Jokowi Pilihanku & Tak Muluk-Muluk Harapanku

10 tahun lalu aku pilih SBY/Demokrat karena saat itu memang sedang bagus-bagusnya, terbukti saat ybs naik, pelaku korupsi tiarap cari aman. Sayang kondisi tersebut tak tahan lama.

5 tahun lalu aku terpaksa pilih SBY lagi karena kandidat lain menurutku tidak lebih baik, jadi saat itu memilih yang buruk dari yang terburuk. Sungguh kecewa karena ternyata sisa 5 tahun terakhir dipakai ‘pesta pora‘ oleh para koruptor. Syukur sebagian dari mereka berhasil ditangkap oleh KPK.

Tahun ini aku pilih Pak Jokowi, aku percaya para koruptor bukan saja akan tiarap (baca: tunggu situasi aman dulu sebelum kembali menggerogoti uang negara) tapi juga akan insyaf total, daripada harus mendekam dipenjara seumur hidup seperti si Akil.

Akan ada banyak sekali uang negara yang tadinya/biasanya ngalir begitu saja ke kantong-kantong pribadi para tikus koruptor dan keluarganya menjadi utuh untuk dipakai buat kesejahteraan rakyat banyak.

Itu saja harapan aku, gak muluk-muluk dan gak mau ribet dengan berita simpang siur sana sini soal siapa jujur siapa bohong, siapa bersih siapa kotor, siapa sungguh-sungguh mau bekerja siapa hanya haus kuasa. Siapa bermasa lalu kelam siapa bermasa depan terpercaya. Siapa tegas siapa ndeso.

Cukup yang sudah benar telah terbukti dan teruji saja, baik di Solo dan di Jakarta soal uang negara yang bisa dihemat, bisa dicegah bocor ke dompet bangsat koruptor, dan bisa dikelola, dipakai, didistribusikan semaksimal-maksimalnya untuk kepentingan rakyat dan negara.

Semoga satu suara aku ini yang diiringi doa dan harapan, bisa ikut menghantar Pak Jokowi menjadi Presiden Indonesia berikutnya. Semoga Tuhan melindungi beliau, wakilnya & seluruh keluarganya.

Sudah saatnya Indonesia bebas korupsi, sebenar-benarnya!

Salam dua jari! *senyum tiga jari*

YuTan

20140703-223519-81319073.jpg

Si Tole Nggak Salah-Salah Amat Ternyata…

Kayaknya kudu minta 1/2 maaf nih sama si Tole karena postingan blog kemarin ini. Alih-alih coba memahami psikologi si Tole, gua pake ngakak dan main tulis aja, hehe. Maaf 1/2 porsi ya Tole… Lu ternyata nggak salah-salah amat.

Pikiran gua agak kebuka gara-gara komentar teman baik gua di blog kemarin itu, ini kutipan aslinya gua paste disini:

Bwahahaa serius yull.. Emang gk ada batasnya ya klo gob**k. Btw, mengenai kartu sehat, temen ktr gw udh ada yg ngerasain manfaatnya. Bukannya mrk mmg kepengen disumbang, tetapi biaya berobat utk diabetes mahal dan kontinyu. Siapa sih yg mau sakit gituan cm buat dpt sumbangan gk seberapa, mending sehat kemana mana kalee.. Mengenai prosedur pembuatan kartu sehat jg sangatt mudah. Gk pake makelar dan calo tetapi selesai dgn cepat. (Just my opinion, itu yg komen soalnya udh membabi buta) hehehe

Nah, habis baca komentar ini, secara tiba-tiba gua mendapat  enlightement bahwa si Tole ternyata nggak salah-salah amat. Apa yang bisa gua simpulkan kemudian adalah sebagai berikut :

a. Tentang Mindset kata “Sumbangan” dan “Tidak Mampu”

Mungkin Pemerintah ada perannya disini, ketika Kartu Sehat dan Kartu Pintar diasosiasikan sebagai sumbangan kepada yang kurang mampu. Nggak heran kemudian si Tole dan juga orang-orang Indonesia pada umumnya menjadi mau tidak mau melabel dua produk tersebut sebagai ‘hanya’ untuk yang tidak mampu dan kalo diusut lebih lanjut ada keengganan untuk menerima sumbangan dalam bentuk apapun, kesannya kalo terima sumbangan itu masuk golongan rakyat hina nista nan jelata. Padahal kalo mau jujur, apa sih batasan seseorang itu mampu dan tidak mampu dalam urusan Pendidikan atau Kesehatan?

b. Masa Permulaan Program

Program apapun didunia ini, yang namanya masa permulaan ya masa paling sulit. Pasti banyak trial dan error disana sini. Maka dari itu perlu sosialisasi yang benar, kudu cepat tanggap menambal apa yang kurang dan meningkatkan kualitas terus menerus. Kartu Pintar dan Kartu Sehat ini konon bukan tiba-tiba muncul, sudah dijalankan sebenarnya di Belitung Timur oleh Pak Ahok selaku Bupati dan Pak Jokowi sebagai Walikota di Solo. Tapi begitu diimplementasikan ke seluruh negeri, beberapa jadi gagap.

c. Politik, Politik dan Politik

Politik ini kayak pedang bermata dua, tergantung dari sisi mana kita melihatnya sebagai rakyat dan tergantung niat yang bagaimana kita mau melaksanakan sesuatu kepada rakyat sebagai orang-orang yang duduk di Pemerintahan. Bisa menjadi baik bisa juga menjadi jelek. Bisa niat yng tulus atau niat yang busuk. Khusus untuk program Kartu Sehat dan Kartu Pintar, apabila dijalankan dengan benar, mau dilihat dari sisi manapun, rakyat yang menikmatinyalah yang akan beruntung, peduli setan jika niatan pembuatnya hanya sebagai gaya-gaya atau pencitraan aja misalnya (ngertikan maksud ane, hihi).

Cukup 3 point diatas saja deh yang gua jembrengin yang kira-kira menurut sepemahaman ane, menjadikan program Kartu Sehat dan Kartu Pintar dianggap sebagai upaya Pemerintah agar rakyatnya miskin terus, yang membuat penerimanya malu-malu kucing, yang gak malu-malu kucing dibikin sungkan dan nggak enak hati.

Padahal…

a. Walaupun dua produk tersebut katakanlah dilabel sebagai sumbangan, coba lihat saja sumber dananya, itu ya uang pajak-pajak sampeyan juga yang kerja di Indonesia. Skema atau metode seseorang kemudian layak menerimanya tentu sudah disesuaikan dengan dana yang dan akan tersedia. Jadi tidak perlu merasa hina dina apabila memerlukan dana tersebut untuk mengobati orang tua, diri sendiri atau saudara. Lebih-lebih lagi nggak usah nyinyir jika tahu ada teman atau saud/ara yang memanfaatkan program tersebut. Apa mau kamu saja yang sakit? biar ntar kita rame-rame bantu urusin deh itu Kartu Sehat.  Setelah mindset kata “Sumbangan ” dan “Tidak Mampu” dicoret dari kalbu sanubari masing-masing, ada baiknya kedepan melihat ini sebagai HAK, sebagai privilege seorang rakyat yang dijaga dan dilindungi oleh Pemerintah/Negara. Tapi jangan lupa ya, sebelum ada Hak itu selalu ada Kewajiban.

b. Memang kedua program ini tidak atau belum seperti program serupa yang kami sudah nikmati disini di Amerika Utara. Selain program ini masih terhitung baru di Indonesia, kekuatan sumber dana dan mental orang-orangnya berbeda. Tapi percaya deh, jika Pemerintahan ada ditangan orang-orang yang benar (dibantu oleh rakyatnya yang cerdas dan kritis) maka cepat atau lambat gua percaya program seperti ini akan terus dipoles sampai mantap dan sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan Indonesia. Tugas anda-anda sekarang hanya menjalankan, berpartisipasilah jika itu memang sudah tersedia, daftar dan pakai kalo memang sudah dan terpaksa perlu. Beri masukan pada Pemerintah apa yang masih kurang pada program-program ini. Errhh… Pemerintah nggak perlu sampe studi banding ke LN loh ya kalo pengen tau gimana sistem yang sudah dijalankan di negera-negara lain, cukup hubungi  kami-kami ini yang diperantauan

c. Orang macam Tole kemarin ini bisa jadi misinformation atau parahnya dugaan gua bukan karena punya gengsi selangit yang ogah dikasih sumbangan sama Pemerintah. Tapi memang otaknya jadi agak sedikit tumpul hanya karena Program Kartu Sehat dan Kartu Pintar bukan inisiasi apalagi masuk program dari capres yang diusungnya. Politik memang seperti itu, tinggal dilihat saja, apakah ludah yang sudah terlanjur dicuihkan, apakah terpaksa nanti dijilat kembali. Tapi kalo sudah kadung malu dan keukeh jumekueh tidak mau pakai atau memanfaatkan program yang sudah disediakan oleh Pemerintahnya, ya gua cuma bisa bilang “Le… Tole… Kasihan amat si Lu…” 🙂

YuTan