Kisah kelahiran Olivia

Ruang itu cukup besar dibandingkan ruang-ruang maupun kamar yang pernah ku huni di gedung tersebut, kira-kira 10×10 meter persegi dengan berbagai macam alat dan peralatan rumah sakit didalamnya. Aku tak banyak memperhatikan detail, hanya ku sapu pandangan sekali lewat karena apa yang ada dalam benakku lebih menyita konsentrasiku.

Tadinya aku sempat menunggu sekitar 10 menit didepan ruang tersebut, duduk diam diatas kursi roda, bertanya-tanya apa gerangan yang akan kulihat ataupun kujalani beberapa saat kedepan, suasananya terasa begitu genting, waspada, sesekali ku lirik suami yang duduk tidak jauh dari posisiku, ia nampak biasa saja, sedikit saja ketegangan yang tersisa dibandingkan sejam yang lalu ketika kami diberitahu bahwa adalah bijaksana jika bayi kami dikeluarkan secara operasi caesar.

Dengan hanya mengenakan gaun rumah sakit berwarna hijau pupus. Aku ikuti semua intruksi para suster, tak banyak kata-kata yang keluar dari bibirku, lebih sering aku mengangguk, tanda aku mendengar mereka dan paham apa yang hendak mereka lakukan. Aku masih terkejut karena ternyata suami tak diijinkan masuk pada proses persiapan operasi.

Dokter dan para suster sibuk dengan tugas mereka masing-masing,  dan lagi-lagi aku  sibuk dan tegang dengan pikiranku sendiri. Kapan selang kateter akan dipasang? sakitkah? bagaimana rasanya disuntik dibagian tulang ekor? sakitkah? bagaimana kalo gagal? katanya bisa jadi lumpuh? koma? kapan suami dikasih masuk? ya ampun, dalam hitungan menit aku akan jadi Ibu! bagaimana rupa anakku? sehatkah dia? terkejutkah dia nanti? Oli… Olivia… ini mama, sebentar lagi kamu dikeluarkan ya. Kita bisa… kita bisa…

Relax your shoulder” kata dokter anestasi, ia satu-satunya pria dalam ruang tersebut kala itu, masih muda, mungkin sekitar 30an dan berkaca mata. Aku perlu menatapnya karena ia memperkenalkan diri dan merentetkan kalimat-kalimat seputar anestasi, aku menangangguk, berdoa dalam hati dan mempercayakan proses pembiusan secara penuh, apa yang terjadi, terjadilah.

Dalam posisi duduk diatas meja operasi dan seorang suster memeluk dari depan, sang dokter anestasi melakukan apapun yang selalu dia sampaikan terlebih dahulu dan lucunya semua sesuai dengan penjelasannya, tentang kemungkinan rasa yang akan aku rasakan ketika jarum ia tusukan, rasa dingin, rasa panas. Aku membalas dengan kata OK kali ini, takut anggukan kepalaku akan menggoyang tubuh, tak henti-henti aku pun memerintahkan diri sendiri untuk melemaskan bahu. Kala ku rasakan cairan dingin merembes kebagian bawah tulang ekor, barulah aku dapat bernafas lega.

Setelah proses anestasi tersebutlah maka selang kateter dipasang, aku tidak ingat jika itu adalah proses yang menyakitkan. Setelah aku dibaringkan dan kain penghalang dipasang disekitar dadaku, aku coba merasa-rasakan kakiku, aku takut kalo-kalo obat biusnya belum jalan, perasaan mengatakan aku masih bisa menggerakan kakiku, tanpa buang waktu aku segera melapor ke dokter “Doc, I still can feel my feet!” tentu nada bicaraku panik saat itu. Dokter kemudian seperti menggurat paha ku dengan jarinya, pertama sebelah kiri dan kemudian sebelah kanan. “Which one is harder?” tanya dokter berambut pirang yang manis senyumnya, oh well, saat itu aku sudah tidak bisa melihat wajahnya, tapi dialah dokter jaga hari itu, konon dokter termuda dari sekitar 8 dokter kandungan di Rumah Sakit tersebut. “Hmm, the first one” jawab ku, tak sangka-sangka balasannya kemudian hanya “Oke” dan mereka langsung bekerja. Hahaha… kalo diingat-ingat rasanya lucu dan sepertinya acara tanya jawab tersebut hanya alakadarnya saja, supaya aku puas.

Kalo sebelumnya masing-masing mereka nampak ‘tegang’ dan sibuk dengan urusan masing-masing, aku malah merasa saat proses operasi berlangsung, mereka nampak lebih santai. Bagaimana dengan diri ku yang saat itu dalam posisi seperti tersalib di meja operasi? sangat tidak nyaman, pertama karena posisi tubuh yang terlentang dan kedua beban psikologi yang ku buat-buat sendiri. Aku ingat adikku pernah cerita (dia sudah melalui 2 kali operasi caesar dengan yang terakhir berupa anak kembar) bahwa saat anaknya hendak dikeluarkan, dokter dan suster yang membantu harus mendorong dan menekan perut dekat bagian dada, rasanya sakit dan tidak bisa bernafas, kira-kira rasanya kalo sampai ditekan sekali lagi, nyawa kita akan melayang. Jadi atas dasar informasi tersebut aku harap-harap cemas. Tiba giliran saat Olivia hendak dikeluarkan, apa yang dideskripsikan adikku menjadi kenyataan, belum lagi tubuh ku yang sampai bergoyang dimeja operasi, walau tidak ada rasa perih karena dibeset perutnya tp tetap saja dibawah alam sadar ku, sesadar-sadarnya merasa bahwa itu proses yang akan menyakitkan. Duh, gimana ya menjelaskannya? kira-kira seperti kalo sedang menikmati Ayam goreng tulang lunak, tau kalo tulangnya sudah empuk dan bisa dimakan tapi didalam benak tetap merasa bahwa itu tulang yang keras dan tidak seharusnya dimakan.Untunglah ada suami yang kemudian diperbolehkan masuk dan duduk disamping menemai selama proses operasi berlangsung.

Olivia berhasil dikeluarkan pada pukul 5:24 am hari Jumat tanggal 3 Januari 2014 dengan tangisannya yang cukup keras. Dengan rasa haru aku cuma bisa melirik dengan ekor mataku, kearah sudut kiri ruangan, dimana tiga orang suster sedang melakukan apa yang harus segera mereka lakukan terhadap bayi prematur. Tak tergambarkan rasanya mempunyai seorang anak yang dinanti-nanti sejak dia belum ada didalam rahim, rasa sayang yang sudah dipupuk sejak dia masih sebesar kacang, rasa penasaran akan bagaimana rupanya, bahkan hinggat saat ini pun, setelah 5 bulan usianya, kadangkala aku masih tidak percaya bahwa aku sudah menjadi seorang ibu, tidak bisa percaya bahwa mahluk kecil lucu dihadapakan ku yang tersenyum lebar memperlihatkan gusinya adalah benar-benar nyata. It happen one day, I needed to close my eyes for two seconds and opened it again, just to make sure, this is real, not just a dream. I afraid I was in Limbo this entire time, haha… too much movie!

Antusiasme suami pun seolah-olah tak ku hiraukan karena aku sibuk dengan rasaku sendiri dan pegalnya leher menoleh kesamping. Beberapa saat kemudian suster bagian NICU menggendong Olivia dan mendekatkannya kearahku. “Congratulation, you have beautiful baby girl” dan selang 5 detik dia membawanya keruang NICU. Kami hanya sempat menyapa bayi kami “Hi Olivia…” dan aku tidak sebagaimana biasanya para ibu-ibu yang baru melahirkan yang bisa segera memeluk dan melakukan skin to skin moment dengan bayinya hanya bisa gigit jari saja.

Pasca operasi dan dipindah keruang perawatan aku sempat tertidur hingga menjelang siang, hari itu juga aku dengan bantuan kursi roda & suster mengunjungi Olivia dan itu pula pertama kalinya aku menggendong dan menciuminya. Tubunya penuh selang disana-sini, nampak ringkih dan tak berdaya, jari jemarinya yang begitu halus, badannya sesekali bergetar seolah-olah kedinginan. My poor baby, dengan berat hanya 1831 gram dan panjang 48 cm, Olivia lahir diminggu ke 36. Dia yang mungil itu, yang sejak hari pertamanya menghirup udara dunia sudah harus berjuang dan bertahan dari jarum-jarum yang menghujam telapak kaki dan punggung tangannya, yang menghabiskan 2 minggu pertama malam-malamnya sendirian di ruang 3×3 meter ruang NICU yang dingin adalah kekasih hatiku, kesayanganku, segala-galanya bagiku.

Tak pernah ku tahu sebelumnya, ada cinta yang sedemikian, yang kata-kata tak pernah akan bisa menjelaskan dengan sempurna, yang katanya akan abadi sepanjang masa. I am blessed and thanks to Our Lord. Tiap nafasku saat ini adalah doa yang terhembus, yang akan menyertai hari-harimu. Mama loves you Olivia.

First Day

First Day  [and first time in her Mama’s arms]

YuTan

5 thoughts on “Kisah kelahiran Olivia

  1. Pingback: Sebuah Nama OLIVIA | Yuliana Tan

  2. Pingback: It’s positive!!! | Yuliana Tan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *