Happy 35th To Me

The best present I ever had!

The best present I’ve  ever had!

Suka tidak suka, mau tidak mau, disini aku di umurku yang ke 35, ih…  gilingan cabe, sudah tua aku ya! Kalo hidup sampai umur 70 tahun, itu artinya aku sudah menghabiskan 50% jatah hidupku didunia. Oke nggak usah muluk-muluk mikir kejauhan, 35 itu artinya 5 tahun lagi sudah masuk ke klub 40s, klubnya tante-tante yang sah dan absolut!

Sewaktu mau nulis blog ini, sempat baca blog yang aku post waktu merayakan ulang tahun yang ke-33. Lihat fotonya saja sudah terlihat beda, nampak lebih muda padahal cuma selisih 2 tahun. Sudah kebayang sih ntar pas upload post ulang tahun yang ke-40 bentuk fotonya kayak apa, lol. Tok-tok wood Yutan kata anda-anda sekalian yang sayang sama aku, jangan takabur, emang yakin bener bisa merakayan ultah yang ke-40? hihi bener juga ya, tapi ini joke lah, separah-parahnya kondisi fisik, so far belum pernah sampai lost confident dan lagi hidup itu harus penuh keoptimisan, apalagi sejak Jokowi berhasil jadi presiden RI ke-7, sebuah harapan baru untuk negeri tercinta, kalo perlu ditunda dululah untuk ganti kewarganegaraan-nya. #gakfokus #lagilagijokowi

Ngomong-ngomong soal umur 40, itu batas waktu buat aku untuk menghasilkan sebuah buku. Iya, menulis kan salah satu hobi, punya buku karangan sendiri itu cita-cita yang terpendam sejak lama. Kenapa harus umur 40 batas akhirnya? sebenarnya sih sudah “nyerah” buat punya buku, mikirnya cuma ih nggak salah lo? udah tua udah nggak cocok kali jadi penulis, siapa juga yang mau nerbitin? Tapi lihat dong penulis buku “The sound of Music” si Maria Von Trapp, dia nulis buku terkenal itu saat dia sudah umur 40 tahun, toh sukses-sukses aja, jadi aku nggak mau kalah dong, masih ada sisa 5 tahun untuk mengwujudkannya. Tapi aku punya feeling kalo sampai menjelang 40 nanti baru akan mulai nulis plot buku-ku, aku kan si Miss Last Minutes yang harus dalam  keadaan terdesak baru keluar semua ide-ide cemerlangnya, lol.

Ini post tentang ultah ke-35 kenapa malah fast forward sampai ke umur 40 sih? #lagilagigagalfokus *tepok jidat, jidatnya Wowo*

Tahun ini memilih merayakan ultah ke Niagara Falls pake nginap, selain ada teman yang sedang berkunjung ke Toronto, juga sekalian dibikin special karena esok harinya adalah ultah mama ku. Iya, ibu anak cuma beda sehari aja ultahnya.

Pagi-pagi setelah beres urusan Olivia, kami berangkat ke Kebun Cherry dulu, kebetulan weekend itu sedang peak seasonnya cherry terus juga searah jalan ke NF. Cerita soal petik Cherry sendiri bisa dibaca disini.

Selesai petik memetik kami jalan ke St Catharines buat cari makan siang, berkat bantuan Nyonya Yelp kami memutuskan untuk coba Restoran AYCE Jepang. Namanya Wind Japanese & Thai Restaurant. Tadinya mau ke resto disebelahnya tapi kok sepi senyap gitu, jadinya kami coba yang ini dan ramai sekali. Harga sih sama dengan yang di Toronto, soal rasa dan varian masakannya aku harus akui yang ini lebih baik. Baca-baca review, banyak yang sengaja nyebrang dari Buffalo, USA hanya untuk makan siang disini. Jadi kalo sampai nyasar disekitar lokasi ini dan bingung makan apaan, ini salah satu yang aku rekomendasi.

Berhubung hari Minggu kemarin tepat hari ultahku, maka sebagai seseorang yang cheap aku harus tanya apa mereka ada special threat buat yang sedang birthday. Biasanya suka ada free special dessert, satu yang aku lupa, mereka suka nyanyiin lagu bday dan seantero restoran akan melihat kearah kita. Betapa malunya sudah bangkotan masih dinyanyikan lagu ultah.

Oh we have a coconut cheese cake and happy birthday for you” kata si waitress berwajah bulat dan manis. Aku cengengesan dong, ngebayangin cheese cake, mau coconut kek, mau mango kek, mau durian kek, cheese cake is a cheese cake, cannot resist it! haha. Sampai lupa untuk pesan, please…. jangan pake nyanyi-nyanyi ya.

Jadilah ada adegan nyanyi-nyanyi, sewaktu mereka siap-siap nyalain lilin dari kejauhan, suami sudah nyolek-nyolek “Tuh tuh, buat dikau tuh” dengan wajah senyam senyum senang kalo aku “dipermalukan” sejagat restoran. Pas lihat itu dan teringat adegan nyanyi, langsung pengen tepok jidat dan nyungsep kebawah kolong meja.

Ya sudah pasrah deh, tapi yang bikin mau nangis itu sih bukan malunya, tapi lihat coconut cheese cakenya yang ternyata hanya segede dan setipis tiket timezone, duh *tepok jidat, jidatnya si Wowo lagi* nggak sebanding dengan mukaku yang harus ditebal-tebalin demi free special dessert, lol. Kapok kamu ya sekarang, lol. Tapi nggak jadi nangis, nggak jadi malu deh, soalnya tuh cheese cake endang bambang yummy yummy gimana gitu, haha.

Mushroom roll beef, my favorite menu at AYCE Japanese Restaurant :)

Mushroom roll beef, my favorite menu at AYCE Japanese Restaurant 🙂

Compliment from Wind Japanese Restaurant

Compliment from Wind Japanese Restaurant

Selesai makan kami langsung bertolak ke Niagara Fall untuk check in hotel. Kali ini kami inap di Howard Johnson Hotel yang letaknya sangat strategis, tinggal jalan kaki aja kemana-mana selama jalan-jalan disini, parkir mobil di sekitaran Falls kan mahal. Ini aja hotel walau kita inap disana tetap kudu bayar parkir walau lebih murah daripada yang bukan tamu hotel.

Salah satu aktivitas yang tidak boleh dilewatkan kalo kalian berkunjung ke Niagara Fall untuk pertama kalinya atau paling tidak kudu pernah mencobanya sekali adalah naik kapal yang membawa kita dekat ke air terjun. Dulu namanya Maid of the mist, sekarang sudah ganti company dan namanya jadi Hornblower. Bayar sekitar $20/adult tax included. Jadilah sore menjelang malam itu kami naik itu, ingat betul pengalaman pertama naik beginian sekitar 3 tahun lalu, sangat-sangat terkesan akan kedasyatan alam, jadi pas nyokab disini, itu salah satu yang ingin eike tunjukin ke nyokab dan hasilnya nggak sia-sia, nyokab senang banget.

I am grateful to have her in my life and had to experienced this Hornblower with her was beyond amazing. Another bucketlist checked! :D

I am grateful to have her in my life and had to experienced this Hornblower with her was beyond amazing. Another bucketlist checked! 😀

Second time for them to visit Niagara Fall, This time around more enjoyeable. Olivia more aware of what's  happening around her and the weather certainly more warmer than the last time when we came here.

Second time for them to visit Niagara Fall, This time around more enjoyeable. Olivia more aware of what’s happening around her and the weather certainly more warmer than the last time when we came here.

Malam di Falls kami habiskan dengan menyaksikan kembang api yang hanya ada selama musim panas setiap Jumat dan Minggu malam jam 10pm. Kembang api dengan latar belakang Falls yang berwarna-warni karena disorot lampu tembak menambah kemegahan ciptaan Tuhan tersebut. Sembari menunggu kembang api, kami (hanya saya dan nyokab saja, suami sukarela tinggal di hotel buat jaga bayi yang sudah jam-nya tidur) jalan-jalan dulu disekitar area Fall yang banyak pertokoan dan permainan disepanjang jalannya.

Total durasi kembang api 6 menit. Worth to wait sampai jam 10 malam dan sedikit berdesak-desakan dengan pengunjung lain untuk dapat spot terbaik. What a day we had!

Sky Wheel, one of the attraction at Niagara Fall. The ticket around $12 I believe, gotta to try it one day.

Sky Wheel, one of the attraction at Niagara Fall. The ticket around $12 I believe, gotta to try it one day.

Got spent my bday night with this lady from Halifax! #happy #bff

Got spent my bday night with this lady from Halifax! #happy #bff

It felt like the entire Niagara Fall, wish me a very happy 35th Bday, haha :)

It felt like the entire Niagara Fall, wish me a very happy 35th Bday, haha 🙂

Kalo di ultah ke-33 wish-nya adalah punya baby dan wish ke-34 adalah kelancaran proses kehamilan dan melahirkan, maka wish ke-35 adalah … ? Please jangan cepat-cepat masuk angka 40, lol j/k #lagilagiangka40 Hmm… apa ya? kayaknya prioritas dan tujuan hidup sudah berubah haluan sejak ada Olivia, all I want is her happiness, melihat dia sehat, ceria dan aktif sudah lebih dari cukup, yang lain-lain hanya bonus. Tentu untuk membuat dia sehat, ceria dan aktif perlu usaha dan doa dari orang tuanya dalam hal ini eike dan bapaknya, kami kudu sehat dan happy juga dong, jadi bisa rawat dia dengan baik. Ok deh… wishnya jadi apa ya kalo di sum up? lol Kok jadi banyak? Ya Tuhan taulah apa maunya eike, bahkan sampai ke doa-doa/harapan yang tak terucapkan. Amin.

YuTan

 

Kisah kelahiran Olivia

Ruang itu cukup besar dibandingkan ruang-ruang maupun kamar yang pernah ku huni di gedung tersebut, kira-kira 10×10 meter persegi dengan berbagai macam alat dan peralatan rumah sakit didalamnya. Aku tak banyak memperhatikan detail, hanya ku sapu pandangan sekali lewat karena apa yang ada dalam benakku lebih menyita konsentrasiku.

Tadinya aku sempat menunggu sekitar 10 menit didepan ruang tersebut, duduk diam diatas kursi roda, bertanya-tanya apa gerangan yang akan kulihat ataupun kujalani beberapa saat kedepan, suasananya terasa begitu genting, waspada, sesekali ku lirik suami yang duduk tidak jauh dari posisiku, ia nampak biasa saja, sedikit saja ketegangan yang tersisa dibandingkan sejam yang lalu ketika kami diberitahu bahwa adalah bijaksana jika bayi kami dikeluarkan secara operasi caesar.

Dengan hanya mengenakan gaun rumah sakit berwarna hijau pupus. Aku ikuti semua intruksi para suster, tak banyak kata-kata yang keluar dari bibirku, lebih sering aku mengangguk, tanda aku mendengar mereka dan paham apa yang hendak mereka lakukan. Aku masih terkejut karena ternyata suami tak diijinkan masuk pada proses persiapan operasi.

Dokter dan para suster sibuk dengan tugas mereka masing-masing,  dan lagi-lagi aku  sibuk dan tegang dengan pikiranku sendiri. Kapan selang kateter akan dipasang? sakitkah? bagaimana rasanya disuntik dibagian tulang ekor? sakitkah? bagaimana kalo gagal? katanya bisa jadi lumpuh? koma? kapan suami dikasih masuk? ya ampun, dalam hitungan menit aku akan jadi Ibu! bagaimana rupa anakku? sehatkah dia? terkejutkah dia nanti? Oli… Olivia… ini mama, sebentar lagi kamu dikeluarkan ya. Kita bisa… kita bisa…

Relax your shoulder” kata dokter anestasi, ia satu-satunya pria dalam ruang tersebut kala itu, masih muda, mungkin sekitar 30an dan berkaca mata. Aku perlu menatapnya karena ia memperkenalkan diri dan merentetkan kalimat-kalimat seputar anestasi, aku menangangguk, berdoa dalam hati dan mempercayakan proses pembiusan secara penuh, apa yang terjadi, terjadilah.

Dalam posisi duduk diatas meja operasi dan seorang suster memeluk dari depan, sang dokter anestasi melakukan apapun yang selalu dia sampaikan terlebih dahulu dan lucunya semua sesuai dengan penjelasannya, tentang kemungkinan rasa yang akan aku rasakan ketika jarum ia tusukan, rasa dingin, rasa panas. Aku membalas dengan kata OK kali ini, takut anggukan kepalaku akan menggoyang tubuh, tak henti-henti aku pun memerintahkan diri sendiri untuk melemaskan bahu. Kala ku rasakan cairan dingin merembes kebagian bawah tulang ekor, barulah aku dapat bernafas lega.

Setelah proses anestasi tersebutlah maka selang kateter dipasang, aku tidak ingat jika itu adalah proses yang menyakitkan. Setelah aku dibaringkan dan kain penghalang dipasang disekitar dadaku, aku coba merasa-rasakan kakiku, aku takut kalo-kalo obat biusnya belum jalan, perasaan mengatakan aku masih bisa menggerakan kakiku, tanpa buang waktu aku segera melapor ke dokter “Doc, I still can feel my feet!” tentu nada bicaraku panik saat itu. Dokter kemudian seperti menggurat paha ku dengan jarinya, pertama sebelah kiri dan kemudian sebelah kanan. “Which one is harder?” tanya dokter berambut pirang yang manis senyumnya, oh well, saat itu aku sudah tidak bisa melihat wajahnya, tapi dialah dokter jaga hari itu, konon dokter termuda dari sekitar 8 dokter kandungan di Rumah Sakit tersebut. “Hmm, the first one” jawab ku, tak sangka-sangka balasannya kemudian hanya “Oke” dan mereka langsung bekerja. Hahaha… kalo diingat-ingat rasanya lucu dan sepertinya acara tanya jawab tersebut hanya alakadarnya saja, supaya aku puas.

Kalo sebelumnya masing-masing mereka nampak ‘tegang’ dan sibuk dengan urusan masing-masing, aku malah merasa saat proses operasi berlangsung, mereka nampak lebih santai. Bagaimana dengan diri ku yang saat itu dalam posisi seperti tersalib di meja operasi? sangat tidak nyaman, pertama karena posisi tubuh yang terlentang dan kedua beban psikologi yang ku buat-buat sendiri. Aku ingat adikku pernah cerita (dia sudah melalui 2 kali operasi caesar dengan yang terakhir berupa anak kembar) bahwa saat anaknya hendak dikeluarkan, dokter dan suster yang membantu harus mendorong dan menekan perut dekat bagian dada, rasanya sakit dan tidak bisa bernafas, kira-kira rasanya kalo sampai ditekan sekali lagi, nyawa kita akan melayang. Jadi atas dasar informasi tersebut aku harap-harap cemas. Tiba giliran saat Olivia hendak dikeluarkan, apa yang dideskripsikan adikku menjadi kenyataan, belum lagi tubuh ku yang sampai bergoyang dimeja operasi, walau tidak ada rasa perih karena dibeset perutnya tp tetap saja dibawah alam sadar ku, sesadar-sadarnya merasa bahwa itu proses yang akan menyakitkan. Duh, gimana ya menjelaskannya? kira-kira seperti kalo sedang menikmati Ayam goreng tulang lunak, tau kalo tulangnya sudah empuk dan bisa dimakan tapi didalam benak tetap merasa bahwa itu tulang yang keras dan tidak seharusnya dimakan.Untunglah ada suami yang kemudian diperbolehkan masuk dan duduk disamping menemai selama proses operasi berlangsung.

Olivia berhasil dikeluarkan pada pukul 5:24 am hari Jumat tanggal 3 Januari 2014 dengan tangisannya yang cukup keras. Dengan rasa haru aku cuma bisa melirik dengan ekor mataku, kearah sudut kiri ruangan, dimana tiga orang suster sedang melakukan apa yang harus segera mereka lakukan terhadap bayi prematur. Tak tergambarkan rasanya mempunyai seorang anak yang dinanti-nanti sejak dia belum ada didalam rahim, rasa sayang yang sudah dipupuk sejak dia masih sebesar kacang, rasa penasaran akan bagaimana rupanya, bahkan hinggat saat ini pun, setelah 5 bulan usianya, kadangkala aku masih tidak percaya bahwa aku sudah menjadi seorang ibu, tidak bisa percaya bahwa mahluk kecil lucu dihadapakan ku yang tersenyum lebar memperlihatkan gusinya adalah benar-benar nyata. It happen one day, I needed to close my eyes for two seconds and opened it again, just to make sure, this is real, not just a dream. I afraid I was in Limbo this entire time, haha… too much movie!

Antusiasme suami pun seolah-olah tak ku hiraukan karena aku sibuk dengan rasaku sendiri dan pegalnya leher menoleh kesamping. Beberapa saat kemudian suster bagian NICU menggendong Olivia dan mendekatkannya kearahku. “Congratulation, you have beautiful baby girl” dan selang 5 detik dia membawanya keruang NICU. Kami hanya sempat menyapa bayi kami “Hi Olivia…” dan aku tidak sebagaimana biasanya para ibu-ibu yang baru melahirkan yang bisa segera memeluk dan melakukan skin to skin moment dengan bayinya hanya bisa gigit jari saja.

Pasca operasi dan dipindah keruang perawatan aku sempat tertidur hingga menjelang siang, hari itu juga aku dengan bantuan kursi roda & suster mengunjungi Olivia dan itu pula pertama kalinya aku menggendong dan menciuminya. Tubunya penuh selang disana-sini, nampak ringkih dan tak berdaya, jari jemarinya yang begitu halus, badannya sesekali bergetar seolah-olah kedinginan. My poor baby, dengan berat hanya 1831 gram dan panjang 48 cm, Olivia lahir diminggu ke 36. Dia yang mungil itu, yang sejak hari pertamanya menghirup udara dunia sudah harus berjuang dan bertahan dari jarum-jarum yang menghujam telapak kaki dan punggung tangannya, yang menghabiskan 2 minggu pertama malam-malamnya sendirian di ruang 3×3 meter ruang NICU yang dingin adalah kekasih hatiku, kesayanganku, segala-galanya bagiku.

Tak pernah ku tahu sebelumnya, ada cinta yang sedemikian, yang kata-kata tak pernah akan bisa menjelaskan dengan sempurna, yang katanya akan abadi sepanjang masa. I am blessed and thanks to Our Lord. Tiap nafasku saat ini adalah doa yang terhembus, yang akan menyertai hari-harimu. Mama loves you Olivia.

First Day

First Day  [and first time in her Mama’s arms]

YuTan