The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 3]

Untuk yang ketinggalan cerita seri ini, silahkan klik link di bawah untuk baca seri  sebelumnya :

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 1]

The Journey of a thousand lakes & rocky mountains [Part 2]

Tujuan utama kami hari ini adalah bersepeda di Stanley Park dan mengunjungi Vancouver  Chinatown Night Market, selebihnya lihat situasi dan kondisi dilapangan.

Setelah sarapan di hotel, kami berjalan kaki ke Stanley Park. Sedang saja jaraknya, tidak jauh juga tidak dekat, bisa saja kami naik bus, namun saat itu kami belum membeli karcis bus harian, dan lagian berdasarkan hasil googling, rutenya hanya lurus tok ampe mentok. Jadilah kami santai saja jalan kaki sambil melihat-lihat suasana kota Vancouver di pagi hari Minggu tersebut.

Jarak tempuh hanya sekitar 20 menit saja. Berbekal cek dan ricek sebelum hari keberangkatan, kami mencari toko tempat penyewaan sepeda yang sudah saya catat paling tidak tiga (2 untuk cadangan). Saya tentu pilih yang menawarkan harga paling murah dengan jam paling fleksible. “You wanna breast you pay the price” demikian istilah om Jeha, atau “You pay peanut you get monkey” atau lagi “Harga kenal barang” berlaku dalam kasus sewa sepeda ini.

Jika turun dari Bus atau sedang berada di ujung jalan raya sebelum masuk kawasan taman, ada satu toko penyewaan sepeda yang mentereng banget, dari namanya saya sudah langsung ngeh, bahwa inilah harga sewa sepeda termahal yang sempat saya temukan dari menggoogling. Tidak heran, karena sepeda yang disewakan bermerk bagus, kondisi juga lumayan, lokasi toko-pun mudah ditemukan karena persis di pengkolan dua jalan utama sebelum masuk ke taman.

Adapun toko sepeda yang kami sewa, sedikit perlu berjalan lagi dan ‘agak’ nyelip walau sebenarnya tidak sulit-sulit amat untuk ditemukan. Nama tokonya EzeeRiders, kondisi sepeda tentu masih sangat layak walau tidak juga bisa dibilang keren seperti toko pertama tadi, kami awalnya ingin sewa tarif 4 jam namun kata sang pelayan toko, kelebihan daripada penyewaan sepeda mereka, harga didasarkan per-menit setelah 1 jam, jadi akan lebih menguntungkan penyewa yang pulangnya mungkin bisa lebih cepat atau lebih lama dan tidak akan terkena harga paket yang biasa ditetapkan penyewa sepeda, seperti toko pertama yang fix pada harga per-jam, per-tiga jam, dll.

Tanpa banyak bole bolo, kami siap dengan helm dan kemudian meng-adjust ketinggian tempat duduk sepeda, fungsi bell dan pastikan berkunci (helm kudu bayar sewa lagi, gak mahal, bangsa $1-2 saja). Bertiga kami meluncur ke taman. Karena salah seorang daripada kami sudah pernah bersepeda ria di Stanley Park maka kami langsung mengambil rute sepeda yang jalannya one way dan nge-loop sepulau sepanjang 8.8km (nama rute ini “Sea Wall”). Rutenya persis di tepi air dengan sesekali tebing di sisi lainnya. Jalannya bagus dan dibuat terpisah antara pejalan kaki dan sepeda. Dalam jarak tidak terlalu jauh selalu ada kursi buat duduk-duduk melepas lelah dan menikmati pemandangan. Acara sepedaan hari itu diiringi dengan suara azan sayup-sayup terdengar dari jauh, karena bertepatan dengan hari raya Idul fitri dan sedang ada sholat berjamaah di Waterfrontnya Vancouver.

xxphoto1

Sebagian pemadangan di Stanley Park, Vancouver

Satu contrengan lagi di Bucket List! :D Sepeda di Stanley Park dan di potret di samping Shiwash Rock!

Satu contrengan lagi di Bucket List! 😀 Sepedaan di Stanley Park dan dipotret di samping Shiwash Rock!

Saya terobsesi untuk bersepeda ria disini karena ya itu, nonton The Real Housewife of Vancouver. Kok kayaknya asyik ya? hehe. Tak terhingga berapa kali kami stop untuk mengambil gambar (motret) dan tanpa terasa kami sudah kembali ke titik semula sedang jam yang kami habiskan belumlah genap 2 jam.

Sama Benso diajak untuk ke Prospect Point, daerah tertinggi di Stanley Park yang bisa melihat Lion Gate dengan lebih jelas. Nah, pilihannya adalah kembali ke rute Sea Wall dan nanti di suatu area memotong keatas atau dari lokasi kami langsung mengambil trail naik keatas yang secara teori dan fakta adalah pilihan lebih berat. Kondisi trail sih bagus, bersih dan rapi, hanya saja kondisi jalan mayoritas akan menanjak cukup tajam atau cukup lama menanjak terus yang bisa bikin lutut gemetar atau tak kuat lagi mengayuh. Pilihan terakhir diserahkan ke saya, selaku wanita satu-satunya haha. Saya pilih yang sulit.

Apa saya kemudian menyesal? agak. Tapi mengingat pemandangan dan pengalaman yang terasa lain, semua terbayar lunas. Kalo nafas tidak cukup panjang atau malu kalo kudu turun dan giring sepeda, ada baiknya gak lewat jalur ini, saya lupa nama trailnya, tapi harusnya mudah ditemukan, trail membelah hutan menuju keatas.

Belakang adalah jalan masuk/keluar trail yang kami lewati

Belakang adalah jalan masuk/keluar trail yang kami lewati

Ini ekspresi kalo habis sepeda nanjak tajam :p

Ini ekspresi kalo habis sepedaan nanjak tajam :p Belakang adalah Lion Gate Bridge

Pemandangan indah di Prospect Point. Capenya bersepeda terlunaskan!

Pemandangan indah di Prospect Point. Capenya bersepeda terlunaskan!

Singkat kata setelah puas istirahat dan melihat Lion Gate Bridge lebih dekat dari Prospect Point, kami memutuskan langsung kembali ke tempat penyewaan sepeda. Jika sebelumnya menanjak gila-gilaan sampai nafas tersendat-sendat, arah pulang sebaliknya, menurun cukup tajam, tapi siapa yang menolak rute begini setelah babak belur sebelumnya? tidak usah kayuh dan angin menerpa, ahh sedapppp…. ini yang namanya berakit-rakit dahulu bersenang-senang kemudian! Tetap harus hati-hati karena cukup  berbahaya jika sampai tak bisa mengendalikan sepeda dalam kondisi jalan menurun tajam.

Dengan perut lapar kami memutuskan untuk makan disekitar kawasan tempat penyewaan sepeda. Area ini hanya berisi tempat sewa sepeda dan restoran. Pilihan jatuh pada great Wall Monggolian BBQ karena tergoda melihat encek didalam kaca yang lagi oseng-oseng mie. Seperti Monggolian style pada umumnya, kita pilih-pilih dan ambil sendiri bahan makanan yang kita inginkan, setelah itu akan dimasak oleh cheft di kuali super besar. Jenis begini tricky sekali, bisa enak banget bisa runyam banget, karena bumbunya kita pula yang tentukan/ambil. Mereka ada pilihan all you can eat, alias mau bolak balik berapa kali terserah atau hanya ingin yang sekali trip saja. Kami pilih cukup yang sekali saja, selain menghindar dari pada kalap, juga karena sudah cukup tangkas memasukan semua bahan makanan sebanyak mungkin kedalam mangkok yang disediakan, haha *kidding*.

Gaya si Encek oseng-oseng mie :)

Gaya si-ngko oseng-oseng mie 🙂 lihat di belakang, semua tempat sewa sepeda 🙂

Untunglah kami pesan yang sekali ambil, karena juga diberikan semangkuk nasi, sup dan spring roll. Wah ini sih bisa bikin super full. Makanan ‘kreasi’ saya jatuhnya kurang asin saudara-saudara, saking lebih konsentrasi ke aneka bumbu yang tersedia haha. Totally failed, tapi habis. Typical YuTan, pantang pulang sebelum habis, LOL.

Kami kemudian membeli karcis harian bus di sebuah supermarket. Tujuan selanjutnya adalah Granville. Iya, ini area yang sama dengan kemarin. Cuma mau kasih tau Hadi, ini loh Granville, haha. Disini saat di bus dalam perjalanan saya sempat berkenalan dengan seorang gadis yang sedang travelling sendirian. Dia asli dari Taiwan tapi sekolah di Seattel dan jalan-jalan ke Vancouver dengan kereta api. Dia gak punya banyak waktu karena harus buru-buru kembali ke stasiun kereta api. Saya sempat bantu fotokan dia tapi lupa tukaran identitas diri.  Dari Granville kami memutuskan untuk coba baik AquaBus, tanya-tanya sama mbak penjual karcis dan hasil perundingan kami mau turun di Stamp Landing (saya lupa-lupa ingat kenapa kami memutuskan untuk turun disini, ini akibat kelamaan baru ditulis, haha). Yang jadi supir Aquabus kami seorang anak pemuda turunan Asia. Bisa jadi dari China, bisa juga Indonesia, siapa tahu ya kan? Beserta dengan kami masih ada sekitar 4-5 penumpang lain dengan lokasi turun berbeda-beda.

Aquabus yang colorful dan imut-imut

Aquabus yang colorful dan imut-imut

Tidak rugi nyoba Aquabus, karena memberi pesona pemandangan lain dari kota Vancouver. Setelah beberapa penumpang turun saya melihat-lihat peta rute Aquabus, rasa-rasanya kok halte tempat kami turun sudah lewat ya? benar saja, kami ‘lupa’ diturunkan oleh sang kapten, hehe. Jadi kami sempat sampai ke ujung dan kemudian balik lagi ke arah dimana kami harusnya turun. Bertiga kami pasang wajah datar, tidak panik, tidak marah juga tidak kesenangan. Tapi asal tahu saja, yang ada di kepala kami bertiga adalah kira-kira “Syukur… syukur… lumayan dapat jalan-jalan ampe ujung dengan cuma bayar harga setengahnya”, pas turun di halte sang anak muda sempat2nya say sorry, tentu dijawab it’s okay, have a nice day. Saat kapal pergi, tertawalah kami, HA HA HA piala Oscar tahun lalu harusnya jatuh ke kami, pemeran pembantu pria dan wanita terbaik 😀

Ini ekspresi bahagia abis dibawa jalan-jalan gratis sama supir AquaBus :))

Ini ekspresi bahagia abis dibawa jalan-jalan gratis sama supir AquaBus :))

Ini salah satu pemandangan yang didapat gara-gara lupa diturnin Supir Aquabus

Ini salah satu pemandangan yang didapat gara-gara lupa diturunin Supir Aquabus

Kemudian kami berjalan kaki mencari stasiun Sky Train. Saatnya mencoba armada lain di kota ini. Terkenal wuzzz wuzzz dan lebih okay di banding Rocket-nya Toronto. Sengaja pilih duduk di paling ujung/buntut train sehingga bs melihat lajunya, tapi karena sebagian besar didalam terowongan ya kagak keliatan apa-apa juga sih *tertunduk sedih*. Tujuan kami berikutnya, errhh.. bukan tujuan sih tepatnya, tapi target armada selanjutnya adalah Seabus seperti kemarin yang saya naik buat ke Lynn Canyon. Tapi kali ini cuma mau sampe terminal-nya saja. Kan emang tujuannya cuma mau ngerasain gimana naik Seabus. Yang kurang lebih cukup untuk melepas kangen naik kapal serupa di Halifax – Dartmouth dulu.

Pemandangan dari dalam kapal menyebrang ke North Vancouver

Pemandangan dari dalam kapal arah ke North Vancouver

Kehabisan Beavertrails yang termasyur, jadinya cuma nyicip yang versi bola-bola kayak Timbits, mungkin itu cocok namanya BeaverPoopoos :p

Kehabisan Beavertrails yang termasyur, jadinya cuma nyicip yang versi bola-bola kayak Timbits, mungkin itu cocok namanya BeaverPoopoos :p

Supaya gak kayak orang bego, naik kapal nyebrang trus nyebrang balik, kami jalan-jalan disekitar stasiun di sisi Utara Vancouver. Ternyata cukup ramai dan penuh resto-resto dan ada foodcourtnya juga. Kami hanya sebentar saja disini sebelum kemudian kembali ke jantung Vancouver dengan armada yang sama dan lanjut lagi dengan SkyTrain ke Chinatown, yay!

Saat itu sudah menjelang malam, dengan sedikit kebingungan mencari lokasi persis Night Market kami jadi bisa melihat-lihat Taman Sun Yat Sen dari depan (sudah tutup jam segitu), konon taman buatan ini sangat cantik namun kudu bayar buat masuk kedalam yang bagi sebagian orang tidaklah sepadan karena ukuran tamannya kecil.

Setelah menemukan Night Market yang dimaksud, rasanya happy banget karena bisa jajan-jajan, tapi belum jalan 15 menit, eh itu stand tempat jualan sudah habis aja. Yang artinya, Night Marketnya cuma kecil aja skalanya, pikirannya kita-kita bakal gede, heboh, meriah, gegap gempita sampai gimana gitu, eh ternyata cuma begitu doang. Turis kecewa. Niat makan malam disini pun pupus, lah apa yang mau dimakan kalo semua hanya berupa cemilan dan aneka aksesoris? Kami memutuskan segera naik Bus dan kembali ke area hotel untuk cari makan malam. Tunggu punya tunggu, bus tidak kunjung datang, yang datang malah gembel yang minta duit, suasana sudah gelap dan area Chinatown yang dilihat di siang hari berubah total saat malam, serem bok! Kami mutuskan kembali naik Skytrain tempat kami turun tadi, gempor-gempor deh dari pada dari padakan?

Suasana stasiun Skytrain di Chinatown

Suasana stasiun Skytrain di Chinatown

Dr. Sun Yat Sen Garden

Dr. Sun Yat Sen Garden, nasib yang cuma bisa liat-liat depannya doang haha

Masih di luar Taman Sun Yat Sen

Masih di luar Taman Sun Yat Sen

Sempat jajan Dorayaki isi Nutella di Night Market

Sempat jajan Dorayaki isi Nutella di Night Market

Begini doang Night Marketnya... Jauh dari ekspetasi!

Begini doang Night Marketnya… Jauh dari ekspetasi!

Bisa bayangkan betapa lelah-nya kami, maka tak heran resto yang dipilih adalah All You Can eat Korean BBQ! Yummy! Malam itu sepertinya di hotel semua tidur dengan pulas sepulas-pulasnya! 🙂

Yum Yum yum!

Yum Yum yum!

Hari terakhir di Vancouver sebelum kami bertolak ke bandara pada siang hari, saya sempatkan bersepeda kembali di Stanley Park sementara para pria menyelsaikan urusan mereka masing2. Karena masih cukup pagi, hampir semua penyewaan sepeda belum buka atau baru akan buka setengah jam lagi. Waktu saya tidak banyak, jatah cuma  kurang dari dua jam karena kudu ke bandara. Saat celingak celinguk merhatiin harga dipintu salah satu penyewaan sepeda saya dihampiri oleh penjaga toko, ramah nian mereka ini sama turis. Mereka hanya punya paket minimal 2 jam sewa, ya sudahlah gak apa-apa dari pada waktu juga terbuang percuma kalo saya bela-belain nunggu  toko kemarin buka.

Pagi itu saya cuma lewatin Sea Wall, saya perbanyak waktu bersantai duduk di bangku-bangku yang tersedia sepanjang sea wall sambil merenung akan arti hidup, halah! Karena sudah tau estimasi waktu jadi saya bisa lebih santai untuk duduk atau memutuskan jalan. Setelah sampai di titik awal saya lihat jam masih ada cukup waktu, maka saya putuskan untuk keluar taman dari sisi belakang, tidak sampai jauh, cuma sekitar 3km saya putuskan balik karena sudah tidak terlalu cycle friendly.

Beberapa hasil jepretan dari bersepeda sendirian

Beberapa hasil jepretan dari bersepeda sendirian

Buru-buru jalan kaki pulang demi hemat $2 disepanjang Robson St, ditengah-tengah jalan saya dapat kabar waktu ke bandaranya diundur, waduhhhh tau gitu saya lamaan di taman deh. Jadinya saya perlambat aja jalan kakinya dan keluar masuk toko yang baru pada buka. Rasanya bahagia bener waktu nemu Lush Store, toko ini saya cari-cari dari kemarin kagak ketemu, mau beli bomb bath/buble bath-nya buat berendam di hotel. Baru tau saat itu kalo pabrik Lush ada di Vancouver, saya juga dapat gratis satu produk sabunnya, mungkin penglaris karena saya pembeli pertama? hihi.

Itulah akhir perjalanan saya di Vancouver, 3 malam 4 hari. Sangat berkesan baik sehingga tidak nolak kalo disuruh kesana lagi, tapi kalo dibayarin ya, soalnya kalo ada duit, saya mau ke tempat lain dulu yang belum pernah didatangin. Ya ampun YuTan, siapa yang mau bayarin?? mimpi?? Ya elah, just sayin, doh! 🙂 Tujuan selanjutnya adalah Calgary!!! Saya excited banget karena itu tandanya sebentar lagi dolan ke Rocky Mountains & bertemu teman dari Halifax dulu, tapi juga sekaligus deg-degan karena itu artinya, hari-hari ngegembel semakin dekat!

YuTan

Trip to PEI [seri #2 tamat]

 

Bangga berpose dengan sertifikat Tip to Tip ^^

 

Holaaa!

Hutang tulisan lanjutan tentang trip ke Prince Edward Island [PEI] seri #2, untuk seri #1-nya bisa disimak disini 🙂

Setelah bahagia banget bisa nyampe di Westnya PEI lbh tepatnya di Nort Cape, hari terakhir di PEI kami rencanakan dengan menyusuri wilayah Timur dan berharap bisa nyampe di ujungnya dan melengkapi Tip to Tip kami dan boyong pulang sertifikat sebagai penjelajah yang sudah berhasil nyampe dari ujung ke ujung-nya pulau ini, wohooo…

Menurut gua, sepanjang perjalanan menyisir wilayah timur, pemandangan alamnya lebih seru untuk dinikmati dibandingkan yang sisi sebelah west. Atau mungkin juga karena cuaca di hari minggu itu lebih cemerlang, sunny bowww ^^Alhasil kami pun lumayan banyak berhenti di beberapa point view untuk sekedar mengabadikan moment perjalanan ini, langit biru… pantai… lighthouse… teman-teman… what a wonderful trip, right? gua sempat nyerocos saat liat hasil foto di camera “ Ini baru foto luar negeri “ suasana-nya sama dengan post card2 luar negeri yang pernah gua liat, hehe silly me!

Ohya, sebelum perjalanan ini di mulai sudah di info kalo kami bakalan berkunjung ke Bear Lighthouse dimana menjadi lighthouse pertama yang menangkap signal dari kapal legendaris Titanic saat mereka mengalami kecelakaan, menabrak gunung es. Tapi sungguh sedih karena sempitnya waktu dan harus ngepasin waktu keberangkatan kapal yang akan menyebrangi kami dari PEI ke Halifax, kami harus merelakan lokasi tersebut untuk dikunjungi di lain waktu ( another reason untuk come back ke PEI, hehe ). Tapi kesedihan itu berganti dengan sukacita karena berhasil mendapatkan sertifikat Tip to Tip :’) plus dapat bonus liat serigala liar hanya berjarak 3 meter, OMG!

Dihari yang sama kami juga melakukan short hiking di trail yang akan membawa kami melihat gurun pasir yang ciamik, menurut gua gurun pasirnya sih biasa saja walau agak aneh karena bisa ada begituan, tp alam disekelilingnya sungguh menakjubkan… bisa disimak di foto yang akan gua pasang ^^

Karena perjalanan ini sudah 2 bulan lebih, jadi sudah banyak detail yang terlupakan, moral of story : segeralah tulis perjalanan anda sebelum semuanya keburu pudar, jangan malas nulis kalo mau jadi blogger hehehe… sebagai gantinya, gua banyakin fotonya deh, hehe… ^^Silahkan disimak..

 

Berpose didepan Lighthouse berukuran mini 🙂

 

Berada diatas kapal yg akan membawa kami kembali ke Halifax 😀

Pancake terbesar yg pernah ku lihat --"

Ini gurun pasirnya, kerena yaaa... lokasinya terlihat lain drpd yg lain

wih my husband ^^

Seafood Chowder yang yuammyyyy buangettt ^^

Foto dan di foto, ini hasilnya ^^

See ya!