Triple Minority

Bermula dari sebuah link Youtube yang dishare seorang teman dijejaring Facebook. Judulnya Ligwina Hananto : “Saya yang triple majority saja diserang, apalagi yang minoritas…”. Video berdurasi enam menit dua puluh empat detik itu diisi berupa sharing tentang perlakuan yang diterima oleh Sdri. Ligwina ketika yang bersangkutan terang-terangan atau tepatnya membiarkan orang lain tahu bahwa capres pilihannya pada tahun ini adalah capres dari nomor urut 2.

Buat kamu-kamu yang mengikuti diskusi hiruk pikuk soal Pilpres 2014 ini di Social Media atau bahkan diluaran, pasti sudah tahu kalo pasangan capres no. 2 banyak ditolak oleh calon pemilih beragama Islam, seberapa banyak? mbuh. Yang jelas, ada semacam tuduhan kalo pilih no. 2 itu tidak Islami karena mereka lebih pro kepada Bhineka Tunggal Ika Pluralisme.

Jadilah seorang Ligwina yang dalam video tersebut mengatakan dia yang seorang Wanita, berasal dari Jawa dan berlatar belakang keluarga beragama Islam taat (Triple Majority di Indonesia)  tetap mendapat prilaku tidak menyenangkan dari beberapa orang yang tidak sependapat dengan pilihan capresnya saat ini, apalagi para minoritas yang kebetulan juga memilih pasangan nomor urut 2.

Untuk yang belum nonton videonya, silahkan disimak di link Youtube ini.

Isi post ini tidak akan berisi opini gua soal Pilpres 2014 karena saya memang tidak capable untuk menuang isi kepala saya soal Politik, sesuatu yang menurut saya sangat organik, berubah-ubah tergantung kemana arah angin berhembus. Tapi saya menjadi tertarik dengan kata Triple Majority dari Ligwina ini. Kenapa? Karena sekian lama saya pribadi melabel diri saya sebagai orang yang dibuat sial kurang beruntung hidup di Nusantara dengan kondisi dan latar belakang saya. Jika Ligwina melabel dirinya Triple Majority, maka saya sebaliknya, Si Triple Minority dan saya tidak sendiri.

1. Saya Wanita 2. Saya Indonesian Born Chinese 3. Saya Seorang Kristiani

Lengkaplah penderitaan saya ketika punya 3 status diatas dan tinggal di Negeri nan Permai bernama Republik Indonesia Raya. Jika bukan nomor 1 atau nomor 2 yang diserang, maka status nomor 3 yang diobok-obok. Jika bukan status nomor 3 dan nomor 1 yang diributkan, maka status nomor 2 yang diubek-ubek. Capek banget dah pokoknya.

Apakah fakta yang ada dilapangan (Indonesia) selama ini, disadari oleh teman-teman saya yang majority? Jika mereka sadar, apakah mereka pernah berbuat sesuatu? paling sedikit berempati gitu? Apakah perlu seorang dari kalangan majority mengalami dulu apa yang dialami oleh seorang Ligwina untuk kemudian dapat sekurang-kurangnya berempati, bahwa sungguh benar adanya, hidup sebagai seorang minority di Indonesia adalah sangat tidak menyenangkan.

Apa yang membuat hal ini menjadi makin menyedihkan dan ironis adalah kenyataannya Indonesia bukanlah negara agama, Kemerdekaan Indonesia juga diperjuangan oleh nenek moyang kami yang memang awalnya migrasi ke Nusantara dari Negeri Bambu, kami-kami jugalah yang ntah sudah menjadi generasi keberapa yang lahir di Indonesia turut mengisi kemerdekaan Indonesia. Kata Bhineka Tunggal Ika & Pancasila yang begitu sakral dan melekat pada Lambang Negara yakni Burung Garuda bukan saja hendak dinjak-injak oleh segelintir orang, tapi yang sudah mereka ganti dengan ideologi sesuai kelompoknya dan sedang diusahakan untuk dicekokan keorang lain, menyedihkan.

YuTan

Buat Tole si Anti ‘Miskin Abadi’

Disela-sela sudah mulai muak sama status soal Pilpres 2014 ini di Facebook terselip juga sesuatu yang bikin pengen ngakak. Bener juga istilah kepintaran seseorang bisa diukur tapi kalo bodoh nggak ada batasanya, haha..

Jadi ceritanya ada yang sewot, keki, merasa tidak cocok akan program Kartu Pintar ataupun Kartu Sehat (buat yg gak tau, ini 2 produk semacam subsidi/timbal balik dari pajak yang dibayar yang dikembalikan ke rakyat), nah terus ybs komennya gini (kira2 aja ya, gua gak copy paste ) “Wah nggak bener itu program kartu sehat & kartu pintar, itu namanya kemiskinan diabadikan, rakyat gak dididik untuk maju dan mampu membiayai diri sendiri, huh!” Gua bener-bener ngakak pol, kalo orangnya ada didepan gua pengen gua toyor 🙂

Gini ya Le Tole, kalo pemerintah dapat berhemat dan dana hematan itu dibalikan ke rakyatnya berupa Kartu Sehat & Kartu Pintar itu bukan mengabadikan kemiskinan rakyat, bukan sumpah biar rakyat miskin terus sampai gak sanggup berobat atau sekolah, bukan Le Tole… serius bukan. Itu memang sudah hak rakyat kali Le… uang setoran pajak dari rakyat gak bocor halus ke kantong-kantong tikus koruptor, tapi balik lagi gitu sebagian ke rakyat.

Entu kartu juga pan ada aturan mainnya, ada tingkatan-tingkatannya, beda-beda tiap negera Le, tergantung kemampuan pemerintah bisa seberapa banyak ngebalikin ke rakyat. Contoh kami disini di Kanada ya Le, berobat gratis Le, obat-obatan kudu bayar sendiri kalo nggak ada asuransi (tapi terakhir ane masuk Rumah Sakit 2 minggu, semua-semua termasuk obat gratis Le, datang lenggang kangkung, pulang juga lenggang kankung), padahal dulunya ada loh Le, terus kalo sekolah juga gratis Le, sampai lulus setingkat SMU, kecuali pengen masuk sekolah swasta pilihan sendiri itu lain soal Le. Nah apa rakyat dan penduduk sementara di Kanada ini kismin kismin Le? Bisa jadi sih… tapi mosok semuanya sih? Kita senang-senang aja tuh Le, duit pajak kita yang dipotong cukup besar itu, bisa balik lagi ke kantong kita dan kita nggak merasa kalo ini supaya kita terlihat tak berdaya dan cuma bisa ngemis sama Pemerintah.

Jadi sebelum sewot dan marah-marah, mbok dicerna dulu Le atau setidaknya kasih masukan gimana sistemnya yang enak dan cocok buat orang Indonesia. Kalo kasih cash langsung alias subsidi langsung gimana Le? Ada juga disini Le yang model begitu, kalo punya anak dapat duit Le tiap bulan ada jatahnya per anak. Tersinggungkah kami Le dikasih dana segar begitu? wah kalo Tole pasti langsung menolak mentah-mentah ya? terhina ya Le? kami nggak tuh Le, kalo perlu banyakan, toh itu ujung-ujungnya dana pajak yang sekian lama kami dan pendahulu-pendahulu kami membayarnya ke Pemerintah. Lain ceritanya Le kalo sampeyan yang ujuk-ujuk mau subsidi anak saya tiap bulan, pasti saya tolak Le, kayak Bapak dan Emaknya nggak mampu aja? Kalo nggak mampu kan mending ber-KB ria, mana ntar hutang budi lagi Le.

Ya udah, banyak-banyak baca dan jangan cepat emosi lah Le… sesekali jalan ke Luar Negeri, bukan mau sok-sokan sih ini Le, tapi biar wawasan kebuka aja, nggak kayak katak dalam tempurung. Apalagi hanya demi menjatuhkan lawan capres yang kamu usung, kamu pakai segala cara termasuk cara yang bikin kamu nampak bodoh. Tobat dan ngucap Le.

YuTan

Ps. Semoga dibaca si Tole (bukan nama sebenarnya) 🙂