Surat Terbuka Untuk Bpk. Prabowo Subianto Pasca Pemilu 2014

Yang terhormat Bpk. Prabowo Subianto,

Izinkan saya menyampaikan isi kepala saya kepada Bapak, sehubungan dengan apa yang saya baca dan dengar selama kurun waktu 24 jam terakhir ini. Kemarin, waktu bagian Indonesia,  hampir seluruh masyarakat Indonesia yang berhak sudah memberikan suara mereka pada ajang pemilihan presiden Indonesia periode 2014-2019.

Bapak, saya hanya ingin menyampaikan 2 hal saja dan saya ingin sekali paling tidak ada yang menyampaikan dua hal ini ke Bapak. Saya menyampaikan dengan niat positif dan rasa hormat saya walaupun saya tidak memilih Bapak menjadi Presiden, tepatnya sih saya tidak ingin Bapak yang jadi Presiden saya berikutnya. Saya ada alasan tersendiri untuk itu, semoga Bapak maklum dan tetap mau tahu apa sih dua hal yang ingin saya sampaikan itu.

Yang pertama adalah saya ingin mengucapkan selamat kepada Bapak. Karena hasil quick count beberapa lembaga survey yang kompeten sudah memperlihatkan bahwa Bapak dan pasangan Bapak kalah tipis saja dari kandidat sebelah. Walau saya sudah memprediksi jaga-jaga akan hasil seperti ini, saya cukup terperangah juga loh Pak. Begitu derasnya dukungan ke calon no. 2 di timeline beberapa media social yang saya punya, ternyata Bapak tetap menuai begitu banyak suara, Selamat Pak.

Bapak harusnya bangga dan puas. Saya tau, kalah bukan option yang Bapak dan juga Tim Bapak kehendaki, katanya motto Bapak itu “Kalo bukan sekarang, kapan lagi?”, Now or never ever happen again! Namanya juga orang sedang berkompetisi, wajar saja berjuang untuk menang dan ogah kalah. Tapi Pak, mohon sangat Pak… hasil quick count ini memang bukan atau belum harga mati, kita semua harus tunggu sampai tanggal 22 Juli nanti, ketika KPU mengumumkan hasil akhirnya, tapi seperti kita ketahui, hasil quick count dari lembaga-lembaga survey ini lumayan akurat, padahal itu belum termasuk hitungan suara di Luar Negeri yang sepanjang saya tahu, si No. 2 menang telak dimana-mana.

Boleh ya Pak kalo saya sarankan Bapak untuk bangga dan puas karena kalah tipis saja. Ibaratnya Pak, orang-orang mengira paling-paling bapak cuma menuai maksimal 20% suara, lah sekarang hasil sementara dari quick count aja, bapak bisa mencapai angka diatas 45%, bayangkan Pak! beda 5% saja dari lawan Bapak yang begitu dipuja-puji dan sudah jelas rekam jejaknya yang positif.

Hal kedua yang ingin saya sampaikan terkait dengan reaksi ataupun tindakan Bapak dari beberapa sumber yang saya baca. Banyak yang bilang Bapak marah-marah, Bapak nggak percaya hasil quick count, Bapak kesel karena kubu sebelah sudah pakai ‘pesta’ karena yakin menang dan sampai-sampai Bapak dan Tim Bapak ikut-ikutan ‘pesta’ dan sujud syukur, Bapak nampak kesal dengan beberapa media yang menurut Bapak nggak fair.

Saya sampai terenyuh pas baca berita Bapak nanya ke reporter Metro Tv, kata Bapak “Salah saya apa, sampai Surya Paloh begitu kepada Saya”. Intinya Bapak jadi kayak kehilangan kontrol diri, Bapak gak senang pas tahu reporter dan kru Kompas Tv bisa ikut masuk ke halaman rumah Bapak buat wawancara, saya lihat kegalauan Bapak, saya lihat kemarahan Bapak yang menurut saya tidak perlu, sudah sangat tidak perlu disaat-saat begini Pak. Saya ada kesan kalo Bapak itu sebenarnya nggak gitu-gitu amat (emosian, gak bisa lapang dada,dll seperti yang diberitakan atau diisukan dimana-mana), tapi semua ini jadi begini gara-gara orang sekeliling Bapak. Ini Pak yang mau saya sampaikan, stop dimanfaatkan orang lain Pak, stop! Saya cuma tau Bapak ada ambisi untuk jadi Pemimpin Indonesia, saya tidak mau bahas apa motif dibalik itu versi dugaan saya, karena itu sah-sah saja, sama seperti saya  yang sebenarnya juga berambisi jadi menteri pariwisata, jadi bintang pelem, jadi konglomerat!

Tapi Bapak lihat dong orang-orang sekeliling Bapak itu… mereka mungkin tidak haus kekuasaan, tapi mereka butuh ditutupin boroknya, mereka butuh kain buat nutupin aksi kotor mereka, mereka butuh seseorang yang mudah lupa diri, yang mudah dijilat pantatnya, yang ringan kupingnya, yang bisa disetir-setir. Saya bisa saja salah soal orang-orang sekeliling Bapak itu, tapi saran saya coba bapak diam sejenak, merenungi, menelaah lagi siapa saja mereka-mereka itu yang disekeliling Bapak.

Jadi Pak intinya. Bersiaplah kalo hasil akhir perhitungan suara nggak beda jauh dari hasil quick count sementara ini. Bisa jadi calon Presiden aja sebenarnya sudah prestasi buat Bapak, ini semakin membuka mata saya, kalo langit adalah batasan bagi seseorang untuk mencapai impiannya dan rakyat dari negeri Indonesia yang elok rupanya adalah kumpulan orang-orang yang pemaaf, berjiwa besar, menghormati lembaga Negara dan cinta pada Nusantaranya.

Banggalah Pak dan jangan mau dihasut apalagi dikomporin oleh orang-orang yang hanya cari untung dari Bapak. Tidak jadi Presiden tidak mati kok Pak, tidak serta merta jadi masuk neraka atau jadi nggak ganteng lagi. Nama Bapak akan tertoreh dalam sejarah Republik Indonesia untuk waktu yang sangat panjang karena PilPres 2014 ini dalam artian yang positif, jangan bapak rusak dengan reaksi bapak yang emosian, yang seperti membodohi membohongi diri sendiri dan lebih-lebih lagi jangan lukai perasaan orang-orang yang sudah memilih Bapak.

Doa saya untuk Bapak agar damai senantiasa ada di hati Bapak dan di bumi Indonesia Raya.

Hormat saya,

Yuliana Tan

Salah satu WNI di Toronto, Kanada [ Rabu, 9 Juli 2014 Pk. 8 pm]

Triple Minority

Bermula dari sebuah link Youtube yang dishare seorang teman dijejaring Facebook. Judulnya Ligwina Hananto : “Saya yang triple majority saja diserang, apalagi yang minoritas…”. Video berdurasi enam menit dua puluh empat detik itu diisi berupa sharing tentang perlakuan yang diterima oleh Sdri. Ligwina ketika yang bersangkutan terang-terangan atau tepatnya membiarkan orang lain tahu bahwa capres pilihannya pada tahun ini adalah capres dari nomor urut 2.

Buat kamu-kamu yang mengikuti diskusi hiruk pikuk soal Pilpres 2014 ini di Social Media atau bahkan diluaran, pasti sudah tahu kalo pasangan capres no. 2 banyak ditolak oleh calon pemilih beragama Islam, seberapa banyak? mbuh. Yang jelas, ada semacam tuduhan kalo pilih no. 2 itu tidak Islami karena mereka lebih pro kepada Bhineka Tunggal Ika Pluralisme.

Jadilah seorang Ligwina yang dalam video tersebut mengatakan dia yang seorang Wanita, berasal dari Jawa dan berlatar belakang keluarga beragama Islam taat (Triple Majority di Indonesia)  tetap mendapat prilaku tidak menyenangkan dari beberapa orang yang tidak sependapat dengan pilihan capresnya saat ini, apalagi para minoritas yang kebetulan juga memilih pasangan nomor urut 2.

Untuk yang belum nonton videonya, silahkan disimak di link Youtube ini.

Isi post ini tidak akan berisi opini gua soal Pilpres 2014 karena saya memang tidak capable untuk menuang isi kepala saya soal Politik, sesuatu yang menurut saya sangat organik, berubah-ubah tergantung kemana arah angin berhembus. Tapi saya menjadi tertarik dengan kata Triple Majority dari Ligwina ini. Kenapa? Karena sekian lama saya pribadi melabel diri saya sebagai orang yang dibuat sial kurang beruntung hidup di Nusantara dengan kondisi dan latar belakang saya. Jika Ligwina melabel dirinya Triple Majority, maka saya sebaliknya, Si Triple Minority dan saya tidak sendiri.

1. Saya Wanita 2. Saya Indonesian Born Chinese 3. Saya Seorang Kristiani

Lengkaplah penderitaan saya ketika punya 3 status diatas dan tinggal di Negeri nan Permai bernama Republik Indonesia Raya. Jika bukan nomor 1 atau nomor 2 yang diserang, maka status nomor 3 yang diobok-obok. Jika bukan status nomor 3 dan nomor 1 yang diributkan, maka status nomor 2 yang diubek-ubek. Capek banget dah pokoknya.

Apakah fakta yang ada dilapangan (Indonesia) selama ini, disadari oleh teman-teman saya yang majority? Jika mereka sadar, apakah mereka pernah berbuat sesuatu? paling sedikit berempati gitu? Apakah perlu seorang dari kalangan majority mengalami dulu apa yang dialami oleh seorang Ligwina untuk kemudian dapat sekurang-kurangnya berempati, bahwa sungguh benar adanya, hidup sebagai seorang minority di Indonesia adalah sangat tidak menyenangkan.

Apa yang membuat hal ini menjadi makin menyedihkan dan ironis adalah kenyataannya Indonesia bukanlah negara agama, Kemerdekaan Indonesia juga diperjuangan oleh nenek moyang kami yang memang awalnya migrasi ke Nusantara dari Negeri Bambu, kami-kami jugalah yang ntah sudah menjadi generasi keberapa yang lahir di Indonesia turut mengisi kemerdekaan Indonesia. Kata Bhineka Tunggal Ika & Pancasila yang begitu sakral dan melekat pada Lambang Negara yakni Burung Garuda bukan saja hendak dinjak-injak oleh segelintir orang, tapi yang sudah mereka ganti dengan ideologi sesuai kelompoknya dan sedang diusahakan untuk dicekokan keorang lain, menyedihkan.

YuTan