[Old Posting] Kisahku, Leukemia & kemungkinannya menurun kepadaku – Jan 16, 2009

 

 

Terlahir sebagai anak yang Ayahnya meninggal karena penyakit Leukemia tak pernah membuatku frustasi, malu, kecewa, marah, dll walau hanya barang sedetik pun. Apakah karena ketika peristiwa itu berlangsung (Papa berjuang melawan penyakit tsb) hingga Papa harus menyerah pada penyakit Leukemia aku masih seorang anak kecil yang tidak tau apa – apa.

Namun kenyataannya aku tak pernah sedikitpun mempunyai perasaan tersebut atau merasa aku harus bersikap demikian, yang aku tau Papaku serta Mamaku sudah berjuang sampai titik darah penghabisan, betul-betul habis secara mental dan materi karena sebuah hidup perlu diperjuangkan.

Di dunia ini tak ada seorangpun yang girang ketika dinyatakan sakit, jangankan sakit yang parah macam kanker, demam berdarah, diabetes  atau tipus. Dinyatakan mempunyai sakit ringan macam panuan atau cacingan saja ogah. Itulah mengapa orang berlomba-lomba untuk hidup sehat walau kadang mengucapkannya lebih gampang ketimbang melakukannya,. Maklumlah, sakit di negeri ini memang bisa bikin bangkrut karena rumah sakit – rumah sakit sudah seperti ‘perampok’.

Konon, selain Diabetes Militus (DM) ternyata penyakit kanker juga termasuk penyakit yang menurun tapi tidak menular. Ketika 20 tahun yang lalu, Papa masih di takuti oleh beberapa sanak saudara karena disangka bisa menular ke mereka walau saat itu kedokteran sudah bisa menginformasikan bahwa kanker tidak dapat menular.

Celakanya persentase sifat turunannya tidak ada seorangpun yang bisa memastikan secara signifikan atau paling tidak mendekati seperti yang bisa mereka prediksikan untuk turunan dari penyakit DM ke generasi selanjutnya. ( sejauh informasi yang bisa aku dapatkan dari menggoogling )

Walau aku sudah mengetahui penyakit kanker bisa menurun ke keturunan penderita, aku tak pernah ambil pusing, bahkan pernah ku katakana pada Mamaku, jika seandainya (hanya bisa berandai-andai karena belum tentu Papa langsung mengwariskannya ke anaknya, mungkin ke cucu, ke cicitnya atau bahkan hanya aka nada di Papaku saja krn berbagai hal, mis : gen generasi selanjutnya sudah lebih kuat, generasi selanjutnya lebih menjaga pola hidup sehat, generasi selanjutnya memang tidak di ijinkan Tuhan untuk kena) penyakit itu akan turun ke anak-anak Papa, biarlah aku yang mendapatkannya, ketimbang saudara-saudaraku yang lain. Bukan sok Pahlawan, sok cinta dan peduli pada  saudara-saudaraku yang lain, sok kuat atau lain-lain tp karena alasan yang agak sedikit tolol dan egois yaitu aku tak akan kuat/tega jika harus kehilangan saudara-saudara gua terlebih dahulu dan jika aku yg ‘dipercaya’ untuk mendapatkan penyakit yang sama atau sejenis dengan Papa itu sebuah kehormatan besar buat aku.

Bukan tanpa alasan aku bisa berkeyakinan dan begitu percaya diri pada penyataan aku tersebut tapi semata-mata karena aku begitu mencintai Papaku melebihi apa yang mungkin orang lain bisa bayangkan atau mampu bayangkan.

But hey… apakah penyakit tersebut sudah di depan mata? Apakah penyakit tersebut sudah mengintai di sekitarku? Sekitar saudara-saudaraku? Cucunya? Belum tuh. Apakah belum adalah jawaban yang tepat? Seolah-olah itu PASTI akan terjadi hanya soal waktu? Tapi bolehkah aku lengah atas kemungkinan yang bisa terjadi walau hanya 0,1% saja? Tapi menjalanin hidup dengan ketakutan yang tak pasti apakah baik? Macam orang tak berTuhan saja.

Beberapa tahun yang lalu ada cerita seperti berikut :

Aku punya seorang teman wanita yang Ibunya mengidap penyakit Kanker rahim dan meninggal ketika kami masih di bangku kuliah, Teman ku ini sebut saja namanya Ani. Ani adalah wanita dengan paras yang cantik dan tubuh yg proposional, tak sedikit teman-teman pria diam-diam menaruh hati padanya, namun Ani bukan tipe wanita yang mudah di goyahkan sampai dengan suatu hari, sebagai teman yang cukup dekat dengannya aku tau dia  menyukai seseorang, seberapa dalam itu aku tak tau tapi aku tau dengan pasti, pria ini akan punya harapan. Beberapa  waktu kemudian aku perhatikan Ani sedikit kecewa dengan pria ini, katanya pria ini sudah mulai menjauhinya, loh? Aku lupa apakah aku sengaja memancing pembicaraan kesana atau memang hal ini kemudian diungkapkan sang pria kepadaku, yang aku ingat saat kami berkumpul ramai-ramai di kolam renang sang pria berkata kepada ku : (kurang lebih) Anikan mamanya sakit  kanker dan penyakit itu menurun!

Maksud lo? (tentu saja masa itu belum popular istilah ini, tp mungkin ini lah reaksi pertama ku menanggapi penyataannya) jadilah beberapa menit kemudian, sang pria aku omel-omelin ampe garing, yang dia gak sopanlah, egoislah, sok kegantengan lah, sok tau lah, sok sehat lah, dll

Bukan karena sesama anak dari penderita kanker aku bereaksi demikian, bahkan sejujurnya tak melintas di otak ku kalo suatu hari nanti aku akan mengalami hal yang sama atau jangan kaget jika ada pria yang juga akan berpikir dan berkata kepada ku : Papa lu kan leukemia, penyakit kanker  itu menurun! Aku hanya tidak habis pikir, sesempit itukah hati dan pikiran mereka? Orang waras dengan IQ rata-rata pun tau kalo itu tidak pantas dan merupakan sikap arogan, sekalipun misalnya ada yang setuju alias ogah menikahi wanita/pria yang beresiko bakal kena penyakit kanker apakah pantas kalimat/pilihan/pikiran/sikap dia itu di ceritakan ke orang-orang atau bahkan ke calon pasangannya sendiri?

Seingatku peristiwa tsb diatas tak kuceritakan ke Ani, aku tau mau dia kemudian marah/kecewa/berpikir yang macam-macam. Justru sebagai pemilik orangtua yang punya histori penyakit kanker kita harus bangga karena gak semua orang punya orang tua seperti itu!

Berbasis rasa percaya diri dan kemanusian yang cukup tinggi dalam hal ini sejak peristiwa tersebut tak pernah lagi hal turun menurun itu aku pikirkan, aku tak pernah takut, tak pernah khawatir soal tersebut dan hasil pencarian ku di google belum lama ini, sikap seperti ini justru menolong, positive thinking gitu … jadi penyakit juga jauh ketimbang yang paranoid, salah-salah gak ada histori kanker malah kanker otak/hati jadinya.

Serius nih gak takut? Duh, bukan sombong… tapi ya mau gimana lagi kalo memang akhirnya kena? Kalo sudah positive kena ya di obati semampunya, dipercayakan hidup di dunia ini oleh Tuhan maka harus punya semangat untuk hidup walau angin topan menerjang. Apakah ngobatinnya harus sampai habis-habisan? Tergantung situasi jika sampai harus melaratkan anak cucu atau membuat hutang sana sini pdhal ternyata penyakitnya tidak membaik sedikitpun ya lebih baik jangan (berdasarkan pengalaman cerita dari orang-orang baik sebagai penderita maupun keluarga penderita), memang betul-betul perlu hikmat dan bijaksana dari Tuhan.

Dalam keadaan yang masih single seperti sekarang ini JIKA kemudian aku dinyatakan sakit yang parah dan tak tersembuhkan (gak harus kanker) maka kemungkinan besar aku memilih tak akan menikah kecuali berdasarkan pimpinan Tuhan yang jelas banget dan tuh cowok ntah kesamber gledek atau jangan-jangan punya penyakit mematikan juga atau memang dia juga di pimpin Tuhan dengan jelas sehingga mau menikah dengan aku dan menerima apa adanya aku. Itu kalo ternyata aku punya dan sudah pasti memang berpenyakit mematikan.

Tapi Puji Tuhan sampai saat ini aku masih sehat sejahtera, dari kecil memang sempat sakit-sakitan (waktu Batita ) kemudian sehat banget sampai SD ‘tumbang’ karena sakit Tipus, setelah sembuh sehat banget sampai sekarang sebelum beberapa bulan lalu terserah yang namanya alergi yang lumayan akut, but sejauh ini ya baik-baik saja, sekali lagi Terimakasih Tuhan, begitu juga saudara-saudaraku.

Seperti aku katakan tadi bahwa sebelum beberapa hari yang lalu aku tak pernah lagi mengingat-ingat bahwa akan ada kemungkinan cowo yang akan ragu/mundur mendekatiku karena beralasan (setelah kemudian mereka tau) Papa lu Leukemia. Kalo iya kenapa? Ya anda – anda pasti sudah tau jawabannya.

Resiko menikahi orang yang punya penyakit mematikan apa? Korban perasaan karena melihat orang yang disayangi hidup segan mati tak mau alias mati pelan-pelan? Resiko bakal habis harta? Resiko bakal jd janda/duda secara cepat? Malas repotnya? Malas ngurusinnya? For Joke : kalo tuh orang punya harta melimpah ya oke-oke aja, lebih cepet game over malah lebih bagus.

Eh itukan kalo udah pasti kena atau sudah berpenyakit kalo ternyata belum? Tapi ada kemungkinan terkena walau gak tau pesentasenya berapa, but forget it about persentase! Why? Kalo ilmu kedokteran  bisa memastikan penyakit tsb menurun sebesar 20%, 50% , 68% (ha ha .. ), 99% so what? Hanya cukup 0,1% saja jika memang harus kena ya kena, begitu juga sebaliknya jika gak dijinkan Tuhan untuk kena ya gak bakal kena walau kedokteran sudah melabel bakal 99,999999% a tau bahkan 100%!

So resiko menikahi orang yang berpotensi berpenyakit parah apa?

  1. a.       Ada kemungkinan cepet jadi janda/duda à Hello???!!! Umur manusia ditangan Tuhan, nikahi yang sehat jasmani rohani apakah bisa jamin dia bakal nemenin ampe tua? Ntah dia ‘pulang’ duluan karena tabrakan/dibunuh/’lewat’ gitu aja atau bahkan salah-salah situ yang ‘lewat’ duluan.
  2. b.      Susah mikirin mau punya anak apa nggak, karena takut nanti anaknya berpotensi kena penyakit tersebut juga à Oi… jadi orang gak punya Iman sedikitpun? Sesama pengidap HIV AIDS pun masih punya keinginan dan harapan beranak cucu, bahkan dokter-dokter sudah berhasil membuat semacam terapi agar pasangan orang tua yang kedua-duanya positive AIDS masih bisa melahirkan anak yang negative HIV AIDS! Contoh AIDS tsb mungkin ekstrem aku sendiripun akan memilih tidak akan punya anak kalo sudah kena penyakit itu *knock wood* seperti diatas, punya pasangan aja gua milih nggak apalagi anak, tp ini kita bicara belum kena ya kok mikirnya jauh amat dan nyalinya sekerdil itu seperti Tuhan  itu tidak ada saja untuk melindungi anak-anakNya.
  3. c.       Aduh… bakal ada kemungkinan sad story, mungkin gak kuat liat yang di sayang mati pelan-pelan à Jangan bull sh*t deh… justru kalo sayang itu gak bakal mikir maju mundur atau menjadi ragu.
  4. d.      Harta benda bakal ludes buat ngobatin à Harta gak di bawa mati, yang sakit jg gak kepengen sakit dan habis2in harta. Biasanya kalo salah satu anggota keluarga sudah sakit, yang dipikirkan bagaimana dia sembuh,  yang dikhawatirkan gak ada duit, tp kalo masih ada duitnya dan ogah/pelit di habiskan untuk berobat, ya berdoa saja supaya bibit yang kamu tanam, waktunya panen kamu dapat buah yang lain, bukan hasil buah yang kau tanam.
  5. e.      Anything else?

 

Bagaimanapun mengetahui terlebih dahulu jauh lebih baik ketimbang segala-galanya sudah terlambat, walau itu akan menyakitkan perasaan.

Untuk anda yang setelah membaca tulisan ini kemudian merasa jalan pikiran dan sikapku tentang hal ini salah, silahkan di ungkapkan. Mungkin dari sisi luar akan melihatnya secara berbeda.

Aku akan “no hard feeling” jika aku tau seorang pria punya pikiran seperti itu kemudian ‘mencoretku’ dari daftar hatinya, malah jika aku mengetahui isi hatinya ini aku yang akan step back, tidak perlu rasa kasihan malah silahkan manjauh dengan teratur dan kembalilah jika sudah punya respek dengan orang-orang seperti kami walau jalan untuk bersatu sudah tertutup.

Jika aku bertanya, anggap saja kemungkinan 50%  aku akan terkena penyakit itu dan 50% tidak akan terkena penyakit tsb maka bagaimana sikapmu? Pilihan jawabannya mungkin tak banyak

  1. a.       It’s nothing for me ( Bisa ditambah kata-kata, aku sayang maka aku tak peduli, atau sejuta kalimat serupa lainnya )
  2. b.      Pikir-pikir dahulu dan akan sulit menjawab (need times to anwers)
  3. c.       No, Thanks (minggat, terbirit2, mundur teratur)

Jika jawabannya C, sayonara …

Jika jawabannya B, sayonara juga … apakah kita bisa hidup dengan orang yang ragu dan sempat dalam pikiran dan hatinya walau hanya sepersekian detik ragu untuk melangkah kedepan bersama kita? Tentu kita tak mau ada penyesalan atau hal ini menjadi kambing hitam suatu hari kelak.

Jika jawabannya A, Let’s step forward!

Kalau anda punya pikiran yang sama dengan ku, jangan sungkan untuk member alasannya, mungkin alasan kita berbeda.

Aku membuat tulisan ini dengan serius, aku mohon setiap reply dari teman-teman tidak ada unsur bercandanya, Aku menghormati orang-orang yang mungkin terkait/mengalami secara langsung situasi dan kondisi ini ntah sebagai pihak yang mana dan berharap kita mendapat pembelajaran dari kisahku ini.

Terimakasih sudah membacanya dan meresponnya

Mazmur 91 :  …. Walau seribu orang rebah di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu, tetapi itu tidak akan menimpamu

Mazmur 23:4 : Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.

 

===

Some comments :

1. Daurie – Desember kemarin…soulmate rie meninggal karena kanker otak, jam 5 sore harinya masih bercanda di telepon dan jam 21.30 dia kirim sms yg isinya, “kepalaku sakit, mungkin fisikku drop atau ajal yg mendekat”…dan 4 jam kemudian dia meninggal dunia…kanker adalah pembunuh dalam sunyi…

namun kita bisa meninggal dunia atas alasan dan sebab apa saja, tetangga depan rumah rie meninggal waktu tidur dan gak bangun lagi, ada kawan rie yg meninggal karena kecelakaan waktu menuju lokasi pernikahannya, ada yang meninggal tanpa harus ada penyakit atau sebab apapun…

almarhum bapak rie terkena stroke dan beliau meninggal bukan karena stroke, namun karena lambungnya pecah akibat gak kuat sama obat2an yg harus diminumnya kala sakit…justru ketika dia berhasil berjuang dari kelumpuhan dan bisa berjalan meski pakai tongkat…

menjalani hidup dan bersyukur, merasa nyaman atas apapun…gak ada hidup yg lebih baik daripada hidup dalam kenyataan, sesadis apapun…

tentang cinta, kawan…cinta itu bukan refleksi perasaan, cinta adalah kata kerja…mencintai artinya melakukan apapun untuk menghidupkan cinta agar terus bertumbuh dalam jiwa…

enak banget ngomongnya rie yah…hehehe….siapa bilang ?….hancur lebur juga ini jiwa….namun hidup harus diperjuangkan seperti yg yuliana tuliskan…so mari kita foto2 lagi….1 2 3 …pose…jepreeeettss…

2. Ajie – Bapakku sakit DM hingga ajal menjemput
dan istriku yg cerewet, menjagaku biar gulanya lebih terkontrol

itulah cinta

tfs yul, moga2 byk yg membaca postingan ini

3. Wisnu – kalo udah cinta, seberat apapun dijalani bersama, bener gak?

3 thoughts on “[Old Posting] Kisahku, Leukemia & kemungkinannya menurun kepadaku – Jan 16, 2009

  1. Papa Ku juga penderita Leukimia , meninggal dari aku TK, dan sekarang umur ku sudah 24 tahun, tapi allhamdulillah sampai detik ini aku masih sehat2 saja..
    soal pria.. klo emamng dia bener – bener sayang sama gw,tetep mempertahankan gw mau apapun penyakit orang tua gw , dan klo dia sayang pasti dia akan jaga gw jangan sampe gw mengalami hal yang sama, dengan mengingatkan ..
    tapi klo emang enggak berarti dia emang bukan yang terbaik..

  2. Waaah luar biasa sekali tulisannya, very nice. Aku juga samaa2 anak penderita leukimia bahkan adik dr ayahku menyuruhku untuk tes darah apalah emng penting sih. Tapi benar knp harus takut. Hidup kita bukan ditangan siapapun melainkan ditangan penciptanya. So knp haris takut? Setia masalah pasti ada jalan keluarnya kalaupun positif yaudah jalanin aja usaha aja. So aku sgt menghargai tulisan ini karena sefikiran sih sm aku hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *