The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 7]

Okay, sampai dimana cerita terakhir kisah petualangan ke Rocky Mountains ini? Sampai di restoran Korea ya? hehe. Sebelum saya kasih tau jawabannya, lihat dulu foto dibawah ini ya!

Ini habis minum lelehan salju abadi, jadi muda 10 tahun (jadi awet muda apa jadi agak miring ya? you decide)

Ini habis minum lelehan salju abadi, jadi muda 10 tahun (jadi awet muda apa jadi agak miring ya? you decide). Kambing gunung sama (shio) kambing Indo.

Jadi, pas malam kedua kita (teman saya kasih semangat) bertanya ke owner resto. itu kenapa side dish di resto ini kudu bayar? dimana-mana side dish gratis dan bermacam-macam pula, minimal 3 macam gitu. Jawabannya (saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia bebas) “Kita terima pasokan bahan makanan hanya seminggu sekali karena jauhnya lokasi ini dengan penyuplai (Edmonton/Calgary kalo ndak salah) makanan kami, jadi tidak bisa kasih side dish gratis”. Ya, that’s it. Kita respon dengan “Ohh…” dengan muka lempeng sambil keluar dari resto. Opo meneh itu jawaban kagak nyambung blas!

Sewaktu perjalanan ke resto kita dapat pemandangan yang keren banget, pelangi. Bukan sekedar pelangi biasa, tapi double rainbow.

O.o Terbelalak saya melihatnya...

O.o Terbelalak saya melihatnya…

IMG_1767

Walau gerimis saya bela2in turun dari mobil dan jepret2. Susah lagi motretnya, hasil foto tidak sebagus aslinya

Itu kali pertama saya lihat secara langsung dengan mata kepala sendiri dua pelangi dan juga yang pertama kali melihat pelangi segitu gede-nya. Melengkung dari ujung ke ujung sampai lensa iPhone horizontal juga gak muat, kecuali saya mundur sampai jauh sampe masuk hutan kali, haha. Pelanginya juga terasa dekaaaaattttt banget, ujung satunya hanya diseberang sungai, pengen rasanya berenang kesana dan berdiri persis dibawahnya, siapa tau nanti dikira bidadari, ihik ihik. ketika sampai di Jasper Town, pelangi masih membentang dengan cantiknya, banyak turis yang sedang asyik makan di balkon restoran pada terkagum-kagum dan mengabadikan pemandangan tersebut.

Jadwal kegiatan hari ke 3 :

FRI, AUG/24
07:00 BREAKFAST Instant noodles (campground has electricity)
08:00 To Jasper Tramway
12:00 LUNCH
13:00 Medicine Lake, Maligne Lake
18:00 DINNER

Highligh hari itu adalah Jasper Tramway. Yang model begini juga ada di Banff. Konon yang di Banff lebih pendek dan tidak semenarik yang di Jasper. Oleh sebab itulah kami memilih naik yang di Jasper saja. Kalo punya dana lebih ya boleh dicoba dua-duanya.

Campground di Wabasso ini ada colokan listrik, jadi malam itu bisa ngecharge segala battery. Mong ngomong, kami juga bawa colokan special di dalam mobil, jadi satu colokan bisa dipakai buat nancepin cem macam USB. Ini berguna banget karena selain colokan buat GPS kita juga bisa ngecahrge handphone selama dalam perjalanan secara bersamaan. Jangan lupa juga bawa banyakan cem macem plastik, ntah itu kantong kresek atau kantong buat sampah. Terbukti ini penting dikala kami harus mengalami malam dengan hujan gerimis (mengundang), dengan modal kantong sampah/recycle yang gede kami bisa menutupi tiang colokan di campground sehingga colokan listrik beserta battery dan HP kami aman dari gerimis.

Nampak jadwal hari itu sedikit saja, karena ada dua hal. Pertama kami ingin spend waktu lebih banyak diatas gunung saat naik tramway (ogah rugi judulnya) dan setelah itu butuh perjalanan agak lama untuk mencapai Medicine dan Maligne Lake. Pagi-pagi benar keesokan harinya saya dan suami sebelum sarapan pergi hunting foto di tepi sungai Athabasca. Hasil fotonya bisa dilihat di sini. Sehabis foto dan sarapan kami pun langsung menuju ke Jasper Tramway tanpa perlu berkemas karena kami akan menginap semalam lagi di lokasi ini.

Cuaca hari itu lumayan bagus setelah kemarin di guyur hujan, namun awan masih tebal diatas puncak-puncak gunung. Pakailah pakaian yang cukup tebal dan sepatu yang sesuai untuk mendaki bukit/gunung batu. Kita akan dibawa ke ketinggian 2277 meter diatas permukaan laut oleh tramway ini, setelah itu masih bisa hiking ke atas gunung. jadi sudah pasti diatas sana akan dingin, belum anginnya, belum tipisnya oksigen.

Dibawah dekat terminal yang akan membawa kita keatas ada toko suvenir dan juga jajanan-jajanan kecil. Karcis untuk naik keatas dipatok $30 perorang. lebih mahal daripada naik gondola di Banff. Itupun cuma harga naik dan turun, nggak pake embel-embel jasa tur guide atau nonton film dokumenter tentang lokasi ini. Worth it nggak YuTan? tanya anda yang penasaran. Jawabannya oke lah untuk harga segitu dengan pengalaman yang didapat selama di atas, haha… Mereka ini pintar, kalo atraksi yang hampir tidak ada pilihan lain kecuali pakai mereka, harganya pasti dipatok mahal. Tapi ya nggak apa-apalah, toh tontonan lain macam danau-danau yang indah itu kagak disuruh bayar lagi.

Ini tramwaynya, bisa muat bangsa 20 oranglah sekali naik. Pintar-pintar pilih lokasi supaya saat naik bisa lihat pemandangan diluar :)

Ini tramwaynya, bisa muat bangsa 20 oranglah sekali naik. Pintar-pintar pilih lokasi supaya saat naik bisa lihat pemandangan diluar 🙂

Selepas sampai diatas yang berupa sebuah bangunan besar berisi restoran dan museum kecil, nanti ada jalan setapak dari bahan kayu dan kemudian gunung batu. Diantara bebatuan itu kalo anda jeli, bisa deh liat tikus tikus gunung. Mereka ini gesit sekali, nggak kayak chipmunk atau squirrel, mereka ogah di foto. Boro-boro foto, dilihat saja susah.

Pemandangan melihat kebawah dan sekitar (nyaris bisa liat pemandangan 180 derajat lebih. I would say around 300 derajat?) adalah kota Jasper dibawah dengan beberapa danau dan sungai, gunung-gunung megah berdiri kokoh sejauh mata memandang. Perlu extra hati-hati dan sedikit usaha untuk naik ke atas. turunnya apalagi, kudu pake gaya kepiting, alias gaya miring.

itu yang segitiga, Kota Jasper-nya. Ada jalur kereta api juga yang sekali jalan bisa sepanjang 2 miles...

Itu yang segitiga, Kota Jasper-nya. Ada jalur kereta api juga yang sekali jalan bisa sepanjang 2 miles…

Kita memang gak cita-cita buat naik sampe ke puncaknya atau pun mengitari sekelilingnya (ini kayaknya lebih baik bersama tur guide), cukuplah sampe dimana orang2 kebanyakan berada. Eh eh… apa hendak dikata ya, sudah naik naik… maksudnya sudah liat ujungnya gitu, ok kita naik sampe sana ya, begitu sudah sampai sana lah kok? masih ada naikan lagi keatas, ok naik lagi ya sampai gundukan itu, ealah… masih tinggi aja bowww… hahaha seolah-olah tak berkesudahan. Saking curamnya tuh gunung kali ya, jadi kagak keliatan  puncaknya… jadi kebayang dong… pas naik keatasnya atau pas turunnya.

Suami sekali-kali kudu ingetin bininya ini yang suka jalan-jalan ke tepi gunung.Maklumlah, istri satu-satunya, kalo tergelincir kebawah, alamat gak bisa dibawa pulang dalam keadaan utuh atau salah-salah gak bisa ketemu lagi, nyangkut dilereng gunung ditemani beruang.

Ini ketawa/senyum pake menggigil log...

Ini ketawa/senyum pake menggigil log…

IMG_0035

Itu terminal setelah dibawa ke atas. Ada restoran dan look point

Nyampe juga di (agak) puncak tertinggi dunia :D

Nyampe juga di (agak) puncak tertinggi dunia 😀

IMG_1782

Another one life time experience with someone you love, ihik 😀

Satu dari 4 diantara kami harus mengaku kalah dan tidak ikut naik ke atas, dia cukup bahagia menikmati secangkir kopi di dalam restaurant dan melihat pemandangan dari balik jendela kaca, haha. Itu juga membuat kami tidak ingin terlalu lama disini, selain tentu saja sudah mau dekat waktu makan siang dan tidak tahan dengan suhu dingin terlalu lama, bisa jadi keripik karena kering, hehe.

Makan siang hari itu di KFC, pilihan yang tepat dan cepat. Jadi nggak perlu sakau sama comfort food selama di Jasper. Walau kotanya gak segede Banff tapi cukup lengkap. Bahkan ada kamar mandi umum buat yang gak ada kamar mandi campgroundnya.

Dua danau yang kami kunjungi selepas makan siang agak jauhan dari kota Jasper. Perlu perjalanan kira-kira satu sampe satu setengah jam. Jangan khawatir, jalanannya mulus dan pemandangannya asri tak terkira. Saat itu walau di langit awan awan menggumpal, mereka seolah-olah bertahan untuk tidak tumpah sebelum larut malam menjelang.

Danau pertama adalah Medicine Lake. Ini danau konon bisa kering kerontang airnya, nggak tau hilang/lari kemana. Saat itu danaunya tenang sekali, letaknya persis dipinggir jalan, jadi nggak pake parkir terus jalan jauh.

Ini foto yang di vote tempo hari untuk jadi feature Artist di instacanv.as yang lalu

Ini foto yang di vote tempo hari untuk jadi feature Artist di instacanv.as yang lalu

IMG_1788

Salah satu pemandangan disekitar Medicine Lake

Berikutnya adalah Maligne Lake, danaunya besar sehingga cocok dipakai buat bercanoe ria.

Maligne Lake, tempat penyewaan canoe

Maligne Lake, tempat penyewaan canoe

IMG_1790

Alamat hujan lagi malam ini…

Karena (ternyata) tidak banyak look point di sepanjang perjalanan menuju dua danau ini yang kami singgahi, maka kami masih punya banyak waktu. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke permandian air panas bernama Miette Hot Springs. Keputusan yang tepat, setelah berlelah-lelah dan mandi ala kadar di Campground, saatnya melunturkan semua lemak dan daki di kolam air panas ini, haha. Letaknya sejalan dengan arah pulang ke Jasper dari Maligne Lake.

Lupa harga beredam disana berapa, yang jelas nggak mahal kok. Ada dua kolam yang cukup besar, dan buka nya pun sampai larut malam dan masih ramai. Karena tiba disana sudah malam, maka tidak lagi bisa leluasa beredam sambil melihat pemandangan alam sekitar, yang ada malah saling lihat2an dengan sesama pengunjung lain, haha… ada yang sambil baca, itu buku plastik apa buku bohong2an ya? 🙂

Dan seperti saya info di post sebelumnya, malam itu kami makan malam lagi di restoran Korea tsb, selain makanannya enak juga sudah gak usah repot mencari lagi. Hujan gerimis pun perlahan turun seiring dengan semakin turunnya suhu udara yang bikin malas bangun keesokan harinya.

Ini kondisi sarapan di hari ke 4. Roti aja sudah berubah bentuk, haha

Ini kondisi sarapan di hari ke 4. Roti aja sudah berubah bentuk, haha

Hujan memang sudah berhenti keesokan paginya, namun meninggalkan tanah dan semua-semuanya basah. Duh, mana kudu berkemas lagi hari itu. Alhasil kudu kerja extra pagi ini selain ngerapihin tenda juga kudu ngeringin. Ini nih resiko kalo tidur di tenda, apalagi tenda sewaan, LOL.

Ini hari sebelumnya, cuma mau nunjukin suasana Wabasso campsite. itu sebelah kanan adalah colokan listrik.

Ini hari sebelumnya, cuma mau nunjukin suasana Wabasso campsite. itu sebelah kanan adalah colokan listrik.

Sudah saya bilangkan, kalo pagi hari itu adalah waktu paling terbaik di Rocky Mountains? Ntah kebetulan atau gimana, setiap danau yang kami kunjungi dipagi hari selalu adalah danau yang tercantik.

Sebelum saya buktikan dengan foto, berikut jadwal perjalanan hari terakhir kami di Rocky Mountains :

SAT, AUG/25
07:00 BREAKFAST Instant noodles (campground has electricity)
07:30 Break-up tents
08:00 To Yoho National Park (Takkakaw Falls, Emerald Lake, etc)
12:00 LUNCH in Yoho
17:00 To Banff Bus/Train station (1 hr)
18:00 DINNER at Banff Bus/Train station
19:00 To Super 8 Strathmore

Dengan modal peta perjalanan dari brosur yang kami dapatkan di visitor information atau restoran, kami jadi tau kalo ada danau-danau yang patut dikujungi disekitar Jasper. Jadi Pagi itu kami kunjungi dahulu dua danau ( Pyramid dan Patricia Lake ) yang berada dekat sekali dengan kota Jasper (dibelakangnya) sebelum kemudian jalan balik ke arah Banff untuk mampir di Yoho National Park.

Patricia Lake. Sekilas mirip Helbert Lake ya?  cuma ini lebih gede...

Patricia Lake. Sekilas mirip Helbert Lake ya? cuma ini lebih gede…

IMG_0120

Ini versi Vertical-nya Patrcia Lake

Jarak antara Patricia lake dan Pyramid Lake lumayan dekat. Di sekitar sana pun banyak cottage yang dari luar nampak nyaman. Sekali koprol sudah sampai ke danau. kalo ada rejeki ke Jasper lagi, saya mau inap ah disalah satu penginapan disini.

Pyramid Lake. Nggak mau pulang kalo sudah lihat yang beginian.

Pyramid Lake. Nggak mau pulang kalo sudah lihat yang beginian.

Asyik ya, bisa mancing juga...

Asyik ya, bisa mancing juga…

Mungkin Sun Go Kong masih tidur ya, kalo nggak dia terbang-terbang kali disini.

Mungkin Sun Go Kong masih tidur ya, kalo nggak dia terbang-terbang kali disini.

Tanpa banyak buang waktu kami pun segera meluncur ke Yoho. Kali ini nggak bisa sampai meleset estimasi waktu karena dua teman akan melanjutkan perjalanan dengan bus ke Edmonton via Banff. Karcis masuk park yang ditempel di kaca mobil juga expired hari itu. Jadi kami sebenarnya ragu-ragu apa nanti masih bisa masuk ke Yoho. Ternyata tidak ada pemeriksaan selama perjalanan kesana.

Yoho letaknya agak dibawah kiri Banff kalo dilihat dari peta. Jarang pula national park yang satu ini disebut-sebut orang. Tidak seterkenal sodaranya Banff atau Jasper. Saat memasuki Yoho kontur tanah atau alamnya pun nampak sedikit beda, tapi saya nggak bisa jelaskan bedanya dimana, kira-kira nampak lebih ‘alamiah’ atau kagak terjamah? ah ntahlah… mungkin itu perasaan saya saja 🙂

Target lokasi selama di Yoho adalah Emerald Lake dan Takakaw Fall yang konon adalah air terjun tertinggi kedua setelah Niagara Fall. Tanpa banyak panjang lebar, silahkan dinikmati foto-fotonya. Cuaca hari itu luarbiasa indah dan cerahnya.

Emerlad Lake. Airnya jernih...

Emerlad Lake. Airnya jernih…

Lebih nggak kepengen pulang kalo liat beginian mah...

Lebih nggak kepengen pulang kalo liat beginian mah…

Si ngkoh yang duduk di pagar pengen gua ceburin ke danau deh. Ganggu pemandangan aja, huh!

Si ngkoh yang duduk di pagar pengen gua ceburin ke danau deh. Ganggu pemandangan aja, huh!

Ini di foto hanya karena nama gunungnya sama dengan nama koko saya hahaha :)

Ini di foto hanya karena nama gunungnya sama dengan nama koko saya hahaha 🙂

Jalan ke arah lain ada air terjunnya segala.

Jalan ke arah lain ada air terjunnya segala. Natural Bridge of The Kicking Horse River Valley.

The Kicking Horse River Valley

The Kicking Horse River Valley

Ada cerita lucu saat di Kicking Horse. Sedang asyik-asyik saya motret kearah air terjun, kok ada emcim encim berpose buat saya. Seolah-olah nyuruh saya foto atau mengira saya motoin dia. Saya jadi serba salah… ini maksudnya apa? dia salah orang kali ya? kalo saya cuekin gimana, kalo saya foto lah buat apa? emak saya bukan. Haha.

Takkakaw Fall, nampak dari jauh

Takkakaw Fall, nampak dari jauh

Takkakaw Fall, nampak dari jauh (vertical)

Takkakaw Fall, nampak dari jauh (vertical)

What a beautiful day!

What a beautiful day!

Untuk mencapai ke bawah air terjun perlu berjalan lumayan jauh. Sekali lagi, karena keterbatas waktu kami tidak sampai jalan ke bawah air terjun, kalo ada waktunya boleh juga sekalian mandi-mandi disana, haha.

Singkat cerita kami pun masuk ke kota Banff. Duh, kotanya ramai deh… penuh dengan aneka restoran dan toko dan turis yang berjubelan di jalan. Kalau tahu kotanya asyik begini, mungkin bisa dicari akal untuk stay lamaan disini. Namun karena padatnya jadwal, kami cuma mampir makan siang menjelang sore saja disini. restoran yang dipilih juga yang pasti-pasti aja, Tony Roma’s. Sudah diujung perjalanan dan hendak berpisah dengan teman bolehlah dirayakan dengan agak istimewa, ihik.

Restoran penuh sekali saat itu, perlu agak lama untuk dilayani, namun makanannya tidak mengecewakan, sehingga puas rasanya.

Ribsnya Toni Roma's yang termasyur. Tapi yang juara yang dibelakang tuh, pizza dengan potongan steak. Glek!

Ribsnya Toni Roma’s yang termasyur. Tapi yang juara yang dibelakang tuh, pizza dengan potongan steak. Glek!

Habis makan dan sempat jalan sebentar keliling kota, tiba waktunya berpisah dengan 2 teman seperjalanan kami yang menyenangkan. Mereka kami lepas di terminas bus dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Calgary pada malam itu juga. Demi supaya besok pagi masih keburu ke satu lokasi wisata lagi sebelum bertolak ke bandara dan balik ke Toronto.

What a journey, dengan menulis blog dan melihat-lihat lagi foto yang diambil dalam perjalanan ini rasanya kok kepengen balik lagi, haha. Gak sangka ini sudah habis 7 judul blog dan masih sisa 1 blog lagi menceritakan pengalaman saya ke jaman purbakala bertemu dengan para Dinosaurus. Yay!

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 5]

Kemarin di milis warga Indonesia di Kanada, ada teman yang bertanya “Hi Yutan,
Di Calgary and Rocky Mountain nyetir mobilnya pake GPS? Akurat ga? Thanks – Herman” Wah saya otomatis langsung ingat kalo ternyata belum memasukan info soal per-GPS-an ini, padahal info ini akan sangat berguna. Thanks sudah bertanya.

Ya, dalam perjalanan ini kami memakai GPS. Jika kalian tidak punya GPS, alat ini bisa disewa di tempat penyewaan mobil. Harganya lumayanan sekitar $7 per hari. Untuk kasus kami, GPS kami bawa sendiri dan semua lokasi tujuan yang ingin dikunjungi sudah dimasukan kedalam GPS dan di favoritkan untuk memudahkan pencarian saat ingin digunakan. Perhatikan juga update-an terakhir GPS kalian, kalo bisa pakai yang versi terbaru supaya peta yang terekam adalah yang terkini.

Boleh dibilang keakuratan GPS ini mencapai 99%. Perjalanan menggunakan GPS katanya enak-enak susah, alias kudu hati-hati dengan memakai akal pikiran dan pandangan mata, tidak pasrah 100% kepada si GPS. Beberapa waktu lalu ada cerita sepasang suami istri yang terjebak dan nyasar di hutan hingga meninggal (?) karena GPS menggiring mereka ke antah barantah sehingga mereka kehilangan orientasi dan kehabisan bensin.

1% ketidakakuratan yang kami alami saat perjalanan tersebut karena di salah satu ruas jalan Icefield Parkway, tiba-tiba GPSnya recalculating. Padahal jalan didepan itu hanya satu-satunya, the only one jadi gak mungkin salah. Bisa saja ruas jalan sepenggal tersebut adalah jalan baru atau karena gunung yang tinggi menjulang menyulitkan GPS menangkap signal. But so far selama perjalanan kami disana, semua berjalan baik dan kami sangat terbantu dengan adanya alat ini.

Yang paling  terbantukan selama memakai GPS adalah kesiagaan kita ketika hendak keluar dari jalan utama dan masuk ke jalanan yang lebih kecil menuju lokasi tujuan. Jalan utama yang mulus membuat hampir semua pengendara melajukan kendaraannya dengan super kencang melewati batas maksimum yang diperbolehkan, ditambah kadangkala papan informasi berukuran kecil sehingga menyulitkan membaca, sehingga dengan adanya GPS kita tidak perlu melambat demi membaca tiap papan informasi sehingga membahayakan pengendara lain dan kita sendiri.

Ok, cukup buat per-GPS-an, sekarang kita lanjut lagi perjalanan kita setelah selesai membangun tenda. Dari Lake Louise campsite ke Lake Louise hanya sekitar 15 menit perjalanan dengan mobil, pada pertengahan akhir bulan Agustus, sudah tidak begitu banyak lagi turis. Tidak sampai berjubelan tapi cukup ramai lancar. (Konon akhir Agustus sudah masanya anak-anak di Amerika kembali ke sekolah dan memang kebanyakan yang kami temui sesama turis adalah anak muda, orang dewasa dan manula, sesekali saja yang bawa anak2)

Sebelum berangkat ntah sudah berapa kali saya lihat foto Lake Louise, saya sampai takut kehilangan gairah saat sudah disana nanti, hehe. Semua terekam begitu baik, sehingga saat berdiri dan menghadap ke danau yang cukup luas tersebut saya cuma bisa membatin dalam hati “Akhirnya, berdiri dan melihat dengan mata kepala sendiri disini. Thanks God” Ya, percaya gak percaya… tau-tau sudah ada disana.

Di pinggir danau berdiri dengan megah The Fairmont Chateau Lake Louise. Ongkos menginap semalam disana cukup sekitar $300 sahaja (harga winter seperti sekarang, ntah kalo summer). Beberapa hotel/cotage/villa/bungalow berdiri disekitar danau danau di Rocky Mountain, ibarat kata danau menjadi frontyard atau backyard hotel tersebut. Jika suatu hari nanti balik lagi ke Rocky Mountain saya minat untuk stay di cotage dekat danau, karena second visit, asumsinya gak bakal kiasu lagi tapi lebih santai dan menikmati alam sepuas-puasnya baru kemudian pindah lokasi. Tidak semua hotel dipinggil danau semahal Fairmont di Lake Louis ini tapi pasti lebih mahal daripada hotel di luar danau, apalagi campsite, hehe.

Peta Lake Louis

Peta Lake Louis

Saat kami tiba di Lake Louis, cuaca sedang panas-panasnya, air danau yang tertimpa cahaya matahari menjadi berkilau-kilauan hingga menyilaukan mata. Trail menuju Tea House ada disebelah kanan danau, ada papan penunjuknya juga. Setelah jalan sekitar 1 km saya baru sadar belum mengaktifkan aplikasi Edomondo. Ini aplikasi untuk ngetrack seberapa jauh,cepat dan kalori yang terbakar saat kita berolahraga. Ada pilihan sepeda, jalan kaki, renang, dll.

Ini contoh hasil track dari Edomondo

Ini contoh hasil track dari Edomondo

Total jendral, habis +/- 4 jam untuk jalan pulang pergi ke Tea House Lake Agnes. Kenapa disebut tea house? jualan teh kah? kurang paham juga mengapa tempat-tempat seperti ini dinamakan tea House. Sewaktu mempelajari tujuan ini sebelum hari keberangkatan, kami coba meyakinkan teman seperjalanan bahwa lokasi ini walau membutuhkan waktu lama tapi trailnya mulus, kami bahkan mengirimkan foto salah satu trail yang kami dapat dari internet, nampak trailnya mulus dan datar.

Apa yang terlewatkan oleh kami adalah informasi lebih mendetail seperti ini “After a forested 3.5 km hike, with an elevation gain of 400 m or 1,300 ft, the valley opens to reveal spectacular Lake Agnes” Bujuk buneng… hampir semua trail adalah jalanan menanjak naik, ada yang cukup landai memang, tapi judulnya cuma naik naik dan nanjak nanjak. Trail pun tidak semuanya mulus, sesekali dipenuhi akar pohon dan bebatuan sehingga perlu berhati-hati ketika melangkah.

Perjalanan ke atas menuju Tea House Lake Agnes

Perjalanan ke atas menuju Tea House Lake Agnes

Ntah berapa kali kami berhenti hanya untuk sekedar menarik nafas, minum atau ngemil buah yang kami tenteng ke atas. Saya mungkin bukan tipe yang kuat-kuat banget untuk urusan beginian, tapi juga gak lemah-lemah amat. Saya boleh kata trail ini cukup sulit tapi sangat mungkin dijalani. Mungkin saja saat itu kondisi tubuh sedang tidak terlalu fit, beban yang dibawa (kamera) terlalu berat, semakin tipisnya oksigen, serta tidak menyangka akan seperti itu trailnya. Kesabaran dan ketekunan untuk mencapai lokasi sangat diuji dalam trip tersebut.

Teman selalu bertanya “sudah mau sampai belum?” yang bagi saya, ini pertanyaan big no no. Secara psikologis malah akan melemahkan, kenapa? setengah jalan saja belom, haha… kalo dijawab jujur nanti malah minta balik, kan repot? kan jadi gagal semuanya? YuTan kan bukan urusan makanan saja yang pantang pulang sebelum habis, tapi juga pantang mundur kalo sudah setengah jalan.

Tapi tetap saja ya, walau sudah bermodalkan google map, mulut ini tak tahan juga bertanya sama pengunjung lain yang berjalan arah pulang “is it close already?” yang dijawab dengan senyum penuh arti, bahkan ada yang jawab “you bet” wakaka… jalan terusss aja dahhh… walau dibalap sama pengunjung lain, sok wae lah… Supaya gak malu-maluin bangsa Indonesia, ternyata bukan kami saja yang rada keok, bahkan ada satu keluarga yang balik badan setelah 2/3 perjalanan, sayang sekali.

Satu sisi saat naik keatas adalah tebing dan sebelah lainnya adalah pepohonan dan sesekali mengintip lake Louise dibawah sana. Ada beberapa lokasi dengan pandangan terbuka kearah danau yang sangat-sangat indah, disuguhi pemandangan dengan angle berbeda kearah danau rasanya terbayarkan deh capeknya jalan keatas.

Salah satu pemandangan di sepanjang trail menuju Tea House

Salah satu pemandangan di sepanjang trail menuju Tea House

Yang kehijauan adalah air danau. Konon  warnanya akan hijau terang butek di musim panas dan menjadi biru tua jernih disaat winter. Semua air danau di Alberta dingin airnya, jangan coba-coba berenang kecuali mau jadi salmon beku.[ Penduduk Alberta ada yang protes sama paragraf diatas, jadi saya koreksi ya sbb : Selama di Rocky Mountain summer tahun lalu dan mengunjungi beberapa danau-nya, kecil maupun besar; saya tidak melihat seorang manusia pun yang berenang disana. Saya pernah pegang airnya dan memang dingin, tapi konon (ntah di danau/empang mana) bisa & ada yang renangi kalo mau ] 😀

Sebagai fotografer, sudah biasa motret pemandangan yang biasa biasa saja menjadi nampak luarbiasa difoto. Tapi ada juga pemandangan yang lebih cantik aslinya ketimbang fotonya, salah satunya ya spot ini. Kami berhenti cukup lama disini, hanya sekedar foto dan berdecak kagum, luarbiasa.

Semakin keatas pemandangan semakin terbuka sehingga perjalanan menjadi lebih ringan karena sembari kaki pegal berjalan, mata dimanjakan dengan pemandangan yang eksotik.

Trail mulus, seperti yang kami lihat di internet dan tertipu olehnya :p

Trail mulus, seperti yang kami lihat di internet dan tertipu olehnya :p

IMG_9017

Ealahhh, bisa naik kuda…!

Pantas saja di awal trail kami melihat sebuah cabang jalan yang dipenuhi dengan tai kuda, ternyata bisa keatas dan kebawah tea House dengan modal naik kuda. Informasi ini juga tidak kami temukan selama ngubek-ngubek soal Lake Louise, jadi tidak tau juga berapa biaya sewa kuda untuk keatas. Sewaktu sedang lelah-lelahnya kami saat jalan arah pulang, saya bertanya pada Hadi “Kalo sewa kudanya $25 mau naik nggak?” dijawab “$50 pun gua mau” hahaha.

Tapi naik kuda disini kayaknya nggak populer atau bisa saja kudanya cuma sedikit. Nyatanya lebih banyak yang jalan kaki, jalurnya pun berbeda, hanya sesekali yang rutenya sama dengan yang trail untuk manusia. Saya jadi ingat di Bromo naik kuda pas turun dari gunung Bromonya. Hiiii serem juga loh… waktu itu ada abangnya yang bantu tuntun kudanya, kalo yang ini kayaknya nggak ada penjaga yang tuntunin tuh kuda. Jadi siap-siap saja kalo kudanya tiba-tiba menggila, hiiiiii.

Sebelum mencapai Lake Agnes, kita akan berpas-pasan dengan Lake Mirror. Danau ini kecil saja, mirip empang. Empang malah lebih besar malah, ada ikannya lagi. Ini mirip genangan saja? kalo orang Jakarta yang barusan kebanjiran bakal bilang ” yang gini ini dibilang danau? pretttt” gitu kali, hehe.

Lake Mirror

Lake Mirror

Yay!!! 1/2 mile lagi sampai Lake Agnes!!!

Yay, tinggal 1/2 mile lagi sampai!

Senangnya begitu liat papan diatas, 1/2 mile lagi sampe Lake Agnes. Padahal sisa 1/2 mile itu jalannya sudah mulai naik tajam. Nafas sudah satu-satu aja. Itu yang namanya Trail Plain of The Six Glaciers yang masih 4 miles lagi katanya trailsnya gak begitu sulit dibanding ke Tea House, hanya saja memang lebih jauh. Saya simpan trail ini untuk kesempatan lain. Kalo saja kami tiba pagi-pagi sekali, saya mungkin akan ajak semuanya untuk habiskan 2 trail ini, haha.

Akhirnya, sampailah kami di Tea House. Disambut oleh sebuah air terjun dan anak-anak tangga yang terbuat dari kayu. Pemandangan yang terhampar pun luarbinasa. Bukan Lake Agnesnya yang spektakular, atau jajanan di Tea House yang menggiurkan, tapi pemandangan alam sekeliling yang sejauh mata memandang hanyalah decak kagum.

Air mengalir kebawah menjadi sebuah air terjun. Jauh mata memandang adalah hamparan evergreen dan gunung-gunung.

Air mengalir kebawah menjadi sebuah air terjun. Jauh mata memandang adalah hamparan evergreen dan gunung-gunung.

IMG_1662

Lake Agnes Tea House

Namanya sudah jalan 2 jam-an, disambi dengan minum dan makan, tentulah semua pada kebelet pipis. Urusan ini juga jadi PR banget buat semua traveller. Sebenarnya kalo bukan tipe jijik-an, urusan ini otomatis jadi simple. Yang ribet itu yang jijik-an macam saya, gak mau kalo tidak tidak sangat sangat terpaksa pipis di toilet box! Toilex box itu sama kayak toilet umum, hanya saja tidak ada air dan tidak ada flush, jangan sesekali kurang kerjaan dan ngelongok isi box. Karena tidak ada air dan semua yang dibuang ya disitu-situ saja, akibatnya tidak ada toilet box yang bebas dari bau, bahkan 2-3 meter sudah kecium aromanya, duh. Good newsnya, toilex box ini bertebaran dimana-mana di taman nasional ini, jangan khawatir harus pipis di semak-semak.

Karena dasarnya sudah kebelet dan membayangkan perjalanan turun yang bisa dua jam-an, saya mau tak mau kudu pergi explore toilet di Tea House. Saya pikir karena berupa resto harusnya mereka ada toilet bersihnya, kalo perlu jajan dulu ya jajan deh, rela banget. Ternyata cuma ada toilet umum di luar Tea Housenya sendiri. nampak dari luar sih keren semacam rumah pohon, kudu naik tangga nanjak tajam. Cuma ada  dua toilet dan jangan tanya saya baunya kayak apa. Saya coba kumpulkan nafas sebanyak mungkin untuk modal tahan nafas didalam sebelum masuk.

Dengan kecepatan yang secepat-cepatnya saya ingin segera menyudahi bisnis ini, di toilet sebelah saya lihat sepasang kaki yang sedang bekerja membersihkan isi box, kayaknya box dikeluarkan dan di bawa kesuatu tempat dan diganti dengan box kosong. Saya dengan muka sudah merah karena nahan nafas, juga seketika kasihan sekali sama orang disebelah yang kudu beresin hal beginian, betapa susahnya cari makan di negeri ini. Setelah buru-buru, saya keluar dan bisa lihat siapa orang disebelah tadi, hanya nampak punggungnya dengan tangan menenteng ember, jalannya nampak riang dengan rambut yang diikat ekor kuda meliuk-liuk, ahh…

Jadi, yang namanya negeri Kanada ini, kebersihan alam itu numero uno. Karena kawasan ini sangat dijaga maka bukan saja sampah, limbah kotoran manusiapun tidak bisa seenak udele di buang or di dam di tanah dekat danau. Jadi asumsi saya, kotoran2 tersebut dibawa dan dibuang/recycle di lokasi yang jauh dari danau. Untuk sampah sudah dipastikan akan dibawa turun.

Soal pipis dijalan, tidak ada pilihan lain kecuali saat berpas-pasan dengan jadwal mampir di restaurant atau di hotel. Selebihnya ya cukup bahagiakan dirimu dengan toilet box ini. Bawa saja tissue basah dan kering yang banyak, kalo perlu minyak kayu putih untuk kamuflase aroma tak sedap. Selama 4-5 hari perjalanan tersebut saya pulang dengan bawa sakit anyang-anyang. Itu loh, sakit karena sering nahan pipis, jadi bawaannya malah kepengen pipis melulu padahal nggak. Menyiksa sekali saudara-saudara.

Chipmunk super gendut

Chipmunk super gendut

Masih ingat sama mahkluk ini? jadi ceritanya habis pipis, saya jalan-jalan dong sekitar Lake Agnes ini, foto-foto dan baca-baca tulisan yang ada di papan papan sekitar danau. Kisahnya seru-seru, seperti cerita kisah nyata sejak masih jaman dahulu kala ada orang yang kirim surat ke ortunya dan cerita pengalaman dia berkunjung ke Lake Agnes. Sedang asyik-asyiknya baca, sayup sayup saya mendengar orang setengah menjerit bilang “Look, so fat… bla bla.. fat, FAT, so FAT… bla bla FAT” bah, ribut-ribut apa sih? pas saya nengok, orang yang lagi menjerit itu, seorang pria muda lumayan tampan menatap kearah saya menunjuk2 sesuatu dan keep saying “FAT”, wuihh…. maksud lo? gua FAT gitu? haha, sensi mode ON.

Oalah, ternyata heboh liat chipmunk segede kelinci… itu chipmunk emang gendutnya nggak kira-kira, saya spontan ketawa ngakak. Chipmunk yang suka saya liat di Halifax itu kecil-kecil, imut-imut… gedean Squirell… karena bulunya lebih ngembang, lah nemu yg ini bener-bener ndut malah nggak takut orang, jadi lucu dan gemesin. Dasar ya provinsi kaya, Chipmunknya pun sehat-sehat. Ini karena keseringan dikasih makan sama pengunjung, harusnya nggak boleh.

Puas diatas sana, kami pun jalan turun. Trailnya sama, jadinya ya nurun terus dan otomatis jalan turun lebih cepat ketimbang naik karena nggak pakai stop lagi. rencana makan malam di Tea House kami coret karena masih agak sore dan tidak mau terlalu malam stay disana, takut saat turun sudah gelap karena beberapa bagian cukup rapat tertutup pepohonan.

Tempat sewa canoe di Lake Louise

Tempat sewa canoe di Lake Louise

Saat tiba dibawah, Lake Louise masih cukup banyak pengunjung, sebagian menyewa canoe dan bercanoe ria di danau. Kami sempat foto lagi sejenak dan kemudian meluncur ke Moraine Lake.

Viiew at Moraine Lake

View at Moraine Lake

Letak Moraine Lake juga tidak jauh dari Lake Louise. Danaunya tidak sebesar Louise tapi jauh lebih besar daripada Agnes. Saat kami tiba disana tidak banyak pengunjung, mungkin sudah masuk waktu makan, cuaca juga semakin dingin dengan kabut mulai mengantung dipuncak-puncak gunungnya. (Lake Moraine juga punya Lodge/Hotel didekatnya. Harganya juga ampun DJ, mahal! Untuk summer tahun ini,  cukup bayar $600 saja permalam).

Ohya selama perjalanan dari Calgary ke Lake Louise kami tidak mampir kota Banff demi mengejar waktu. Kami baru mampir ke Banff city saat arah pulang dari Jasper. Kota Banff lebih gede dan ramai ketimbang Canmore. Alternatif tempat tinggal selain didalam kawasan Lake Louise juga ada disepanjang perjalanan dari Camore ke Banff. Harga lebih murah karena letaknya yang agak jauh (sekitar 30-60 menit ke tujuan-tujuan wisata seperti Lake Louise), Kami tidak pilih alternatif ini karena itu nantinya bakal maju mundur maju lagi, habisin waktu saja karena tidak sesuai rute yang kami inginkan yaitu terus naik sampai ke Jasper.

Saat memasuki kawan taman nasional, kita kudu bayar untuk masuk kedalamnya. Dihitung berdasarkan jumlah orang dan berapa lama/hari akan berada dikawasan taman nasional. Nanti akan diberi secarik kertas yang ditempel di kaca mobil. Sesekali ada petugas yang periksa saat kita melewati perbatasan antar taman nasional.

Malam itu kami makan disebuah restaurant Asia yang ada dikawasan lake Louise. Didalam complex tersebut juga terdapat toko suvernir dan mini market! Ya mini market hanya sejangkauan alias 15-20 menit drive dari campsite. Kalo tau begini, ngapain blusuk-blusuk belanja dan memuh-menuhin mobil, toh bisa belanja disini. Sebut aja mau apa? semua kebetuhan percampingan ada. Senter, air kemasan, roti, biskuit, majalah, sabun mandi, handuk, sandal, body lotion, etc! Harganya juga reasonable atau paling beda $0.50 saja dari harga di Calgary.

Mini market ini berlaku sampai nanti di Jasper, jadi jangan khawatir. Amannya sih memang sudah beli barang-barang penting seperti kebutuhan mandi dan air minum, selebihnya kalo soal jajan jajan termasuk buah, anda tidak akan kekurangan selama bersedia beli disana. Mungkin karena taman nasional ini sudah sangat populer dan menjadi tempat wisata dunia, sehingga kebutuhan turis sangat diperhatikan, dibuat senyaman mungkin. Beda dengan campsite di wilayah lain di Kanada, agak mustahil untuk nemu mini market, ambil contoh di Cape Breton, Nova Scotia. Di campsite car camping di Toronto juga sering ada mini marketnya, betapa nyamanya! Dulu saya selalu bawa gummy candy, eh eh… saat car camping di Six Mile Lake di Ontario, mini marketnya jualan gummy candy juga, hahaha.

Next episode, saya akan cerita pengalaman kami ke Glacier  di Icefild Parkway alias salju abadi. Minum air dari lumeran salju abadi, konon bikin awet muda 10 tahun, uhuk!

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 4]

Before I start blogging about this part 4, here the pictures of my breakfast while we stayed in the hotel ( Vancouver and Calgary ). Soon, I’ll miss this breakfast menu, haha.

Nice breakiesss!

Tidak banyak yang bisa saya share selama kunjungan kami ke Calgary, cuma 3 hari 2 malam dengan 2 hari diantaranya hanya setengah hari. Yang jelas kota Calgary-nya sendiri jauh dibawah ekspetasi saya. Jalan rayanya cenderung sempit, sedang banyak perbaikan jalan, pembangunan gedung pencakar langit baru dan suasana pusat kota yang berubah sepi senyap setelah habis jam pulang kantor.

Kota yang satu ini memang unik dibanding kota lain di Kanada. Berikut beberapa yang bisa saya beri contoh (background singkat : Kota Calgary atau provinsi Alberta adalah provinsi terkaya di Kanada karena hasil minyak-nya, daratannya datar alias hampir tidak ada tanjakan/turunan,  lokasi salah satu penemuan terbesar fosil Dinosaurus, terkenal dengan daging sapinya) :

  • Tidak ada pajak daerah, mereka hanya ada pajak pemerintah pusat 5% (kota lain bisa kena 10-15%)
  • MRT-nya kalo naik dan turun masih di tengah kota, gratis tis tis.
  • Harga hotel di weekend lebih murah daripada harga hotel di weekday (kalo weekend jadi sepi karena orang lebih pilih pergi/stay di Banff)
  • Toko-toko atau mall downtown tutup antara jam 4 s/d 6 sore
  • Majalah gratis  “where” yang ada disetiap kota di Kanada (memuat tujuan wisata, restaurant, etc) khusus untuk Calgary berukuran magazine (A4) sedang kota lain hanya uk. A5 (1/2 folio)

Selama di Calgary saya sempat laundry pakaian kotor selama di Vancouver, Ini akibat perjalanan panjang dan cuma bisa bawa tas ukuran sedang. Sama seperti di kota lain, kalau bisa jangan laundry di hotel karena harganya akan mahal sekali, walau memang lebih nyaman karena tidak perlu ditunggu dan sudah dalam keadaan dilipat rapi, haha.

Saya juga belanja keperluan sehari-hari (makanan dan air terutama) untuk dibawa selama jalan-jalan ke Rocky Mountains nanti. Kebanyakan yang dibeli adalah makanan untuk sarapan seperti roti,buah,selai,susu/kopi dan biskuit. Beli juga air minum dalam botol dan aneka snack dan candy buat cemilan selama didalam mobil supaya tidak bosan dan ngantuk. Semua sudah dalam perencanaan sehingga semua yang dibeli kudu muat di bagasi.

Ohya, mobil untuk dipakai selama perjalanan ke RM juga kami sewa di Calgary. Dengan promosi dari kartu kredit yang dapat asuransi gratis kami sewa di Budget Rent A Car. Kami pilih sedan full size dengan harapan dalamnya lebih luas, toh harganya sama dengan sedan ekonomi. Sewa 5 hari termasuk additional 1 driver total habis $225 (tax included) dan bensin habis sekitar $150. Mobil jenis ini cuma pas buat ber-4 walau bisa didudukin untuk ber-5. Dan karena kami genap ber-4 maka harga segitu dibagi 4 jadi hanya sekitar $100 per orang. Menurut saya sangat ekonomis karena dengan harga segitu kami bebas kemana saja dan tidak terikat oleh waktu, kondisi mobil juga bagus dan nyaman. Enaknya lagi saat ambil mobil, kami ambil di lokasi yang terdekat dengan hotel kami menginap dan saat dikembalikan, kami kembalikan di bandara dengan proses pengambilan/pengembalian yang tidak lama dan ribet. (ini harga August, 2012)

Ditengah waktu yang sempit dan kudu urus ini itu, saya sempat ketemu teman yang dulunya sama-sama ambil kelas di ISIS Halifax. Saat ini dia tinggal di Calgary ikut suami yang dapat kerja disana. Karena itu saya sempat menjelajah kota Calgary dan tidak hanya di pusat kotanya saja. Kami janjian di South Centre Mall yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Mallnya gede dan mewah. Selama perjalanan menuju mall saya melihat suasana kota Calgary, Highway-nya, rumah-rumahnya, sedikit banyak mirip Halifax/Dartmouth namun dalam skala lebih besar, haha.

Supaya gak bosa baca tulisan terus, ini saya sisipkan foto makanan yang saya makan di Foodcourtnya mall, Baklava. Terpujilah wahai pencipta Baklava dimanapun kau berada!

IMG_1606

Baklava

Tak lupa, kami juga mencoba makan steak. Sama kayak di Vancouver katanya gak afdol kalo gak makan sushi, di Calgary gak sah kalo belum makan steak-nya. Udah jauh-jauh ke tempat coboy gitu kali maksudnya, haha. Rasa steak-nya sih sama-sama saja, mungkin karena saya juga gak expert dalam per-steak-an, yang jelas harganya gak murah walau mereka penghasil daging sapi terbesar (?) di Kanada.

IMG_1595

Steak with Mushroom Soup, Yum!

Fast forward!

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu… Mobil sewaan saya ambil/sewa sehari sebelum berangkat untuk keperluan belanja dan laundry serta tidak ingin kehilangan waktu di pagi hari H tersebut sehingga malamnya kudu diparkir. Tarif parkirnya mahal bowwww… saya lupa, kayaknya sekitar $15-25 overnight di hotel tempat kami inap. Masalah utama kota besar di Kanada ini ya ini salah satunya, kalo tidak mendesak, jangan parkir mobil di downtown, harganya gak manusiawi, hiks.

Sehabis sarapan terakhir kalinya sebagai kaum ninggrat di hotel, kami meluncur ke bandara untuk menjemput 2 teman yang datang langsung dari Halifax. Syukur pesawatnya ontime. Mereka terbang dari Halifax subuh sekitar jam 5 pagi dan berkat perbedaan waktu mereka pun tiba sekitar jam 10 pagi sahaja di Calgary airport. Sebelum langsung tancap gas ke arah Banf, kami ling keliling dulu sekali lagi di dalam kota Calgary. Maklumlah imigran… kerjanya liat-liat suasana kota lain, karena siapa tau minat atau suatu hari kudu migrasi lagi ke kota lain di Kanada, haha.

Jadwal hari pertama tersebut cukup padat merayap, ogah rugi judulnya. Berikut jadwal perjalanan kami di Day 1 sesuai catatan yang ada :

WED, AUG/22
08:00 BREAKFAST at the hotel
09:30 To Calgary airport
10:10 Anh+Yen arrives in Calgary (AC123/AC117)
10:45 Drive to Canmore
12:30 LUNCH at Canmore
13:30 To Lake Louise visitor centre at Samson Mall
14:30 Check-in, setup tents
15:00 Hiking to Tea House at Lake Agnes/Lake Mirror (4 hrs return)
17:00 DINNER at Tea House
19:30 To Moraine Lake (15 mins)
20:30 To Campsite (15 mins)

Perencanaan matang seperti ini sampai ke jam jam-nya perlu. Walau tidak mesti tepat sekali pada saat prakteknya. Ini lebih kepada supaya enak aja memperkirakan waktu yang akan terpakai selama perjalanan. Ini juga perlu kalo tujuannya dalam tempo seseingkat2nya mendapat sebanyak-banyaknya. Kalo tidak ada jadwal model gini, alamat habis waktu gak karu-karuan atau malah kebanjiran waktu dan gak tau mau ngapain. Estimasi waktu dalam perjalanan didapat dari hasil search di website, google map dan pengalaman pribadi.

Jelas sekali highlight hari pertama ini adalah Tea House di Lake Agnes yang perlu menghabiskan 4 jam untuk sampai kesana dengan jalan kaki di mulai dari Lake Louis. Usahakan dalam tiap hari ada highlight location atau aktifitas yang ingin dilakukan. Dimana nantinya lokasi/aktifitas ini akan kita beri waktu lebih leluasa untuk menikmatinya, kita beri budget lebih leluasa juga untuk dibelanjakan. Bukan berarti tempat atau kegiatan lain tidak boleh dinikmati berlama-lama, apalagi kalo bagus kan? Nanti kalian akan ngerti kenapa saya bilang perlu ada satu highlight kegiatan/lokasi selama dolan di Rocky Mountain (tentu dengan catatan, waktu dan dana anda terbatas. Kalo waktu & dana tidak terbatas? ya sesuaikan saja dengan kemana kaki anda melangkah, suka stop, nggak suka jalan).

Sepanjang perjalanan mulai dari bandara sampai dengan Canmore lebih banyak diisi dengan perbincangan seputar kabar, kangen-kangenan, ledek-ledekan, cerita betapa excitednya kita, dll dan tentu saja sesekali mengomentari suasana yang kami lihat selama perjalanan. Selama perjalanan ini pun pemandangan masih ‘biasa’ dari kejauhan sudah nampak sih gunung-gunungnya.

Boleh dikata sepanjang perjalanan dari Calgary – Canmore – Banff – Jasper itu ibarat kalo nyanyi ada cresendo-nya, ituloh… tehnik/metode nyanyi dari pelan kemudian pelan-pelan naik terus sampe keras. Jadi dari biasa, mulai gak biasa, asyik, asyik banget, wow, wow banget, spektakular sampe terakhir nganga mulutnya, lupa tutup saking dasyatnya. Teorinya sih makin jauh dari hiruk pikuk manusia, alamnya makin asli dan asri. Jam juga menentukan kualitas pemandangan. Semakin pagi dimana manusia-manusia masih terlelap semakin asri dan menawan, khususnya danau-danaunya terlihat lebih cantik di saat pagi hari.

Ada kejadian lucu saat kami cari makan siang setelah masuk kota Canmore. Sesuai kesepakatan ini hanya makan siang asal lewat, alias kagak perlu fancy2an dan toh nguber waktu ke tujuan utama dan gak mau berlama-lama di Canmore. Cari punya cari kami putuskan makan di restoran Thailand. Nampak dari luar resto tulisan masakan Thailand yang menggoda. Begitu kami ber-4 masuk ke ‘restoran’, saya berharap kami lagi syuting film, ada kamera gitu yang bisa zoom in zoom out, sayangnya gak ada, jadi memory ini cuma tersimpan didalam lubung hati kami yang terdalam, ihik ihik.

Ceritanya gini, kami berempat ini kan Asian, dua dari Indonesia dan dua lagi dari Vietnam, empat-empatnya murni kagak pake campuran, jadi secara kasat mata empat orang ini Asian bangetlah, disangka Chinese mungkin. Saat kami masuk, dari dalam restoran yang ternyata lebih mirip restoran take out ( cuma ada 4-6 bangku di meja hadap ke jalan mirip warteg di Indo ) dari arah dapur kami disambut kurang lebih 4 chef dan pegawai toko yang kesemuanya bule! Bulenya juga kayaknya bule murni nggak pakai campuran. Nah kalo dibikin filmkan jadi menarik, ini restoran Thailand (Asia)kan? nah, yang jual sama yang mau beli apa kagak kebalik tuh?

Pengennya saya sih langsung balik badan dan say goodbye. Tapi demi menjaga martabat daripada pegawai toko yang ramah-ramah tersebut, maka kami pun memesan makanan kami. Saya pilih Tom Yum Soup, Hadi kalo gak salah ingat pesan PadThai. Saat makanan datang, makanan di taruh dalam wadah kontainer plastik ala take out gitu deh, bikin drop nafsu makan 20%. Saat dimakan, nafsu makan drop lagi 90% jadi total jenderal minus 10%. Dasar bule kali ya, meras jeruk limenya kagak kira-kira… bukannya asem malah pahit tuh Tom Yum Soup saya, hiks hiks.

Karena pengalaman pahit tersebut tidak saya lampirkan nama restorannya. Ada baiknya pas saja sama Canmore, selain jaraknya gak terlalu jauh dari Calgary dan sudah tak begitu jauh juga dari Banff, baiknya makan kenyang dulu di Calgary atau sabar nunggu sampai di Banff atau makan fast food waelah… lebih membahagiakan kayaknya, haha.

Ini pemandangan di Canmore dimana gunung-gunung sudah nampak lebih jelas dan dekat. Saat tiba disini senangnya sudah bukan main, padahal ini mah kagak atau belum ada apa-apanya. Ibarat kalo menang lotere nih, baru menang $5 aja sudah lompat-lompat padahal besoknya bakal menang sejuta dolar, wakakaka.

Salah satu pemandangan di Canmore

Salah satu pemandangan di Canmore

Habis makan siang kami segera lanjutkan perjalanan dan rencananya malam ini kami akan menginap di Lake Louis campsite (Ada baiknya book dahulu campsite sebelum hari H supaya ada jaminan mendapat tempat). Disepanjang perjalanan tidak sekali dua kali kami berhenti di Look Point untuk melihat pemandangan-pemandangan dan bernarsis ria dengan kamera masing-masing. Sesekali berpas-pasan dengan rombongan turis lainnya.

Fast Forward lagi

Kami pun tiba di campsite. Jika memutuskan untuk tidur di tenda selama perjalanan ke Rocky Mountains atau campsite dibelahan hutan manapun, usahakan sudah mendirikan tenda sebelum gelap. Jangan bela-belain pulang dolan baru tujuan akhirnya ke campsite. Why? Becasue :

  • Kalo sudah gelap, pencahayaan kurang, susah pasang tendanya
  • Kalo sudah gelap, susah cari lokasi yang enak buat pasang tenda (biasanya dipilih yang tanahnya sedatar mungkin tanpa ada batu/akar pohon)
  • Kalo sudah kemalaman, bisa-bisa petugas campsite sudah pulang, jadi nggak bisa ambil nomor dan dokumen-dokumen tenda atau nanya-nanya kalo ada masalah
  • Kalo sudah selesai dolan baru masuk campsite apalagi belum pasang tenda, alamat tidur di alam terbuka karena biasanya sudah capai sekali
  • Kalo sudah gelap baru masuk campsite alamat jadi buta alam sekitar, kehilangan orientasi, dimana kamar mandi, dimana ambil air, dimana ini dan dimana itu

Jadi begitu tenda sudah terpasang dan sudah tau lokasi kamar mandi yang ternyata cukup dekat dan bersih dengan air melimpah ruah, kami pun bergegas ke Lake Louis, ke danaunya. Yang konon merupakan danau dengan pengunjung terbanyak, bisa-bisa saat mau foto danaunya kehalangan para turis yang berjejal disepanjang pinggir danau. Walau tujuan utama kami ke Tea House, toh kami harus melalui Lake Louis, jadi sekali tepuk dua lalat penyet.

Part ke 4 ini saya sudahi dulu disini, dijamin cerita part ke 5 nya bakal seru. Salah satunya ada hubungannya dengan foto dibawah ini.

Ketemu mahluk cute satu ini... Obesitas dia... kasihan hehe :D

Ketemu little friend yang cute satu ini… Obesitas dia… kasihan hehe 😀

IMG_9118

Ape liat-liat?!

YuTan