Rasa penasaran saya

Penasaran, berapa banyak yang kemudian minta suaka. Atau paling sedikit mulai serius mencari tahu informasi tentang pindah dan menetap di negara baru.

Dulu pernah dengar cerita, beberapa WNI bisa ada di Kanada karena minta suaka setelah kejadian 1998 atau bahkan jauh setelahnya. Dengan alasan sudah tidak merasa aman tinggal di negeri kelahirannya. Tak pikir mestinya mereka itu yang agamanya minoritas saja karena kan memang mereka ini yang  jadi target atau korban, ternyata banyak juga loh yang dari agama mayoritas. Saya pun heran, lah mereka ini kemudian pake alasan apa pas minta suaka? Ternyata pakai alasan mereka juga sudah tidak merasa tentram karena umat agamanya menyerang umat agama lain, jika lain berpendapat mereka pun akan masuk dalam daftar musuh juga.
Ah, paham saya sekarang dan tidak heran lagi. Jika ada sejuta alasan bagi seseorang untuk minggat dari negara asalnya. Mau pakai alasan legit atau alasan-alasan lain yang dipaksakan, toh keputusan akhir ada ditangan petugas imigrasi negara yang dituju. Untuk saat ini, bukti tersebar dimana-mana, cukup gampang mengumpulkan informasi tentunya.

Nah, dengan kejadian yang terus menerus terjadi di Indonesia sampai sekarang saya kurang tahu berapa banyak orang Indonesia yang kemudian minta suaka lagi setelah pasca peristiwa Mei 1998. Kebanyakan yang berimigrasi lewat jalur suaka acap kali menyimpan rapat statusnya sampai suatu titik. Tidak semua tentunya, apalagi buat yang memang lari dari horror. Tidak ada status yang lebih memlnyedikan, menakutkan dan mengecewakan daripada status sebagai seorang refugee. (Catatan: penulis pribadi tidak merasa status refugee berbeda dengan status imigrasi lainnya).

Pertanyaan selanjutnya, apakah semua orang yang bermaksud bermigrasi ini akan bisa memulai hidup yang baru di negara yang asing? Konon katanya menjadi imigran itu hanya untuk orang-orang pilihan. Pilihan bukan maksudnya mereka Special, tapi karena mereka sudah bulat sekali tekadnya, tidak ada jalan putar balik, tidak ada lagi jembatan untuk menyebrang balik, mau hujan badai di negara asing sekalipun mereka akan bertahan sepenuh hati. Dalam itu semua, mereka pun harus masuk dalam golongan beruntung. Beruntung punya pekerjaan, punya pendapatan untuk bertahan hidup hari demi hari, biar sedikit dan cukup saja untuk hidup, biar kerja malam hingga pagi buta, tulang belulang hendak rontok dari sendi2nya, mereka ini akan baik-baik saja dan sujud syukur pada Tuhan hidup dalam ketenangan.

Apakah di negara baru itu tidak ada diskriminasi? Kejahatan? Penebar kebencian? Pembunuh berdarah dingin? Macet? Banjir? Gempa? Ada. Lah sama aja dong kalo begitu? Nggak sama, at least belum sama. Disini hukum itu hidup alias bukan barang pajangan yang cuma enak dipandang dan di bingkai di ruang tamu. Disini pun, seseorang dianggap harus tau semua hukum. Ambil contoh saat melanggar lalu lintas dan di stop Pak polisi. Adalah fatal jika coba berkelit dengan alasan “maaf Pak, saya TIDAK TAHU kalo harus stop di stop sign” yang tadinya mungkin cuma akan dikasih peringatan sama Pak Polisi bisa akhirnya jadi kena tiket plus omelan. Ngaku tidak tahu tapi berani bawa mobil? Itu surat ijin mengemudi dapat darimana? Untuk mendapatkan itu saja perlu ujian tertulis dan praktik, masakan tidak tau soal peraturan2 berlalu lintas? Maka dosa besarlah jawaban tidak tahu itu, sekalipun diucapkan pakai nada memelas dan ekspresi puppy eyes.

Setidaknya di negara baru seperti Kanada ini, setiap manusia dipayungi oleh hukum untuk semua hak-hak dan kewajibannya. Selama tidak melanggar hukum dan tidak sedang apes kena peluru nyasar atau naas, Anda bisa tidur nyenyak, makan enak walau cuma sama garam, jalan-jalan juga nyaman dan aman. Segudang nikmat lainnya.

Bagaimana kalo kemudian tidak sanggup lagi bertahan? Ntah karena tidak kunjung mendapat pekerjaan atau tidak puas dengan kehidupan baru? Tidak puas disini bisa luas sekali spektrumnya, mulai dari perubahan status sosial yang mana barangkali di Indonesia adalah Somebody disini tiba-tiba jadi nobody? Dulu boro-boro pegang sapu, cukup teriak panggil mbak, sekarang kudu sikat WC atau karena tidak terbiasa dengan hukum yang hidup dan ketika terlibat didalamnya menjadi frustrasi karena tidak bisa pakai salam tempel karena hanya ada hitam diatas putih? Buat mereka-mereka ini akan kembali ke negara asal tapi tentu sudah dengan mental dan sikapnya yang berbeda. Hujan susu dan madu di negara lain, tidak akan menggoda mereka lagi, biar macet dan demo saban hari tidak mengapa, asal bisa makan ketoprak langsung beli dari abang-abang. Soal diskriminasi dan sejenisnya gimana? Ah, biasa itu… biar takdir yang bicara, toh cepat atau lambat, semua manusia akan mati juga.

Ya begitu saja cerita saya hari ini. Anggap saja sebagai cerita pendek pengantar tidur. Contoh-contoh diatas tentu saja versi ekstrim kiri atau kanan. Masih banyak lagi varian suka dan duka para imigran disini, tak habis diceritakan 3 turunan. Inti tulisan ini lebih kepada:

1. Dengan kejadian di Indonesia belakangan ini saya penasaran berapa banyak yang kemudian untuk pilih hengkang saja, menjauhi arena hiruk pikuk, hidup ini sudah susah.

2. Buat yang kepikiran untuk pindah, saya kasih info ada yang namanya jalur suaka. Saya kurang tahu gimana Applynya tapi jelas semua informasi lengkap ada di website resmi imigrasi Kanada. Nah jalur ini nampaknya yang paling visibel saat ini.

3. Yang sudah cukup bulat tekadnya, saya kasih preview sedikit kehidupan disini yang bisa berbeda bagai bumi dan langit. Yang merasa sudah mantap saja kadangkala pakai cucuran air mata juga diawal-awal kepindahahan. Yang lompat kegirangan saban hari senyum-senyum lega juga banyak. Keseringan temporary saja kok, maklum saja kalo masih pada kangen emaknya atau kangen sebungkus nasi Padang. Wajar.

Perlu saya tekankan sebelum nanti ada yang komentar dan melibatkan posisi tempat saya bercokol saat ini dengan motivasi tulisan ini. Saya tidak sedang mempromosikan Kanada apalagi mengharapkan Anda berbondong-bondong pindah kemari tanpa perhitungan matang. Saya juga tau tidak semua minat atau bisa untuk pindah jadi saya tidak baperan kok kalo kemudian ada yang apatis. Saya juga bukan konsultan di kantor imigrasi, apalagi pakar imigrasi. Jadi silahkan cek sendiri ke website cic.gc.ca langsung, pelajari dengan seksama. Banyak diluar sana para pengacara yang bisa disewa untuk urus beginian tapi Anda harus rogoh kocek yang dalam dan hati-hati hanya untuk memilih mereka yang memang kompeten. Tapi tidak pulalah sulit untuk mengurus sendiri selama sabar membaca dan melengkapi semua dokumen yang dibutuhkan  

Jadi berapa banyak ya yang minat pindah setelah penat sama situasi terkini? ? selain Kanada masih ada Amerika, Australia, New Zealand dan barangkali Timbuktu ?

Today 3 Years Ago

3 tahun lalu (27 September) sekitar jam 9 malam waktu Indonesia bagian barat, aku duduk sendiri di ruang boarding terminal 2 bandara Soekarno-Hatta Jakarta, tanpa terasa air mata turun tak tertahankan. Kala itu aku menunggu penerbangan dari Jakarta menuju Jepang yang nantinya akan meneruskanku ke negeri yang baru untuk menetap for good, Kanada.

Flash back sekitar 2-3 minggu sebelumnya, ketika sibuk-sibuknya aku mempersiapkan keberangkatan ini, banyak diantara teman atau rekan kerja yang kemudian bertanya “Gimana rasanya? deg-deg-an gak? senang gak?, are you excited?” yang kemudian ku jawab “biasa aja, flat, nggak tau senang atau sedih” itu jawaban jujur, ibarat rem, kayak blong gitu.

Boro-boro mikirin apa yang aku rasakan, kala itu sibuk sekali urus ini itu. Selepas nikah pada bulan May sebelumnya dan ditinggal suami balik ke Kanada di awal Juni, dan bulan Juli kami masukan aplikasi permohonan PRku, segala emosi sudah terkuras habis-habisan. Antara deg-degan nggak tau kapan permohonan itu akan dikabulkan, konon bisa memakan waktu antara 6 bulan hingga setahun kemudian, belum lagi ada kemungkinan di tolak sama sekali. Walau melajang hingga mendekati usia 30 kala itu ntah kenapa status menikah membuat ada semacam perasaan berpisah dengan suami itu tidak menyenangkan. Tidak heran kalo kemudian ada banyak pasangan dengan kasus seperti kami, maju mundur dalam mengambil keputusan antara berpisah kemudian mengajukan PR atau bersama sebagai suami istri selama mungkin dengan resiko pengajuan PR menjadi tertunda-tunda, bahkan tak jarang menjadi sangat complicated.

Ketika permohonan PR sudah diterima di imigrasi Kanada dan mendapat nomor registrasi, saat itu juga aku mengajukan visa kunjungan sementara. Memang itu rencana kami. Asumsi pengajuan PR hanya menunggu proses karena semua dokumen sudah dinyatakan lengkap dan valid. Asumsi lain, saat mengajukan visa kunjungan sementara dengan melampirkan nomor registrasi tersebut membuat kans untuk di approvenya visa menjadi semakin kuat. Berikutnya adalah “gambling”, jika kemudian visa di approve dan masa tinggal di Kanada sudah habis namun PR belum keluar, maka aku terpaksa pulang lagi ke Indonesia untuk kemudian diputuskan apakah lanjut mengajukan visa kunjungan atau menunggu PR saja. Namun kami cukup optimis, jika selama statusku masih di Kanada sebagai turis, PR akan di approved dan aku tinggal menjalankan proses Internal Landing tanpa perlu pulang lagi ke Indonesia/keluar Kanada. Dan doa kami dan doa-doa keluarga dan teman kami menjadi kenyataan, Sekitar bulan Desember PR ku di approved. Pada tanggal 4 Januari 2011, aku resmi berstatus sebagai PR Kanada.

Nah, saat nomor resgitrasi keluar sekitar bulan Agustus tersebut, ditambah proses pengurusan Visa 2 minggu dan ditambah sekitar 2 minggu sebelum hari keberangkatan, banyak sekali yang aku urus dan pikirkan. Untunglah kantor mengsupport karena memang sudah jauh-jauh hari aku woro-woro kalo setiap saat jika visa ku di approve aku akan resign, barang-barang di kost-kostan yang sudah kuhuni sekitar 9 tahun juga harus aku pikirkan, antara di jual, di bagikan, dikirim ke Jambi atau dibuang. Aku juga sempatkan pulang kampung ke Jambi. Berita keberangkatan ku buat pindah selamanya juga agak mengejutkan beberapa teman. Sesuatu yang mereka tau akan terjadi cepat atau lambat, tp begitu itu menjadi kenyataan dalam waktu begitu singkat, rasanya agak tak percaya juga.

Ada untungnya juga selama sebulan tersebut aku sibuk ini itu dan tidak terlalu sentimental, kalo di kilas balik, kok kayaknya hatiku terbuat dari baja, lempeng aja gitu, kayak orang cuma mau liburan aja barang seminggu dua minggu.

Sore itu dalam perjalanan kebandara, aku diantar sama tante, keponakan dan mamaku. Jakarta diguyur hujan cukup deras mengakibatkan macet disepanjang jalan Sudirman. Kala itu aku berkata, Jakarta aja sedih ya aku tinggalin? cup cup cup, jangan sedih ya…

Dibandara juga sempat bertemu Ibu mertua dan adik ipar, kami ngobrol dan makan malam disalah satu merchand di Bandara. Saat waktunya masuk aku masih cengengesan, sebelum pandangan mataku terhalang untuk melihat ke arah mama ku, aku sempatkan melihat dan nampaknya dia menahan tangis atau sudah menangis? kala itulah hatiku remuk.

Setelah duduk tenang di kursi ruang boarding, perasaan nyata bahwa aku pergi untuk “selamanya” baru menampar-nampar. Bukan karir yang mana aku baru saja dipromosikan sebulan sebelumnya yang ku tangisi, bukan pula tangis ketakutan tak bisa lagi menikmati makanan-makan lezat di Indonesia, bukan pula kehilangan teman-teman yang aku tau masih bisa terus dibina melalui social media, bukan pula gereja. Semua itu pasti berdampak dan punya porsinya sendiri-sendiri namun masih bisa di anulir. Yang terberat dan  masih sampai sekarang adalah Keluarga yang ku tinggalkan. Khusus yang ini walau ada Skype, telepon dan segala macam, tidak akan pernah bisa menutup kekosongan yang diakibatkan oleh jarak ini.

Tidak bersama-sama melihat keponakan-keponakanku tumbuh besar. Apalagi saat sedang hamil begini, membayangkan jika ada di Jambi, anakku kelak akan punya banyak saudara untuk bermain dan tumbuh bersama.

Tapi inilah hidup yang sudah dipilih, ada yang dilepas ada yang didapat. Bisa kembali re-united dengan suami dan membangun keluarga sendiri adalah lembaran baru, terlebih di negeri asing yang setelah 3 tahun menetap disini, di dua kota yang berbeda sudah tidak terlalu asing lagi, bahkan bisa ku sebut sebagai my home.

Tanpa melupakan atau mengecilkan peranan tanah air beta selama kurang lebih 30 tahun aku tinggal disana dibandingan 3 tahun disini, ada sesuatu yang nampak nyata bedanya. Hidupku tidak was-was akan kejahatan dijalanan. Puji Tuhan selama 3 tahun disini belum pernah mengalami kejahatan dan memang umumnya lebih aman, sekalipun saat ini kami tinggal dikota besar macam Toronto yang tindak krimininalitasnya cukup tinggi. Betapa lelahnya ketika masih di Indonesia, macam-macam tindak kejahatan sudah ku alami, mulai dari dicopet diatas motor, dijambret sampai kelapa benjol dan begulatan sama si jambret, dicopet di bus, dan yang paling epic dirampok di taxi. Semua terjadi baik ketika masih di Jambi atau di Jakarta. Cukuplah sudah kayaknya ya? apa puas barangkali lebih tepatnya, langganan. Sigh.

Belum lagi  ditambah berita-berita rasis belakangan ini di Indonesia yang semakin marak membuat aku bersyukur sekaligus resah. Bersyukur karena aku sudah tidak disana, tapi resah karena semua keluargaku masih disana. Doaku hanya lindungilah semua orang-orang yang kukasihi disana. Jauhkan dari mara bahaya daripada orang-orang jahat.

Selama 3 tahun ini seperti ku info diatas, kami sudah berkesempatan tinggal di 2 kota, pertama di ujung timur Kanada, di kota bernama Halifax, sebuah kota tepi laut yang cantik dan mungil. Selama 1 1/2 tahun disana, aku sudah sempat kerja selama 8 bulan di studio foto, punya keluarga baru dari para imigran Indonesia, teman-teman dari aneka bangsa. Saat ini kami sudah pindah dan menetap di Toronto, salah satu kota besar Kanada selain Vancouver, sempat ikut program coop selama 3 bulan dan sekarang sedang hamil 5 1/2 bulan. Selama 3 tahun ini juga sudah berkesempatan jalan-jalan ke barat Kanada, Vancouver & Calgari, juga beberapa kota dan provinsi di Timur seperti PEI. Selama perjalanan pindah dari Halifax ke Toronto juga berkesempatan singgah di kota-kota yang dilalui seperti Moncton, Montreal, Ottawa & Quebec.

Ini memang negeri yang indah dan unik yang terbuka dan menerima imigran dengan tangan terbuka. Ia memang tidak selalu menjanjikan yang manis, hatiku bersama orang atau keluarga yang masih kesulitan beradaptasi atau harus “turun” derajat dan struggle mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidang, namun juga tak sedikit yang sudah mencicipi susu dan madunya.

I am looking forward to continue my journey in this country for another 3 years? 30 years? with new member nexy year, my baby girl. In the name of Jesus Christ, Amen!

YuTan