The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 3]

Untuk yang ketinggalan cerita seri ini, silahkan klik link di bawah untuk baca seri  sebelumnya :

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 1]

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 2]

Tujuan utama kami hari ini adalah bersepeda di Stanley Park dan mengunjungi Vancouver  Chinatown Night Market, selebihnya lihat situasi dan kondisi dilapangan.

Setelah sarapan di hotel, kami berjalan kaki ke Stanley Park. Sedang saja jaraknya, tidak jauh juga tidak dekat, bisa saja kami naik bus, namun saat itu kami belum membeli karcis bus harian, dan lagian berdasarkan hasil googling, rutenya hanya lurus tok ampe mentok. Jadilah kami santai saja jalan kaki sambil melihat-lihat suasana kota Vancouver di pagi hari Minggu tersebut.

Jarak tempuh hanya sekitar 20 menit saja. Berbekal cek dan ricek sebelum hari keberangkatan, kami mencari toko tempat penyewaan sepeda yang sudah saya catat paling tidak tiga (2 untuk cadangan). Saya tentu pilih yang menawarkan harga paling murah dengan jam paling fleksible. “You wanna breast you pay the price” demikian istilah om Jeha, atau “You pay peanut you get monkey” atau lagi “Harga kenal barang” berlaku dalam kasus sewa sepeda ini.

Jika turun dari Bus atau sedang berada di ujung jalan raya sebelum masuk kawasan taman, ada satu toko penyewaan sepeda yang mentereng banget, dari namanya saya sudah langsung ngeh, bahwa inilah harga sewa sepeda termahal yang sempat saya temukan dari menggoogling. Tidak heran, karena sepeda yang disewakan bermerk bagus, kondisi juga lumayan, lokasi toko-pun mudah ditemukan karena persis di pengkolan dua jalan utama sebelum masuk ke taman.

Adapun toko sepeda yang kami sewa, sedikit perlu berjalan lagi dan ‘agak’ nyelip walau sebenarnya tidak sulit-sulit amat untuk ditemukan. Nama tokonya EzeeRiders, kondisi sepeda tentu masih sangat layak walau tidak juga bisa dibilang keren seperti toko pertama tadi, kami awalnya ingin sewa tarif 4 jam namun kata sang pelayan toko, kelebihan daripada penyewaan sepeda mereka, harga didasarkan per-menit setelah 1 jam, jadi akan lebih menguntungkan penyewa yang pulangnya mungkin bisa lebih cepat atau lebih lama dan tidak akan terkena harga paket yang biasa ditetapkan penyewa sepeda, seperti toko pertama yang fix pada harga per-jam, per-tiga jam, dll.

Tanpa banyak bole bolo, kami siap dengan helm dan kemudian meng-adjust ketinggian tempat duduk sepeda, fungsi bell dan pastikan berkunci (helm kudu bayar sewa lagi, gak mahal, bangsa $1-2 saja). Bertiga kami meluncur ke taman. Karena salah seorang daripada kami sudah pernah bersepeda ria di Stanley Park maka kami langsung mengambil rute sepeda yang jalannya one way dan nge-loop sepulau sepanjang 8.8km (nama rute ini “Sea Wall”). Rutenya persis di tepi air dengan sesekali tebing di sisi lainnya. Jalannya bagus dan dibuat terpisah antara pejalan kaki dan sepeda. Dalam jarak tidak terlalu jauh selalu ada kursi buat duduk-duduk melepas lelah dan menikmati pemandangan. Acara sepedaan hari itu diiringi dengan suara azan sayup-sayup terdengar dari jauh, karena bertepatan dengan hari raya Idul fitri dan sedang ada sholat berjamaah di Waterfrontnya Vancouver.

xxphoto1

Sebagian pemadangan di Stanley Park, Vancouver

Satu contrengan lagi di Bucket List! :D Sepeda di Stanley Park dan di potret di samping Shiwash Rock!

Satu contrengan lagi di Bucket List! 😀 Sepedaan di Stanley Park dan dipotret di samping Shiwash Rock!

Saya terobsesi untuk bersepeda ria disini karena ya itu, nonton The Real Housewife of Vancouver. Kok kayaknya asyik ya? hehe. Tak terhingga berapa kali kami stop untuk mengambil gambar (motret) dan tanpa terasa kami sudah kembali ke titik semula sedang jam yang kami habiskan belumlah genap 2 jam.

Sama Benso diajak untuk ke Prospect Point, daerah tertinggi di Stanley Park yang bisa melihat Lion Gate dengan lebih jelas. Nah, pilihannya adalah kembali ke rute Sea Wall dan nanti di suatu area memotong keatas atau dari lokasi kami langsung mengambil trail naik keatas yang secara teori dan fakta adalah pilihan lebih berat. Kondisi trail sih bagus, bersih dan rapi, hanya saja kondisi jalan mayoritas akan menanjak cukup tajam atau cukup lama menanjak terus yang bisa bikin lutut gemetar atau tak kuat lagi mengayuh. Pilihan terakhir diserahkan ke saya, selaku wanita satu-satunya haha. Saya pilih yang sulit.

Apa saya kemudian menyesal? agak. Tapi mengingat pemandangan dan pengalaman yang terasa lain, semua terbayar lunas. Kalo nafas tidak cukup panjang atau malu kalo kudu turun dan giring sepeda, ada baiknya gak lewat jalur ini, saya lupa nama trailnya, tapi harusnya mudah ditemukan, trail membelah hutan menuju keatas.

Belakang adalah jalan masuk/keluar trail yang kami lewati

Belakang adalah jalan masuk/keluar trail yang kami lewati

Ini ekspresi kalo habis sepeda nanjak tajam :p

Ini ekspresi kalo habis sepedaan nanjak tajam :p Belakang adalah Lion Gate Bridge

Pemandangan indah di Prospect Point. Capenya bersepeda terlunaskan!

Pemandangan indah di Prospect Point. Capenya bersepeda terlunaskan!

Singkat kata setelah puas istirahat dan melihat Lion Gate Bridge lebih dekat dari Prospect Point, kami memutuskan langsung kembali ke tempat penyewaan sepeda. Jika sebelumnya menanjak gila-gilaan sampai nafas tersendat-sendat, arah pulang sebaliknya, menurun cukup tajam, tapi siapa yang menolak rute begini setelah babak belur sebelumnya? tidak usah kayuh dan angin menerpa, ahh sedapppp…. ini yang namanya berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian! Tetap harus hati-hati karena cukup  berbahaya jika sampai tak bisa mengendalikan sepeda dalam kondisi jalan menurun tajam.

Dengan perut lapar kami memutuskan untuk makan disekitar kawasan tempat penyewaan sepeda. Area ini hanya berisi tempat sewa sepeda dan restoran. Pilihan jatuh pada great Wall Monggolian BBQ karena tergoda melihat encek didalam kaca yang lagi oseng-oseng mie. Seperti Monggolian style pada umumnya, kita pilih-pilih dan ambil sendiri bahan makanan yang kita inginkan, setelah itu akan dimasak oleh cheft di kuali super besar. Jenis begini tricky sekali, bisa enak banget bisa runyam banget, karena bumbunya kita pula yang tentukan/ambil. Mereka ada pilihan all you can eat, alias mau bolak balik berapa kali terserah atau hanya ingin yang sekali trip saja. Kami pilih cukup yang sekali saja, selain menghindar dari pada kalap, juga karena sudah cukup tangkas memasukan semua bahan makanan sebanyak mungkin kedalam mangkok yang disediakan, haha *kidding*.

Gaya si Encek oseng-oseng mie :)

Gaya si-ngko oseng-oseng mie 🙂 lihat di belakang, semua tempat sewa sepeda 🙂

Untunglah kami pesan yang sekali ambil, karena juga diberikan semangkuk nasi, sup dan spring roll. Wah ini sih bisa bikin super full. Makanan ‘kreasi’ saya jatuhnya kurang asin saudara-saudara, saking lebih konsentrasi ke aneka bumbu yang tersedia haha. Totally failed, tapi habis. Typical YuTan, pantang pulang sebelum habis, LOL.

Kami kemudian membeli karcis harian bus di sebuah supermarket. Tujuan selanjutnya adalah Granville. Iya, ini area yang sama dengan kemarin. Cuma mau kasih tau Hadi, ini loh Granville, haha. Disini saat di bus dalam perjalanan saya sempat berkenalan dengan seorang gadis yang sedang travelling sendirian. Dia asli dari Taiwan tapi sekolah di Seattel dan jalan-jalan ke Vancouver dengan kereta api. Dia gak punya banyak waktu karena harus buru-buru kembali ke stasiun kereta api. Saya sempat bantu fotokan dia tapi lupa tukaran identitas diri.  Dari Granville kami memutuskan untuk coba baik AquaBus, tanya-tanya sama mbak penjual karcis dan hasil perundingan kami mau turun di Stamp Landing (saya lupa-lupa ingat kenapa kami memutuskan untuk turun disini, ini akibat kelamaan baru ditulis, haha). Yang jadi supir Aquabus kami seorang anak pemuda turunan Asia. Bisa jadi dari China, bisa juga Indonesia, siapa tahu ya kan? Beserta dengan kami masih ada sekitar 4-5 penumpang lain dengan lokasi turun berbeda-beda.

Aquabus yang colorful dan imut-imut

Aquabus yang colorful dan imut-imut

Tidak rugi nyoba Aquabus, karena memberi pesona pemandangan lain dari kota Vancouver. Setelah beberapa penumpang turun saya melihat-lihat peta rute Aquabus, rasa-rasanya kok halte tempat kami turun sudah lewat ya? benar saja, kami ‘lupa’ diturunkan oleh sang kapten, hehe. Jadi kami sempat sampai ke ujung dan kemudian balik lagi ke arah dimana kami harusnya turun. Bertiga kami pasang wajah datar, tidak panik, tidak marah juga tidak kesenangan. Tapi asal tahu saja, yang ada di kepala kami bertiga adalah kira-kira “Syukur… syukur… lumayan dapat jalan-jalan ampe ujung dengan cuma bayar harga setengahnya”, pas turun di halte sang anak muda sempat2nya say sorry, tentu dijawab it’s okay, have a nice day. Saat kapal pergi, tertawalah kami, HA HA HA piala Oscar tahun lalu harusnya jatuh ke kami, pemeran pembantu pria dan wanita terbaik 😀

Ini ekspresi bahagia abis dibawa jalan-jalan gratis sama supir AquaBus :))

Ini ekspresi bahagia abis dibawa jalan-jalan gratis sama supir AquaBus :))

Ini salah satu pemandangan yang didapat gara-gara lupa diturnin Supir Aquabus

Ini salah satu pemandangan yang didapat gara-gara lupa diturunin Supir Aquabus

Kemudian kami berjalan kaki mencari stasiun Sky Train. Saatnya mencoba armada lain di kota ini. Terkenal wuzzz wuzzz dan lebih okay di banding Rocket-nya Toronto. Sengaja pilih duduk di paling ujung/buntut train sehingga bs melihat lajunya, tapi karena sebagian besar didalam terowongan ya kagak keliatan apa-apa juga sih *tertunduk sedih*. Tujuan kami berikutnya, errhh.. bukan tujuan sih tepatnya, tapi target armada selanjutnya adalah Seabus seperti kemarin yang saya naik buat ke Lynn Canyon. Tapi kali ini cuma mau sampe terminal-nya saja. Kan emang tujuannya cuma mau ngerasain gimana naik Seabus. Yang kurang lebih cukup untuk melepas kangen naik kapal serupa di Halifax – Dartmouth dulu.

Pemandangan dari dalam kapal menyebrang ke North Vancouver

Pemandangan dari dalam kapal arah ke North Vancouver

Kehabisan Beavertrails yang termasyur, jadinya cuma nyicip yang versi bola-bola kayak Timbits, mungkin itu cocok namanya BeaverPoopoos :p

Kehabisan Beavertrails yang termasyur, jadinya cuma nyicip yang versi bola-bola kayak Timbits, mungkin itu cocok namanya BeaverPoopoos :p

Supaya gak kayak orang bego, naik kapal nyebrang trus nyebrang balik, kami jalan-jalan disekitar stasiun di sisi Utara Vancouver. Ternyata cukup ramai dan penuh resto-resto dan ada foodcourtnya juga. Kami hanya sebentar saja disini sebelum kemudian kembali ke jantung Vancouver dengan armada yang sama dan lanjut lagi dengan SkyTrain ke Chinatown, yay!

Saat itu sudah menjelang malam, dengan sedikit kebingungan mencari lokasi persis Night Market kami jadi bisa melihat-lihat Taman Sun Yat Sen dari depan (sudah tutup jam segitu), konon taman buatan ini sangat cantik namun kudu bayar buat masuk kedalam yang bagi sebagian orang tidaklah sepadan karena ukuran tamannya kecil.

Setelah menemukan Night Market yang dimaksud, rasanya happy banget karena bisa jajan-jajan, tapi belum jalan 15 menit, eh itu stand tempat jualan sudah habis aja. Yang artinya, Night Marketnya cuma kecil aja skalanya, pikirannya kita-kita bakal gede, heboh, meriah, gegap gempita sampai gimana gitu, eh ternyata cuma begitu doang. Turis kecewa. Niat makan malam disini pun pupus, lah apa yang mau dimakan kalo semua hanya berupa cemilan dan aneka aksesoris? Kami memutuskan segera naik Bus dan kembali ke area hotel untuk cari makan malam. Tunggu punya tunggu, bus tidak kunjung datang, yang datang malah gembel yang minta duit, suasana sudah gelap dan area Chinatown yang dilihat di siang hari berubah total saat malam, serem bok! Kami mutuskan kembali naik Skytrain tempat kami turun tadi, gempor-gempor deh dari pada dari padakan?

Suasana stasiun Skytrain di Chinatown

Suasana stasiun Skytrain di Chinatown

Dr. Sun Yat Sen Garden

Dr. Sun Yat Sen Garden, nasib yang cuma bisa liat-liat depannya doang haha

Masih di luar Taman Sun Yat Sen

Masih di luar Taman Sun Yat Sen

Sempat jajan Dorayaki isi Nutella di Night Market

Sempat jajan Dorayaki isi Nutella di Night Market

Begini doang Night Marketnya... Jauh dari ekspetasi!

Begini doang Night Marketnya… Jauh dari ekspetasi!

Bisa bayangkan betapa lelah-nya kami, maka tak heran resto yang dipilih adalah All You Can eat Korean BBQ! Yummy! Malam itu sepertinya di hotel semua tidur dengan pulas sepulas-pulasnya! 🙂

Yum Yum yum!

Yum Yum yum!

Hari terakhir di Vancouver sebelum kami bertolak ke bandara pada siang hari, saya sempatkan bersepeda kembali di Stanley Park sementara para pria menyelsaikan urusan mereka masing2. Karena masih cukup pagi, hampir semua penyewaan sepeda belum buka atau baru akan buka setengah jam lagi. Waktu saya tidak banyak, jatah cuma  kurang dari dua jam karena kudu ke bandara. Saat celingak celinguk merhatiin harga dipintu salah satu penyewaan sepeda saya dihampiri oleh penjaga toko, ramah nian mereka ini sama turis. Mereka hanya punya paket minimal 2 jam sewa, ya sudahlah gak apa-apa dari pada waktu juga terbuang percuma kalo saya bela-belain nunggu  toko kemarin buka.

Pagi itu saya cuma lewatin Sea Wall, saya perbanyak waktu bersantai duduk di bangku-bangku yang tersedia sepanjang sea wall sambil merenung akan arti hidup, halah! Karena sudah tau estimasi waktu jadi saya bisa lebih santai untuk duduk atau memutuskan jalan. Setelah sampai di titik awal saya lihat jam masih ada cukup waktu, maka saya putuskan untuk keluar taman dari sisi belakang, tidak sampai jauh, cuma sekitar 3km saya putuskan balik karena sudah tidak terlalu cycle friendly.

Beberapa hasil jepretan dari bersepeda sendirian

Beberapa hasil jepretan dari bersepeda sendirian

Buru-buru jalan kaki pulang demi hemat $2 disepanjang Robson St, ditengah-tengah jalan saya dapat kabar waktu ke bandaranya diundur, waduhhhh tau gitu saya lamaan di taman deh. Jadinya saya perlambat aja jalan kakinya dan keluar masuk toko yang baru pada buka. Rasanya bahagia bener waktu nemu Lush Store, toko ini saya cari-cari dari kemarin kagak ketemu, mau beli bomb bath/buble bath-nya buat berendam di hotel. Baru tau saat itu kalo pabrik Lush ada di Vancouver, saya juga dapat gratis satu produk sabunnya, mungkin penglaris karena saya pembeli pertama? hihi.

Itulah akhir perjalanan saya di Vancouver, 3 malam 4 hari. Sangat berkesan baik sehingga tidak nolak kalo disuruh kesana lagi, tapi kalo dibayarin ya, soalnya kalo ada duit, saya mau ke tempat lain dulu yang belum pernah didatangin. Ya ampun YuTan, siapa yang mau bayarin?? mimpi?? Ya elah, just sayin, doh! 🙂 Tujuan selanjutnya adalah Calgary!!! Saya excited banget karena itu tandanya sebentar lagi dolan ke Rocky Mountains & bertemu teman dari Halifax dulu, tapi juga sekaligus deg-degan karena itu artinya, hari-hari ngegembel semakin dekat!

YuTan

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 2]

Ketika sedang berada di ketinggian ribuan meter dari permukaan laut, kesukaan saya adalah menatap pemandangan di luar jendela pesawat. Tentu tidak tiap saat saya melotot melotot keluar, umumnya ketika pesawat hendak take off dan landing. Sesekali ditengah-tengah perjalanan jika saya tidak dapat tidur, tidak nonton, tidak dengar musik dan sedang bosan. Enaknya memang sambil melihat keluar dan melamun. Tiap tempat punya keunikannya masing-masing.

Ketika pesawat yang membawa kami dari Toronto hampir mendekati Vancouver ( Sekitar 45-60 menit sebelum mendarat ), mata saya terbelalak oleh apa yang ‘tersaji’ didepan mata ( Untung biji mata gak keluar dari ‘cangkangnya’ ). Wah, Tuhan ini benar-benar punya selera humor yang tinggi deh! Ketika melewati daerah Alberta hampir seluruh daratannya rata ta ta, sejauh mata memandang hanya tanah luas yang lapang, tapi mendadak terhampar pergunungan batu yang berdiri kokoh.

Jadi ini imaginasi saya begitu melihat semua itu. Saat Tuhan sedang mencipta, nampaknya Dia rada iseng sambil jongkok dengan menyapu-nyapu tanah di wilayah Alberta, disapunya dengan tangan agar tanah ini menjadi rata dan halus, dari apa yang tersapu digeserkan kesamping, setelah beberapa saat, Dia bilang “Udah ah, capek!” Jadilah mendadak ada tumpukan-tumpukan yang sama sekali dibiarkan begitu saja dan kemudian menjadi pegunungan Rockies. Hehe.

Jauh mata saya mencoba menembus garis horizon, yang tampak hanya hamparan pegunungan batu yang puncak-puncaknya dilapisi salju abadi. Kerut-kerut daripada pergunungan tersebut membentuk cekungan-cekungan yang terisi air, itulah danau-danau yang tak terhitung jumlahnya, ada yang kecil, ada yang lebar, warnanya pun berlain-lainan. Dalam hati saya membatin, beberapa hari kedepan saya akan melihat mereka dari perpektif yang berbeda. Saya berusaha mencari-cari Lake Louis, Ah.. mungkin yang itu karena disekitar danau nampak beberapa bangunan, Oh mungkin yang itu… Demikianlah seterusnya hingga perlahan-lahan bangunan dari pada sebuah kota mulai terlihat, Ah.. Vancouver!

Dilihat dari atas, kota Vancouver tidaklah terlalu luas. Namun kota ini begitu unik karena terletak persis disebelah gunung dan diseberangnya dikelilingi air. Sebuah sungaipun tampak membelah kota yang cantik ini. Sebelum melihat dengan mata kepala sendiri, sudah pernah diinformasikan jika kota ini sungguh beruntung, di satu wilayah yang sama anda bisa lihat pegunungan dan juga lautan. Barulah saya mengerti apa yang dimaksud orang-orang.

Perjalanan dari bandara ke hotel di daerah downtown berjalan cukup lancar, tidak ada macet-macetan. Satu hal yang berbeda dari kota besar seperti Vancouver dibandingkan Toronto adalah Vancouver lebih hijau, pohon-pohon acapkali dijumpai di sepanjang jalan raya. Ketika saya berjalan-jalan di downtownnya beberapa hari kemudian, ntah kenapa  manusia-manusia disana juga nampak lebih keren, baik warga lokal maupun pendatang. Terasa sekali dilihat dari cara berpakaian/fashion mereka (bisa jadi karena saya jarang dan sudah agak lama tidak wara-wiri di DT Toronto hehe) lebih gaul dan ok. Wajah-wajah orang di jalanan dan para pegawai di toko/restaurant juga nampak lebih ramah. Apa karena wisata adalah andalah usaha nomor satu mereka? Sedang Toronto lebih ke bisnis sehingga wajah-wajah orangnya lebih kecut? Hahaha…

Letak hotel Hyatt yang kami tempati sangat strategis ( di Burrard st ). Dalam radius 0-3 km ( yang mana jumlah kilometer tersebut ecel buat ditempuh dengan berjalan kaki ) dari hotel, berserakan toko dan restaurant. Sebut saja toko-toko seperti Gap, American Eagel, Lush, dll letaknya berdekatan satu dengan lainnya. Restaurant yang menyajikan aneka masakan baik Western maupun Asia berjubelan disana-sini. Mayoritas memang adalah restaurant Japan dan Korea. Sehingga tidak heran kalau ada yang mengatakan, belum sah ke Vancouver kalo belum makan Sushi dan Sashimi.

Jadilah siang itu kami makan di restaurant Jepang bernama Kamei Royale (Burrard – Geogia ). Dalam hati, aduh pasti mahal ini ya. Eh ternyata tidak saudara-saudara, harganya sama saja dengan harga makanan di Toronto ( 1 porsi makanan berkisar antara $7-15 ). heheh lega mode ON.

Sushi & Sashimi Combo. Yang sebelah kanan sayur dengan bumbu kacang terasa seperti pecel ^^ Yummy!

Seusai makan siang saya pun jalan-jalan dengan modal sepasang kaki, tas kamera dan sebuah hati yang menentukan arah, cie ileh… 🙂 Sebenarnya sudah ada beberapa tempat yang masuk daftar untuk dikunjungi. Sudah di split juga untuk dibagi dengan suami pada hari Minggu nanti, jadi hari tersebut bisa kami pakai untuk jalan-jalan bersama. Siang tersebut saya pakai untuk jalan ke  False Creek , modal GPS di iPhone sih, hehe.

Boat & Kapal pesiar

Bangunan Apartment & Condo di False Creek

Cuaca saat itu cukup terik, Suatu hari yang konon katanya langka di Vancouver. Mereka langganan dihujani, hahaha. Betapa beruntungnya kami selama disana, tidak ada hujan sama sekali hingga bebas berkeliaran. Daerah False Creek ini tertata rapi dan bersih. Konon harga-harga condo maupun apartment di daerah ini cukup mahal. Didekat sini juga ada sebuah tanah lapang semacam taman yang menghadap ke air. Siang menjelang sore saat saya berada disana, banyak sekali orang-orang yang berjemur disana. Tua muda duduk atau berbaring ria. Yang kesemuanya saya rasa adalah penduduk lokal yang tnggal disekitar sana.

Pria-pria pamer tubuh atletis dengan perut kotak-kotak. Yang cewek-cewek berbikini ria dan kacamata segede gaban. Yang lucu banyak pula para manula, hanya saja mereka tidak berbikini ria. Satu dua ditemani pengasuh yang sesekali memindahkan mereka ke lokasi yang tertepa cahaya matahari. Dasar bulele ya, kalo kita/saya justru cari yang adem, mereka malah nyari yang panas, haha.

Ntah kenapa daerah False Creek masuk dalam satu lokasi tujuan wisata kalo anda menelusuri what to see di Vancouver via google. Pada dasarnya hanya semacam area yang terdiri dari tempat tinggal berupa bangunan tinggi, taman luas yang saya ceritakan diatas, bertepian dengan sungai yang mana banyak kapal-kapal di parkir yang nampak seperti lahan parkir biasa, hanya saja ini bukan mobil tapi kapal! Dermaga disini juga menjadi salah satu haltenya Aqua Bus. Maka tidak heran jika para turis diberi alternatif untuk singgah disini jika berkenan.

Berwisata ke Vancouver hanya bermodal transportasi umum tidaklah sulit atau mahal. Praktis selama disana  boleh dikata sudah mencobai semua transportasi umumnya. Bus, SeaBus, Taxi, AquaBus, Skytrain, dan Sepeda! hehe.

Karena hari sudah menjelang sore dan sedikit letih, saya memutuskan untuk kembali ke hotel saja, sempat nyasar dengan jalan ke arah yang menjauh dari hotel, haha apes tenan. Selisih waktu antara Toronto dan Vancouver adalah Toronto 3 jam lebih cepat. Ketika jalan pulang sekitar jam 3.30pm, saya terima SMS dari teman di Toronto yang ngajak makan malam. Sesaat saya bengong, jam segini kok ngajak mau makan apa? Baru saya sadar perbedaan waktu yang cukup signifikan tersebut. Pantaslah saya agak-agak lapar gimana gitu, hahaha. Saya juga sempat mampir ke 7 eleven, beli Big Gulp $1. Merchain ini cukup banyak dijumpai di Vancouver, termasuk Starbuck yang ada di hampir tiap pengkolan. Tim Horton justru jarang nampak. Dasar kota kaya, warung kopi-nya juga banyakan yang mahal, haha.

[Buat pembaca yang tidak tinggal di Kanada : Tim Horton itu semacam warteg-nya Kanada. Jual minuman macam kopi/teh/susu coklat dan aneka sandwich, cookies dan cake. Sebelas dua belaslah dengan Starbuck, hanya saja harganya miring yang saya percaya sejajar dengan kualitasnya. Soal rasa sih tergantung selera, kata banyak Melayu, Kopi di Timmy (sebuatan imoet-imoetnya) itu macam minum air, Saya biasa beli susu cokelatnya (Btw, susu cokelat paling maknyus bagi saya hanya ada di Second Cup. No, No explanation about Second Cup but you must try their Vanilla Bean Hot Choco, LOL), atau kalo lagi musim panas Ice Cappucinonya, saya juga doyan Muffin Whole Wheat dan Bagel with butternya. Rasa okay tapi kalo kualitas saya gak jamin ya. Lah murah gitu kok, pebandingan aja untuk harga susu cokelat di Starbuck ukuran kecil bisa kena paling tidak $5 sedang di Timmy bisa less than $2. Sebelum pindah Kanada saya sempat baca satu blog yang membuat list 10 hal yang harus dilakukan di Kanada, dan nomor urut satunya adalah Nyobain Tim Horton, tuh apa nggak hebat? Wajar sih, tiap pengkolan ada. Makanya agak aneh kalo di Vancouver jarang terlihat. Banyakan Starbuck dan Second cup yang harganya jauh diatas Timmy].

Hari pertama di Vancouver, semua dilakukan dengan jalan kaki. Sehabis makan malam di restaurant Thailand, Saya dan suami jalan kaki ke waterfront yang hanya berjarak sekitar 500 meter dari hotel. Pas benar sampai disana menjelang sunset. Lagi-lagi banyak sekali kapal berseliweran termasuk helicopter yang bisa mendarat di air, mbuh namanya apaan. Pinjam istilah Om Jeha “Opo ra hebats?!” Hayooo siapa yang nonton reality show “The Real Housewives of Vancouver”? Memang tidak bisa menjadi standart kalo semua penduduk vancouver sekaya raya begitu, tapi coba mana ada acara The Realhousewive of Toronto? haha.

Waterfront of Vancouver

Sunset!!!

Dari jendela kamar hotel, saya bisa melihat pegunungan dan juga waterfront. Kasur yang empuk di hotel harus saya nikmati sepuas-puasnya sebelum masuk masa ngegembel beberapa hari yang akan datang. Tenaga juga kudu disimpan, karena perjalanan masih panjang.

View from Hotel

Hari kedua saya berpetualang sendirian lagi, selepas sarapan pagi di hotel. Saya jalan ke stasiun Skytrain terdekat untuk membeli karcis bus harian. Saya tidak menemukan vending machine dimana bisa juga dipakai untuk membeli karcis. Saat celingukan di depan mesin beli karcis di stasiun, ada seorang pria setengah baya agak kucel, bisa dipastikan adalah gelandangan (Ohya, di Vancouver daerah downtownya ternyata cukup banyak gelandangan, masih muda-muda lagi, ngegeletak aja tidur di trotoar depan Mc. D, duh!) berusaha menjual tiket bekas ke saya dengan harga lebih murah tentunya. Dia tanya saya mau kemana, saya jawab dengan menggelengkan kepala dan say no thanks. Ini saya aja lagi bingung baca keterangan soal karcis dimana dibagi dalam 3 zona (kalo gak salah ingat ya) dan saya sendiri tidak tau lokasi-lokasi yang ingin saya kunjungi masuk wilayah mana. Tapi ybs tetap maksa sampai ada seorang bapak-bapak parlente ber-jas rapi nenteng tas marah dan ngomel-ngomel ke gelandangan itu, dia bilang Shame on you! jelas dia tau saya turis dari cara bepakaian saya dan sampai mereka adu mulut, ampyun. Saya pun akhirnya beli pass harian seharga $9 yang pasti good deal jika saya perlu naik turun Bus/Skytrain/Seabus berkali-kali dalam hari tersebut.

Bermodalkan google map di iPhone ( saat itu iPhone masih pakai google map ) saya ke lokasi pertama saya, Granville Island. Puji Tuhan untuk teknologi jaman sekarang, tidak saja saya bisa liat kemana arah tujuan, juga diberi tahu harus naik bus nomor berapa dan berapa menit lagi bus tersebut akan tiba. Tuh, Opo ra hebats?! hehe. Cuma siap-siap battery cukup saja selama perjalanan tersebut.

Granville Island juga masuk dalam objek wisata yang populer. Intinya didalam satu area/island terdapat aneka restaurant, toko-toko mainan/pets, galery-galery yang menjual aneka kerajinan seni, dan juga farmer market. Saat turun dari Bus, kita perlu jalan kira-kira 500 meter untuk sampai kedalam dan lagi-lagi melewati semacam kali/muara yang penuh dengan kapal-kapal boat. Kapal-kapal ini bisa disewa kalo mau. Hari itu saya agaknya datang kepagian, masih banyak toko, galery dan restaurant yang belum pada buka.

Yang jelas saya memang tidak tertarik untuk ke toko/galery atau restaurant yang fancy. Tapi kalo belum pada buka gini, apa yang mau di cuci matanya? haha. Pake nyasar lagi selama di dalam, tapi nyasar yang membawa hikmat. Saya nyasar dan sampai ke Farmer Market, haha. Disini kehidupan sudah mulai, sama seperti farmer market di daerah lain, para penjual buah,bunga dan aneka panganan serta pengunjung sudah berjubelan. Ah, bahagia banget liat aneka buah warna warni segar yang dipajang dan paling menarik menelusuri counter demi counter melihat aneka makanan yang dijual, haha teteppp makanan nomor uno.

Sebelum memutuskan jajan sana jajan sini saya sempatkan foto-foto di dalam farmer market dan di dermaga. Enaknya motret di daerah turis, tidak ada yang melarang ketika lensa kita arahkan ke dagangan mereka. Bahkan ada satu counter aneka kue yang menjadi spot favorit fotografer dan turis. Mungkin dalam hati pemiliknya, Duh ileh biyung…. ini beli kagak pada motretin doang! Haha.

Tergoda tidak? 🙂 Harganya lumayan mahal, sekitar $3-4/pc

Cokelat!!!

Flowers!

Pasta!!!

Cookies. Yang didepan, itulah yang saya cemil saat kelaparan ketika di Lynn Canyon

Di Foto aja, Tidak di beli ^^

Fruits!!!

Menggiurkan! Cheese Cake 😀

Opo ra mahal?!

Salah satu ‘pemandangan’ bawah dermaga

Setelah puas motret, saya putuskan untuk makan siang disini, namun karena masih rada kenyang dari sarapan pagi tadi dan juga dipusingkan oleh banyaknya pilihan saya akhirnya memutuskan beli bagel, ada satu counter khusus jualan bagel. Saya tergiur dengan bagel lemon cheese-nya. Apa daya saudara-saudara…. perlu sedikit perjuangan untuk menghabiskan tuh bagel. Terlalu asem dan saya belum terlalu lapar, saya pun menyesal tapi sesal tak pernah on time.

Daerah ini asyik didatangin kalo ingin santai-santai, menikmati pemandangan laut dimana kapal dan boat berseliweran, para seagull pun tak ketinggalan menikmati semua pemandangan tersebut. Lagi-lagi ada halte Aquabus disini. Aquabus berbeda dengan Seabus yang masuk dalam group yang sama dengan Bus. Untuk naik Aquabus kita perlu beli karcis dan harganya disesuaikan dengan jarak/halte mana kita akan turun, mereka juga ada karcis harian jadi bisa bebas mau turun dan naik dimana saja. Naik Aquabus memberi pemandangan yang berbeda saja, sekali jalan mereka bisa angkut 6-10 orang, tidak perlu sampai penuh baru jalan karena disaat Summer cukup banyak Aquabus yang beroperasi, rata-rata dinahkodai oleh anak muda. Somehow terasa seperti di daerah Kalimantan atau pinggiran kota Jambi yang kapal boat kecil adalah sarana transportasi mereka, hanya saja yang ini tidak ada yang bawa pisang setandan atau ayam dan bebek, haha.

Setelah puas melihat-lihat, foto dan istiraha, saya kembali menuju ke halte bus dimana saya turun tadi. Tujuan selanjutnya adalah Lynn Canyon Suspension Bridge yang ada di bagian North Vancouver. Sebenarnya ada suspension bridge lainnya bernama Capilano. Namun yang Lynn ini FREE gitu hahaha…Menuju kesananya pun tidak sulit. Karena ada di North maka saya perlu turun di halte waterfront kemudian nyambung SeaBus dan nyambung bus lagi. Terdengar melelahkan? Nggak kok, asyik malah. Karena tidak tahu persis bus turun di halte mana, begitu sudah dekat area waterfront saya turun dan jalan kaki mencari jalan masuk ke stasiun. Area saya turun ternyata bernama Gastown yaitu secuprit area yang penuh bangunan-bangunan tua dan penuh oleh cafe maupun galery, sekilas mirip downtown Halifax. Bus pun sempat melewati area Chinatown yang terasa lebih besar, meriah dan bersih dibandingkan dengan chinatown di Toronto.

Waktu untuk nyebrang dengan Seabus hanya sekitar 15 menit, dan kalau lagi beruntung kita tidak perlu tunggu terlalu lama untuk dapat SeaBus berikutnya karena tiap 15 atau 30 menit SeaBusnya jalan bolak balik. Tidak ada petugas satu pun yang memeriksa karcis, sistem kepercayaan katanya.

Turun dari Seabus ikuti saja jalan keluar dan akan sampai pada terminal Bus. Lagi-lagi berkat google map saya tau nomor bus berikutnya yang akan membawa saya ke Lynn Canyon. Bus yang dimaksud sudah menanti jadi tidak pakai celingak-celinguk. Perjalanan selama di Bus di North Vancouver kebanyakan menanjak naik, banyak pula lagi-lagi saya lihat restaurant Jepang dan Korea bertebaran disini. Sekitar 20 menit akhirnya saya sampai di halte bus, sebenarnya saya hanya kira-kira saja dan kebetulan juga ada beberapa orang yang turun disana. Jalan masuk ke Lynn Canyon masih banyak perumahan atau mungkin Villa, hingga tidak seperti sedang berada di pusat/lokasi atraksi.

Jalan kaki masuk ke area Lynn Canyon yang hanya sekitar 1km saya berjumpa 2 bus besar berisi anak-anak umur 8-10 tahun dari Korea. Oke, jadi pada study banding atau semacamnya, beruntung sekali mereka ini? Jaman saya sekolah dulu, wisata dari sekolahnya ke Radio RRI atau kebun binatang doang, haha.

Ada beberapa trail yang bisa dijalani, tapi gak sah dong kalo gak nyebrang di suspension bridgenya! Apalagi beberapa trail kudu melewati jembatan tersebut. Saya ini dibilang sudah antisipasi sih memang sudah antisipasi, maksudnya sudah tau apa itu suspension bridge, bilang sendiri kalo rada serem jalan diatas jembatan model gitu, goyang-goyang bikin lutut lemas. Tapi opo yo? pas sampe disana walau orang berjubelan saya pake jalan aja, sampe ditengah baru deh nyesal… iya sesal lagi-lagi terlambat. Nah karena sudah ditengah-tengah, lebih susah balik badan dan jalan pulang dari pada terus saja, betul?

Itu kalo liat kebawah isinya air dan 50 meter ketinggiannya, jembatan goyang terayun-ayun, para manusia-manusia bergerak sebagian ketakutan sebagian lempeng, ntah mati rasa atau sok berani, haha. Sebenarnya pikiran yang bikin jiper. Aduh gimana kalo jembatan putus? bisa saja kan putus? siapa tau giliran gua disana putus? Sampe diseberang saya perlu cari tempat duduk, perut rasanya mual, kepala pusing, nafas tinggal satu-satu. Saya SMS suami “Saya kayaknya mau stay saja disini, kamu cari istri baru gih”. Haha. Saya phobia ketinggian ( itu loh, kalo berdiri di ketinggian dan liat kebawah, bawaannya mau lompat. Giliran suruh turun kaki langsung lemas dan kalo kudu turun, gaya turunnya ngesot atau ngerayap ) dan daerah sana cukup tinggi sehingga oksigen sudah lebih tipis.

Jembatannya cukup panjang. Sudah ada sejak 1912

Setelah semua nyawa kumpul kembali, saya punya dua alternatif trail. Yang kiri apa yang kanan? saya pilih yang jaraknya dekat saja (Twin falls Loop Trail), walau tidak tahu apa yang akan dijumpai disana layak untuk dikunjungi. Trailnya cukup okay, tanah dan sesekali akar pohon dan batu, kondisi trail naik dan turun cukup sering walau arah kesana cenderung lebih sering turun. Beberapa kali pas-pasan dengan pengunjung yang berjalan arah pulang. Saya mencoba membaca ekpresi wajah mereka, terlihat puas kah? lemas kah? kecewakah? jangan sampai saya jauh-jauh berjalan hasilnya nol haha.

Karena sudah kadung jalan dan ekpresi wajah yang tricky ( Gimana kagak tricky kalo sebagian cemberut sebagian senyum-senyum? ) saya teruskan saja, toh nggak ada tujuan lain yang menanti atau mendesak. Setelah 40 menit berjalan saya berjumpa dengan sebuah jembatan kecil, nampak banyak orang berkerumun disana. Usut punya usut, ternyata ada dua pelompat yang melompat dari atas jembatan kebawah. Sampai dibawah mereka nyelam, Ketinggian jembatan ke air paling sedikit 30 meter dan konon airnya dingin. Sewaktu pelompat-pelompat tersebut naik lagi ke Jembatan, ada ibu-ibu yang nanya apakah mereka bisa sampai ke bawah sana tanpa pake loncat? haha. Bisa katanya tapi minimal kudu berenang.

Setelah puas di jembatan saya mencari jalan untuk turun ke bawah, karena saya lihat ada beberapa orang dibawah sana. Saya sih gak mau pake berenang karena gak bawa baju ganti, tapi kalo misalnya worth to try, hajar bleh! Trail kebawah itu tidak ada tandanya, nampaknya tidak disarankan untuk turun kebawah, jalan turunnya bisa di susuri dengan melewati samping pagar di dekat jembatan. Ikuti saja nanti akan sampai di tujuan di semacam kali dengan batu-batuan besar dan sedikit pasir. Sampai disana ternyata cukup banyak manusia, ada yang duduk duduk di batu nampak habis nyemplung ke air, sebagian duduk-duduk santai di pasir seperti piknik. Saya pun ambil posisi di sebuah batu karang, copotin sepatu dan kaus kaki. Wuih, nekat… mau nyemplung juga YuTan? Kagak, cuma mau rendam kaki. Sebelum adegan rendam kaki, ada satu rombongan keluarga terdiri dari anak gadis dan ibunya. Pertama sang anak melompat terlebih dahulu, ketika dia sudah naik ke batu dan tertawa terkekeh-kekeh lanjut emaknya yang nyemplung, di air tuh emak menjerit-jerit histeris karena dingin. Saya tanya anaknya is it cold? Dia jawab it’s not cold, its FREEZING! Karena penasaran itulah saya buka sepatu. Cukup 2-3 menit, kaki saya numb!

Selain pasangan ibu anak tersebut ada pula beberapa manusia gila lainnya yang berenang kira-kira 30 meter untuk sampai dibawah air terjun dimana dua pelompat yang terjun bebas tadi. Nampak mereka perlu stop 1-2x sebelum sampai ditujuan. Aksi perenang-perenang tersebut menjadi tontonan kami yang duduk-duduk dibatu. Lucu-lucu pula gaya dan ekspresi wajahnya membuat kami terkadang perlu bersorak memberi semangat atau tertawa terpingkal-pingkal. Karena sebagian dari mereka mengumpat ngumpat soalnya, lah siapa suruh berenangkan? LOL

Twin Fallnya begini ‘doang” tuh pelompat kalo salah mendarat bisa walahualam 🙁

Airnya super jernih dan dingin. Asyik banget leyeh-leyeh disini

Hayoo, siapa mau berenang disini? Next time kalo bisa kesini lagi saya mau berenang!

Setelah paus leyeh-leyeh, lapar juga yang menyadarkan hamba, haha. Sudahlah boleh dikata gak makan siang, Gak bawa bekal lagi. Tapi lumayan ada air putih dan snack semacam energy bar (  mirip karena terdiri dari campuran nuts dan oat yang saya beli di Farmer Market. Rencananya buat nanti hiking di Rocky Mountain ) yang saya sikat untuk mengganjal perut. Jalan kembali ke arah suspension Bridge bikin mpot-mpotan, hampir seluruhnya adalah tanjakan, ini rupanya yang bikin ekpresi wajah orang sulit dibaca!

Tantangan berikutnya adalah jalan di suspension bridge yang mana kali ini pas betul berpas-pasan sama anak-anak Korea yang hendak menyebrang. Agak-agak semaput jalan, eh ada satu anak lompat-lompat diatas jembatan. Tanpa sadar saya agak keras bilang Stop it! Diam dia langsung, LOL Ditengah-tengah jembatan terjadi macet parah, gak bisa maju sama sekali. Rupanya pada liatin dibawah ada bulele edan yang seluncur terjun di sebuah air terjun mini. Karena tergoda untuk mengabadikan moment tersebut sesampai di ujung saya balik lagi ke jembatan dengan kamera SLR ditangan. Edan yo! Dari yang mau pingsan jadi malah balik lagi hanya demi mau motret, mana susah lagi motret karena jembatan bergoyang dan jarak objek yang jauh, hasilnya blur lah yau 🙁

Saya mampir di kafetaria namun tidak nafsu dengan pilihan makanan disana yang berupa hotdog dan sejenisnya. Belum lagi hiruk pikuk anak-anak tersebut yang mau beli Ice Cream. Yang tua ini menyingkir aja deh. Haha. Sebelum naik bus lagi saya touch up touch up dikit dong ke washroom. Alamak, muka saya merah blas karena pas berhiking ria tadi. Yang liat wajah saya pasti takut, titisan Judge Bao dari mana ini? Haha.

Saat pulang dengan bus, saya menanti persis di halte ketika saya turun tadi. Menanti cukup lama bangsa 30 menit sebelum bus datang. Di seberang juga ada halte bus tapi saya tidak yakin dimana bus yang akan saya tumpangi stop. Saya putuskan stay ditempat turun karena kalo sampai salah toh akan balik lagi ke terminal seabus karena asumsi rute busnya nge-loop. Ternyata sesuai arahan google map saya harusnya naik dari halte seberang, tapi sudahlah toh busnya juga sudah pergi haha. Ketika naik bus saya sudah sadar rutenya tidak ngeloop atau kalopun nge-loop lebih jauh karena muter. Tapi lagi-lagi berkat google map saya diarahkan untuk pindah bus di terminal cukup besar ditengah jalan yang singkat cerita membawa saya kembali ke Hotel lebih cepat karena tidak perlu naik seabus dan lanjut bus yang waktu tunggunya mungkin lebih lama, sedang bus yang saya ganti di terminal ini langsung membawa saya ke belakang hotel! Opo ra hebats?! Lagi-lagi ‘salah’ yang membawa hikmat, haha. Dan sudah pasti harga tiket daypass $9 sudah kembali modal.

Dengan perut amat sangat lapar, malam itu kami makan di sebuah restaurant Jepang yang punya rating cukup tinggi di Yelp. Ya, gunakan aplikasi Yelp or Urbanspoon untuk mendapat informasi lengkap akan sebuah tempat. Nama restaurantnya Guu Original yang terletak kurang lebih 2 km dari hotel. Tempat tidak besar dan penuh dengan manusia yang kebanyakan anak muda. Untung kami tidak perlu menunggu lama karena hanya berdua dan bersedia duduk di bar area. Saya malah suka area ini karena bisa liat ‘atraksi’ chefnya di open kitchen.

Dengan modal foto di buku menu yang memuat tulisan kanji kami order beberapa makanan. Tunggu punya tunggu makanan tak kunjung datang, padahal konsumen di sebelah yang datang lebih lama sudah mendapatkan makanan mereka. Wah sudah mulai keluar tanduk nih saya, gak tau apa kalo saya sedang lapar selapar-laparnya, Kata bulele I am so hungry, I could eat a whole horse! Kami panggil satu orang yang nampak adalah manager restaurant yang kurang begitu fasih bahasa Inggris. Dia cuma iya iya bilang makanannya sudah di order, maaf dan tunggu sebentar lagi. sejuta persen setelah dikomplain pesanan kami baru masuk ke sistem komputer yang mengtransfer data ke dapur. Bodoh-bodoh gini kan dari tadi ngeliatin 3 chefnya masak ini itu, jadi tau dong mana pesanan eike yang sedang dikerjakan, haha.

Harganya memang tergolong murah/terjangkau tapi porsinya kecil. Soal rasa relative, bagi saya cenderung asin dan oily. Tapi pengalaman makan disana yang menarik karena melihat 3 chefnya yang cekatan masak ini itu. Sama pilihan menunya yang berharga kisaran $4-12. Saking larisnya waktu makan di jatah loh. Opo ra Hebats?! LOL

Guuud pale lu peang, kalo gak dikasih tau ampe resto tutup kita cuma makan angin haha

Ini pesanan meja sebelah. Masing2 seporsi gede salad dan orderan lain. Anak muda, makan aja terus yang banyak ntar end up kayak tante YuTan, mau? LOL

Ini persis ada didepan muka saya, kalo saya cuih cuih apa jadinya? Kayaknya enak ya ini, cuma kagak tau namanya apaan di menu 🙁

Duh mas mas… jenggotnya mana tahan…. haha 3 chef handle 3 station. Kerjanya wuzz wuzz wuzz…

Ini gak ingat apaan, kayaknya mushroom sama scallop atau apa gitu.

Semacam kulit tahu, rasanya biasa saja.

Ini asin bowwww…

Ini baru favorit saya, Calamary, Yum!

Itulah akhir dari hari ke 2 di Vancouver. Sehabis makan kami jalan kaki pulang ke hotel. Sekaligus cuci mata sana sini.Edisi berikutnya masih akan di Vancouver, another full day obok-obok Vancouver, Haha…  termasuk satu lagi yang bisa di contreng di Bucket List. Naik sepeda di Stanley Park seperti yang ada di serial The Real Housewives of Vancouver! Tunggu ceritanya ditayangan yang akan datang 🙂

YuTan