The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 7]

Okay, sampai dimana cerita terakhir kisah petualangan ke Rocky Mountains ini? Sampai di restoran Korea ya? hehe. Sebelum saya kasih tau jawabannya, lihat dulu foto dibawah ini ya!

Ini habis minum lelehan salju abadi, jadi muda 10 tahun (jadi awet muda apa jadi agak miring ya? you decide)

Ini habis minum lelehan salju abadi, jadi muda 10 tahun (jadi awet muda apa jadi agak miring ya? you decide). Kambing gunung sama (shio) kambing Indo.

Jadi, pas malam kedua kita (teman saya kasih semangat) bertanya ke owner resto. itu kenapa side dish di resto ini kudu bayar? dimana-mana side dish gratis dan bermacam-macam pula, minimal 3 macam gitu. Jawabannya (saya terjemahkan dalam bahasa Indonesia bebas) “Kita terima pasokan bahan makanan hanya seminggu sekali karena jauhnya lokasi ini dengan penyuplai (Edmonton/Calgary kalo ndak salah) makanan kami, jadi tidak bisa kasih side dish gratis”. Ya, that’s it. Kita respon dengan “Ohh…” dengan muka lempeng sambil keluar dari resto. Opo meneh itu jawaban kagak nyambung blas!

Sewaktu perjalanan ke resto kita dapat pemandangan yang keren banget, pelangi. Bukan sekedar pelangi biasa, tapi double rainbow.

O.o Terbelalak saya melihatnya...

O.o Terbelalak saya melihatnya…

IMG_1767

Walau gerimis saya bela2in turun dari mobil dan jepret2. Susah lagi motretnya, hasil foto tidak sebagus aslinya

Itu kali pertama saya lihat secara langsung dengan mata kepala sendiri dua pelangi dan juga yang pertama kali melihat pelangi segitu gede-nya. Melengkung dari ujung ke ujung sampai lensa iPhone horizontal juga gak muat, kecuali saya mundur sampai jauh sampe masuk hutan kali, haha. Pelanginya juga terasa dekaaaaattttt banget, ujung satunya hanya diseberang sungai, pengen rasanya berenang kesana dan berdiri persis dibawahnya, siapa tau nanti dikira bidadari, ihik ihik. ketika sampai di Jasper Town, pelangi masih membentang dengan cantiknya, banyak turis yang sedang asyik makan di balkon restoran pada terkagum-kagum dan mengabadikan pemandangan tersebut.

Jadwal kegiatan hari ke 3 :

FRI, AUG/24
07:00 BREAKFAST Instant noodles (campground has electricity)
08:00 To Jasper Tramway
12:00 LUNCH
13:00 Medicine Lake, Maligne Lake
18:00 DINNER

Highligh hari itu adalah Jasper Tramway. Yang model begini juga ada di Banff. Konon yang di Banff lebih pendek dan tidak semenarik yang di Jasper. Oleh sebab itulah kami memilih naik yang di Jasper saja. Kalo punya dana lebih ya boleh dicoba dua-duanya.

Campground di Wabasso ini ada colokan listrik, jadi malam itu bisa ngecharge segala battery. Mong ngomong, kami juga bawa colokan special di dalam mobil, jadi satu colokan bisa dipakai buat nancepin cem macam USB. Ini berguna banget karena selain colokan buat GPS kita juga bisa ngecahrge handphone selama dalam perjalanan secara bersamaan. Jangan lupa juga bawa banyakan cem macem plastik, ntah itu kantong kresek atau kantong buat sampah. Terbukti ini penting dikala kami harus mengalami malam dengan hujan gerimis (mengundang), dengan modal kantong sampah/recycle yang gede kami bisa menutupi tiang colokan di campground sehingga colokan listrik beserta battery dan HP kami aman dari gerimis.

Nampak jadwal hari itu sedikit saja, karena ada dua hal. Pertama kami ingin spend waktu lebih banyak diatas gunung saat naik tramway (ogah rugi judulnya) dan setelah itu butuh perjalanan agak lama untuk mencapai Medicine dan Maligne Lake. Pagi-pagi benar keesokan harinya saya dan suami sebelum sarapan pergi hunting foto di tepi sungai Athabasca. Hasil fotonya bisa dilihat di sini. Sehabis foto dan sarapan kami pun langsung menuju ke Jasper Tramway tanpa perlu berkemas karena kami akan menginap semalam lagi di lokasi ini.

Cuaca hari itu lumayan bagus setelah kemarin di guyur hujan, namun awan masih tebal diatas puncak-puncak gunung. Pakailah pakaian yang cukup tebal dan sepatu yang sesuai untuk mendaki bukit/gunung batu. Kita akan dibawa ke ketinggian 2277 meter diatas permukaan laut oleh tramway ini, setelah itu masih bisa hiking ke atas gunung. jadi sudah pasti diatas sana akan dingin, belum anginnya, belum tipisnya oksigen.

Dibawah dekat terminal yang akan membawa kita keatas ada toko suvenir dan juga jajanan-jajanan kecil. Karcis untuk naik keatas dipatok $30 perorang. lebih mahal daripada naik gondola di Banff. Itupun cuma harga naik dan turun, nggak pake embel-embel jasa tur guide atau nonton film dokumenter tentang lokasi ini. Worth it nggak YuTan? tanya anda yang penasaran. Jawabannya oke lah untuk harga segitu dengan pengalaman yang didapat selama di atas, haha… Mereka ini pintar, kalo atraksi yang hampir tidak ada pilihan lain kecuali pakai mereka, harganya pasti dipatok mahal. Tapi ya nggak apa-apalah, toh tontonan lain macam danau-danau yang indah itu kagak disuruh bayar lagi.

Ini tramwaynya, bisa muat bangsa 20 oranglah sekali naik. Pintar-pintar pilih lokasi supaya saat naik bisa lihat pemandangan diluar :)

Ini tramwaynya, bisa muat bangsa 20 oranglah sekali naik. Pintar-pintar pilih lokasi supaya saat naik bisa lihat pemandangan diluar 🙂

Selepas sampai diatas yang berupa sebuah bangunan besar berisi restoran dan museum kecil, nanti ada jalan setapak dari bahan kayu dan kemudian gunung batu. Diantara bebatuan itu kalo anda jeli, bisa deh liat tikus tikus gunung. Mereka ini gesit sekali, nggak kayak chipmunk atau squirrel, mereka ogah di foto. Boro-boro foto, dilihat saja susah.

Pemandangan melihat kebawah dan sekitar (nyaris bisa liat pemandangan 180 derajat lebih. I would say around 300 derajat?) adalah kota Jasper dibawah dengan beberapa danau dan sungai, gunung-gunung megah berdiri kokoh sejauh mata memandang. Perlu extra hati-hati dan sedikit usaha untuk naik ke atas. turunnya apalagi, kudu pake gaya kepiting, alias gaya miring.

itu yang segitiga, Kota Jasper-nya. Ada jalur kereta api juga yang sekali jalan bisa sepanjang 2 miles...

Itu yang segitiga, Kota Jasper-nya. Ada jalur kereta api juga yang sekali jalan bisa sepanjang 2 miles…

Kita memang gak cita-cita buat naik sampe ke puncaknya atau pun mengitari sekelilingnya (ini kayaknya lebih baik bersama tur guide), cukuplah sampe dimana orang2 kebanyakan berada. Eh eh… apa hendak dikata ya, sudah naik naik… maksudnya sudah liat ujungnya gitu, ok kita naik sampe sana ya, begitu sudah sampai sana lah kok? masih ada naikan lagi keatas, ok naik lagi ya sampai gundukan itu, ealah… masih tinggi aja bowww… hahaha seolah-olah tak berkesudahan. Saking curamnya tuh gunung kali ya, jadi kagak keliatan  puncaknya… jadi kebayang dong… pas naik keatasnya atau pas turunnya.

Suami sekali-kali kudu ingetin bininya ini yang suka jalan-jalan ke tepi gunung.Maklumlah, istri satu-satunya, kalo tergelincir kebawah, alamat gak bisa dibawa pulang dalam keadaan utuh atau salah-salah gak bisa ketemu lagi, nyangkut dilereng gunung ditemani beruang.

Ini ketawa/senyum pake menggigil log...

Ini ketawa/senyum pake menggigil log…

IMG_0035

Itu terminal setelah dibawa ke atas. Ada restoran dan look point

Nyampe juga di (agak) puncak tertinggi dunia :D

Nyampe juga di (agak) puncak tertinggi dunia 😀

IMG_1782

Another one life time experience with someone you love, ihik 😀

Satu dari 4 diantara kami harus mengaku kalah dan tidak ikut naik ke atas, dia cukup bahagia menikmati secangkir kopi di dalam restaurant dan melihat pemandangan dari balik jendela kaca, haha. Itu juga membuat kami tidak ingin terlalu lama disini, selain tentu saja sudah mau dekat waktu makan siang dan tidak tahan dengan suhu dingin terlalu lama, bisa jadi keripik karena kering, hehe.

Makan siang hari itu di KFC, pilihan yang tepat dan cepat. Jadi nggak perlu sakau sama comfort food selama di Jasper. Walau kotanya gak segede Banff tapi cukup lengkap. Bahkan ada kamar mandi umum buat yang gak ada kamar mandi campgroundnya.

Dua danau yang kami kunjungi selepas makan siang agak jauhan dari kota Jasper. Perlu perjalanan kira-kira satu sampe satu setengah jam. Jangan khawatir, jalanannya mulus dan pemandangannya asri tak terkira. Saat itu walau di langit awan awan menggumpal, mereka seolah-olah bertahan untuk tidak tumpah sebelum larut malam menjelang.

Danau pertama adalah Medicine Lake. Ini danau konon bisa kering kerontang airnya, nggak tau hilang/lari kemana. Saat itu danaunya tenang sekali, letaknya persis dipinggir jalan, jadi nggak pake parkir terus jalan jauh.

Ini foto yang di vote tempo hari untuk jadi feature Artist di instacanv.as yang lalu

Ini foto yang di vote tempo hari untuk jadi feature Artist di instacanv.as yang lalu

IMG_1788

Salah satu pemandangan disekitar Medicine Lake

Berikutnya adalah Maligne Lake, danaunya besar sehingga cocok dipakai buat bercanoe ria.

Maligne Lake, tempat penyewaan canoe

Maligne Lake, tempat penyewaan canoe

IMG_1790

Alamat hujan lagi malam ini…

Karena (ternyata) tidak banyak look point di sepanjang perjalanan menuju dua danau ini yang kami singgahi, maka kami masih punya banyak waktu. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke permandian air panas bernama Miette Hot Springs. Keputusan yang tepat, setelah berlelah-lelah dan mandi ala kadar di Campground, saatnya melunturkan semua lemak dan daki di kolam air panas ini, haha. Letaknya sejalan dengan arah pulang ke Jasper dari Maligne Lake.

Lupa harga beredam disana berapa, yang jelas nggak mahal kok. Ada dua kolam yang cukup besar, dan buka nya pun sampai larut malam dan masih ramai. Karena tiba disana sudah malam, maka tidak lagi bisa leluasa beredam sambil melihat pemandangan alam sekitar, yang ada malah saling lihat2an dengan sesama pengunjung lain, haha… ada yang sambil baca, itu buku plastik apa buku bohong2an ya? 🙂

Dan seperti saya info di post sebelumnya, malam itu kami makan malam lagi di restoran Korea tsb, selain makanannya enak juga sudah gak usah repot mencari lagi. Hujan gerimis pun perlahan turun seiring dengan semakin turunnya suhu udara yang bikin malas bangun keesokan harinya.

Ini kondisi sarapan di hari ke 4. Roti aja sudah berubah bentuk, haha

Ini kondisi sarapan di hari ke 4. Roti aja sudah berubah bentuk, haha

Hujan memang sudah berhenti keesokan paginya, namun meninggalkan tanah dan semua-semuanya basah. Duh, mana kudu berkemas lagi hari itu. Alhasil kudu kerja extra pagi ini selain ngerapihin tenda juga kudu ngeringin. Ini nih resiko kalo tidur di tenda, apalagi tenda sewaan, LOL.

Ini hari sebelumnya, cuma mau nunjukin suasana Wabasso campsite. itu sebelah kanan adalah colokan listrik.

Ini hari sebelumnya, cuma mau nunjukin suasana Wabasso campsite. itu sebelah kanan adalah colokan listrik.

Sudah saya bilangkan, kalo pagi hari itu adalah waktu paling terbaik di Rocky Mountains? Ntah kebetulan atau gimana, setiap danau yang kami kunjungi dipagi hari selalu adalah danau yang tercantik.

Sebelum saya buktikan dengan foto, berikut jadwal perjalanan hari terakhir kami di Rocky Mountains :

SAT, AUG/25
07:00 BREAKFAST Instant noodles (campground has electricity)
07:30 Break-up tents
08:00 To Yoho National Park (Takkakaw Falls, Emerald Lake, etc)
12:00 LUNCH in Yoho
17:00 To Banff Bus/Train station (1 hr)
18:00 DINNER at Banff Bus/Train station
19:00 To Super 8 Strathmore

Dengan modal peta perjalanan dari brosur yang kami dapatkan di visitor information atau restoran, kami jadi tau kalo ada danau-danau yang patut dikujungi disekitar Jasper. Jadi Pagi itu kami kunjungi dahulu dua danau ( Pyramid dan Patricia Lake ) yang berada dekat sekali dengan kota Jasper (dibelakangnya) sebelum kemudian jalan balik ke arah Banff untuk mampir di Yoho National Park.

Patricia Lake. Sekilas mirip Helbert Lake ya?  cuma ini lebih gede...

Patricia Lake. Sekilas mirip Helbert Lake ya? cuma ini lebih gede…

IMG_0120

Ini versi Vertical-nya Patrcia Lake

Jarak antara Patricia lake dan Pyramid Lake lumayan dekat. Di sekitar sana pun banyak cottage yang dari luar nampak nyaman. Sekali koprol sudah sampai ke danau. kalo ada rejeki ke Jasper lagi, saya mau inap ah disalah satu penginapan disini.

Pyramid Lake. Nggak mau pulang kalo sudah lihat yang beginian.

Pyramid Lake. Nggak mau pulang kalo sudah lihat yang beginian.

Asyik ya, bisa mancing juga...

Asyik ya, bisa mancing juga…

Mungkin Sun Go Kong masih tidur ya, kalo nggak dia terbang-terbang kali disini.

Mungkin Sun Go Kong masih tidur ya, kalo nggak dia terbang-terbang kali disini.

Tanpa banyak buang waktu kami pun segera meluncur ke Yoho. Kali ini nggak bisa sampai meleset estimasi waktu karena dua teman akan melanjutkan perjalanan dengan bus ke Edmonton via Banff. Karcis masuk park yang ditempel di kaca mobil juga expired hari itu. Jadi kami sebenarnya ragu-ragu apa nanti masih bisa masuk ke Yoho. Ternyata tidak ada pemeriksaan selama perjalanan kesana.

Yoho letaknya agak dibawah kiri Banff kalo dilihat dari peta. Jarang pula national park yang satu ini disebut-sebut orang. Tidak seterkenal sodaranya Banff atau Jasper. Saat memasuki Yoho kontur tanah atau alamnya pun nampak sedikit beda, tapi saya nggak bisa jelaskan bedanya dimana, kira-kira nampak lebih ‘alamiah’ atau kagak terjamah? ah ntahlah… mungkin itu perasaan saya saja 🙂

Target lokasi selama di Yoho adalah Emerald Lake dan Takakaw Fall yang konon adalah air terjun tertinggi kedua setelah Niagara Fall. Tanpa banyak panjang lebar, silahkan dinikmati foto-fotonya. Cuaca hari itu luarbiasa indah dan cerahnya.

Emerlad Lake. Airnya jernih...

Emerlad Lake. Airnya jernih…

Lebih nggak kepengen pulang kalo liat beginian mah...

Lebih nggak kepengen pulang kalo liat beginian mah…

Si ngkoh yang duduk di pagar pengen gua ceburin ke danau deh. Ganggu pemandangan aja, huh!

Si ngkoh yang duduk di pagar pengen gua ceburin ke danau deh. Ganggu pemandangan aja, huh!

Ini di foto hanya karena nama gunungnya sama dengan nama koko saya hahaha :)

Ini di foto hanya karena nama gunungnya sama dengan nama koko saya hahaha 🙂

Jalan ke arah lain ada air terjunnya segala.

Jalan ke arah lain ada air terjunnya segala. Natural Bridge of The Kicking Horse River Valley.

The Kicking Horse River Valley

The Kicking Horse River Valley

Ada cerita lucu saat di Kicking Horse. Sedang asyik-asyik saya motret kearah air terjun, kok ada emcim encim berpose buat saya. Seolah-olah nyuruh saya foto atau mengira saya motoin dia. Saya jadi serba salah… ini maksudnya apa? dia salah orang kali ya? kalo saya cuekin gimana, kalo saya foto lah buat apa? emak saya bukan. Haha.

Takkakaw Fall, nampak dari jauh

Takkakaw Fall, nampak dari jauh

Takkakaw Fall, nampak dari jauh (vertical)

Takkakaw Fall, nampak dari jauh (vertical)

What a beautiful day!

What a beautiful day!

Untuk mencapai ke bawah air terjun perlu berjalan lumayan jauh. Sekali lagi, karena keterbatas waktu kami tidak sampai jalan ke bawah air terjun, kalo ada waktunya boleh juga sekalian mandi-mandi disana, haha.

Singkat cerita kami pun masuk ke kota Banff. Duh, kotanya ramai deh… penuh dengan aneka restoran dan toko dan turis yang berjubelan di jalan. Kalau tahu kotanya asyik begini, mungkin bisa dicari akal untuk stay lamaan disini. Namun karena padatnya jadwal, kami cuma mampir makan siang menjelang sore saja disini. restoran yang dipilih juga yang pasti-pasti aja, Tony Roma’s. Sudah diujung perjalanan dan hendak berpisah dengan teman bolehlah dirayakan dengan agak istimewa, ihik.

Restoran penuh sekali saat itu, perlu agak lama untuk dilayani, namun makanannya tidak mengecewakan, sehingga puas rasanya.

Ribsnya Toni Roma's yang termasyur. Tapi yang juara yang dibelakang tuh, pizza dengan potongan steak. Glek!

Ribsnya Toni Roma’s yang termasyur. Tapi yang juara yang dibelakang tuh, pizza dengan potongan steak. Glek!

Habis makan dan sempat jalan sebentar keliling kota, tiba waktunya berpisah dengan 2 teman seperjalanan kami yang menyenangkan. Mereka kami lepas di terminas bus dan kami pun melanjutkan perjalanan menuju Calgary pada malam itu juga. Demi supaya besok pagi masih keburu ke satu lokasi wisata lagi sebelum bertolak ke bandara dan balik ke Toronto.

What a journey, dengan menulis blog dan melihat-lihat lagi foto yang diambil dalam perjalanan ini rasanya kok kepengen balik lagi, haha. Gak sangka ini sudah habis 7 judul blog dan masih sisa 1 blog lagi menceritakan pengalaman saya ke jaman purbakala bertemu dengan para Dinosaurus. Yay!

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 6]

[Disclaimer : Seri ini memuat banyak foto]

Ada permintaan dari pembaca seri ini untuk lihat foto yang ada tendanya. Nggak ada foto, hoax kali maksudnya ya, ngaku-ngaku tidur ditenda tapi gak ada buktinya, haha.

Tenda di Lake Louise Campsite

Tenda di Lake Louise Campsite

Yang diatas meja adalah typical menu sarapan kami di hari-hari mendatang, roti, sayur dan buah. Karena foto diatas adalah pagi pertama, maka buah masih nampak seger-seger, hari-hari berikutnya sudah lodoh, haha. Ohya, campsite ini tidak ada listriknya, jadi tidak bisa buat charger battery handphone or kamera. Sekeliling campsite juga dipagari dengan pagar listrik, biar nggak ada beruang yang mampir.

Karena hanya malam itu tidur di campsite ini, maka sehabis sarapan kami kudu bongkar tenda sebelum beranjak ke lokasi lain. Berikut adalah jadwal perjalanan tercatat untuk hari ke 2 tersebut :

THU, AUG/23
07:00 BREAKFAST (no electricity campground)
07:30 Break-up tents
08:00 Herbert Lake, Mosquito Creek, Bow Lake, Peyto Lake (45 mins)
09:30 To Columbia Icefield
12:00 LUNCH
13:00 Sunwapta Falls, Athabasca Falls
18:00 DINNER at Becker’s
19:00 Wabasso campground, Check-in, Setup tents.

Highligh hari ini adalah ke Columbia Icefield, dibawa ketengah-tengah Columbia Glacier. Nggak persis ditengahnya sih karena nggak mungkin, tapi persis dibawah glacier Athabaska. Tapi sebelumnya, seperti terlihat dalam jadwal tertulis; pagi sampai dengan siang kami akan kebeberapa danau terlebih dahulu. Danau-danau ini terletak antara lake Louise dan Columbia Icefield, jadi ngelewatin.

Ditengah-tengah jalan, kalo kalian lihat ada satu dua mobil yang menepi di bahu jalan, coba deh perhatikan ada apa disekitarnya. Mobil-mobil yang menepi itu kebanyakan karena ingin melihat sesuatu, keseringannya binatang seperti beruang, Caribou/Reindeer, etc. Dan pagi itu kami beruntung bisa melihat secara dekat seekor beruang hitam yang sedang sarapan buah berry (mereka Omnivora sebenarnya dan ukurannya termasuk Medium-Sized atau tergolong kecil dibanding jenis beruang lain, maka awalnya saya sangka kami bertemu anak beruang).

Serem ya...

Ape lu liat-liat? Gua kepret nih….?! said black bear

Saat itu dia sedang sendirian sedang mobil yang berhenti sudah sekitar 5 mobil dengan orang-orangnya pada keluar dan motret-motret atau cuma liatin doang. Jarak antara tepi jalan dan si beruang sekitar 8-10 meter saja. Dia nggak takut orang loh, karena dia anteng-anteng aja, yang nonton juga terlena dan lupa sedang berhadapan dengan mahkluk buas. Secara tiba-tiba dia jalan/keluar dari semak, spontan pada jejeritan (eike sih tepatnya); gak lama kemudian dia bahkan menyebrang jalan raya.

Binatang-binatang yang hidup di North America ini beruntung nian hidupnya, sudahlah hidup di habitatnya sendiri, eh… nggak perlu ketakutan sama pemburu. Walau kata habitatnya sudah ‘kemakan’ sebagian buat jalan raya dan tempat tinggal, toh mereka bebas lalu lalang dan nggak ada yang berani mengusik. Sesekali aja kalo apes, saat nyebrang jalan mereka ke tabrak mobil. Kalo sudah begitu yang disalahkan tentu saja si supir. Jangan heran kemudian ada rambu lalu lintas tempat penyebrangan para binatang.

Selama disana kami cukup beruntung bisa melihat jenis binatang lain selain si beruang hitam ini. Saya ingat malam-malam saat kami melintas dan melihat sebuah mobil sedang stop. Saat itu saya dibalik setir, sempat ragu-ragu karena sudah gelap tapi akhirnya saya minggir juga. Nampak serombongan Caribou (sejenis rusa) yang kira-kira berjumlah sekitar 15 ekor di kepalai oleh sekor diantaranya yang berbadan besar dan bertanduk cabang megah. Mereka berjalan dengan tenang dalam remang cahaya mobil dengan sesekali menengok kearah mobil, suasana saat itu juga sunyi sepi, seketika terasa agung sekali suasananya, serasa dimana gitu…

Di seri ke 5 saya info kalo suasana atau pemandangan alam lebih asyik dipagi hari saat matahari belum bersinar terik. Berikut adalah foto di Herbert Lake, danau pertama dihari itu. Kudu jalan sedikit dari parkiran mobil, tidak ada apa-apa disekeliling danau dan saya yakin kalo anda ikut bus tur, kemungkinan tidak akan diajak kemari karena tidak ada WC, nyaris tidak ada apa-apa disekelilignya. Tapi liat dong pemandangannya.How great Our Creator!

Herbert Lake. Crystal Clear!

Herbert Lake. Crystal Clear,  No wave.  Serenity….

IMG_9350

Mirror Mirror, on the lake, who is the fairest one of them all?

Masih pagi sekitar jam 8/9am, tidak ada manusia lain, danaunya begitu tenang, airnya jernih, pemandangan kalender banget, itu foto diatas cuma resize doang, nggak ada filter apapun. Kalo disuruh mendok disana 4 jam juga betah walau yang dilihat cuma seperti itu. Mata rasanya langsung jernih dan berkilau-kilau seketika, haha. Lambat sedikit kalo matahari sudah agak tinggi, sudah susah motonya; apalagi kalo kagak bawa filter ND. Kontras cahayanya sudah tinggi banget.

Behind the scene

Behind the scene

Hari-hari mata liatnya beginian, sedap... langsung ingat film Sun Go Kong :D

Hari-hari mata liatnya beginian, sedap… langsung ingat film Sun Go Kong 😀

Tujuan berikutnya yang searah ke Columbia Icefield adalah Mosquito Creek. Harusnya berupa sungai kecil berupa lelehan air bagian dari Athabasca River. Tapi saat kami kesana, nyaris kering kerontang. Sempat kami melihat dua orang bule anak muda yang sedang berkemas di dekat parkiran mobil. Dari selayang pandang saya lihat mereka membawa kompor portable dan sedang masak sesuatu. Ya, kalo mau lebih hemat lagi silahkan bawa kompor portable begitu, lumayan buat masak air minum kopi/susu cokelat, bikin instant noodle, rebus sausage, dll.

Numpang mejeng di Mosquito Creek yang gak ada apa-apanya :p

Numpang mejeng di Mosquito Creek yang gak ada apa-apanya :p

IMG_1685

Ada kandang kuda, ntah punya siapa, nggak ada bangunan lain sejauh mata memandang soalnya.

Selain dua lokasi ini, kami juga sempat mampir di beberapa tempat yang tidak ada dalam daftar perjalanan, semua hanya berdasarkan apa yang tersaji didepan. Memang sepanjang jalan sesekali ada look point yang bikin penasaran sehingga kita juga berhenti dan melihat-lihat.

Kalo tidak ada look point, ya berhenti di bahu jalan saja, cuma harus lebih hati-hati

Kalo tidak ada look point, ya berhenti di bahu jalan saja, cuma harus lebih hati-hati

IMG_9411

Pemandangan yang dilihat sehari-hari

Ini lokasi nggak tau namanya apaan, ya karena main stop aja jika dirasa pemandangannya bagus

Ini lokasi nggak tau namanya apaan, ya karena main stop aja jika dirasa pemandangannya bagus

Blusuk-blusuk kebawah untuk mendapat perpektif yang berbeda drpd hanya sekedar berdiri di Look point area

Blusuk-blusuk kebawah untuk mendapat perpektif yang berbeda drpd hanya sekedar berdiri di Look point area

Supaya dapat pemandangan detail seperti ini yang suka terlewatkan. Iseng pegang airnya, kayak air es!

Supaya dapat pemandangan detail seperti ini yang suka terlewatkan. Iseng pegang airnya, kayak air es!

Kalo nggak ada modal kamera Pro, kamera Handphone macam iPhone sudah lebih dari cukup :p

Kalo nggak ada modal kamera Pro, kamera Handphone macam iPhone sudah lebih dari cukup :p (Behind the scene foto bunga di tepi air diatas)

Singkat cerita, sampailah kami di markasnya Columbia Icefield Parkway. Bangunannya besar dan konon (tau beneran apa bohong) masuk dalam guiness book of record karena punya jumlah toilet terbanyak. Ada sekitar 600 toilet didalamnya. Didalam gedung juga ada semacam museum berisi macam-macam informasi mengenai glacier, juga ada restaurant all you can eat dan tempat makan semacam food court.

Ramai sekali... Laris manis... Cuaca juga lagi bagus-bagusnya

Ramai sekali… Laris manis… Cuaca juga lagi bagus-bagusnya

Untuk mencapai ke tengah glacier, kita kudu beli tiket seharga $50 perorang. Cukup mahal memang, tapi karena pengen ngerasain gimana rasanya dan supaya nggak menyesal dikemudian hari, maka kami pun membeli tiket yang ada jam keberangkatannya, disaat summer seperti itu bus yang jalan cukup sering, hampir tiap 10-15 menit sekali. Pertama-tama kita akan naik bus super besar yang membawa kita menyebrang jalan dan menuju ke ternimal bus khusus, disana kita akan berganti armada.

Setelah didalam bus, supir bus akan merangkap sebagai tur guide yang sepanjang jalan menceritakan kisah salju abadi. Saat di Bus biasa, supir kami seorang wanita bule. Ntah karena sudah bosan atau cuma sekedar kerja, dia terdengar seperti menghapal semua informasi yang kudu dia sampaikan ke para penumpang, nada bicaranya datar dan aneh. Tapi ada juga joke-nya yang bikin saya ngakak. Diawali dengan kisah soal waktu seperti hanya ada 60 hari dalam setahun bagi para pohon (evergeen/cemara) untuk tumbuh didaerah sana, sehingga pohon-pohon yang kami lihat dipinggir jalan ada yang sudah berumur ratusan tahun, makin tinggi pohon digunung, makin kecil karena lama tumbuhnya.

Trus dilanjutkan dengan selain memakai bus, kita juga bisa berjalan kaki kalo mau, dia sebut pakai angka-angka seperti 5 jam untuk sekali jalan, 50 menit untuk apa, 5 menit untuk apa dan terakhir 5 detik untuk …. jatuh. HA HA HA Bisa lucu juga dia, mungkin joke hapalan juga, who care lah.. yang penting ngakak!

Dengan walkie-talkienya dia melapor kalo sudah akan sampai ke terminal sehingga bus special yang akan membawa kami sudah bersiap-siap disana. Bus atau semacam truk atau alat berat bernama Brewster beserta sang supir sudah menanti kami. Sebagai orang Asia kita bergerak cepat supaya dapat duduk didepan sehingga bisa lihat lebih jelas. Supir Brewster kami adalah seorang keturunan Jepang, namanya Masami Okada.

Saat saya panggil "Masami San...." dia nengok & langsung pose peaceeee LOL

Saat saya panggil “Masami San….” dia nengok & langsung pose peaceeee LOL

Berbeda dengan supir yang sebelumnya, Masami San sangat sangat ramah dan lucu. berkali-kali seisi bus dibikin ngakak. Ambil contoh saat Brewster hendak berjalan menukik tajam, itu menukiknya gak main-main, kalo pake bus biasa mungkin bisa terguling-guling saking tajamnya. Dengan santai dia bilang “tenang.. tenang… “ ketika semua penumpang terkesiap. “Saya agak ragu ini kita bisa lewat apa nggak, profesi saya di Jepang dulu itu Akuntan” yang langsung disambut pekikan dan tawa secara bersamaan. Tentu saja dia hanya bercanda, saya lihat beberapa supir Brewster cewek malahan. Terus roda-rodanya yang besar dan bergerigi tentu kuat mencengkram es.

Sesampai di bawah Athabasca Glacier, kami hanya dikasih waktu sekitar 30 menit untuk berfoto-foto. Masami San pun sudah menawarkan jasa untuk jadi fotografer. Alhasil dia jadi rebutan para penumpang untuk difoto dengan formasi lengkap teman seperjalanan. Disana ada 3 bendera Kanada yang ditancapkan ke es, semua pada foto dengan bendera. Ada teman yang nanya saat saya upload foto tersebut di FB “Nggak bawa bendera Indonesia Yul?” hehe. Ya nggak lah, ini bendera Kanada juga supaya tau kalo ini di Kanada, bukan di Tibet. Pelancong juga kebanyakan bukan dari turis lokal/Kanada jadi seru mungkin bagi mereka di foto dengan bendera Maple.

Karena sudah gali informasi di Internet, kami sudah bawa gelas dissposable buat nampung air lelehan salju abadi. Kata Masami San, orang yang minum air tersebut akan awet muda 10 tahun, LOL. Kita sih nggak percaya begituan, mau seru-seruan saja…

Narsis didalam Brewster

Narsis didalam Brewster

IMG_9606

Lagi antri buat turun tajam menuju glacier

IMG_9614

Mau hemat $50 dan hanya bayar guide buat jalan ke Glacier juga boleh. 5 jam tapinya… pake Anjing juga.

Tanpa bayar guide juga boleh, cuma ya bahaya sekali… katanya pernah ada 2 orang nekat jalan berdua doang. Karena gak bawa guide dan gak ada anjing, salah satunya ke jeblos dan akhirnya meninggal karena terlambat diselamatkan. Lihat medannya aja udah bikin lemas, lain kalo emang 2 harian hanya mau explore daerah sini. Mending bayar $50 terus duduk manis deh.

Tebal dan megah ya es-nya. Saya baru sadar foto ini memuat 2 orang manusia, kamu bisa lihat nggak?

Tebal dan megah ya es-nya. Saya baru sadar foto ini memuat 2 orang manusia, kamu bisa lihat nggak?

Seluruh salju abadi ini konon akan habis dalam waktu 60 tahun kedepan (dikalkulasi dengan kecepatannya meleleh saat ini) dan salju abadi dibagian atas yang bernama Columbia gedenya kira-kira segede kota Vancouver.

Tanda merah itu tempat kami turun dan foto dengan bendera

Tanda merah itu tempat kami turun dan foto dengan bendera

Mission accomplised!

Mission accomplished!

IMG_1713

Rodanya saja hampir setinggi manusia. Naik ke bus kudu pake tangga 😀

IMG_1715

Bisa awet muda 10 tahun… Awet tua kali maksudnya ya hehe

Worth it nggak Yutan, bayar $50? tanya anda sekalian yang penasaran karena sudah tau YuTan ogah rugi orangnya, ihik ihik. Susah ya jawabnya… pengalamannya sih boleh… cuma apa perlu mereka ngecharge sampe $50? kayaknya kalo bangsa sekitar $30 bolehlah. Jadi itu jawaban saya, hanya saja kami tidak menyesal tuh… one of life time experience, sekali lagi. catat itu baik-baik hehe. Saya sebenarnya agak sedih pas diceritain kalo esnya bakal hilang dalam waktu 60 thn kemudian kalo suhu udara atau global warming gak berubah. Saya bukan sedih karena itu beneran akan hilang, tapi karena saya sudah menjadi bagian dari percepatan itu… berbondong-bondong manusia kesana dengan suhu tubuh sudah pasti membuat es disana cepat meleleh, apalagi airnya kita minum2in. Maaf ya…

Siang itu kami makan di restaurant food court disana. PERHATIAN ya buat anda yang akan mampir kesana, kalo mau hemat; usahakan bawa air minum di tas atau minum setelah kembali ke mobil. Harga makanannya sih masih oke, masih wajar harganya bangsa $10-$12 perporsi. Harga minumannya yang nggak wajar, air minum botol atau secangkir kopi panas biasa di charge seharga $4.50. Apa nggak bikin meringis? kalo tidak ada air minum sih rela aja bayar segitu, tapi air berbotol-botol di bagasi mobil jadi nampak sia-sia, hehe. Rasa makanannya sih nggak spektakuler, baik masakan western seperti fish & chip atau masakan Asia seperti nasi dan sapi cah sayur. Kami intip restaurant sebelah yang jual makanan ala All You Can Eat harganya cukup mahal (nggak ingat berapa) dan lagian rasanya kok nggak pas makan model begitu dalam suasana seperti itu, makan ala AYCE gitukan kudu santai, paling tidak 2 jam lah supaya gak rugi, haha.

Perjalanan kami lanjutkan ke 2 lokasi berikutnya sebelum ke campsite kami malam itu. Loh Yutan, katanya kemarin kalo bangun tenda kudu segera jangan tunggu sampai malam, ini gimana sih?! Protes anda-anda yang baca seri sebelumnya dan punya daya ingat kuat. Ini gini loh… rute ke 2 lokasi berikutnya itu searah ke arah campsite kami di Wabaso, trus saat itu masih sore dan karena summer, gelapnya lebih lama, alias sekitar jam 8 am malam baru mulai gelap. Tapi memang kami jadi agak terburu-buru di  lokasi kami terakhir karena kudu kejar2an sama matahari yang mana mau ngedelay waktu terbenamnya.

Dua lokasi berikutnya adalah : Sunwapta Fall dan Athabasca Fall

Sunwapta Fall

Sunwapta Fall, nama-nama memang kedengaran aneh, karena memakai nama-nama dari kata bangsa Inuit/Indian asli

Masih di Sunwapta Fall... cantik sekali pemandangannya ya...

Masih di Sunwapta Fall… cantik sekali pemandangannya ya…

Behind the scene foto diatas :D

Behind the scene foto diatas 😀

Waktu yang sempit membuat kami sedikit terburu-buru, terutama saat di Athabasca. Padahal tempatnya unik, senang aja dengar bunyi air yang menderu. Air terjunnya deras dan area look point yang sangat dekat dengan air terjun bikin cukup seram.

Athabasca Fall

Athabasca Fall

Setelah itu kami pun kebut ke Campsite kami bernama Wabaso (saya selama disana, pengen nyebut tempat ini dengan Kuah Bakso deh, hehe) Lokasinya agak dalam daripada campsite lain. Jalan menuju kesananya pun sepi dan gelap (gelap karena setelah pasang tenda kami jalan keluar lagi ke Jasper Town buat cari makan malam, walhasil pulangnya sudah gelap), kita sampe takut salah jalan atau tiba-tiba ada yang keluar dari balik pohon atau apabila ada yang tiba-tiba berdiri dipinggi jalan, hiiiiiii….

Yang pilih campsite ini Tuan Hadi terhormat. Letak campsite  persis di pinggir Athabasca River dan ada colokan listriknya. Kami menginap dua malam di tempat ini sehingga esok hari tidak perlu membongkar tenda. Ada plus minusnya stay di campsite yang jauh dari kota/jalan utama, minusnya cukup habis waktu jika mau keluar masuk dari Campsite ke lokasi wisata. Plus-nya karena tempatnya agak terpencil, suasananya lebih asri/natural.

Jika tidak mau ‘terdampar’ di Wabaso, masih ada beberapa pilihan campsite di Jasper. Salah satu yang saya ingat yang paling nyaman dari segi letak yang cukup dekat kemana-mana di area Jasper adalah Whistler Campground. Saat kami membangn tenda belumlah gelap sehingga kami pun masih berkesampatan untuk melihat dimana letak kamar mandi dan toilet. Ya, kamar mandi dan toilet acapkali berbeda lokasi. Untungnya toilet hanya berjarak tidak lebih dari 30 meter dari tenda kami namun kamar mandi cukup jauh alias kudu pake mobil atau jalan kaki sekitar 15-20 menit.

Malam itu seperti saya sampaikan diatas, selepas pasang tenda kami meluncur ke kota Jasper. Kotanya cukup besar tapi tidak sebesar atau seramai Kota Banff. Ada banyak restaurant fast food dan restaurant lainnya. Kami pilih makan malam di restaurant Korea satu-satunya disana setelah sebelumnya tidak berhasil menemukan sebuah restaurant yang saya cari di Yelp (mungkin sudah bangkrut). Nama resto Koreanya “Kimchi House” dan makananya enaaaaaakkkkkkkk…. sayang tidak seperti resto Korea pada umumnya yang memberi free side dish, disini kudu bayar lagi kalo mau ada side dish. 2 malam berturut-turut kami makan dengan menu yang sama disana dan nantikan di kisah selanjutnya ketika kami nekat bertanya kepada pemilik resto mengapa kalo mau side dish kudu bayar lagi? apa kira-kira jawabannya? 🙂

 

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 4]

Before I start blogging about this part 4, here the pictures of my breakfast while we stayed in the hotel ( Vancouver and Calgary ). Soon, I’ll miss this breakfast menu, haha.

Nice breakiesss!

Tidak banyak yang bisa saya share selama kunjungan kami ke Calgary, cuma 3 hari 2 malam dengan 2 hari diantaranya hanya setengah hari. Yang jelas kota Calgary-nya sendiri jauh dibawah ekspetasi saya. Jalan rayanya cenderung sempit, sedang banyak perbaikan jalan, pembangunan gedung pencakar langit baru dan suasana pusat kota yang berubah sepi senyap setelah habis jam pulang kantor.

Kota yang satu ini memang unik dibanding kota lain di Kanada. Berikut beberapa yang bisa saya beri contoh (background singkat : Kota Calgary atau provinsi Alberta adalah provinsi terkaya di Kanada karena hasil minyak-nya, daratannya datar alias hampir tidak ada tanjakan/turunan,  lokasi salah satu penemuan terbesar fosil Dinosaurus, terkenal dengan daging sapinya) :

  • Tidak ada pajak daerah, mereka hanya ada pajak pemerintah pusat 5% (kota lain bisa kena 10-15%)
  • MRT-nya kalo naik dan turun masih di tengah kota, gratis tis tis.
  • Harga hotel di weekend lebih murah daripada harga hotel di weekday (kalo weekend jadi sepi karena orang lebih pilih pergi/stay di Banff)
  • Toko-toko atau mall downtown tutup antara jam 4 s/d 6 sore
  • Majalah gratis  “where” yang ada disetiap kota di Kanada (memuat tujuan wisata, restaurant, etc) khusus untuk Calgary berukuran magazine (A4) sedang kota lain hanya uk. A5 (1/2 folio)

Selama di Calgary saya sempat laundry pakaian kotor selama di Vancouver, Ini akibat perjalanan panjang dan cuma bisa bawa tas ukuran sedang. Sama seperti di kota lain, kalau bisa jangan laundry di hotel karena harganya akan mahal sekali, walau memang lebih nyaman karena tidak perlu ditunggu dan sudah dalam keadaan dilipat rapi, haha.

Saya juga belanja keperluan sehari-hari (makanan dan air terutama) untuk dibawa selama jalan-jalan ke Rocky Mountains nanti. Kebanyakan yang dibeli adalah makanan untuk sarapan seperti roti,buah,selai,susu/kopi dan biskuit. Beli juga air minum dalam botol dan aneka snack dan candy buat cemilan selama didalam mobil supaya tidak bosan dan ngantuk. Semua sudah dalam perencanaan sehingga semua yang dibeli kudu muat di bagasi.

Ohya, mobil untuk dipakai selama perjalanan ke RM juga kami sewa di Calgary. Dengan promosi dari kartu kredit yang dapat asuransi gratis kami sewa di Budget Rent A Car. Kami pilih sedan full size dengan harapan dalamnya lebih luas, toh harganya sama dengan sedan ekonomi. Sewa 5 hari termasuk additional 1 driver total habis $225 (tax included) dan bensin habis sekitar $150. Mobil jenis ini cuma pas buat ber-4 walau bisa didudukin untuk ber-5. Dan karena kami genap ber-4 maka harga segitu dibagi 4 jadi hanya sekitar $100 per orang. Menurut saya sangat ekonomis karena dengan harga segitu kami bebas kemana saja dan tidak terikat oleh waktu, kondisi mobil juga bagus dan nyaman. Enaknya lagi saat ambil mobil, kami ambil di lokasi yang terdekat dengan hotel kami menginap dan saat dikembalikan, kami kembalikan di bandara dengan proses pengambilan/pengembalian yang tidak lama dan ribet. (ini harga August, 2012)

Ditengah waktu yang sempit dan kudu urus ini itu, saya sempat ketemu teman yang dulunya sama-sama ambil kelas di ISIS Halifax. Saat ini dia tinggal di Calgary ikut suami yang dapat kerja disana. Karena itu saya sempat menjelajah kota Calgary dan tidak hanya di pusat kotanya saja. Kami janjian di South Centre Mall yang letaknya agak jauh dari pusat kota. Mallnya gede dan mewah. Selama perjalanan menuju mall saya melihat suasana kota Calgary, Highway-nya, rumah-rumahnya, sedikit banyak mirip Halifax/Dartmouth namun dalam skala lebih besar, haha.

Supaya gak bosa baca tulisan terus, ini saya sisipkan foto makanan yang saya makan di Foodcourtnya mall, Baklava. Terpujilah wahai pencipta Baklava dimanapun kau berada!

IMG_1606

Baklava

Tak lupa, kami juga mencoba makan steak. Sama kayak di Vancouver katanya gak afdol kalo gak makan sushi, di Calgary gak sah kalo belum makan steak-nya. Udah jauh-jauh ke tempat coboy gitu kali maksudnya, haha. Rasa steak-nya sih sama-sama saja, mungkin karena saya juga gak expert dalam per-steak-an, yang jelas harganya gak murah walau mereka penghasil daging sapi terbesar (?) di Kanada.

IMG_1595

Steak with Mushroom Soup, Yum!

Fast forward!

Tibalah hari yang ditunggu-tunggu… Mobil sewaan saya ambil/sewa sehari sebelum berangkat untuk keperluan belanja dan laundry serta tidak ingin kehilangan waktu di pagi hari H tersebut sehingga malamnya kudu diparkir. Tarif parkirnya mahal bowwww… saya lupa, kayaknya sekitar $15-25 overnight di hotel tempat kami inap. Masalah utama kota besar di Kanada ini ya ini salah satunya, kalo tidak mendesak, jangan parkir mobil di downtown, harganya gak manusiawi, hiks.

Sehabis sarapan terakhir kalinya sebagai kaum ninggrat di hotel, kami meluncur ke bandara untuk menjemput 2 teman yang datang langsung dari Halifax. Syukur pesawatnya ontime. Mereka terbang dari Halifax subuh sekitar jam 5 pagi dan berkat perbedaan waktu mereka pun tiba sekitar jam 10 pagi sahaja di Calgary airport. Sebelum langsung tancap gas ke arah Banf, kami ling keliling dulu sekali lagi di dalam kota Calgary. Maklumlah imigran… kerjanya liat-liat suasana kota lain, karena siapa tau minat atau suatu hari kudu migrasi lagi ke kota lain di Kanada, haha.

Jadwal hari pertama tersebut cukup padat merayap, ogah rugi judulnya. Berikut jadwal perjalanan kami di Day 1 sesuai catatan yang ada :

WED, AUG/22
08:00 BREAKFAST at the hotel
09:30 To Calgary airport
10:10 Anh+Yen arrives in Calgary (AC123/AC117)
10:45 Drive to Canmore
12:30 LUNCH at Canmore
13:30 To Lake Louise visitor centre at Samson Mall
14:30 Check-in, setup tents
15:00 Hiking to Tea House at Lake Agnes/Lake Mirror (4 hrs return)
17:00 DINNER at Tea House
19:30 To Moraine Lake (15 mins)
20:30 To Campsite (15 mins)

Perencanaan matang seperti ini sampai ke jam jam-nya perlu. Walau tidak mesti tepat sekali pada saat prakteknya. Ini lebih kepada supaya enak aja memperkirakan waktu yang akan terpakai selama perjalanan. Ini juga perlu kalo tujuannya dalam tempo seseingkat2nya mendapat sebanyak-banyaknya. Kalo tidak ada jadwal model gini, alamat habis waktu gak karu-karuan atau malah kebanjiran waktu dan gak tau mau ngapain. Estimasi waktu dalam perjalanan didapat dari hasil search di website, google map dan pengalaman pribadi.

Jelas sekali highlight hari pertama ini adalah Tea House di Lake Agnes yang perlu menghabiskan 4 jam untuk sampai kesana dengan jalan kaki di mulai dari Lake Louis. Usahakan dalam tiap hari ada highlight location atau aktifitas yang ingin dilakukan. Dimana nantinya lokasi/aktifitas ini akan kita beri waktu lebih leluasa untuk menikmatinya, kita beri budget lebih leluasa juga untuk dibelanjakan. Bukan berarti tempat atau kegiatan lain tidak boleh dinikmati berlama-lama, apalagi kalo bagus kan? Nanti kalian akan ngerti kenapa saya bilang perlu ada satu highlight kegiatan/lokasi selama dolan di Rocky Mountain (tentu dengan catatan, waktu dan dana anda terbatas. Kalo waktu & dana tidak terbatas? ya sesuaikan saja dengan kemana kaki anda melangkah, suka stop, nggak suka jalan).

Sepanjang perjalanan mulai dari bandara sampai dengan Canmore lebih banyak diisi dengan perbincangan seputar kabar, kangen-kangenan, ledek-ledekan, cerita betapa excitednya kita, dll dan tentu saja sesekali mengomentari suasana yang kami lihat selama perjalanan. Selama perjalanan ini pun pemandangan masih ‘biasa’ dari kejauhan sudah nampak sih gunung-gunungnya.

Boleh dikata sepanjang perjalanan dari Calgary – Canmore – Banff – Jasper itu ibarat kalo nyanyi ada cresendo-nya, ituloh… tehnik/metode nyanyi dari pelan kemudian pelan-pelan naik terus sampe keras. Jadi dari biasa, mulai gak biasa, asyik, asyik banget, wow, wow banget, spektakular sampe terakhir nganga mulutnya, lupa tutup saking dasyatnya. Teorinya sih makin jauh dari hiruk pikuk manusia, alamnya makin asli dan asri. Jam juga menentukan kualitas pemandangan. Semakin pagi dimana manusia-manusia masih terlelap semakin asri dan menawan, khususnya danau-danaunya terlihat lebih cantik di saat pagi hari.

Ada kejadian lucu saat kami cari makan siang setelah masuk kota Canmore. Sesuai kesepakatan ini hanya makan siang asal lewat, alias kagak perlu fancy2an dan toh nguber waktu ke tujuan utama dan gak mau berlama-lama di Canmore. Cari punya cari kami putuskan makan di restoran Thailand. Nampak dari luar resto tulisan masakan Thailand yang menggoda. Begitu kami ber-4 masuk ke ‘restoran’, saya berharap kami lagi syuting film, ada kamera gitu yang bisa zoom in zoom out, sayangnya gak ada, jadi memory ini cuma tersimpan didalam lubung hati kami yang terdalam, ihik ihik.

Ceritanya gini, kami berempat ini kan Asian, dua dari Indonesia dan dua lagi dari Vietnam, empat-empatnya murni kagak pake campuran, jadi secara kasat mata empat orang ini Asian bangetlah, disangka Chinese mungkin. Saat kami masuk, dari dalam restoran yang ternyata lebih mirip restoran take out ( cuma ada 4-6 bangku di meja hadap ke jalan mirip warteg di Indo ) dari arah dapur kami disambut kurang lebih 4 chef dan pegawai toko yang kesemuanya bule! Bulenya juga kayaknya bule murni nggak pakai campuran. Nah kalo dibikin filmkan jadi menarik, ini restoran Thailand (Asia)kan? nah, yang jual sama yang mau beli apa kagak kebalik tuh?

Pengennya saya sih langsung balik badan dan say goodbye. Tapi demi menjaga martabat daripada pegawai toko yang ramah-ramah tersebut, maka kami pun memesan makanan kami. Saya pilih Tom Yum Soup, Hadi kalo gak salah ingat pesan PadThai. Saat makanan datang, makanan di taruh dalam wadah kontainer plastik ala take out gitu deh, bikin drop nafsu makan 20%. Saat dimakan, nafsu makan drop lagi 90% jadi total jenderal minus 10%. Dasar bule kali ya, meras jeruk limenya kagak kira-kira… bukannya asem malah pahit tuh Tom Yum Soup saya, hiks hiks.

Karena pengalaman pahit tersebut tidak saya lampirkan nama restorannya. Ada baiknya pas saja sama Canmore, selain jaraknya gak terlalu jauh dari Calgary dan sudah tak begitu jauh juga dari Banff, baiknya makan kenyang dulu di Calgary atau sabar nunggu sampai di Banff atau makan fast food waelah… lebih membahagiakan kayaknya, haha.

Ini pemandangan di Canmore dimana gunung-gunung sudah nampak lebih jelas dan dekat. Saat tiba disini senangnya sudah bukan main, padahal ini mah kagak atau belum ada apa-apanya. Ibarat kalo menang lotere nih, baru menang $5 aja sudah lompat-lompat padahal besoknya bakal menang sejuta dolar, wakakaka.

Salah satu pemandangan di Canmore

Salah satu pemandangan di Canmore

Habis makan siang kami segera lanjutkan perjalanan dan rencananya malam ini kami akan menginap di Lake Louis campsite (Ada baiknya book dahulu campsite sebelum hari H supaya ada jaminan mendapat tempat). Disepanjang perjalanan tidak sekali dua kali kami berhenti di Look Point untuk melihat pemandangan-pemandangan dan bernarsis ria dengan kamera masing-masing. Sesekali berpas-pasan dengan rombongan turis lainnya.

Fast Forward lagi

Kami pun tiba di campsite. Jika memutuskan untuk tidur di tenda selama perjalanan ke Rocky Mountains atau campsite dibelahan hutan manapun, usahakan sudah mendirikan tenda sebelum gelap. Jangan bela-belain pulang dolan baru tujuan akhirnya ke campsite. Why? Becasue :

  • Kalo sudah gelap, pencahayaan kurang, susah pasang tendanya
  • Kalo sudah gelap, susah cari lokasi yang enak buat pasang tenda (biasanya dipilih yang tanahnya sedatar mungkin tanpa ada batu/akar pohon)
  • Kalo sudah kemalaman, bisa-bisa petugas campsite sudah pulang, jadi nggak bisa ambil nomor dan dokumen-dokumen tenda atau nanya-nanya kalo ada masalah
  • Kalo sudah selesai dolan baru masuk campsite apalagi belum pasang tenda, alamat tidur di alam terbuka karena biasanya sudah capai sekali
  • Kalo sudah gelap baru masuk campsite alamat jadi buta alam sekitar, kehilangan orientasi, dimana kamar mandi, dimana ambil air, dimana ini dan dimana itu

Jadi begitu tenda sudah terpasang dan sudah tau lokasi kamar mandi yang ternyata cukup dekat dan bersih dengan air melimpah ruah, kami pun bergegas ke Lake Louis, ke danaunya. Yang konon merupakan danau dengan pengunjung terbanyak, bisa-bisa saat mau foto danaunya kehalangan para turis yang berjejal disepanjang pinggir danau. Walau tujuan utama kami ke Tea House, toh kami harus melalui Lake Louis, jadi sekali tepuk dua lalat penyet.

Part ke 4 ini saya sudahi dulu disini, dijamin cerita part ke 5 nya bakal seru. Salah satunya ada hubungannya dengan foto dibawah ini.

Ketemu mahluk cute satu ini... Obesitas dia... kasihan hehe :D

Ketemu little friend yang cute satu ini… Obesitas dia… kasihan hehe 😀

IMG_9118

Ape liat-liat?!

YuTan