit/dokumen/topi dll. Itu semua tidak boleh ada tas model koper yang keras, yang gak bisa di tekan. Sedang barang ‘milik’ bersama adalah air putih dalam kemasan, aneka menu sarapan seperti roti/kopi/teh/buah/biskuit serta aneka snack atau camilan. Kecuali Fotografer, jadi berhak nenteng 1 tas lagi isi kamera, hahaha… tidak boleh ada yang komplain “mentang-mentang fotografer”. Awas ya! Haha.Namanya bukan packpaker kalo bawaannya segambreng kayak mau bedol desa. Light Travel is the best.

Patungan bayar sewa mobil atau Van kalo orang nya kisaran 6-8 orang adalah pilihan yang tepat. Sewa mobil + bensin + gantian nyetir + ongkos dibagi beramai-ramai = Bisa menjangkau lokasi-lokasi lebih jauh, stop dimana saja dan kapan saja semau kita. Di mobilpun tidak terlalu membosankan karena bisa ngobrol sana sini.

Faktor penghematan cukup besar berikutnya adalah di makanan. Jauh-jauh sebelum berangkat saya sudah bilang sama suami. Perjalanan kali ini bukan untuk menyenangkan lidah dan perut tapi untuk menyenangkan mata. Statement ini disambut dengan jabatan tangan tanda DEAL. Secara ya, berdua doyan makan. Jadi harus ada kesepakatan sehingga tidak sampai terjadi kanibalism, LOL. Ujung-ujungnya sih kami gak hemat-hemat banget dimakanan, selain tidak bawa kompor portable dan sudah merasa cukup hemat karena sarapan ala kadar tiap hari, jadinya untuk makan siang dan makan malam kami agak longgarkan walau tetap kalo ada pilihan lebih murah kami pilih yang termurah. Kecuali tidak ada pilihan lain atau tidak kuat menahan godaan atau karena ingin ending yang membahagiakan lidah di akhir perjalanan. Woii YuTan… saruah kabeh, banyak kali alasanmu biar makan nyaman! Waahahaha… lagian, soal makanan ngomongnya ke saya :p Saya kan punya prinsip, apa yang dipakai boleh ala kadarnya, tapi kalo makan dan jalan mengapa harus cheap? selama bisa enjoy ya enjoy lah. Buat apa jadi toko mas berjalan tapi ini itu belum pernah coba dan di pergiin, bagi saya itu ngenas, tapi kalo bagi kamu sebaliknya, it’s okay, it’s free country. Hehe.

Hanya tiga bagian tersebut bisa kamu kontrol. Sedang yang lain-lain tidak ada pilihan lain selain bayar sesuai permintaan jika ingin menikmatinya. Jika pergi bersama teman ada baiknya didiskusikan mana yang mau di skip mana yang kudu. Yang mana semua-semua itu kudu keluar ongkos lagi perorang yang nilainya cukup mahal. Ambil contoh naik Gondola ke atas gunung di daerah Jasper $30an/ orang. Sepasang sudah kena $65. Apa jadinya kalo ada yang mau ada yang nggak mau. Lagi-lagi dengan siapa anda bepergian sangatlah penting. Jangan sampai salah pilih teman perjalanan. Acapkali ada yang terpaksa tidak mengikutkan atau tidak ajak si A si B bukan karena jahat tapi karena pertimbangan seperti ini. Jangan sampai ada saling nggak enak sehingga salah satu pihak kecewa dan yang lain feeling quilty. Tentu kita perlu berupaya ‘menjual’ destination/atraksi tersebut sehingga teman seperjalanan pun merasa tertarik dan ingin mencoba.

Ongkos motor mambur pun tidak bisa menolong banyak. Apalagi yang perginya mendadak. Eh, masih ada satu lagi YuTan yang bisa bikin penghematan. Pemilihan waktu jalan-jalannya, kalo peak season pasti lebih mahal. Betul betul *manggut-manggut*  tapiiiii…. ini kita bicara kemana dulu. Kalo didaerah tropis ya kapanpun dimanapun cuma jumpa terik atau hujan. Kalo ke Rocky MOuntains gak bisa neng atau pilihannya terbatas. Waktunya cuma antara Summer atau Winter. Kan masih ada Spring sama Fall YuTan, gimana sih kau? mau bodoh-bodohi kami ya? Duh, sabar… jangan esmosi dulu dong… sini, tak kasih tau ya… ada banyak lokasi/atraksi di National Park itu yang cuma beroperasi di kala Summer atau Winter doang. Nah kalo sampeyan hobbynya bukan main ski atau olahraga salju lainnya atau anggaplah mau motret suasana winter disana, pilihanmu tuh cuma di musim panas. Dimana semua lokasi dan atraksi dibuka full dengan waktu lebih lama dan almost everyday. Kecuali ada suatu hal misal resiko longsor di sebuah lokasi maka lake didekat daerah sana akan tutup. Apalagi kalo ngetenda om tante… banyak campground tutup kalo belum masuk summer atau paling sedikit diawal summer or akhir Spring. Apa harganya jadi lebih murah? nggak juga setahu saya, kalo pun ada juga gak banyak-banyak amat untuk kelas camping ( kalo hotel mungkin cukup signifikan ) yang ada juga memang jadi lebih gampang ngebook campground. Puas? lanjut lagi ya… 🙂

Okay balik lagi ke ittenary. Dari sekian banyak sumber yang saya ketemukan di internet hampir tidak ada yang menjelaskan secara rinci perjalanan mereka secara backpacker. Alhasil kudu ngintip-ngintip ittenarynya tur travel, lumayan jadi dapat gambaran. Google map juga kudu dibuka bolak balik. Ibarat mau memperbaiki komputer yang rusak, maka perlu kanibalism, comot sana comot sini sehingga tercipta sebuah jadwal perjalanan yang khusus dibuat sesuai dengan keinginan dan kemampuan, baik dari sisi waktu dan dana demi hasil yang maksimal.

Perjalanan kami di mulai dari Calgary (Pusat kotanya Alberta) dilanjutkan ke Canmore, Banff dan terus naik ke Jasper. Agak sulit untuk nyasar dalam rute ini karena praktis hanya ada satu jalan besar/utama menuju keatas, yakni lewat Icefield Parkway. Setelah sampai di Jasper turun lagi dengan rute yang sama ke Calgary. Selama dalam perjalanan itulah kami menginap dan mengunjungi tempat-tempat wisata. Cerita lebih lanjut mengenai nama lokasi, rute, harga beserta tip dan triknya akan saya ceritakan pada part lain ketika sudah masuk ke bagian perjalanan ke Rocky Mountains ini, harap bersabar.

Sebelum mata anda berair, apa sudah?, saya akan stop sampai disini dan lanjut cerita mengenai wisata ke Vancouver pd bagian ke dua dengan judul yang sama beberapa hari mendatang. Saya akhiri part 1 ini dengan sebuah foto pendangan dari atas pesawat.

Rocky Mountains terlihat dari atas pesawat perjalanan dari Vancouver ke Calgary

YuTan

5 thoughts on “The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 1]

  1. Pingback: The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 8 - Final] | Yuliana Tan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *