[Review] Qi Sushi – Japaness Restaurant

When we finished our work at Downtown area yesterday afternoon, we took advantage to try some new restaurant nearby. Thanks for Yelp application who gave us some alternative. We chose this Japanese restaurant called Qi Sushi.

It was Sunday afternoon so the road wasn’t crowded and we easily found a street side parking lot. I didn’t have any special expectation rather than to fill my stomach, fresh Sushi dipping it with soya sauce and wasabi probably only the thing that what I expect.

When we entered the restaurant, inside was pretty small and compact. It pretty closed between one tables to another. So expect to hear some chit chat from people across your table, vice versa.

You can sit where ever you like and one lady immediately over us the menu and cold drink. It was brown rice tea, I’ve to admitted, it was the best brown rice tea I’ve ever tasted, and I like the flavour which is probably a bit too strong for some people.

Before we entered the restaurant, I got a chance to glare at the small board outside the restaurant promoted a special lunch of Bulgogi Beef Bento for only $6. What an offer. So, since Hadi ordered a plate of Combo Sushi, I decided to choose a Bento Box so we could have more variety foods to try.

When I mentioned about the Bulgogi, the lady told us that the offer only for Take-Out. It was $10 if you Dine-In. I canceled my order and ask for some minutes. I thought if the price is regular price then I want to look at to the menu one more time, probably there is another menu that tempting me more. Too bad the lady seemed disappointed with this cheap customer, she said in between when I wasn’t finish my sentence “It’s only $10″. I got what she means, If I stick with my first choice, it’s only $4 different and after all it’s only $10 portion of food that consider cheap for downtown restaurant. Errhh, somebody could convince me that $4 is not matter in term of eating in the restaurant in Toronto, please?

Anyway, I just a bit shocked for what she said but no hard feeling at all. I think I get used to it? I just think she was rude but that’s not enough to make us cancel the entire order and walk out. I ordered Chicken Teriyaki, instead.

The food took some minutes to arrive. A bit longer than what it supposed to. Base on there is no other customer place an order before us. But the waiting time was still tolerable because they served Miso Soup for Bento Box order and small bowl of noodle soup for every customer. The Miso Soup was ok with obvious chunk of mushroom which is good. I just didn’t impress with the noodle, a bit weird for my liking.

Instagram Video I took that day!

When the order finally came out. I was surprised; the portion of Sushi Combo was huge. It was 3 kinds of Sushi (Salmon, Tuna and Tempura) whit 8 pcs each for only $12. The rice around the Sushi was so thin and the filling was so generous. It tasted creamy and fresh. At other Japanese restaurant I guess with the same portion it will at least cost us $16.

They also delivered a good job on Their Bento Box. I’ve never impressed with any Bento veggies which is usually there as a bed for whatever Bento Meat/Fish we choose. We ended up finish all the veggies include their very fresh Japanese salad style. The Chicken Teriyaki also good, the meat was soft and well-seasoned. With the price $10 as a Lunch Special (Yes, Their Lunch Special include Weekend as well) it’s a good deal, since we could finish all of foods in the box because they’re so good.

Defitenely will come back to try another menu or when the Sushi Fever attacks us in the future. The Dinner price is more expensive with the same menu on Lunch Time.

Point: 4 out of 5!!! [Price reasonable, Food taste good & Authentic, Generous portion]

Address: 358 Gerrard St. E Toronto, Ontario

Phone: (416) 929-8989

Price: $$

Washroom: Only 1 and sharing between Men and Women

A/C Available

Parking: Road Side

Qi Sushi’s Facebook Page

 

Today 3 Years Ago

3 tahun lalu (27 September) sekitar jam 9 malam waktu Indonesia bagian barat, aku duduk sendiri di ruang boarding terminal 2 bandara Soekarno-Hatta Jakarta, tanpa terasa air mata turun tak tertahankan. Kala itu aku menunggu penerbangan dari Jakarta menuju Jepang yang nantinya akan meneruskanku ke negeri yang baru untuk menetap for good, Kanada.

Flash back sekitar 2-3 minggu sebelumnya, ketika sibuk-sibuknya aku mempersiapkan keberangkatan ini, banyak diantara teman atau rekan kerja yang kemudian bertanya “Gimana rasanya? deg-deg-an gak? senang gak?, are you excited?” yang kemudian ku jawab “biasa aja, flat, nggak tau senang atau sedih” itu jawaban jujur, ibarat rem, kayak blong gitu.

Boro-boro mikirin apa yang aku rasakan, kala itu sibuk sekali urus ini itu. Selepas nikah pada bulan May sebelumnya dan ditinggal suami balik ke Kanada di awal Juni, dan bulan Juli kami masukan aplikasi permohonan PRku, segala emosi sudah terkuras habis-habisan. Antara deg-degan nggak tau kapan permohonan itu akan dikabulkan, konon bisa memakan waktu antara 6 bulan hingga setahun kemudian, belum lagi ada kemungkinan di tolak sama sekali. Walau melajang hingga mendekati usia 30 kala itu ntah kenapa status menikah membuat ada semacam perasaan berpisah dengan suami itu tidak menyenangkan. Tidak heran kalo kemudian ada banyak pasangan dengan kasus seperti kami, maju mundur dalam mengambil keputusan antara berpisah kemudian mengajukan PR atau bersama sebagai suami istri selama mungkin dengan resiko pengajuan PR menjadi tertunda-tunda, bahkan tak jarang menjadi sangat complicated.

Ketika permohonan PR sudah diterima di imigrasi Kanada dan mendapat nomor registrasi, saat itu juga aku mengajukan visa kunjungan sementara. Memang itu rencana kami. Asumsi pengajuan PR hanya menunggu proses karena semua dokumen sudah dinyatakan lengkap dan valid. Asumsi lain, saat mengajukan visa kunjungan sementara dengan melampirkan nomor registrasi tersebut membuat kans untuk di approvenya visa menjadi semakin kuat. Berikutnya adalah “gambling”, jika kemudian visa di approve dan masa tinggal di Kanada sudah habis namun PR belum keluar, maka aku terpaksa pulang lagi ke Indonesia untuk kemudian diputuskan apakah lanjut mengajukan visa kunjungan atau menunggu PR saja. Namun kami cukup optimis, jika selama statusku masih di Kanada sebagai turis, PR akan di approved dan aku tinggal menjalankan proses Internal Landing tanpa perlu pulang lagi ke Indonesia/keluar Kanada. Dan doa kami dan doa-doa keluarga dan teman kami menjadi kenyataan, Sekitar bulan Desember PR ku di approved. Pada tanggal 4 Januari 2011, aku resmi berstatus sebagai PR Kanada.

Nah, saat nomor resgitrasi keluar sekitar bulan Agustus tersebut, ditambah proses pengurusan Visa 2 minggu dan ditambah sekitar 2 minggu sebelum hari keberangkatan, banyak sekali yang aku urus dan pikirkan. Untunglah kantor mengsupport karena memang sudah jauh-jauh hari aku woro-woro kalo setiap saat jika visa ku di approve aku akan resign, barang-barang di kost-kostan yang sudah kuhuni sekitar 9 tahun juga harus aku pikirkan, antara di jual, di bagikan, dikirim ke Jambi atau dibuang. Aku juga sempatkan pulang kampung ke Jambi. Berita keberangkatan ku buat pindah selamanya juga agak mengejutkan beberapa teman. Sesuatu yang mereka tau akan terjadi cepat atau lambat, tp begitu itu menjadi kenyataan dalam waktu begitu singkat, rasanya agak tak percaya juga.

Ada untungnya juga selama sebulan tersebut aku sibuk ini itu dan tidak terlalu sentimental, kalo di kilas balik, kok kayaknya hatiku terbuat dari baja, lempeng aja gitu, kayak orang cuma mau liburan aja barang seminggu dua minggu.

Sore itu dalam perjalanan kebandara, aku diantar sama tante, keponakan dan mamaku. Jakarta diguyur hujan cukup deras mengakibatkan macet disepanjang jalan Sudirman. Kala itu aku berkata, Jakarta aja sedih ya aku tinggalin? cup cup cup, jangan sedih ya…

Dibandara juga sempat bertemu Ibu mertua dan adik ipar, kami ngobrol dan makan malam disalah satu merchand di Bandara. Saat waktunya masuk aku masih cengengesan, sebelum pandangan mataku terhalang untuk melihat ke arah mama ku, aku sempatkan melihat dan nampaknya dia menahan tangis atau sudah menangis? kala itulah hatiku remuk.

Setelah duduk tenang di kursi ruang boarding, perasaan nyata bahwa aku pergi untuk “selamanya” baru menampar-nampar. Bukan karir yang mana aku baru saja dipromosikan sebulan sebelumnya yang ku tangisi, bukan pula tangis ketakutan tak bisa lagi menikmati makanan-makan lezat di Indonesia, bukan pula kehilangan teman-teman yang aku tau masih bisa terus dibina melalui social media, bukan pula gereja. Semua itu pasti berdampak dan punya porsinya sendiri-sendiri namun masih bisa di anulir. Yang terberat dan  masih sampai sekarang adalah Keluarga yang ku tinggalkan. Khusus yang ini walau ada Skype, telepon dan segala macam, tidak akan pernah bisa menutup kekosongan yang diakibatkan oleh jarak ini.

Tidak bersama-sama melihat keponakan-keponakanku tumbuh besar. Apalagi saat sedang hamil begini, membayangkan jika ada di Jambi, anakku kelak akan punya banyak saudara untuk bermain dan tumbuh bersama.

Tapi inilah hidup yang sudah dipilih, ada yang dilepas ada yang didapat. Bisa kembali re-united dengan suami dan membangun keluarga sendiri adalah lembaran baru, terlebih di negeri asing yang setelah 3 tahun menetap disini, di dua kota yang berbeda sudah tidak terlalu asing lagi, bahkan bisa ku sebut sebagai my home.

Tanpa melupakan atau mengecilkan peranan tanah air beta selama kurang lebih 30 tahun aku tinggal disana dibandingan 3 tahun disini, ada sesuatu yang nampak nyata bedanya. Hidupku tidak was-was akan kejahatan dijalanan. Puji Tuhan selama 3 tahun disini belum pernah mengalami kejahatan dan memang umumnya lebih aman, sekalipun saat ini kami tinggal dikota besar macam Toronto yang tindak krimininalitasnya cukup tinggi. Betapa lelahnya ketika masih di Indonesia, macam-macam tindak kejahatan sudah ku alami, mulai dari dicopet diatas motor, dijambret sampai kelapa benjol dan begulatan sama si jambret, dicopet di bus, dan yang paling epic dirampok di taxi. Semua terjadi baik ketika masih di Jambi atau di Jakarta. Cukuplah sudah kayaknya ya? apa puas barangkali lebih tepatnya, langganan. Sigh.

Belum lagi  ditambah berita-berita rasis belakangan ini di Indonesia yang semakin marak membuat aku bersyukur sekaligus resah. Bersyukur karena aku sudah tidak disana, tapi resah karena semua keluargaku masih disana. Doaku hanya lindungilah semua orang-orang yang kukasihi disana. Jauhkan dari mara bahaya daripada orang-orang jahat.

Selama 3 tahun ini seperti ku info diatas, kami sudah berkesempatan tinggal di 2 kota, pertama di ujung timur Kanada, di kota bernama Halifax, sebuah kota tepi laut yang cantik dan mungil. Selama 1 1/2 tahun disana, aku sudah sempat kerja selama 8 bulan di studio foto, punya keluarga baru dari para imigran Indonesia, teman-teman dari aneka bangsa. Saat ini kami sudah pindah dan menetap di Toronto, salah satu kota besar Kanada selain Vancouver, sempat ikut program coop selama 3 bulan dan sekarang sedang hamil 5 1/2 bulan. Selama 3 tahun ini juga sudah berkesempatan jalan-jalan ke barat Kanada, Vancouver & Calgari, juga beberapa kota dan provinsi di Timur seperti PEI. Selama perjalanan pindah dari Halifax ke Toronto juga berkesempatan singgah di kota-kota yang dilalui seperti Moncton, Montreal, Ottawa & Quebec.

Ini memang negeri yang indah dan unik yang terbuka dan menerima imigran dengan tangan terbuka. Ia memang tidak selalu menjanjikan yang manis, hatiku bersama orang atau keluarga yang masih kesulitan beradaptasi atau harus “turun” derajat dan struggle mendapatkan pekerjaan yang sesuai bidang, namun juga tak sedikit yang sudah mencicipi susu dan madunya.

I am looking forward to continue my journey in this country for another 3 years? 30 years? with new member nexy year, my baby girl. In the name of Jesus Christ, Amen!

YuTan